Menantang Gitar Kelas Dunia

Coki Lubis    •    22 Maret 2017 16:49 WIB
indonesia musik
Menantang Gitar Kelas Dunia
Pekerja menyelesaikan pembuatan gitar di sentra kerajinan gitar Rick Hanes di kawasan Tambak Sawah, Waru, Sidoarjo, Jawa Timur. (ANTARA/Umarul Faruq)

Metrotvnews.com, Jakarta: Tiba-tiba Buddy Blaze kunjungi Sidoarjo, Jawa Timur. Bukan ingin melihat 'lumpur lapindo', tapi dia penasaran dengan sebuah pabrik gitar di Jalan Tambak Sawah Nomor 5, Kecamatan Waru. Bagaimana tidak, toh dari sanalah muncul gitar terbaik di dunia tahun 2012 versi majalah Inggris, Guitar Planet.
 
Bila yang mendengar kabar itu bukan pemain musik, tentu kedatangan Blaze pada 2013 itu bukan berita yang menggemparkan. Pecinta musik pun mungkin akan menganggap biasa saja, karena Buddy bukan musisi.
 
Tapi bila mereka tahu bahwa Blaze adalah luthier alias pembuat instrumen berdawai (gitar, biola, dsb) yang punya reputasi mentereng, boleh jadi responnya berbeda. Blaze merupakan luthier yang selalu mendampingi Jimmy Page, gitaris band rock legendaris Led Zeppelin. Blaze juga konsultan gitar bagi Joe Satriani dan Steve Vai. Boleh dikatakan, Blaze merupakan salah satu 'the man behind the gun'-nya para dewa gitar dunia.
 
Rick Hanes, demikian merek gitarnya, memang sukses menyabet empat gelar sekaligus dalam penganugerahan gitar terbaik 2012 di negeri Ratu Elizabeth itu. Mengalahkan 362 gitar elektrik lainnya dari 52 merek gitar ternama di dunia.
 
Beberapa tahun kemudian, sukses itu merembet pada keberhasilannya merebut 12% pasar gitar di Amerika Serikat. Bersanding dengan merk gitar legendaris seperti Ibanez, Fender, Gibson, dan lain-lain.
 
Tak hanya Rick Hanes yang sukses mengambil hati pasar internasional, beberapa merek lokal lain juga memiliki sukses yang sama. Sebut saja Stranough, Genta dan Radix, yang genjrengannya mampu terdengar hingga seberang benua.
 
Sayangnya, kesuksesan itu tak mampu mengendalikan banjir merek gitar asing di negeri sendiri. Faktanya, merek-merek luar negeri masih menjadi raja di pasar dalam negeri. Belum ada yang bisa melawannya.
 
Bagi Doddy Hernanto, gitaris yang juga co-founder Rick Hanes, problemnya bukan hanya hegemoni produk asing, tapi juga kbiasaaan orang Indonesia yang kerap mudah gandrung pada hal-hal berbau asing. "Dari sandal jepit sampai semir rambut, kalau dapet barang impor itu rasanya wah," ucap pria yang dikenal dengan nama Mr. D itu kepada Metrotvnews.com, Jumat, 17 Maret 2017.
 
Alhasil, sambungnya, masyarakat kita terkadang buta dengan kualitas merek lokal yang sebetulnya tidak kalah dengan produk asing. Misalnya gitar, luthier kita kemampuannya bagus, bahkan bukan hanya satu-dua merek yang boleh dikata berkualitas.
 
"Ini bukan perkara menyanjung gitarku sendiri. Tapi gitar lokal sebetulnya bagus-bagus. Buktinya kayak Genta, aku kenal juga sama pemiliknya. Termasuk luthier-luthier BlueBerry, dan lain-lain. Mereka juga dapat The Most Beautiful Guitar of The World," ucapnya.
 
Tidak mau cengeng
 
Kondisi itu tidak membuat merk lokal patah arang. Tidak mau juga terlalu mengandalkan jargon-jargon nasionalisme, seperti "cintai produk dalam negeri" atau "dukung produk lokal".
 
"Bersaing dengan hal-hal seperti itu seperti cengeng. Apalagi teriak sana-sini minta dibantu regulasi dan semacamnya," ucap pendiri pabrik gitar Radix, Toein Bernadhie, saat berbincang dengan Metrotvnews.com, Jumat, 17 Maret 2017.
 
Yang Toein inginkan, gitar lokal dapat bersaing secara kualitas dengan merk asing. Pemasarannya dengan cara menyokong (endorse) beberapa produk kepada gitaris-gitaris profesional lokal, bila perlu internasional, lantas biarkan mereka yang menilai.
 
Yang sudah-sudah pola ini berhasil. Banyak gitaris profesional lokal yang terpincut. "Khususnya mereka yang berani pentas dengan merk lokal. Seperti Eet Sjahranie, gitaris Edane, tidak mau melepaskan gitar Radix yang ia custom," kata Toein.
 
Sama halnya dengan yang dilakukan Rick Hanes. Salah satu gitaris kebanggan Indonesia asal Bali, I Wayan Balawan, menggunakan produk Rick Hanes. Ketenaran Balawan di panggung internasional secara tidak langsung mengenalkan Rick Hanes kepada dunia.
Bahkan, sebelum itu sudah banyak gitaris top internasional yang memesan gitar custom kepada Rick Hanes. Seperti, Chris Bickley, Adrian English, Michael Abdow, Gio Mirage, hingga Tore St Moren.
 
"Kalo tidak begitu kita tidak bisa meruntuhkan Gibson di Hard Rock. Dulu yang jadi ikon kafe internasional itu kan gitar Gibson. Sekarang Rick Hanes. Ya, dia (Gibson) juga berusaha untuk menurunkan kita," timpal Doddy.
 
Siapa tak kenal Hard Rock Cafe? Lihat sekarang, kata Doddy, di Bali banyak pengunjungnya yang berfoto dekat ikon gitarnya yang baru, Rick Hanes-nya Balawan. "Itu gitar Rick Hanes, dari Sidoarjo, tengah sawah, begitu kata orang," ujarnya seraya terkekeh.


Balawan dan gitar double neck-nya buatan Rick Hanes. (ANTARA/Fikri Yusuf)

Benahi presisi
 
Dahulu, orang meremehkan gitar lokal Indonesia karena soal presisi atau akurasi nadanya saat dimainkan. Tapi tidak untuk saat ini. Paling tidak, produsen-produsen besar sudah ngotot soal presisi.
 
Rick Hanes salah satu yang serius soal itu. Sampai-sampai, Rick Hanes mendatangkan sebuah mesin pengukur akurasi digital yang harganya cukup fantastis. Adalah Plek Machine, yang diklaim oleh Doddy baru ada dua pabrik di Asia yang memilikinya, yakni Takamine Guitars (Jepang) dan Rick Hanes sendiri.
 
"Itu menstabilkan string action-nya. Kalau dimainkan, itu sound-nya atau presisinya gak mengenal ada kesalahan. Jadi 0,1 pun (jarak senar ke fretboard), mepet, tetap bisa. Nyaman," ucap pemegang Rick Hanes seri Mr.D itu.
 
Belakangan, sambung Doddy, ia mendengar kabar bahwa salah satu produsen gitar di Tangerang juga akan mendatangkan mesin itu. Ini membuktikan produsen lokal serius soal presisi untuk meningkatkan kualitas.
 
Hal serupa diakui Noor Rahmat Wibowo, luthier pemilik workshop gitar non-produksi masal di bilangan Cirendeu, Tangerang Selatan. Baginya, bila produsen-produsen gitar lokal sudah memiliki mesin-mesin canggih itu, dia optimis gitar lokal bisa bersaing secara kualitas, sekalipun diproduksi oleh produsen rumahan.
 
"Yang jadi masalah kan mesinnya yang sulit didapat, juga harganya yang mahal, karena didatangkan dari luar negeri. Seandainya Indonesia bisa memproduksinya, industri alat musik bisa maju," tuturnya saat ditemui Metrotvnews.com, Rabu, 15 Maret 2017.
 
Tapi, meski tak memiliki Plek Machine, Noor optimis gitar buatannya bisa mencapai presisi yang bagus. Dengan mesin-mesin yang dia miliki saat ini, Noor merasa sudah cukup untuk men-setting gitar buatannya secara baik.
 
"Asalkan kita detail, teliti dan rajin mempelajarinya, sebetulnya bisa. Hindari istilah-istilah 'meleset sedikit tidak apa-apa', yang masih sering saya dengar dari luthier-luthier lokal lainnya," kata Noor.
 
Sekali lagi, soal kualitas Doddy mengakui, gitar lokal tidak kalah. Bisa bersaing. "Perajin Indonesia itu hebat-hebat, cuma tidak dapat tempat (pasar) itu dan kesempatan. Ini memang harus proses kan," pungkasnya.


(FIT)

Di Balik Balada Cinta Geisha

Di Balik Balada Cinta Geisha

6 days Ago

Pada tahun ini, Geisha telah berusia 14 tahun. Sejauh ini mereka konsisten menghadirkan balada …

BERITA LAINNYA