Steven & Coconut Treez Bersatu Lagi

Agustinus Shindu Alpito    •    04 Oktober 2017 16:20 WIB
indonesia musiksteven & coconut treez
Steven & Coconut Treez Bersatu Lagi
(Dari kiri ke kanan) Iwan, Pallo, Steven dan Teguh (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pada sebuah malam di pertengahan September 2017, Beergarden yang terletak di kawasan SCBD penuh sesak. Bar yang dikenal sebagai titik temu anak muda Jakarta itu sepertinya terlalu "necis" untuk menjadi saksi bisu bersatunya kembali grup reggae Steven & Coconut Treez.

Entah berapa orang yang hadir pada malam itu, yang jelas, area tempat Steven & Coconut Treez tampil begitu sesak. Tidak ada panggung, mereka tampil sejajar dengan penonton, jarak antara para personel band dengan penonton pun tak sampai hitungan meter. Di luar, hujan deras mengguyur. Tapi apalah arti itu semua, yang saya tahu malam itu tujuan kami semua yang datang sama, merayakan kembalinya Steven, Rival, Iwan dan Teguh.

Tetapi tenang, pertunjukan malam itu hanya pemanasan. Titik balik reuni Steven & Coconut Treez yang sebenarnya akan terjadi pada ajang Synchronize Festival 2017 yang digelar di Gambir Expo, Kemayoran, Jakarta, pada 6, 7 & 8 Oktober. Steven & Coconut Treez sendiri mendapat jatah tampil pada hari kedua, Sabtu 7 Oktober.

Sebagai pembuka, Steven & Coconut Treez menghanyutkan penonton dengan Long Time No. Sudah bisa ditebak, semua pun bernyanyi bersama. Pesta telah dimulai!

“Yang bikin kami balik lagi kerinduan. Sense of belonging, kami merasa keluarga. Ternyata family is forever, walaupun masing-masing punya karakter, masing-masing punya ideologi. Begitu disatukan ke satu band, di situ energinya,” ungkap Steven sebelum tampil.


Steven alias Tepeng, vokalis Steven & Coconut Treez saat tampil di Beergarden pada pertengahan September 2017 (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Sebenarnya, tidak semua personel lama Steven & Coconut Treez kembali dalam reuni ini. Drummer Aci dan gitaris A Ray Daulay tidak ikut serta. A Ray dikabarkan masih menjalani proyek musik solonya, sementara Aci memilih untuk fokus mendalami agama.

“A Ray sedang di Belanda, kebetulan beliau banyak proyek-proyek solo. Takut waktu dia tersita. Kalau gue pribadi, untuk semuanya butuh totalitas untuk kembali lagi. Reuni bukan sekadar gimmick.”

“Kalau Aci, gue penginnya dia main lagi tetapi gue harus menghormati pilihan dia. Dan pilihan itu luar biasa, pilihan paten yang gue enggak bisa bilang, ‘Enggak.’ Kalau seandainya pilihan yang melenceng sudah semestinya gue mengarahkan. Tetapi ini bukan pilihan yang melenceng. Dia support kita dan kami support dia,” jelas Steven.


Iwan sang keyboardist (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Menurut bassist Rival atau yang biasa dipanggil Pallo, rencana kembalinya Steven & Coconut Treez sebenarnya sudah terlontar dua tahun lalu. Namun pada waktu itu masing-masing personel masih sibuk dengan berbagai proyek yang telanjur dijalani selepas Steven & Coconut Treez vakum.

Popularitas yang Berbahaya

Gesekan internal tidak bisa dipungkiri sebagai cikal-bakal pecahnya Steven & Coconut Treez delapan tahun lalu. Steven menyebutnya sebagai “uang dan popularitas yang berbahaya.” Pada akhirnya, waktu pula yang menyembuhkan. Menyembuhkan masing-masing ego dan menyadarkan kembali nilai keluarga yang telah mereka bangun atas nama Steven & Coconut Treez.

Learning by doing, makin ke sini (kami) makin matang. Kami sudah sama-sama merasakan, sama-sama mencoba kalau jalan masing-masing seperti apa. Semoga jadi lebih wise. Singel akan kami rilis secepatnya, kami pengin workshop dengan jalan gitu ke mana. Selain nyari inspirasi, menyatukan vibes lagi. Sebab sudah lama kami terpisah, sekitar delapan tahun,” ujar Steven.

Jawaban Steven lalu diperjelas oleh Pallo,  “Sekarang ini (bersatu dalam) kedewasaan, kalau dulu mungkin kami dalam ruang lingkup yang tiba-tiba terkenal. Meninggalkan rumah kami akhirnya sudah merasakan semua. Nah, kembali lagi dengan hawa baru semoga bisa menimbulkan warna baru untuk Steven Coconut Treez.”


Rival alias Pallo (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Saya kemudian mencoba menggali lebih dalam tentang apa yang mereka alami kala merintis band ini. Masa-masa sebelum popularitas melenakan para personel. Nostalgia ini sepertinya efektif mengundang tawa, kenangan demi kenangan pun mereka ceritakan tanpa rasa canggung sedikitpun.

“Dulu kami pernah main di Bali dapat uang cuma bisa buat beli oleh-oleh sandal. Sampai di rumah ketemu istri disambitnya pakai handphone yang lebih mahal dari harga sandal,” kata Steven sembari tertawa.

Bisa dibilang, grup ini mengalami metamorfosis yang cukup kontras. Termasuk merasakan sengatan berbisa sindrom menjadi bintang.

“Efek dari popularitas, lebih ke kaget saja. kami masih pada muda, belum siap mental untuk itu. Agak ‘kegocek’ saja. Kami dari nothing become something. Begitu meledak, langsung (terkena efek popularitas).”

“Sekarang kami lebih bijaksana, untuk lo bagus lo harus ‘nyusruk’ dulu. Untuk lo benar, lo harus salah dulu. Ada pembelajaran. Pembelajaran itu membuat lebih matang. Money dan popularity bahaya. Kalau lo nge-band, jadikan dulu band lo keluarga,” ujar Steven bijak.

Siap Berlayar Kembali

Setelah apa yang terjadi kemarin, Steven & Coconut Treez menyiapkan lembar baru kehidupan, mengumpulkan energi positif untuk sesuatu yang lebih besar dari sekadar urusan ego.

“Nanti kami ada program kita ke pulau untuk rekaman, kita tidak hanya merekam audio, tetapi visualnya juga. Semacam pariwisata sekaligus memberi identitas kalau Coconut Treez itu islands, Indonesia itu islands,” kata Steven.

Steven & Coconut Treez memang tidak bisa dipisahkan dari pantai dan pulau. Singel paling hit mereka, Welcome to My Paradise adalah lagu yang ditulis Steven atas kecintaanya pada Gili Trawangan. Bukti sahih bagaimana grup ini sangat dekat dengan nuansa tropikal.

"Memang Steven & Coconut Treez salah satu benang merahnya adalah suasana itu (tropikal), tetapi gue tidak bisa memungkiri banyak kawan-kawan yang tinggal di metropolitan. Jadi harus ada lagu yang bisa mewakili kehidupan perkotaan," kata Steven.



Saat ini, para personel Steven & Coconut Treez tinggal di lokasi yang berjauhan. Steven memilih tinggal di daerah Belitung, sementara Iwan di Bali. Sisanya hidup di Jakarta. Jarak bukan lagi alasan bagi mereka untuk kembali melanjutkan kapal yang sempat berhenti lama. Saat disinggung mengapa memilih Belitung, lagi-lagi Steven menjelaskan bahwa dirinya tidak bisa jauh dari pantai dan kehidupan pulau. Sebuah situasi dan kondisi yang dapat memicu kreatvitasnya.

Iklim industri musik, khususnya di ranah reggae antara sepuluh tahun lalu - ketika Steven & Coconut Treez dalam masa jaya - dibanding saat ini tentu berbeda. Steven & Coconut Treez menyadari betul hal itu. Mereka justru melihat ada kemajuan dari penggemar reggae di Indonesia pada saat ini, terutama soal cara memandang reggae. Jika dulu banyak penggemar reggae dan awam menilai reggae identik dengan ganja, anggapan itu perlahan pudar seiring berkembangnya informasi tentang reggae itu sendiri.

“Saat ini (dalam musik reggae Indonesia) secara industri dan komunitas banyak, gig gampang, sponsor sudah mulai melirik, produksi sudah canggih. Otomatis tanggung jawab besar. Orang awam tahunya reggae itu identik sama ganja. Tetapi itu tanggung jawab bersama, buat gue di mana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Kalau mau memaksakan (menggunakan ganja) ya berhadapan sama legal. Banyak hal positif yang banyak diangkat lewat reggae selain soal ganja,” ujar Steven berpendapat.


Teguh sang gitaris (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Soal karakter musik, Steven & Coconut Treez tidak ambil pusing. Bagi mereka, reggae tidak harus mencontek mentah-mentah dari Jamaika. Mereka percaya kearifan lokal dapat memberi daya pikat sendiri pada reggae. Untuk itu, Steven & Coconut Treez tidak ambil pusing dengan penilaian orang lain soal kadar kemurnian reggae mereka.

“Lo enggak mesti jadi orang Jamaika untuk mainin reggae, banyak yang bisa diangkat dari Indonesia, bisa dilihat bagaimana reggae di California, Latin, Jepang. Reggae beda-beda dengan karakter masing-masing. Buat gue, reggae itu budaya,” tanggap Steven.

Kemudian Pallo menambahkan, “Imanez, Steven, Tony Q, itu besar karena reggae Indonesia, kami tidak mencoba menjadi yang lain begini aslinya kami.”

Kembalinya Steven & Coconut Treez ibarat keluarga yang bersatu kembali. Steven menggambarkan bahwa mereka telah terikat oleh akad, sehingga terlalu dangkal jika membawa reuni ini hanya ke tataran semata demi uang atau popularitas.

“Wajar dari dalam keluarga ada perbedaan pendapat, tetapi dalam keluarga ada komitmen. Ada akadnya. Untuk anak-anak Steven & Coconut Treez akadnya itu family, keterikatan batin, mungkin ini lebih kuat dari akad. Perjalanan yang membuat kami memiliki keterikatan batin,” tutup Steven.


 


(ELG)

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

4 days Ago

Guruh juga mengingatkan jika generasi muda tidak lagi peduli akan bahasa Indonesia yang baik da…

BERITA LAINNYA