Siasat Scaller Menembus Rimba Industri

Agustinus Shindu Alpito    •    11 Maret 2017 07:00 WIB
indonesia musik
Siasat Scaller Menembus Rimba Industri
Scaller (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Metrotvnews.com, Jakarta: Indonesia seperti tidak pernah kekurangan grup musik bertenaga yang selalu memberi alternatif baru menjanjikan. Dalam area rock alternatif, hadir duo bernama Scaller yang begitu bergairah. Margareth Stella atau biasa disebut Stella Gareth, seorang pianis klasik yang kepincut instrumen elektronika, berpadu dengan Reney Karamoy, seorang gitaris yang juga memiliki peran lain sebagai kekasih.

Scaller - singkatan dari Simply Called Reverse -  baru saja menuntaskan konser perdana mereka, berjudul Spirit of The Thing, pada 23 Februari 2017 di Soehanna Hall, yang terletak di Kawasan Niaga Terpadu Sudirman, Jakarta. Baca : Konser Perdana Scaller, Bekal Perjalanan Panjang

Pertemuan Metrotvnews.com dengan Scaller terjadi di sebuah kafe di Plaza Festival Kuningan, Jakarta Selatan, pada Februari 2017. Kami berbicara banyak hal, mulai dari konsistensi Scaller, hingga strategi mereka dalam membelah rimba industri musik.

Scaller bisa dibilang anak baru di belantara industri musik. Bekal mereka adalah keberanian dan konten musik yang jujur. 

"Sebelum Scaller di-notice orang-orang, kami sudah main empat tahun dicuekin, sejak 2012," kata Stella membuka perbincangan sore itu.

Stella dan Reney, keduanya sudah melewati banyak hal bersama-sama, sebelum akhirnya melahirkan Scaller. Keduanya bahkan berasal dari SMA yang sama. Stella dan Reney bertemu di SMA PSKD 1 di kawasan Salemba, Jakarta Pusat. Pelan tapi pasti, Scaller tidak jalan di tempat. Mereka mulai menemukkan tempat dan perhatian yang memang sudah layak mereka dapatkan.

"Intinya gue main terus, entah sudah berapa tahun, kami sudah memutuskan let's do this, apapun konsekuensinya kami lanjut di musik, total di musik. Pada 2015 baru mulai di-notice. The Youth itu selesai 2014 akhir, gue sempat setahun kuliah lagi, tetapi kami enggak jauh dari musik.  Akhirnya juga dari pengembangan diri kami keluarkan The Youth, terus mulai ada yang manggil untuk main di We The Fest 2015, LocalFest, di acara Volcom,  dan akhirnya tampil di Soundrenaline 2016, kami sangat bersyukur setelah ada jalannya," ungkap Reney.


Scaller (Foto: dok. Irvan Suta)

Memutuskan Mandiri

Scaller adalah contoh grup musik muda yang mandiri. Bukan bermaksud berlebihan, tetapi memang mereka lebih dari yang Anda bayangkan. Scaller - dalam hal ini Stella dan Reney - tidak berhenti pada soal musikalitas saja. Mereka juga mengurus pekerjaan-pekerjaan di luar musik, mulai dari urusan cetak CD, mengurus manajemen, hingga mencari pola distribusi yang tepat. Banyak grup musik yang enggan repot dengan urusan seperti itu, dan akhirnya memutuskan menggandeng rekanan untuk mengurus soal manajemen hingga distribusi album.


Scaller (Foto: Manajemen Scaller)

"Kami sempat bekerjasama dengan label pendistribusian yang ujungnya kami berbeda visi. Akhirnya kami memutuskan mencari jalan lain, kami mencari jalan tikus lain yang kami coba untuk lewati, lewat proses pengembangan, kami berpikir bagaimana karya ini bisa reach out, dan cara itu kami temukan sendiri, salah satunya album mini kami upload di Soundcloud."

"Ternyata, growing pendengar kami dari Soundcloud cukup besar, tapi sekarang lagu yang kami upload ke Soundcloud sudah kami take-out karena kami mau awareness terhadap karya sendiri. Ke depannya secara legal Scaller juga akan menjadi unit company," papar Reney.

Kemandirian Scaller banyak terbantu potensi diri masing-masing personel. Reney, mengenyam pendidikan audio engineering di SAE Institute, Australia. Sedangkan Stella cukup lama mendalami dunia musik klasik. Kemampuan itu praktis membantu mereka dalam mewujudkan gagasan musik Scaller.

"Stella punya kapabilitas yang tinggi, dia bisa ngapa-ngapain tanpa gue, gue bisa ngapa-ngapain tanpa dia. Tetapi kalau kami ketemu akan jadi hal menarik," tukas Reney.

Pada awal 2017, Scaller merilis album penuh pertama berjudul Senses. Penggarapan album itu melibatkan tiga drummer, Dhani Siahaan, Usman Pranoto dan Enrico Octaviano. Enrico yang juga adik kandung drummer dan produser Marco Steffiano juga dilibatkan Scaller dalam aksi panggung, termasuk dalam konser Spirit of The Thing.

Kembali ke soal strategi, Scaller merasa tuntutan grup musik pada era kini jauh berbeda dibanding zaman dulu. Sekarang, musisi atau grup musik dituntut untuk cerdas dalam mengelola karya, mulai dari soal legal, hak cipta, hingga mengetahui pasar dengan baik.

"Kami kerjakan semuanya sendiri, kami semakin belajar. Kami semakin tahu mana yang menjadi hak kami juga."


Scaller (Foto: dok. Irvan Suta)

"Yang paling penting harus memperlakukan karya seperti anak, lo harus tahu cetak (CD album) berapa, ada berapa yang terjual, kepada siapa terjualnya, demografinya seperti apa, jadi lo tahu semua potensi yang ada dalam karya lo dan mengembangkannya. Di era ini bikin musik gampang, recording gampang, lo bisa urus semua sendiri kalau lo mau ngulik," kata Reney.

Dari pengalaman mencoba lebih mandiri, Scaller optimis bahwa hidup dari musik adalah hal yang sangat mungkin. 

"Bisa banget untuk hidup dari musik, sekarang musik digital punya kode (pada meta data musik digital), kode itu akan dikenal secara global, sudah ada lembaga yang collect hak-hak lo (berupa uang), dan uang disetor ke agregator. Karena kita sudah ngomongin global, dunia yang marketnya luas. Dan kalau tembus pasar global itu angkanya lumayan banget."

"Banyak yang bilang kalau uang dari digital itu receh, enggak seperti itu. Bukan enggak mungkin musisi sekarang dapat income yang pay the bills dari digital, karena ada banyak source-nya, dari Spotify (sistem streaming), sampai iTunes (sistem beli unduh)," kata Reney yakin.

Punya Dua Mode

Hubungan antara Stella dan Reney bukan seperti pilot dan ko-pilot. Keduanya memiliki peran yang sama besar terhadap Scaller. Seperti sebuah kapal dengan dua kemudi. Namun, di sisi lain mereka adalah sepasang kekasih yang tidak lepas dari dinamika pasang-surut hubungan.

Reney punya formula ampuh dalam menjalankan Scaller, agar tidak karam termakan konflik hubungan asmara, "Kami punya mode pacaran dan mode kerja, dari awal kami punya komitmen, musik harus duluan, setelah itu baru bahas yang lain. Enggak peduli kalau bad mood, ketika musik selesai baru switch mode untuk bahas sesuatu (dalam hubungan)."

Senada dengan Reney, Stella pun mengakui hal yang sama, "Keuntungannya kami punya waktu bersama lebih banyak. Kalau soal tantangan, kami harus punya komitmen lagu harus kelar (mendahulukan musik), apapun mood kami saat itu ya harus selesai."

Album Senses dan konser Spirit of The Thing adalah awal dari perjalanan Scaller menembus rimba industri. Melihat awal yang begitu bergairah, semoga saja mereka mampu menjaga renjana dalam nadi Scaller untuk terus membuka rimba dan menemukan arah yang dituju.





(ELG)

Renjana Base Jam Bernostalgia

Renjana Base Jam Bernostalgia

3 days Ago

"Sesuai lagu kita yaitu, Jatuh Cinta dan Rindu. Bagaimana mengenang awal orang 'jatuh …

BERITA LAINNYA