Rendy Pandugo dan Julukan 'John Mayer Indonesia'

Elang Riki Yanuar    •    17 November 2016 17:50 WIB
rendy pandugo
Rendy Pandugo dan Julukan 'John Mayer Indonesia'
Rendy Pandugo (Foto: MI/Permana)

Metrotvnews.com, Jakarta: Nama Rendy Pandugo mencuat setelah sering meng-cover lagu-lagu John Mayer di situs berbagi musik, Soundcloud. Hingga akhirnya, A&R dari label besar, Sony Music Indonesia meliriknya dan mengajaknya bergabung.

Ditawari bergabung dengan label besar tak membuat Rendy langsung menerima ajak itu. Butuh tiga kali pertemuan sebelum akhirnya dia bersedia bergabung ke label yang menaungi banyak artis seperti GAC, Fatin Shidqia, Isyana Sarasvati hingga Superman Is Dead (SID) itu.

Pengalaman Rendy bernaung di label besar lain menjadi alasan utama penolakannya. Rendy merasa trauma tergabung di major label. Sebelum memutuskan bersolo karier, Rendy pernah bergabung di duo Dida bersama Iddo Pradananto.

Gelombang boyband yang menerjang industri musik kala itu membuat duo Dida langsung tenggelam. Duo yang dibangun Rendy bersama teman lamanya harus karam dan berakhir. Rendy lalu memutuskan jalan sendiri.

"Aku tolak karena agak trauma di major label. Goal-nya (tujuan bermusik) tadinya hanya rekaman sendiri, terus edarin sendiri, cuma itu. Tapi tiba-tiba A&R Sony hubungin aku," ujar Rendy Pandugo, saat berbincang dengan Metrotvnews.com di Kantor Media Indonesia, Jakarta.

Sejak lama, Rendy mengimpikan memiliki album berbahasa Inggris. Hal itulah yang membuatnya sedikit pesimis akan ada lagi label yang mau menerimanya. Namun, keingingan Rendy coba diakomodir Sony. Bahkan, A&R Director Asia Pasific, Hayden Bell setuju jika Rendy membuat album penuh berbahasa Inggris.

"Setelah memutuskan bersolo karier, pengin banget bikin yang belum pernah dibuat sebelumnya seperti buat album dalam bahasa Inggris. Sepertinya tidak semua label mau. Tapi pihak Sony menjelaskan mereka mau mendukung keinginan gue itu," katanya.


Rendy Pandugo (Foto: Metrotvnews/Elang)

Soundcloud memang membuat jalan bermusik menjadi terbuka ketika dia membangun jalan musiknya secara mandiri. Rendy punya alasan sendiri lebih memilih Soundlcoud ketimbang Youtube seperti musisi kebanyakan waktu itu.

"Media sosial bagian penting dari orang, termasuk artis. Soundcloud itu gue buat karena pengen lihat seberapa jauh kemampuan nyanyi gue. Gue tidak milih Youtube karena tidak punya kamera, kosan gue jelek," katanya.

Berkat Soundcloud pula, Rendy pernah terlibat mengisi soundtrack film yang disutradarai Acha Septriasa. Rendy berduet dengan Piyu menyanyikan lagu Firasatku. 

"Untungnya gue cukup berkutat di home recording. Waktu itu Soundcloud masih jarang orang cover yang proper. Apalagi di Indonesia masih jarang waktu itu," terangnya.



Hikmah Sedekah Rp20 ribu

Merantau ke Jakarta tak semulus yang Rendy kira. Merilis album bersama label besar tak membuat jaminan tawaran manggung terus berdatangan. Rendy mulai putus asa. Awal 2014, dia ingin mengakhiri karier musiknya dan memilih bekerja kantoran agar memiliki pemasukan tetap.

Lama tak manggung membuat uang tabungan Rendy habis. Apalagi, saat itu dia sudah menikah. Di suatu Jumat, uang miliknya tersisa Rp30 ribu. Sementara uang di tabungannya hanya tersisa Rp5 ribu. Namun, kala itu Rendy memutuskan menyumbangkan uangnya untuk sedekah.

"Januari 2014 memang benar-benar titik terendah gue. Sisa duit cuma Rp30 ribu, di ATM cuma ada Rp5 ribu. Entah bagaimana waktu itu ingin sedekah. Waktu itu sedekahRp20 ribu. Itu titik paling ikhlas di hidup gue, tanpa mengharapkan apa-apa," kenang Rendy.

Entah kebetulan atau tidak, keesokan harinya Rendy mendapat tawaran menyanyi secara reguler di sebuah mal di Jakarta. Rendy masih ingat, dia dibayar Rp450 ribu. Kala itu, Rendy diharuskan menyanyi selama empat jam sehingga suaranya habis. Meski begitu, dia tetap menikmati pekerjaannya dahulu.

"Alhamdulillah sampai detik ini ada saja pekerjaannya. Kayak tidak masuk akal sih, tapi begitulah kejadiannya," ucapnya.

Kini, pria 31 tahun ini semakin mantap dengan pilihannya di dunia musik. Dia yakin, musik bisa membuatnya bertahan hidup.

"Jadi bisa dibilang ini balik ke nol lagi. Saya yakin musik bisa menghidupi. Kalau dilakukan secara fokus, musik ada masa depannya," katanya.



John Mayer dari Indonesia

Nama John Mayer memang begitu melekat dalam diri Rendy. Bahkan, dia kerap dijuluki 'John Mayer dari Indonesia.' Meski awalnya menerima julukan itu, Rendy sempat risi juga karena 'gelar' itu justru menjadi bahan orang untuk mencibirnya.  

"Awalnya baik-baik saja. Tapi lama-lama risi juga. Tapi karena julukan itu sudah menempel, akhirnya apa yang gue lakukan jadi disangkut-sangkutin. Padahal tidak selalu di otak gue tidak melulu John. Akhirnya banyak yang bilang, 'lo terobsesi banget sih sama John Mayer," ujar Rendy.  

Rendy mengakui banyak belajar dari cara John bernyanyi atau bermain gitar. John Mayer bahkan dianggap Rendy orang paling berjasa terhadap karier bermusiknya secara tidak langsung.

"Gue tahu John Mayer dari 2007. Gue melihat dia di Youtube memainkan hal yang complicated, main gitarnya tidak biasa. Gue tertantang pengen kaya begitu," terangnya.

"Untuk melepas julukan itu susah banget. Dia salah satu orang berjasa, tapi juga jadi bumerang ketika terlalu kental. Itu hal wajar karena semua musisi suka digituin (punya julukan)," lanjutnya.

Rendy baru saja merilis singel pertama yang I Dont Care. Lagi-lagi, nama John Mayer ikut diseret dalam lagu itu.

"Gue agak sedikit bingung kenapa mereka menyamakan lagu I Don't Care dengan lagu John Mayer. Padahal menurut gue lagu ini sudah sangat netral. Memang ada unsur John Mayer-nya karena musikalitas gue banyak terinspirasi dari dia. Tapi tidak dengan sengaja memirip-miripkan," jelasnya.


Rendy Pandugo (Foto: MI/DICKY ADI PRASETYO)

Kini, Rendy menyiapkan album solo perdananya. Dia sudah melakukan rekaman di Swedia untuk album yang akan dirilis tahun depan itu. Lewat album ini, Rendy ingin anggapan orang yang kerap menyebutnya mengekor John Mayer akan hilang.

"Semoga bisa dihilangkan mungkin ketika album rilis. Biar mereka tahu album ini rangkuman perjalan musik gue. Kalau selama ini dihakimi dompleng John Mayer, dengan album ini mereka akan lebih terbuka pikirannya," katanya.

"Sekarang iklimnya lagi enak. Industrinya beragam banget. Gara-gara Young Lex muncul, hip hop terdengar lagi. Musik indie hidup lagi diwakili Tulus juga. Musisi major label, indie, mengeluarkan sesuatu dan semua ada pendengarnya. Semoga ini waktu yang tepat buat saya," harapnya.



 
(ELG)

Giring Nidji Keputusan Vakum dan Visi Politik

Giring Nidji Keputusan Vakum dan Visi Politik

3 days Ago

Setelah lima belas tahun Bersama Nidji, Giring Ganesha mengambil keputusan besar untuk vakum.

BERITA LAINNYA