Cerita Tentang Sesuatu yang Tertunda

Agustinus Shindu Alpito    •    29 Mei 2017 15:24 WIB
indonesia musik
Cerita Tentang Sesuatu yang Tertunda
(Foto: Agustinus Shindu Alpito)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pada tahun 2001, grup musik Padi merilis album kedua mereka, Sesuatu Yang Tertunda.  Album ini bisa dibilang menjadi salah satu pencapaian tertinggi Padi. Nyaris seluruh materi lagu dalam album itu menjadi hit.

Secara penjualan, Sesuatu Yang Tertunda  pun menembus angka jutaan kopi. Majalah Rolling Stone Indonesia turut memberi apresiasi dengan menempatkan album itu dalam urutan ke-55 dari 150 daftar Album Indonesia Terbaik. Singkat cerita, album ini adalah album yang "sempurna."

Pada awal 2000-an, industri musik Indonesia bergairah. Masa itu kerap ditandai sebagai era baru grup pop, rock, dan alternatif di Indonesia. Warisan dari masa itu masih terdengar relevan hingga saat ini. Selain Padi, mereka yang menggembirakan dari masa 2000-an awal antara lain Sheila On 7, Naif, Cokelat, Peterpan, juga nama-nama dari ranah "indie" seperti White Shoes & Couples Company, Seringai, Superman Is Dead, hingga Sore.

Kembali ke Sesuatu Yang Tertunda, album yang dirilis di bawah bendera Sony Music Entertainment Indonesia itu berisi sepuluh lagu. Dibuka dengan Bayangkanlah, ditutup dengan Kasih Tak Sampai. Semua yang mendengarkan album itu rasanya sepakat, masing-masing track memiliki daya pikat tersendiri. Mulai dari suara pukulan ritmik di pembuka lagu Bayangkanlah, melodi gitar Sesuatu Yang Indah, suara gitar akustik di awal lagu Semua Tak Sama, lirik personal Seandainya Bisa Memilih, petikan harpa dalam Kasih Tak Sampai, hingga lagu Perjalanan Ini  yang seolah diciptakan bagi mereka yang meresapi perjalanan hidup.

Satu pekan sebelum Ramadan 2017, saya sempat bertemu Fadly di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Waktu itu, Fadly sedang merilis album kompilasi bertema religi berjudul Album Religi Terbaik. Dia menyumbang dua lagu untuk album itu, Selimut Putih, dan Menunggu Panggilan-Mu. Usai jumpa pers, saya menyapa Fadly. Sebagai seorang yang mendengarkan Padi sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, tentu gatal rasanya untuk bertanya kapan grup asal Surabaya itu bangun dari tidur panjangnya.

"(Komunikasi) Sudah mulai rutin. Pisau yang lama sudah enggak diasah sudah mulai ditajamkan," kata Fadly tersirat soal kembalinya Padi.

"Saya belum tahu (kapan Padi kembali lagi). Tetapi yang pasti kami belum latihan. Kami masih sebatas ngobrol, dan mencari apa yang enak untuk kami bawakan. Saya belum tahu mau bikin apa, pada sibuk semua," lanjutnya.

Setelah Padi vakum, masing-masing personel memiliki kesibukan tersendiri. Fadly bersama bassist Rindra dan drummer Yoyo membentuk grup baru bernama Musikimia, dengan melibatkan Stephan Santoso. Stephan sendiri bukan orang baru bagi Padi. Dia adalah teknisi suara dan rekaman album sukses Sesuatu Yang Tertunda.

Piyu sang gitaris ikonik belakangan sibuk dengan beragam proyek solo. Dia juga membentuk grup pop bernama The Secret, bersama personel Ungu, Rowman dan Makki.

Aktivitas baru para personel Padi tidak membuat para Sobat Padi terlena. Para Sobat Padi seolah tidak henti menunggu kabar gembira kembalinya Padi, membawakan nomor-nomor pamungkas mereka. Fadly tidak menampik bahwa dia juga ingin menjawab kerinduan para Sobat Padi. Meski hal itu membutuhkan proses dan keseriusan dari empat personel Padi lainnya.

"Insha Allah, selama sahabat Padi masih rindu Padi, kami akan tetap ada," kata Fadly.

Mendadak, perbincangan kami terasa sendu. Fadly lantas mengungkapkan apa yang sebenarnya membuat dia ingin Padi hidup kembali.

"Kami rindu main bareng. Dan kami ingin menjawab kerinduan. Bukan hanya sahabat Padi, tetapi orangtua kami ikut melihat, mereka bertanya, 'Kok kami enggak pernah nge-band lagi?' Anak-anak kami dulu melihat ayahnya main sama-sama, itu yang dirindukan. Tanggung jawab kami kepada semua orang. Itu juga yang saya jawab ke Rindra, (Padi) ini tanggung jawab moral kami. Kalau orang rindu, masak kita enggak mau menjawab? Kita sudah terlalu egois kalau orang rindu kita enggak jawab, setidaknya itu buat saya pribadi," jelas Fadly lirih.

Pria asal Sulawesi Selatan itu lantas melayangkan pikiran ke masa kejayaan Padi. Tepatnya, saat mereka membuat album Sesuatu Yang Tertunda. Waktu itu, nama Padi sedang naik daun lewat album debut Lain Dunia. Dalam album itu terdapat lagu-lagu hit, di antaranya Demi Cinta, Begitu Indah, Mahadewi, dan Sobat. Di tengah nama yang kian berkibar, Padi menghadapi tantangan baru, soal suksesor album debut mereka.

"Kadang-kadang, anak-anak (personel Padi) bikin lagu ajaib-ajaib. Saya masih amazed sama album kedua. Kok  bisa ya kami bikin album seperti itu. Terkadang enggak habis pikir. Karena kami waktu itu habis tur album pertama, terus berpikir, 'Ngapain (lagi) nih Padi?' Piyu mengusulkan agar kami kembali ke studio awal kami bermain musik, di rumahnya Yoyo di Surabaya. Bikin lagu dari awal, dan kami dapat vibe-nya, passion-nya. Dan itulah album kedua. Setelah semua lagu sudah jadi, baru kami ke Jakarta untuk rekaman."

Fadly memastikan bahwa materi dalam album kedua Padi dibuat bersama-sama dari nol. "Kami bukan tipe penabung lagu soalnya," kata dia.

"Jadi, semua benar-benar dari nol. Piyu biasanya datang dengan reffrain, liriknya belum ada, cuma reffrain. Belum ada notasi. Baru kami bangun (lagunya). Yang bertugas membuat aransemen itu Yoyo dan Rindra. Kalau saya kebanyakan membuat notasi. Kemudian Mas Piyu (banyak membuat) liriknya."

Soal sampul album Sesuatu Yang Tertunda, Fadly bercerita bahwa gambar itu menyiratkan makna bahwa waktu adalah sesuatu yang tidak dapat dikompromi.

"Sebenarnya sederhana, itu temanku yang bikin (sampul album). Kebiasaan kami semua, suka menunda-nunda, akhirnya jadi banyak hal yang kami anggap kecil, sampai kami enggak anggap penting, itu (ternyata) mengubah rencana kami ke depan. Itu berbicara soal apa yang mau kami capai. Sesuatu yang tertunda, ya seperti itu, jangan anggap enteng waktu."

Merasa Kosong

Geliat industri musik di awal 2000-an menggairahkan. Para grup musik besar masih mengalami tur skala nasional, menyambangi ratusan panggung.. Fadly menceritakan bahwa tur yang mereka jalani bukan sebatas datang ke kota-kota besar saja. Mereka tampil di 170 kota selama tur. Sebuah rangkaian tur yang tidak lagi kita dengar dilakukan oleh grup musik saat ini.

"Kalau tur jarang ngobrol antar personel. Saya biasanya ngobrol dengan kru saya," kenang Fadly.

Seiring tingginya nama Padi, angin yang menerpa pun kencang pula. Namun, bukan berarti angin itu yang menghancurkan mereka. Meski kesuksesan sebuah grup musik identik dengan gaya hidup "sex, drugs, and rock & roll," Fadly justru bertolak belakang.

"Saya malah pas Padi lagi 'lucu-lucunya,' menarik diri. Saya enggak nyaman dengan popularitas. Saya cinta sama musiknya, bukan popularitas itu. Dan waktu itu (saat Padi tengah jaya), bapak saya meninggal. Saya sempat blank. Lagi tur, lagi tampil di panggung besar, saya blank sampai diingatkan Rindra, 'Heh, nyanyi!' Tetapi saya bukan blank karena drugs. Saya lantas berpikir, kalau ini yang dikejar rockstar, bermain di hadapan ribuan orang, dapat popularitas, mengapa saya merasa kosong? Saya enggak bahagia ternyata (dengan popularitas). Artinya bukan hal ini yang saya cari. Ini bukan poinnya. Saya mau mencari yang benar-benar mengisi hati. Ternyata jawabannya cuma satu, kembali lagi ke Tuhan," ungkap Fadly.

Kini, Fadly melewati kerinduannya akan Padi dengan mendengarkan kembali album rekaman mereka.

"Masih (mendengarkan album Padi). Kalau kalian tanya saya lirik (lagu-lagu Padi), saya masih hafal."

Fadly lantas menyebut beberapa lagu Padi kesukaannya, "Hitam  menurut saya cara menggambarkan keadaan kegelisahan. Juga (saya suka) lagu Jika Engkau Bersedih, itu lagu tentang persahabatan"

Sudah tujuh tahun Padi vakum. Kembalinya Padi ke industri musik seperti "sesuatu yang tertunda."  Semoga saja, Padi tidak terjebak dalam dimensi yang membuat mereka terus menunda apa yang telah membawa mereka dalam sejauh ini, dan segera menjalankan misi "save my soul" melalui sikap "tak hanya diam."

"Padi itu rumah. Padi itu kebanggaan saya," tutup Fadly.


(DEV)

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

5 days Ago

Guruh juga mengingatkan jika generasi muda tidak lagi peduli akan bahasa Indonesia yang baik da…

BERITA LAINNYA