Senandung Senja Yon Koeswoyo

Elang Riki Yanuar    •    19 Oktober 2016 18:36 WIB
indonesia musikkoes plus
Senandung Senja Yon Koeswoyo
Yon Koeswoyo (Foto: MI/Adam Dwi)

Metrotvnews.com, Jakarta: Tubuh pria tua itu hanya bersandar di sebuah sofa berwarna cokelat. Seorang kawan di dekatnya memetik gitar. Seketika, dia langsung bangkit dari sandaran lalu berdendang.

Aku dalam perjalanan
Dari pagi sampai malam
Sendiri... hooo hooo
Sendiri.. hooo hooo

Tak pernah ku mengerti
Siang dan malam hari
Malam bintang gemerlapan
Siang bunga berkembangan
Oh sayang...


Pria itu adalah Yon Koeswoyo. Dia baru saja menyanyikan Seindah Matahari milik grup musik yang dia bangun, Koes Plus. Ia seperti membuktikan ucapannya ketika awal perbincangan kami. Saat itu, saya bertanya apakah dia masih kuat bernyanyi.

"Oooh sudah bisa (menyanyi). Suara saya masih tinggi. Nyanyi masih ingat. Tidak pikun. Syair-syairnya masih ingat," kata Yon.


Yon Koeswoyo sedang bernyanyi (Foto: Metrotvnews.com/Elang)

Entah berapa kali Yon bersenandung di sela perbincangan singkat kami di suatu sore. Dia berdendang setiap kenangan datang atau teringat lagu-lagu Koes Plus yang gemilang.

Bercerita lalu tiba-tiba bernyanyi membuat Yon seperti sedang mendongeng dengan cucunya. Tapi, Yon tentu tidak sedang berdongeng. Dia tidak sedang berhikayat tentang pahlawan negeri antah-berantah. Dia sedang menceritakan dirinya sendiri dan saudara-saudaranya yang tergabung di sebuah grup musik yang bagi sebagian orang dianggap pahlawan.

"Edaaan. Enak banget ya," ucap Yon usai menyanyikan sebait lagu Kisah Sedih di Hari Minggu.

Lagu Koes Plus yang Jarang Diketahui

Yon tak banyak bergerak dari duduknya. Sesekali dia mengambil minum. Tubuhnya memang masih terlihat lemas. Dia belum lama keluar dari rumah sakit setelah selama sebulan lebih dirawat akibat infeksi di paru-parunya. Itulah kali pertama Yon dirawat di rumah sakit.  

Tak lama pulang dari rumah sakit, kaki dan bagian tubuhnya yang lain membengkak. Dia terpaksa harus kembali ke rumah sakit selama empat hari.

"Tapi sekarang bengkaknya sudah hilang. Napas juga sudah lega. Tadinya sesak sekali napasnya. Kalau malam itu saya sudah tidur kemarin. Mulai jam 12 malam sampai jam 6 pagi itu susah tidur. Tapi sekarang lancar. Sudah bisa bernyanyi juga. Tapi kalau menyuruh saya menyanyi yo bayar dong," ucap Yon berkelakar.

Begitulah Yon. Bernyanyi sejak tahun 1960-an membuatnya tak bisa jauh dari musik. Yon bahkan mengaku lemas jika tak mengeluarkan nada dari bibirnya. Bagi Yon, tampil di panggung adalah 'rumah sakit' yang sesungguhnya.

"Sebenarnya menyanyi itu seperti obat bagi saya. Kayaknya saya menjadi segar kalau menyanyi. Jiwa raga saya menjadi sehat. Dari tahun 1960 saya sudah menyanyi, kalau tidak menyanyi malah lemas saya," ujarnya.



"Saya kalau menyanyi dua jam tidak mau minum. Laah, anak-anak muda baru menyanyi tiga atau empat lagu sudah minum air. Kalau saya tidak mau. Masa baru menyanyi satu jam minta air minum. Makanya banyak orang yang bingung, kok Yon kuat ya. Orang yang di belakang yang malah, 'hei sudah Yon ayo (selesai), capek kamu nanti'. Tidak pernah saya lemas di panggung. Aneh ya memang," lanjutnya.

Tak ada yang melarang Yon terus bernyanyi, termasuk keluarga. Mereka hanya mengingatkan agar Yon tidak 'lupa daratan' jika tampil di panggung. Membahas larangan bernyanyi membuat Yon teringat sosok ayahnya, Koeswoyo.

Yon, Nomo, Jon, Yok dan Toni sempat mendapat tentangan keras sang ayah ketika hendak memutuskan bermusik. Menurut Koeswoyo, menjadi musisi tidak menjamin perekonomian alias tidak akan sejahtera. Tapi, sikap Koeswoyo berubah ketika lagu anak-anaknya diputar di radio.

"Lagu Koes Bersaudara seperti Pagi yang Indah, Telaga Sunyi keluar di RRI. Bapak saya dengar terus dia bilang, 'Le kok enak ya le'. Laaah, saya bilang juga apa pak. Malah bapak saya ngarang lagu juga. Karangannya enak-enak dia. Layang-layang itu bapak saya yang ngarang. Lagu Mari-Mari, dan Muda-Mudi bapak saya yang bikin. Lucu juga kalau dipikir," kata Yon tersenyum.

Tak Pernah Menyesal

Tatapannya kosong melihat ke atas. Sesekali Yon mengangguk tanda setuju. Anak sulung Yon, Gerry Koeswoyo sedang membacakan berita Metrotvnews.com.

Penyanyi Tua, Balada Legenda Pop

Dalam artikel itu, Gerry menitikberatkan tentang ironi musisi lawas seperti Yon yang harus tersengal-sengal menjalani masa tua. Hal sangat kontras terjadi pada musisi luar negeri seperti The Beatles atau The Rolling Stones. Meski sudah jarang berkarya, mereka masih menikmati royalti hasil karyanya terdahulu. Tapi, Yon dan Koes Plus tidak seperti itu.

"Semoga bangsa ini tidak menjadi bangsa yang individu-individunya mudah melupakan sejarah," kata Gerry dengan lantang membacakan bagian akhir berita.

"Kata siapa itu?" tanya Yon.

"Kata saya Beh (panggilan untuk Yon). Benar enggak saya?," ucap Gerry balik bertanya.

"Iya benar itu. Memang begitu," kata Yon.

Yon mendapat bantuan dari para penggemar Koes Plus untuk membiayai pengobatannya. Pemasukan Yon praktis tidak ada karena dia berhenti manggung. Ya, di usianya yang belum lama menginjak 76 tahun, Yon masih mengharapkan nafkah dari panggung ke panggung.


Yon Koeswoyo baru saja berulangtahun ke-76 (Foto: Metrotvnews/Elang)

Padahal, di masa jayanya karya-karya Koes Plus menjadi primadona dan incaran para produser rekaman. Lagu-lagunya yang sederhana membuat Koes Plus begitu digandrungi. Pada tahun 1973, perusahaan rekaman Remaco tergiur dengan popularitas Koes Plus.

"Di Remaco gila itu, gede banget. Belum dijual, belum rekaman sudah dikasih duit. Pernah dikasih Rp15 juta. Waktu itu zaman harga mobil masih Rp10 juta. Ya dikasih saja. Kita memutuskan beli putus, dengan alasan royalti itu lama," kenang Yon.

Pilihan Koes Plus bergabung bersama Remaco memang pilihan tepat, setidaknya bagi kehidupan ekonomi personelnya saat itu. Pada tahun 1974, Koes Plus bahkan merilis album hingga 22 hanya dalam waktu setahun.

"Tapi sama Remaco itu puncak kejayaan Koes Plus. Sampai apa yang dibikin Koes Plus dibeli sama orang. Ya kebetulan karena lagunya enak semua. Jadi pendengar juga tidak kecewa," katanya.



Namun, akibat sistem beli putus itu, Koes Plus memang kehilangan hak royaltinya. Yon mengakui, belum sepenuhnya mengerti tentang royalti saat itu sehingga menyerahkan segala keputusan kepada Toni.

Tapi, Yon tak mau merutuk nasibnya. Di usia senjanya, Yon merasa sudah tak perlu melempar kesalahan kepada orang lain. Dia merasa tak butuh lagi berpolemik.

"Mas Toni semua yang memutuskan (soal perjanjian rekaman). Saya, Yok, Muri menyerahkan semua kepada Mas Toni, karena dia pemimpin besarnya. Mas Toni pemimpin besar revolusinya..hahaha," canda Yon.

Yon memang begitu menghormati sosok Toni Koeswoyo. Di mata Yon, Toni kakak kandung sekaligus juga 'guru besar' dalam hidupnya. Toni adalah patron.

Toni yang memperkenalkan Yon kepada musik. Sosok musisi yang meninggal pada 1987 itu pula yang membuat Yon tak menyesal memilih jalan hidupnya di dunia musik.

"Mas Toni pernah berujar, 'gua hidup dan mati di musik.' Akhirnya saya ikut saja sama Mas Toni. Makanya sampai setua ini (tetap bermusik)," ucap Yon.

Menuju Keabadian

"Kita kapan ya manggung?" ucap Yon bertanya kepada Sony.

"Babeh (sapaan untuk Yon) sudah sehat belum? Kalau sudah ayo," jawab Sony.

"Sudah, sudah," jawab Yon.

"Saya kangen manggung lagi," kata Yon menoleh kepada saya.

"Sebetulnya saya bergairah begini juga karena sambutan masyarakat (penggemar). Kalau saya menyanyi, mereka ikut jingkrak," ucap Yon melanjutkan.

Kehadiran penggemar menjadi alasan terbesar Yon masih terus aktif bermusik membawa nama Koes Plus. Ada kepuasan tersendiri yang dirasakan Yon ketika melihat orang lain ikut bernyanyi dengannya. Apalagi jika orang-orang itu usianya jauh di bawahnya.  

Hari Koes Plus Nasional

Perjalanan panjang Koes Plus yang dimulai dari Koes Bersaudara pada tahun 1960-an hingga sekarang membuat penggemar mereka terdiri dari lintas generasi. Setiap manggung di suatu tempat, Yon masih tak menyangka disambut ribuan orang.

"Ada yang dulu penggemar Koes Plus masih SMP sekarang jadi pejabat, jenderal, bahkan menteri. Waktu saya diopname kemarin orang bilang, Yon kamu tidak boleh sakit, tidak boleh kamu mati. Bingung juga saya. Di situ baru saya sadar kalau Koes Plus itu milik masyarakat Indonesia. Merasuk di jiwa raga mereka. Saya tidak pernah menyuruh mereka jadi penggemar. Tapi mereka mau sendiri, tidak dibayar," tuturnya.


Yon Koeswoyo asyik berdendang (Foto: Metrotvnews/Elang)

Yon memang masih aktif mengusung panji Koes Plus bersama anak-anak muda yang awalnya penggemar Koes Plus. Yon mengajak Sony mengisi posisi bass di Koes Plus era sekarang. Ada Seno di posisi drum, dan Wahyu pada keyboard. Mereka terakhir kali manggung pada Juli 2016 sebelum Yon dilarikan ke rumah sakit.

Yon lebih suka menyebut rekan-rekan yang usianya jauh lebih muda darinya itu sebagai 'pengiring', "Koes Plus itu tetap Toni, Yok, Yon dan Murry. Tidak ada yang lain."


Yon, Yok dan Muri (Foto: Antara)

Tetap terus tampil dari panggung ke panggung di berbagai kota bukan sekadar urusan mencari nafkah. Lebih dari itu, Yon ingin memastikan lagu-lagu Koes Plus tetap dinyanyikan. Karena itu, Yon mengaku senang ada band lebih muda darinya kerap membawakan lagu-lagu Koes Plus.

"Koes Plus dan lagu-lagunya milik masyarakat Indonesia. Dengan mereka menyanyikan berarti ikut membawa kami menuju keabadian. Semakin banyak dinyanyikan, Koes Plus semakin abadi," ucap Yon.

Lembayung segera purna. Wajah Yon terlihat mengantuk dan mulai sering mengucak mata. Dia bangkit dari sandaran lalu pamit ingin tidur. Gerry lantas mengantar Yon yang sudah mengeluh kelelahan. Tak lupa, Yon terus bersenandung sambil berjalan menuju kamar.

Bergembira ... bernyanyi bersama
Jangan lupa kepada saya
Bergembira ... bernyanyi bersama
Jangan lupa kepada saya

(Bergembira - Koes Plus)




(ELG)

Senandung Senja Yon Koeswoyo

Senandung Senja Yon Koeswoyo

1 month Ago

Tubuh pria tua itu hanya bersandar di sebuah sofa berwarna cokelat. Seorang kawan di dekatnya m…

BERITA LAINNYA