Mengejar Standar Luthier Bule

Coki Lubis    •    23 Maret 2017 12:40 WIB
indonesia musik
Mengejar Standar Luthier Bule
Perajin gitar, Noor Rahmat Wibowo, mengecek kegiatan produksi gitar di bengkelnya di Tangerang Selatan. (MTVN/Coki Lubis)

Metrotvnews.com, Jakarta: Desing mesin penghalus kayu sayup terdengar saat kami tiba di Jalan Lembah III Nomor 32A, Cireundeu, Ciputat, Tangerang Selatan. Semakin tidak sabar rasanya untuk berjumpa si tuan rumah, seorang luthier -sebutan perajin gitar- yang namanya tak asing di telinga beberapa pemain gitar di Jakarta dan sekitarnya.
 
Sesosok pria bertubuh gempal pun keluar menyambut. Memang dia yang kami tuju. Noor Rahmat Wibowo, luthier asal Yogyakarta yang sudah malang melintang di Jakarta sejak tahun 2003. Rabu siang itu, 15 Maret 2017, di teras bengkel gitarnya itu kami berbincang.
 
Kecintaannya terhadap alat musik petik inilah yang membawa Noor ke ibu kota. Dia diterima sebagai seorang staf pemasaran di dealer resmi gitar elektrik asal Amerika Serikat, Fender. Setidaknya dua ribuan jenis gitar keluaran Fender dia pelajari di sana.
 
Sambil bekerja, keahliannya mengoprek gitar tetap tersalurkan, bahkan menjadi pendapatan tambahan baginya. Ya. Meski dia seorang seorang pemasar, tapi urusan utak-atik gitar memang sudah lama ditekuni sejak di kampung halaman.
 
Setiap hari, selepas jam kantor, Noor menjadi teknisi gitar yang menjual jasa dari pintu ke pintu. Membetulkan gitar rusak milik orang-orang yang menghubunginya. Modalnya hanya sebuah tang potong, obeng, solder, dan timah yang selalu dibawa ke manapun dia pergi.
 
Tiga tahun berselang. Perlahan tapi pasti status teknisi gitar door to door ditinggalkan. Pelanggan sudah digenggam. Reputasinya sudah dikenal lewat penyebaran informasi dari mulut ke mulut di kalangan gitaris. Saatnya membuka bengkel gitar di rumah.
 
Pagi berangkat kerja, malamnya memperbaiki gitar klien, seringkali sampai dini hari. Hingga akhirnya Noor memutuskan berhenti dari Fender dan fokus dengan bengkel gitarnya pada 2007. "Lama-lama badan tidak kuat," tuturnya.
 
Sejak itu dia mulai membuat gitar sendiri. Bermodal ilmu yang telah lama dikantongi, mulai dari desain fisik hingga presisi, sebuah gitar elektrikpun tercipta. Tak disangka, seorang teman terpincut dengan gitar itu dan menawarnya untuk dibeli.
 
Kejadian ini terus berulang. Setiap Noor membuat prototipe, ada saja yang ingin membelinya. Lama-lama, satu demi satu orang mulai menghubunginya untuk dibuatkan gitar.
 
Alhasil Noor tak hanya melayani orang yang ingin memperbaiki gitar, namun juga melayani pembuatan produk custom, alias gitar yang dibuat berdasarkan keinginan si pemesan. Untuk mengerjakannya, dia dibantu tiga orang karyawan.
 
"Gitar akustik bisa, tapi lebih banyak elektrik," ujarnya.
 
Kala itu, paling tidak dalam satu rombong pengerjaan gitar custom ada lima pesanan. Jadi, bila sudah ada lima pesanan yang masuk, Noor langsung menutup pintu untuk permintaan gitar custom. Bila sudah selesai, baru pesanan dibuka kembali.
 
Pola semacam ini sengaja dibuat agar dalam pengerjaannya tidak terburu-buru. Alasannya, agar kualitas terjaga. Mahfum, sebagai seorang teknisi, dia tahu betul penyakit apa yang sering dikeluhkan orang pada gitarnya. Paling banyak mengenai akurasi. Dawainya sulit disetel atau nada tidak tepat alias fals.
 
Menghasilkan sebuah gitar dengan presisi yang bagus diakuinya bukan perkara mudah. Kalau sekadar jadi bisa saja. Tapi, buat apa bila si pemakai kelak merasa tidak nyaman.
 
"Soal presisi ini yang mungkin membuat orang lebih memilih merk luar (negeri) dibanding bikinan lokal," kata Noor.
 
Inilah persoalannya. Salah satu faktor yang membuat lemahnya presisi gitar buatan luthier lokal adalah terbatasnya alat produksi. Selain mesin-mesinnya mahal, sulit pula ditemui di dalam negeri. Kecuali mereka yang bermodal kuat, membangun merk dagang sendiri dan bermain di wilayah produksi massal.
 
Saat ini saja, kata Noor, dari seluruh produksi gitar lokal Indonesia yang beredar di pasar, 75%-nya buatan perajin rumahan dengan gaya produksi yang masih sangat manual (handmade). Hanya 25% yang dibuat dengan mesin canggih, buatan brand lokal yang memang sudah mapan, seperti Radix, Stephallen, Genta, BlueBerry, Rick Hanes, dll.
 
"Ini di luar buatan pabrik luar ya. Karena ada brand luar juga yang dibikin di Indonesia," tuturnya.
 
Faktor alat inilah yang membuat Noor belum siap untuk memiliki merk dagang sendiri dan memasarkannya secara luas. Padahal, saat kami diizinkan masuk ke workshopnya, paling tidak ada 10 mesin dan alat setting yang kini dimiliki NRW Guitar Workshop - nama bengkel gitar Noor. Lantas apa yang kurang?
 
"Saya belum ada mesin CNC (computer numerical control), karena tidak condong pada produksi massal. Selain itu harganya lumayan mahal," ucap Noor.
 
CNC sendiri merupakan mesin perkakas otomatis yang bisa memudahkan pembuatan badan gitar. Diakuinya, CNC sangat penting untuk memproduksi dengan jumlah lebih banyak, dan sudah tentu mempercepat pengerjaan.
 
Meski begitu, alat produksi yang saat ini digunakan Noor diklaim telah nyaris sesuai dengan standar mesin perkakas yang biasa digunakan luthier di luar negeri.
 
"Paling tidak basic tools-nya sudah cukup. Sudah 90% bila mengikuti standar luthier 'bule'. Untuk setting, menempatkan fret, bridge, ya mesin. Untuk bikin neck, fretboard ya mesin," jelasnya.
 
Soal pelanggan, Noor mengatakan tidak melulu musisi profesional yang datang kepadanya. "Yang belakangan saya kerjakan pesanan gitaris (grup band) Kotak, Cella. Terus ada juga dari (grup band) Armada. Tapi belakangan lebih banyak untuk umum saja, kolektor, dll," ungkapnya.
 
Meski belum memiliki merek dan tidak diproduksi massal, gitar custom asal workshop rumahan ini juga tidak bisa diremehkan. Pemesannya tak hanya dari Jakarta dan sekitarnya, tapi juga dari daerah lain, bahkan luar negeri. "Dari Austria ada, Selandia Baru juga pernah," ucap Noor.
 
Rata-rata, gitar bikinan Noor dibandrol mulai dari Rp3-10 juta. "Tergantung bahan yang digunakan, pickups dan sebagainya." Soal omzet, dia mengaku masih belum stabil. "Kadang draw, kadang naik, sempat juga turun."
 
Noor juga mengaku bahwa dirinya memiliki niat untuk memunculkan merk atau brand sendiri. Bahkan pernah ada yang mengajaknya bekerjasama dengan mengucurkan dukungan dana alias investasi. Ada pula tawaran kerjasama dengan merk yang sudah ada untuk seri gitar tertentu, dengan menyantumkan namanya sebagai desainer.
 
"Tapi saya memang belum mau. Saya bikin butik sendiri saja, itupun kalau alat produksinya sudah oke," aku Noor. Pada sisi lain, tampak merendah, Noor mengatakan bahwa dirinya pun masih ada kekurangan. "Saya masih harus banyak belajar."
 
Begitulah Noor Rahmat Wibowo, luthier yang namanya mulai dikenal, namun belum mau melangkah lebih jauh. Ya. Tidak muluk, hanya ingin fokus melengkapi mesin perkakasnya, selengkap yang dimiliki luthier 'bule'. Inilah perjuangan bengkel kecil yang ingin kualitas gitar buatannya menyaingi merek luar negeri.


(FIT)

Di Balik Balada Cinta Geisha

Di Balik Balada Cinta Geisha

6 days Ago

Pada tahun ini, Geisha telah berusia 14 tahun. Sejauh ini mereka konsisten menghadirkan balada …

BERITA LAINNYA