Merawat Pusaka Musik Tradisional

Wanda Indana    •    23 Maret 2017 12:49 WIB
indonesia musik
Merawat Pusaka Musik Tradisional
Gitaris I Wayan Balawan beraksi pada pada acara Ijen Summer Jazz di Licin, Banyuwangi, Jawa Timur. (ANTARA/Budi Candra Setya)

Metrotvnews.com, Jakarta: Jemarinya mulai menari-nari di atas dua tangkai gitar. Dawai-dawai yang disentuh mengalunkan nada-nada indah. Merdu disambar telinga.

Raut wajahnya mulai tampak syahdu, dahinya sesekali mengerut. Bahana lantunan nada-nada yang terbentuk dari teknik touch tapping style membikin kepalanya bergeleng-geleng. Itulah ritual rutin yang dilakukan I Wayan Balawan menyambut pagi. Balawan, begitu khalayak biasa menyapa, adalah salah satu maestro gitar kebanggaan Indonesia. Dia lahir di Gianyar, Bali, 9 September 1973. Balawan tumbuh besar di tengah keluarga pecinta seni. Dia sudah mulai bermain gitar sejak usia 8 tahun. Tak pelik, musik menjadi bagian dari hidupnya.

Ayah dua anak ini dikenal memiliki teknik permainan gitar yang unik dengan gitar elektrik double neck. Teknik yang dimainkan bernama touch tapping style juga disebut tapping delapan jari. Permainan gitar itu menggunakan jemari tangan kanan dan kiri, nyaris tanpa memetik. Teknik ini diperkenalkan gitaris asal Belanda, Eddy van Halen, dekade 70-an.

Teknik delapan jari dengan gitar elektrik double neck boleh dibilang rumit. Tangan kiri bertugas memainkan kord dan bass di neck bagian atas. Sementara itu, di saat bersamaan, tangan kanan memainkan melodi di neck bawah. Sepintas, seperti terdengar dua orang yang bermain gitar secara bersamaan. Memiliki teknik bergitar yang tak biasa itu, Balawan mulai dikenal dunia.



Balawan dan gitar double neck kebanggaannya. (MTVN/Raiza Andini)

Balawan memilih genre musik Jazz untuk menunjukkan bakat bermusiknya. Tapi, pada dekade 90-an, musik ini masih belum akrab di kuping orang Indonesia. Musik Jazz belum diterima di pasar musik tanah air. Dia pun lebih memilih merintis karir di luar negeri dengan mengikuti berbagai festival jazz. Justru, Balawan menerima banyak apresiasi dari luar lantaran kemampuannya dalam menyentil senar-senar gitar. Bahkan, Balawan sering diundang ke festival jazz bergengsi sebagai bintang tamu.

Pada 1998, Balawan kembali ke kampung halaman. Dia merasa tertantang untuk memberi warna baru pada musik jazz dengan menambahkan unsur irama musik tradisional. Toh, musik Jazz berasal dari luar negeri. Membesarkan musik jazz sama saja membesarkan budaya luar. Anak pasangan I Wayan Regug dan Ni Wayan Sunti ini pun mengajak teman-temannya membentuk band bernama Batuan Ethnic Fusion (BEF) yang memadukan jazz dengan musik etnik Bali.

Menggabungkan jazz dengan musik etnik tidaklah gampang. Butuh daya kreativitas tinggi untuk membuat musik gabungan jazz dan etnik tetap bernyawa. Setahun dibentuk, BEF merilis album perdana bertajuk Globalism. Balawan dan BEF membawa konsep musik jazz dengan balutan irama tradisional khas Indonesia kepada dunia.

Untuk mengenalkan musik tradisional, Balawan juga membentuk Yayasan Bumi. Di yayasan itu, setiap orang dari semua kalangan boleh belajar instrumen tradisional secara gratis. Semua kegiatan belajar mengajar dan pengadaan alat-alat musik mendapat sokongan finansial dari Hard Rock International untuk memajukan kesenian tradisional.

“Jadi murid-murid saya itu gratis belajar gamelan,” jelas Balawan saat ditemui Metrotvnews.com di kediamannya, Jalan Pacar, Denpasar, Kamis 16 Maret 2017.

Balawan dan beberapa seniman musik gamelan Bali menjadi tenaga pendidik di Yayasan Bumi. Yayasan itu akan beroperasi penuh tahun ini. Meski belum resmi dibuka, pendaftaran peserta didik sudah dibuka. Harapannya, musik etnik bisa diminati generasi muda.
 
Menjaga identitas

Butuh revitalisasi, regenerasi, dan rekreasi dalam melestarikan musik tradisional sehingga dapat berjalan beriringan dengan perkembangan zaman. Itu diperlukan untuk menangkal gempuran musik impor dari Barat, K-Pop, dan lainnya.

Balawan mengatakan, musik Indonesia harus punya identitas. Orisinalitas musik Indonesia adalah musik tradisional. Jadi, identitas itu harus dijaga. Caranya dengan menyisipkan sentuhan musik etnik dalam setiap pertunjukkan musik. Menurut dia, musik tradisional punya potensi besar. Jadi, dia tak ingin musisi asing yang mengeksplorasi kekayaan musik tradisional.

“Banyak musikus asing yang sudah ke Indonesia. Namun, jangan sampai Joe Satriani (maestro gitar asal Amerika Serikat) yang datang ke Indonesia untuk menggali musik etnik kita," ujarnya.

Begitu pun saat manggung di luar negeri, meskipun Balawan gitaris jazz, dia tetap membawakan sentuhan etnik dalam permainan gitarnya. Kata dia, idealisme bermusik juga harus dijaga.

"Saya tak pernah malu membawa entitas keindonesiaan saya. Harus ada sentuhan etnik, bahkan dari situ saya bisa dikenal. Jadi tak perlu berusaha menjadi mereka,” ungkap dia.

Balawan tak sendiri, musikus Indonesia yang konsisten merawat musik budaya Indonesia. Nama lain yang juga konsisten dalam mengembangkan dan memperkenalkan musik tradisional antara lain: Dwiki Dharmawan, Ivan Nestorman, Vicky Sianipar, Tohpati, dan Rizal Abdulhadi.

Merawat musik tradisi adalah tanggungjawab bersama. Memang tak gampang, maka butuh dukungan penuh pemerintah. Selama ini, peran pemerintah dalam melestarikan musik tradisional belum terlihat nyata.

“Kalau di luar negeri, pertunjukkan musik tradisional justru disambut. Disediakan panggung mewah seperti gedung opera. Jadi, mudik tradisional terkesan mewan dan berharga,” tutur Balawan.

Bukan hanya urusan genre musik, Balawan juga menggunakan alat musik gitar karya anak bangsa. Dalam konser-konsernya, dia selalu beratraksi menggunakan gitar elektrik double neck dari seri Rick Hanes Balawan Custom.

Baca: Menantang Gitar Kelas Dunia

Sebagai gitaris, Balawan sudah kenyang pengalaman menjajal berbagai macam gitar terbaik dunia. Tapi, beberapa alat musik yang ditelurkan orang Indonesia tak kalah dengan produk luar negeri. Menurut dia, gitar dalam negeri amat mampu bersaing dengan produk internasional.

Apalagi, Indonesia memiliki ketersediaan bahan baku yang berkualitas super. Jadi, kualitas produk dalam dan luar negeri tak jauh berbeda. Belum lagi, jumlah penduduk Indonesia yang ramai harusnya dapat menghidupkan pasar alat musik gitar domestik. Balawan bilang, Jika 10 persen saja masyarakatnya mendukung produk-produk musik buatan dalam negeri, maka karya anak bangsa akan dilirik internasional. Sekarang, tinggal respons masyarakat, apakah mau mengapresiasi produk-produk lokal atau tidak.

"Kita ini bangsa yang besar, apapun karya anak bangsa itu sangat mempunyai kesempatan untuk menjadi produk yang bisa bersaing di internasional," terang dia.

Sebab itu, Balawan mengajak masyarakat Indonesia untuk mendukung produk musik Tanah Air, daripada membeli produk luar negeri namun imitasi yang banyak dijual di Indonesia. Jangan terjebak dengan reputasi merk.

"Daripada beli produk KW tiga, empat, tapi namanya internasional, lebih baik menggunakan produk lokal yang KW satu," pungkas Balawan.


(FIT)

Menjaga Nyawa Clubeighties

Menjaga Nyawa Clubeighties

4 days Ago

Menjaga nyawa grup musik selama sembilan belas tahun bukan perkara mudah. Terlebih, dengan diti…

BERITA LAINNYA