Band Ganti Vokalis, Masih Mampukah Bertahan?

Agustinus Shindu Alpito    •    28 November 2017 18:28 WIB
indonesia musik
Band Ganti Vokalis, Masih Mampukah Bertahan?
Once dan Ari Lasso saat konser reuni Dewa 19 (Foto: Antara/Ari Bowo Sucipto)

Jakarta: Pada tahun ini dunia musik Indonesia dikejutkan oleh tiga band yang vokalisnya hengkang dan vakum. Mereka adalah Giring dari Nidji, Is dari Payung Teduh dan Donnie dari Ada Band. Ditinggal vokalis adalah badai besar bagi sebuah band, mengingat vokalis sebagai garda depan yang turut membentuk ikon dan karakter band itu sendiri.

Menjawab pertanyaan pada judul di atas, tentu kita semua tahu bahwa kesempatan bagi sebuah band untuk bertahan pasca-ditinggal vokalis masih ada. Tetapi hal itu sangat kecil melihat kenyataan yang ada. Bahkan, grup yang mampu meneruskan eksistensi mereka di level yang sama atau lebih dengan vokalis baru bisa dihitung dengan jari pada satu tangan.

Salah satu contoh paling sukses adalah Dewa. Setelah Ari Lasso tak lagi menjadi vokalis, Dewa yang memang sudah biasa gonta-ganti personel menggaet Once pada 1999. Album Dewa pertama kali bersama Once, Bintang Lima (2000), ternyata mampu meneruskan tradisi kesuksesan Dewa di era 1990-an bersama Ari Lasso. Tetapi, ini adalah sebuah fenomena yang sangat langka terjadi di dunia musik Indonesia, bahkan dunia.


Once (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Beberapa kasus mengganti vokalis justru membuat band kian tak tentu arah atau malah bubar.

Beberapa nama yang sempat mencoba untuk meneruskan karier musik dengan vokalis baru di kancah musik pop antara lain Kerispatih, Drive, Cokelat, Seventeen, Ecoutez, Samsons, Soulvibe, namun nama-nama itu harus berjuang untuk kembali merengkuh kejayaan.

Belum lagi penggemar mereka terpecah karena lebih memilih mengikuti karier solo sang vokalis. Sammy Simorangkir contohnya, lepas dari Kerispatih bukan berarti karier musiknya hancur. Sammy justru mampu sukses di jalur solo. Hal serupa juga terjadi pada Kikan yang hengkang dari Cokelat dan Anji yang keluar dari Drive. Pada kasus Anji fenomena ini kian menarik. Anji justru berhasil mencapai titik baru dalam karier musiknya lewat jalur solo. Pada bulan ini dia juga mendapat trofi AMI Awards lewat karya solonya.


Anji (Foto: dok. pulseindo)

Dalam kasus ini, terdapat fakta unik di mana grup dari kancah sidestream justru memiliki resistensi terhadap badai ganti vokalis. Contohnya Killing Me Inside, mereka bukan hanya ganti vokalis satu kali, setidaknya tiga kali! Melihat dari akun Instagram mereka, pergantian vokalis beberapa kali tidak sama dengan membunuh jadwal panggung mereka. Hal yang sama juga terjadi pada band cadas sekelas Burgerkill, Deadsquad, Edane dan Hellcrust. Mereka justru mampu melakukan eksplorasi lebih dengan vokalis baru tanpa kehilangan pasar.

Pada band-band yang mampu bertahan meski dengan vokalis baru, fakta yang tidak bisa dikesampingkan adalah kharisma kuat yang bukan hanya dimiliki oleh vokalis, melainkan personel lain. Dewa dalam hal ini tentu kita semua tahu bahwa Ahmad Dhani memiliki daya tarik tersendiri. Begitu juga dengan posisi Eet Sjahranie pada Edane, Eben pada Burgerkill dan Stevie Item pada Deadsquad. Celaka bagi band yang tongkat komando bersifat tunggal dan digenggam oleh vokalis yang pergi.

Ragam Alasan

Berbagai alasan dipilih para vokalis untuk keluar dari band. Mulai dari urusan agama, perbedaan visi-misi, hingga tergiur karier politik.

Noor Al Kautsar alias Ucay adalah satu dari sedikit vokalis yang hengkang dengan alasan ingin mendalami agama. Ucay keluar dari Rocket Rockers pada 2013, setelah 13 tahun bersama. Alasan ini juga sempat menjadi fenomena beberapa tahun lalu. Termasuk menjerat drummer Noah, Reza.

\
Ucay saat masih bersama Rocket Rocker (Foto: Antara/Teresia May)

Sedangkan Mohammad Istiwamah Djamad alias Is, menjadi bagian dari vokalis yang hengkang dengan alasan perbedaan visi-misi. Keluarnya Is seperti petir di siang bolong bagi penggemarnya, mengingat sebelumnya publik tidak mencium aroma perpecahan pada grup Payung Teduh

Alasan cukup unik datang dari Giring yang memutuskan vakum sebagai vokalis Nidji. Selain merampungkan kuliah, Nidji diketahui kini aktif sebagai bagian dari Partai Solidaritas Indonesia.

Baca: Giring Nidji, Keputusan Vakum dan Visi Politik

Berbagai siasat juga diterapkan oleh band sebagai cara menyelamatkan karier dari karam. Rocket Rockers misalnya, mereka memilih mengganti posisi yang ditinggal Ucay dengan gitaris Aska. Langkah ini sebenarnya cukup efektif, karena memasukkan nama baru, lebih-lebih sebagai vokalis, sangat besar taruhannya.

Menjaga keutuhan band bukan hal mudah, meski telah bersama selama bertahun-tahun. Menjawab pertanyaan, "Mampukah band bertahan selepas vokalis pergi?" Jawabannya adalah, mampu tapi sulit.

 


(ELG)