Masa Awal Naif: Disambit Penonton hingga Manggung di Acara Musik Underground

Agustinus Shindu Alpito    •    08 September 2017 15:50 WIB
naif band
Masa Awal Naif: Disambit Penonton hingga Manggung di Acara Musik Underground
NAIF (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kesuksesan yang dirasakan Naif saat ini merupakan buah dari konsistensi dan perjalanan panjang yang telah dirintis sejak 1995. Dalam perjalanannya, Naif menjadi salah satu band terbesar di Indonesia. Memberi catatan sejarah tersendiri dalam jurnal musik Indonesia.

David menceritakan perjalanan Naif di era awal berdiri cukup berkesan. Mulai tampil tanpa dibayar, manggung di acara musik underground bersama band cadas, hingga duduk di sambungan gerbong kereta api saat menuju Yogyakarta untuk tampil memperkenalkan musik mereka.

"Ada momen-momen yang terekam dengan baik, misalnya momen pertama kali manggung, momen pertama kali manggung di Yogyakarta. Waktu itu di acara undeground, yang main itu band hardcore, grindcore, tetapi Naif di situ pertama kali mainin lagu Piknik 72. Orang sudah pada joget saja, itu momen buat gue. Itu antara tahun 1995 atau 1996,” ujar David, vokalis Naif, saat ditemui di kantor label demajors yang terletak di Jakarta Selatan, pada Kamis (7/9/2017).

Piknik 72 pertama kali dibawakan Naif di atas panggung di Yogyakarta, tepatnya di Stadion Kridosono. Mereka menuju Yogyakarta menggunakan moda transportasi kereta api.

“Kami naik kereta ekonomi dari Jakarta, duduk di sambungan gerbong ramai-ramai karena enggak dapat bangku.”


Naif saat manggung di Prambanan Jazz 2017 (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Naif terdiri dari David Bayu Danangjaya, Fajar “Jarwo” Endra Taruna (gitaris), Mohammad “Emil” Amil Hussein (bassist), dan  Franki “Pepeng” Indrasmoro Sumbodo (drummer). Grup ini terbentuk kala para personel masih mengenyam pendidikan di Institut Kesenian Jakarta.

Pada 22 Oktober 2017, Naif berusia 22 tahun. Grup ini masih solid mempertahankan personel sejak awal berdiri. Terkecuali, keyboardist mereka yang telah hengkang, Chandra Wirawan Sukardi. Kondisi ini kontras dengan keadaan grup musik pada umumnya yang biasa gonta-ganti personel.

Saat disinggung soal resep langgeng Naif, David menjelaskan kunci dari hal itu adalah kemampuan dari para personel untuk mengesampingkan egoisme untuk kepentingan grup.

"(Nge-band itu) lo kayak married, lo harus mengesampingkan ego lo. Lo sudah satu teamwork gitu, lo sudah tahu porsi lo apa, saling mengisinya bagaimana. Sudah ‘we’ bukan ‘I,’" jelas David.

Meski telah 22 tahun bersama David mengaku tidak mengalami kebosanan. Dia mengaku selalu menikmati setiap penampilan Naif dan momen-momen bertemu dengan para penggemar.

“Kalau gue setiap kali membawakan (lagu Naif) rasanya itu (seperti) pertama kali. Karena pasti momen itu enggak akan lama. Setiap manggung, itulah gue rasa (seperti) penampilan pertama dan terakhir, jadi enggak akan merasa bosan.”

“Sama seperti mengapa gue sering mengajak bini gue, karena gue enggak akan sama dia terus, suatu saat gue akan mati. Tetapi gue berusaha menikmati momen kebersamaan itu, saat manggung (juga seperti itu). Kalau ditanya bosan apa enggak, gue bingung. Gue bingung dengan orang yang bosan, berarti lo enggak bisa memanfaatkan momen.”


NAIF (Foto: MI/Ramdani)

Kembali ke awal perjalanan Naif, David tidak luput menceritakan masa ketika mereka dibayar nasi bungkus atau dengan bayaran yang tidak sesuai.

“Dulu diundang saja sudah alhamdullilah, dari enggak dibayar naik jadi dibayar naik bungkus, naik lagi dibayar beberapa ratus ribu, ada levelnya gitu. Ditipu juga pernah. (Kami) sudah sampai level (seharusnya) dibayar tetapi enggak dibayar,” kata David sembari tertawa.

Tidak hanya itu, Naif pun sempat merasakan ganasnya penonton musik yang tidak apresiatif. Juga pengalaman tampil di daerah yang sangat asing bagi mereka.

“Kalau dilempar sudah makanan sehari-hari (waktu itu), itu hal standar. Makanya, how to deal saja, lama di panggung masa lo enggak bisa mengontrol yang begitu, masak lo kena dari satu negativity doang terus down?”


David Naif (Foto: Antara/M Arif Pribadi)

“Kami juga pernah (tampil di tempat yang asing), banyak nama-nama unik di daerah Sumatera, kami pernah main di daerah Kurung Nyawa. Wah ini nama daerahnya grindcore banget, nama daerahnya death metal banget,” canda David.

Lain dulu, lain sekarang. Naif saat ini menjadi salah satu grup musik terhormat. Album-album awal mereka bahkan dianggap ikonik hingga diapresiasi dengan cara dirilis ulang dalam format piringan hitam, pada 2015. Tiga album yang dirilis dalam format plat itu adalah Naif (1998), Jangan Terlalu Naif (2000), dan Titik Cerah (2002).


 


(ELG)

Danilla, Bayangan atas Sakratulmaut dan Merayakan Kegamangan Hidup

Danilla, Bayangan atas Sakratulmaut dan Merayakan Kegamangan Hidup

15 hours Ago

Danilla merengkuh segala yang bisa dilakukan oleh seorang penyanyi pendatang baru. Mulai dari m…

BERITA LAINNYA