Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

Agustinus Shindu Alpito    •    17 Oktober 2017 13:16 WIB
indonesia musik
Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia
Guruh Soekarnoputra (Foto: Antara/Rosa Panggabean)

Metrotvnews.com, Jakarta: Guruh Soekarnoputra bersama dengan Yockie Suryoprayogo, Ade Paloh (vokalis dan gitaris Sore) dan Mondo Gascaro menjadi pembicara dalam topik diskusi Musik Pop Indonesia yang diselenggarakan oleh Archipelago Festival, pada Sabtu (14/10/2017) di Soehanna Hall - Energy Building, SCBD, Jakarta.

Diskusi selama sekitar dua jam itu berlangsung menarik. Awalnya, jurnalis musik Wendi Putranto yang ditunjuk sebagai moderator membuka diskusi dengan meminta opini narasumber soal pendapat dari akademisi Rizaldi Siagian yang menurut Wendi pernah melontarkan pernyataan bahwa tidak ada musik pop asli Indonesia.

Musik pop Indonesia disebut hanyalah sebuah mitos. Hal ini terkait dengan budaya musik pop modern yang ada di Indonesia sebenarnya berakar dari musik Barat. Termasuk penggunaan instrumen dan tata cara bermusiknya.

“Sepengetahuan saya pada waktu dulu, waktu saya SD kalau orang bilang musik pop, saya pikir itu singkatan dari populer. Musik yang populer di masyarakat, musik orang banyak. Itu hanya pemikiran waktu itu saja. Tetapi kalau ada yang bilang musik pop Indonesia itu mitos, apa yang dikenal sebagai pop itu kan lagu apapun bahasanya tetapi diiringi dengan instrumen musik Barat (gitar, drum dan sebagainya),” ujar Guruh.

Usai Guruh mengutarakan pandangannya, mikrofon berlanjut ke Yockie, sosok yang turut membangun fondasi dunia musik pop Indonesia. Yockie memberi jawaban yang lebih spesifik atas wacana yang digulirkan moderator, “Secara etimologi, kata ‘pop’ itu dari ‘populer.’ Tetapi menurut saya, saya juga pernah bincang-bincang dengan Rizaldi Siagian, kalau saya sederhana, pop itu keniscayaan zaman. Transisi masyarakat tradisional ke tempat yang modern. Arogansi sektoral tidak perlu diperdebatkan. Musik pop hari ini adalah masyarakat pasca-tradisi. Upaya-upaya (meleburkan musik pop dan tradisional) selalu dilakukan, Guruh Gipsy (contoh) berhasil menyatukan musik tradisional dengan diatonal, meskipun itu seperti menyatukan minyak dan air.”


Yockie Suryoprayogo (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Diskusi sore itu semakin menarik kala pembicaraan masuk ke topik peran pemerintah terhadap perkembangan kebudayaan populer dan juga pengaruhnya terhadap pemembentukan indentitas musik pop Indonesia.

Moderator menyinggung era Presiden Soekarno yang sempat melarang musik  “ngak-ngik-ngok.” Larangan itu seperti bendungan besar yang menghadang pengaruh musik Barat yang ketika itu menyerbu berbagai belahan dunia bersama dengan kultur Generasi Bunga.

Namun, Guruh membantah jika apa yang dilakukan ayahnya kala itu adalah upaya “mematikan” kultur pop di Indonesia. Menurut Guruh, Bung Karno justru menyelamatkan karakter dan identitas kesenian Indonesia yang pada saat itu masih sangat muda.

“Saya mau meluruskan, yang dilarang Bung Karno itu musik ‘ngak-ngik-ngok.’ Kalau musik pop boleh, orkes boleh. Saya dan kakak saya pada waktu itu juga bikin band. ‘Ngak-ngik-ngok’ yang dimaksud itu rock n’ roll, dansa rock n’ roll, waktu itu suasananya kurang etis, terutama buat perempuan. Dulu goyangnya rock n’ roll itu sampai mengangkang (erotis), itu bukan kultur Indonesia.  Cewek Indonesia zaman itu merokok saja dicap begitu (jelek). Bung Karno ingin rakyat kita yang baru merdeka (memegang teguh norma dan kultur yang sudah lebih dulu ada di Indonesia).”

Yockie: Kita Mulai Krisis Norma

“Bayangkan, begitu proklamasi diumumkan, terjadi revolusi di segala bidang. Maksud Bung Karno revolusi terjadi di dunia politik, ekonomi budaya, moral, pendidikan, mental spiritual. Ini bagian dari nation and character building. Setiap bangsa harus punya kepribadian. Dulu (di awal kemerdekaan) masyarakat kita (bergejolak secara mental) karena sebelumnya banyak yang menjadi kuli (saat masih dijajah) dan tiba-tiba harus menjadi tuan.”

Penetapan larangan musik “ngak-ngik-ngok” itu dilakukan agar masyarakat yang secara mental masih beradaptasi lebih terarah dan tidak lepas dari kultur budaya Indonesia. Jadi, bukan semata-mata Bung Karno secara sepihak melakukan pelarangan tanpa dasar.

Belum sempat tujuan pembangunan karakter dan identitas kesenian Indonesia terwujud,  konsep itu terhenti. Guruh menyebut rezim Orde Baru adalah biang keroknya.

“Terus yang menghentikan ini (pembangunan karakter dan identitas kesenian Indonesia) adalah rezim Orba (Orde Baru). Begitu rezim Orba berdiri, langsung melanggar konstitusi 1945. Buat saya zaman Orba itu awal petaka di Indonesia. Dan (pengaruh buruk) itu masih berlangsung sampai sekarang. Buah petaka itu sampai sekarang.”


Guruh Soekarnoputra (Foto: Dok. MI)

Guruh tampak larut dalam topik pembahasan ini. Suasana kian seru. Secara tegas putra bungsu pasangan Bung Karno dan Ibu Fatmawati ini mengutarakan gagasan-gagasannya.

“Saya tidak akan menyebut Soeharto presiden. Buat saya, pemerintahan Orde Baru itu ilegal. Seharusnya (dulu) MPR bisa membereskan, tetapi MPR juga sudah dikebiri. Gara-gara petaka Orba itu kita jadi ada krisis kebudayaan. Seni salah satu aspek kebudayaan.”

“Gara-gara Orba, soal bahasa kita sudah terlalu ke-Inggris-Inggris-an. Saya prihatin. Neo-liberalisme dan neo-kapitalisme di bidang musik, betapa sudah merasuknya liberalisme dan kapitalisme di kehidupan kita,” tegas Guruh.

Guruh memang sebal dengan gaya bicara orang Indonesia yang sering memakai istilah asing. Padahal, arti dan kata padanan istilah asing yang digunakan ada dalam bahasa Indonesia. Menurut Guruh, ini adalah satu bentuk kemunduran budaya.

Sayang sekali durasi diskusi yang terbatas membuat beberapa gagasan yang telanjur diutarakan Guruh dan narasumber lain seperti menggantung. Saya mencoba mengikuti Guruh ke belakang panggung, untuk meminta penjelasannya lebih lanjut, terutama terkait opininya perihal Orde Baru yang ikut andil dalam krisis budaya yang sebelumnya disebut oleh Guruh.

Di belakang panggung, Guruh pun tampak sabar menjawab berbagai pertanyaan terkait pandangannya. Dia menjelaskan secara rinci, termasuk memberikan pemahaman seputar sejarah Indonesia.

“Kalau kita telusuri sejarah, kita akan tahu yang membentuk rezim Orde Baru adalah kaum Nekolim, neo-kolonialis dan imprelialis yang menganut politik liberalisme dan kapitalisme. Ketika terbentuk orde baru yang dipimpin oleh Jenderal Soeharto, langsung terbuka selebar-lebarnya (infiltrasi kebudayaan Barat) sampai sebenarnya kita dijajah secara modern. Penjajahan modern itu berbeda dari penjajahan zaman dulu yang harus membentuk koloni. Misal penjajahan ekonomi, pasar kita dikuasai. Atau di bidang politik lewat perjanjian yang menguntungkan mereka, termasuk di bidang kebudayaan. Mereka (Barat) melakukan infiltrasi kebudayaan. Kita diserbu dengan kebudayaan Barat sampai bangsa kita banyak yang terhanyut dan sampai sekarang.”

Dampak dari gelombang infiltrasi kebudayaan Barat itu menurut Guruh membuat para generasi muda lupa akan akar sejarah budaya Indonesia. Termasuk dalam bidang musik pop. Generasi muda selalu berkiblat ke Barat dalam urusan musik dan cabang-cabang kesenian lain. Padahal, jika konsep kebudayaan Indonesia dibangun dengan sistematis oleh pemerintah, kita dapat bersaing dengan negara-negara lain yang maju dalam soal industri kebudayaan, Korea Selatan dengan K-Pop dan India dengan industri Bollywood contohnya.

“Itulah Orde Baru. Orde Baru tidak membuat konsep kebudayaan,” kata Guruh.

Guruh juga mengingatkan jika generasi muda tidak lagi peduli akan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Termasuk implementasinya dalam produk kesenian, dampak terburuknya adalah kekayaan budaya Indonesia tinggal sejarah.

“Lihat saja iklan di luar ruang, judul film Indonesia, nama toko dan restoran, semua menggunakan bahasa asing. Suatu kebudayaan harus ada yang menjunjung dan mendukung, yaitu oleh masyarakatnya. Jika orang Indonesia tidak bisa menjunjung bahasa Indonesia yang baik dan benar, ya bangsa ini bisa punah. Karena bahasa Indonesia kita bisa bersatu.


Guruh Soekarnoputra (Foto: Dok. MI/Atet)

Dengan segala yang terjadi pada saat ini, Guruh tetap optimis dunia budaya di Indonesia, termasuk dalam bidang seni, dapat mencapai titik ideal. Syaratnya, dukungan penuh dari pemerintah.

“Peran pemerintah penting. Tetapi sekarang (perhatian pemerintah) masih kurang di bidang kebudayaan,” tegas Guruh.

Saat ini Guruh menjabat sebagai anggota Komisi X DPR RI yang mengurus bidang pendidikan, kebudayaan, pariwisata, ekonomi kreatif, pemuda, olahraga dan perpustakaan. Pria kelahiran 13 Januari 1953 itu dikenal memiliki pengaruh besar dalam dunia musik Indonesia. Salah satu karya monumental Guruh adalah album eksperimental Guruh Gipsy yang dirilis pada 1977. Album itu disebut-sebut sebagai salah satu album terbaik dalam sejarah musik modern Indonesia. Selain itu, Guruh banyak menciptakan karya musik pop, banyak dari lagu-lagu ciptaan Guruh dipopulerkan oleh penyanyi Chrisye, di antaranya Puspa Indah, Kala Sang Surya Tenggelam dan Smaradahana.




(ELG)

Cinta 99% Dea Dalila

Cinta 99% Dea Dalila

3 days Ago

Di momen yang tepat dan didukung tekad yang kuat, Dea memberanikan diri. Dia resmi memutuskan k…

BERITA LAINNYA