Menjaga Nyawa Clubeighties

Agustinus Shindu Alpito    •    19 September 2017 17:44 WIB
indonesia musik
Menjaga Nyawa Clubeighties
Clubeighties - dari kiri ke kanan - Sukma "Yton" Perdana Manaf, Lembu Wiworo Jati, Cliffton "Cliff" Jesse Rompies (Foto: Youtube myclubeighties c80s)

Metrotvnews.com, Jakarta: Menjaga nyawa grup musik selama sembilan belas tahun bukan perkara mudah. Terlebih, dengan ditinggal pergi dua personel ikonik. Tapi itulah yang harus dilalui Clubeighties, sebuah grup musik pop yang mengusung gaya retro.

Nama Clubeighties sempat jaya pada era awal 2000-an. Lagu-lagu dari grup yang digagas oleh para mahasiswa Institut Kesenian Jakarta ini seperti mewakili kehidupan asmara pemuda urban pada masanya. Namun, zaman terus berputar. Nama Clubeighties saat ini tidak santer seperti dulu. Tapi, itu bukan berarti grup ini mati. Tiga personel tersisa, Sukma “Yton” Perdana Manaf, Cliffton “Cliff” Jesse Rompies dan Lembu Wiworo Jati siap sedia menjaga denyut nadi Clubeighties agar tetap bernyawa.

Pada Oktober 2017, tepatnya di pesta musik Synchronize Festival, Clubeighties memutuskan kembali bergeliat. Mereka sadar bahwa diam bukan jawaban, untuk itu sebuah singel baru disiapkan. Sebagai bukti nyawa mereka masih ada.

"Di acara Syncrhonize Fest kami akan rilis lagu baru secara eksklusif. Gong untuk Clubeighties comeback di acara ini. Kami bikin lagu sudah empat tahun enggak kelar-kelar, kami cari waktu yang pas (untuk merilis)," ujar Yton saat ditemui Metrotvnews.com, pada awal September lalu.

Clubeighties memang sudah lama tidak hadir dengan karya baru, lebih-lebih album. Mereka terakhir kali merilis album 80 Kembali (2009) yang masih melibatkan dua mantan personel, Desta Mahendra dan Vincent Rompies.



Bisa dibilang, tiga personel Clubeighties menjalankan kemudi grup ini tanpa ngoyo. Yton mengatakan mereka bertiga sadar bahwa ambisi berlebih atas grup ini justru akan membuat suasana band tidak nyaman. Menjalankan kapal Clubeighties dengan penuh rasa senang dan tanpa cita-cita muluk justru menjadi kunci penting.

"Mungkin karena kami punya kesibukan masing-masing, kami merasa band ini tempat refreshing. Kami enggak memikirkan money profit atau fansclub. Apa yang kami pikirkan adalah band ini jadi refreshing kami dari kesibukan pekerjaan kami.”

“Yang saya takutkan kalau saya memaksakan terlalu banyak hal, kemungkinan bubar semakin besar. Jadi nothing to lose saja,” lanjut Yton.

Saat ini, tiga personel Clubeighties memang punya kesibukan lain. Yton bekerja sebagai tim kreatif untuk membuat iklan versi Indonesia dari perusahaan mainan asal luar negeri. Lembu bekerja di sebuah digital agency, sedangkan Cliff bekerja untuk @america, pusat seni budaya yang diinisiasi Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia.

Kemungkinan Reuni dan Kesediaan Menjaga Nyawa

Citra Clubeighties memang lekat dengan sosok Desta dan Vincent. Namun, apa boleh dikata jika mereka masing-masing punya pilihan jalan hidup sendiri. Saat disinggung soal reuni, Yton tidak menutup kemungkinan. Meski tidak akan terjadi dalam waktu dekat ini.

“Dari band yang sudah-sudah, bilangnya reuni tapi terus saja formasi seperti itu (menjadikan embel-embel reuni sebagai gimmick semata). Kami enggak ingin seperti itu, kami menunggu sampai kangen banget. Mungkin sepuluh atau dua puluh tahun (kemudian) baru reuni.”

Desta dan Vincent hengkang pada 2009. Itu artinya nyaris separuh usia Clubeighties saat ini dilalui hanya dalam formasi trio Yton-Cliff-Lembu.


Clubeighties - dari kiri ke kanan - Yton, Cliff, Lembu (Foto: dok. pribadi)


Bagi tiga personel tersisa, Clubeighties bukan sekadar grup musik. Clubeighties adalah identitas yang sudah mengalir dalam darah mereka. Sehingga hidup mati grup ini bukan diukur dari intensitas tampil di atas panggung saja.

“Lucunya, biar tiga-tiganya sibuk, mau berantem, mau marah-marahan. Clubeighties tetap rumah kami.”

“Kebetulan kami bukan tipe orang yang kalau sudah tidak ada apa-apa di situ, terus kami pergi. Enggak seperti itu. Selama kami merasa itu keluarga, kami menjalani. Jujur kami sibuk masing-masing dan jarang komunikasi, tetapi kami tetap menjalani,” ungkap Yton.



Yton pun sadar bahwa nama grup mereka tak sebesar dulu. Tetapi itu juga bukan alasan baginya untuk tidak menjaga denyut nadi grup ini.  

“Bukan karena enggak ada panggung terus kami bubar.”

“Aku bersyukur, ada band kehilangan vokalis dan itu krusial sekali. Alhamdullilah kami bertiga meski saat ini berada di bawah dan kecil, kami tetap bersyukur.”

Perlahan tapi pasti, Clubeighties mengumpulkan materi-materi musik di sela kesibukan mereka. Terlebih, semua personel sudah berkeluarga. Synchronize Festival akan menjadi babak baru perjalanan Clubeighties. Mereka berjanji akan merilis materi baru secara berkala setelah membawakan singel baru pada Oktober nanti. Bukan tidak mungkin jika respons baik atas aktifnya kembali Clubeighties menyulut semangat Yton-Cliff-Lembu untuk membuat album baru setelah delapan tahun. Berharap banyak atas grup yang sempat menjadi raja pensi (pentas seni) ini boleh saja, tetapi kita harus ingat apa yang diceritakan Yton, bahwa Clubeighties adalah keluarga yang menjalani kehidupan tanpa beban ambisi.




 


(ELG)

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

1 day Ago

Guruh juga mengingatkan jika generasi muda tidak lagi peduli akan bahasa Indonesia yang baik da…

BERITA LAINNYA