Kaca Benggala Polemik Jerinx SID dan Via Vallen

Cecylia Rura    •    18 November 2018 09:00 WIB
superman is deadindonesia musikVia Vallen
Kaca Benggala Polemik Jerinx SID dan Via Vallen
Jrx SID (Foto: dok. Ucok Olok via instaram/jrxsid)

Hampir sepekan penabuh drum Superman Is Dead (SID), Jerinx aktif meladeni respons para pengguna Twitter, Outsider, dan Vianisty untuk menjelaskan arti dari cuitannya tentang ketenaran pedangdut Via Vallen di Indonesia. Perseteruan ini bermula ketika Jerinx SID membuat cuitan tentang album terbarunya, Tiga Perompak Senja.

Album Tiga Perompak Senja resmi dirilis pada Kamis, 8 November 2018 sekitar pukul 11 malam. Ia pun menggadang-gadang Superman Is Dead akan kembali menghidupkan semangat grup musik asal Bali itu seperti saat mereka bermusik pada 2003 melalui album baru.

Pada Kamis, Jerinx menuliskan cuitan di Twitter tentang pendapat pendengar soal album terbaru SID. “Apa track favoritmu dari album baru SID Tiga Perompak Senja?” tulisnya melalui akun @jrx_id pada Jumat sore, 9 November 2018.

Cuitan ini dibalas oleh pengguna Twitter bernama Pepi Ariati yang menyatakan rasa kagumnya pada singel berjudul Puisi Cinta Para Perompak dengan bubuhan komentar.

“Aku suka Puisi Cinta Para Perompak. Kayaknya bakal di-cover Via Vallen,” tulisnya.

Jerinx menanggapi cuitan itu dengan komentar sinis. “Tanpa Sunset di Tanah Anarki, Vallen enggak akan ada di posisinya saat ini,” tulis Jerinx menanggapi.

Status ini menjadi salah satu akar perseteruan Jerinx dan Via Vallen. Drummer bernama lengkap I Gede Astina itu semakin naik pitam ketika lini masa Twitter beranda miliknya dipenuhi respons pembela Via Vallen karena merasa idolanya itu disentil.

Pengguna Twitter bernama Made Dav turut memberikan komentar. “Bersyukur Bli punya fans Lady Rose cantik bukan karena oplas. Meski beda aliran antara punk rock dan dangdut,” tulisnya.

Cuitan itu berbalas. “Ngefans tapi sama sekali enggak pernah minta izin bawain lagu SID. Dan lagu ini pesannya besar. Vallen paham enggak apa yang dia nyanyikan? Ini bukan tentang nominal. She’s degrading the meaning of the song,” balas Jerinx.

Jerinx memaparkan lagu Sunset di Tanah Anarki memiliki makna mendalam. Lagu itu ditulis untuk menghormati para pejuang kemanusiaan. Jerinx merasa Via Vallen membuat makna lagu itu terdegradasi, terutama karena Via Vallen tidak meneruskan pesan perjuangan yang terkandung dalam lagu itu. Dalam keterangannya di Instagram, Jerinx memberi pernyataan bahwa pihaknya tidak menagih royalti dari lagu itu, tapi dia berharap Via Vallen setidaknya turut dalam kampanye ragam isu sosial-politik.

"Setelah sukses, apa yg kamu bisa lakukan untuk mengapresiasi karya yang membawamu ke tempat yg lebih baik? Dengan followers berjuta, minimal berkontribusilah untuk gerakan melawan lupa, atau pelurusan sejarah 65, perjuangan Kendeng, dll, ada banyak sekali hal yang bisa VV lakukan tanpa harus keluar duit," tulis Jerinx.

Situasi di akun Twitter Jerinx pun semakin tak terkendali, dampak dari persoalan ini. Jerinx menanggapi cuitan di Twitter satu per satu - terutama dari pihak-pihak yang menyerang Jerinx dengan isu-isu lain - termasuk tudingan Jerinx seorang kapitalis berkedok anak punk. 


Via Vallen (Foto: Dok. MI)

Selang dua hari sejak perseteruan itu, Via Vallen memberikan respons dan permintaan maaf terhadap kemarahan Jerinx di Twitter. Via mengunggahnya melalui akun Instagram dengan 10 potongan gambar bersama bubuhan komentar. “Kenapa harus saya (saja)? Semoga klarifikasi dari saya ini sedikit bisa meluruskan beberapa hal yang sudah dianggap salah,” tulisnya.

Penyanyi kelahiran Surabaya itu mencoba menjelaskan tiga poin permasalahan yang dia tangkap dari kemarahan Jerinx. Pertama, soal ruh pada Sunset di Tanah Anarki. Via Vallen menjelaskan tidak ada maksud merusak makna dan esensi dari lagu.

Kedua, soal kepentingan komersil. Aksi panggung Via Vallen dikomersilkan dalam bentuk kepingan VCD, DVD dan YouTube. Namun, ia mengaku tidak pernah tahu soal itu dan tidak pernah mengambil keuntungan sepeser pun.

Ketiga, Via Vallen meminta maaf karena telah membawakan lagu Sunset di Tanah Anarki dalam versi dangdut. Pada potongan gambar terakhir, Via Vallen membagikan hasil tangkap layar video musik di YouTube, menampakkan beberapa penyanyi dangdut yang juga membawakan lagu Sunset di Tanah Anarki.

Selain Tweet War, perseteruan mereka juga merambat ke media sosial Instagram. Jerinx mengunggah foto dengan bubuhan komentar Via Vallen melakukan playing victim atau memposisikan diri sebagai korban karena kata “fu*king wh*re” yang merujuk pada Via.

Lembaga Manajemen Kolektif Wahana Musik Indonesia (WAMI) melihat pertikaian media sosial antara Jerinx SID dan Via Vallen. Wakil Ketua WAMI, Irfan Aulia menilai dari sudut pandang WAMI sebagai wadah yang memperhatikan hak cipta pemilik karya ada kesenjangan atau salah paham di antara Jerinx dan Via Vallen.

“Di Indonesia untuk Hak Cipta cukup banyak tertinggal pemahamannya terutama dalam konteks performing rights, karena di Indonesia hak cipta itu baru ada mulai tahun 1987 kemudian baru dikembangkan 10 tahun kemudian lalu disempurnakan pada 2014," tutur Irfan saat dihubungi Medcom.id.

Tentang Hak Cipta telah diatur dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 28 tahun 2014. Tepatnya pada pasal 23 disebutkan tentang Hak Ekonomi Pertunjukan. Untuk kasus Jerinx dan Via Vallen, merujuk pada pasal 23 Ayat 5 yang berbunyi:

Setiap orang dapat melakukan Penggunaan Secara Komersial Ciptaan dalam suatu pertunjukan tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada Pencipta dengan membayar imbalan kepada Pencipta melalui Lembaga Manajemen Kolektif.

"Berdasarkan Undang Undang itu, Via Vallen tidak perlu meminta izin untuk membawakan lagu di atas panggung," tutur Irfan yang juga menjabat sebagai ketua Asosiasi Produksi Musik Indonesia (APMINDO).


Pelantikan anggota LMKN (Foto: LMKN)

Dalam konteks sebagai penampil, Via Vallen dianggap tidak melanggar hukum. Namun secara etika ia dianggap lancang. Melihat sekarang status penyanyi bernama lengkap Maulidia Octavia itu ada pada taraf nasional, ia seharusnya melakukan sowan atau izin kepada Jerinx selaku pencipta lagu.

"Yang namanya sesama penampil punya etika. Aspek itu yang perlu digarisbawahi. Via Vallen bukan penyanyi kemarin sore. Dia pasti punya akses untuk menyapa. Apalagi dengan teknologi informasi sekarang ada WhatsApp, Instagram, Twitter. Mungkin banget untuk Via bisa terhubung dengan pencipta, dalam hal ini Jerinx dan kawan-kawan. Aspek ini yang lebih dititikberatkan."

"Harusnya Via bisa berkomunikasi dengan pencipta lagu, apakah telah menyanyikan sesuai dengan harapan. Terkadang pencipta lagu punya pakem sendiri, punya cita-cita sendiri lagunya mau diinterpretasikan seperti apa. Itu yang akhirnya permasalahan menjadi roh ternodai," jelas sang gitaris band Samsons sekaligus pemilik dari Massive Music.

Dalam hal ini, LMK yang berhak menjembatani permasalahan Jerinx dan Via Vallen soal hak cipta dalam aksi panggung adalah Wahana Musik Indonesia (WAMI).

Performing rights itu ada dua: untuk menyanyikan cover melalui WAMI, itu yang menaungi pencipta lagu. Untuk sound recording melalui ASIRI,” ujar Totok Widjojo, Managing Director Warner Music Indonesia.

Profesi Baru di Balik Aksi Panggung Via Vallen

Penyebab Jerinx naik pitam bukan hanya soal "roh" yang hilang pada lagu Sunset di Tanah Anarki saat berada di "tangan" Via Vallen. Jerinx menuding Via Vallen meraup keuntungan dari hasil monetisasi aksi panggungnya membawakan lagu Sunset di Tanah Anarki dalam platform YouTube serta penjualan dalam bentuk kepingan VCD/DVD.

Raja Dangdut Koplo Komentari Konflik Via Vallen dan Jerinx SID

“Itu juga sudah dijawab oleh Via Vallen dan saya pernah tahu, audiensi di Jawa Timur. Di sana ada 'profesi baru' yaitu videografer konser. Misalnya, Via Vallen dan penyanyi dangdut lainnya di Jawa Timur tampil lalu direkam oleh videografer ini tanpa sepengetahuan mereka bahwa video ini akan dibuat untuk apa. Direkam, ternyata dinaikkan dalam bentuk digital di YouTube,” jelas Irfan.

Hasil rekaman oknum ‘videografer’ yang diunggah ke YouTube kemudian direkam dalam bentuk VCD/DVD. Inilah yang dimaksud oknum pembajak sebagai pihak ketiga yang identitasnya masih anonim.

“Dia oknum pembajak tidak ada yang tahu, harus diusut. Dibikinlah DVD atau subsidi karaoke jual. Kebetulan salah satunya Via Vallen. Sebenarnya banyak, bukan hanya Via Vallen,” terang Irfan.

“Di industri koplo dangdut banyak terjadi. Dan itu tidak legal. Dalam hal ini, sekali lagi Via Vallen jadi korban opini pelanggaran hak cipta karena banyak orang yang tidak mengerti tentang pelanggaran hak cipta.”

“Hikmah dari kejadian ini bagus, ada momentum untuk menjelaskan bahwa penampil seperti Via Vallen kebanyakan menjadi korban opini,” pungkas Irfan.

Dapat disimpulkan, Jerinx adalah korban dari sikap "lancang" Via Vallen dan beberapa penyanyi lain yang telah membawakan lagu ciptaannya tanpa izin. Sementara itu, Via Vallen adalah korban dari pihak yang menyebarkan hasil rekaman aksi panggung off air Via Vallen dan meraup keuntungan, sehingga merugikan pihak label Via Vallen. Ia juga menjadi korban opini masyarakat yang belum paham soal aturan Hak Cipta di Indonesia. Kekuatan opini ini yang selanjutnya disebut komentar netizen, terbentuk, hingga menyebar melalui media sosial.


 


(ELG)

Akhir Perjalanan Raja Festival Rock Log Zhelebour

Akhir Perjalanan Raja Festival Rock Log Zhelebour

6 days Ago

Log memastikan bahwa dalam waktu dekat, dia akan pensiun total dari bisnis pagelaran musik, ter…

BERITA LAINNYA