Ruth Sahanaya Menceritakan Tantangan Besar Jadi Penyanyi Perempuan di Indonesia

Agustinus Shindu Alpito    •    06 Desember 2017 16:49 WIB
indonesia musikruth sahanaya
Ruth Sahanaya Menceritakan Tantangan Besar Jadi Penyanyi Perempuan di Indonesia
Ruth Sahanaya (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Jakarta: Ranah penyanyi solo perempuan di Indonesia semakin menarik belakangan ini. Nama-nama yang muncul membawa karakternya masing-masing yang membuat ranah penyanyi solo perempuan lebih segar dengan keberagaman yang ada.

Internet tentu tidak lepas dari hal ini. Nama-nama seperti Yura Yunita, Danilla, atau Isyana tentu turut tumbuh besar dengan media sosial. Dari zaman ke zaman, ranah penyanyi solo perempuan menarik disimak. Setiap era seperti memiliki warna tersendiri, era 1980 dan 1990-an contohnya, pada masa itu di samping maraknya penyanyi perempuan yang hadir dengan tembang melankolis, terdapat juga para penyanyi yang masuk dalam “gerbong” lady-rocker.

Regenerasi mutlak terjadi di segala hal, termasuk ranah penyanyi solo perempuan. Salah satu penyanyi solo perempuan senior, Ruth Sahanaya, mengaku turut mengikuti perkembangan para penyanyi muda yang kini jadi tren di kalangan penggemar musik Indonesia. Dia pun menyambut regenerasi ini dengan positif.

“Untuk saya pribadi sebenarnya memang harus ada regenerasi, karena kalau hanya sampai di generasi saya mau jadi apa industri ini.”

“Dengan maraknya generasi baru, itu justru buat saya yang sudah senior jadi pemicu untuk lebih peka, saya harus membuat apa dengan catatan jangan sampai keluar dari karakter saya. Buat saya pribadi ini jadi motivasi saya, supaya tidak ketinggalan supaya tidak ketinggalan,” ujar Ruth dalam wawancara dengan Metrotvnews.com, Rabu (5/12/2017).



Ruth saat ini berusia 51 tahun. Penyanyi yang akrab disapa Uthe itu telah menjalani karier bermusik dari era 1980-an. Album pertama Uthe, Seputih Kasih, dirilis pada 1987. Bersama Krisdayanti dan Titi DJ, Uthe tergabung dalam grup 3 Diva yang semakin mengukuhkan nama mereka sebagai penyanyi solo perempuan terbaik di Indonesia.

Lantas, apakah Uthe masih mengetahui para penyanyi-penyanyi muda penerusnya?

“Saya suka sekali dengan Yura. Untuk saya seorang penyanyi itu harus punya warna suara, ciri khas. Yura mewakili apa yang menurut pandangan saya. Raisa bagus, Isyana juga bagus. Banyak juga yang indie bagus. Monita Tahalea juga bagus sekali,” jawab Uthe penuh semangat.

Tantangan menjadi Penyanyi Solo Perempuan

Besar sebagai penyanyi solo perempuan bukan tanpa tantangan. Uthe merasa justru di Indonesia untuk bisa sukses di ranah ini harus dapat mendobrak stereotipe yang ada soal bentuk fisik penyanyi perempuan. Uthe menyikapi masalah ini dengan bijak.

“Tidak bisa dipungkiri dari segi penampilan, di Indonesia sangat diperhatikan. Kalau di luar negeri, mau itu bentuk fisik besar, yang diperhatikan tetap kualitas suara. Di Indonesia masih belum seperti itu. Untuk kita perempuan, salah satunya selain vokal harus kita jaga, juga fisik. Dengan bertambahnya usia kualitas vokal menurun, bentuk badan juga memengaruhi. Itu yang harus dijaga.”


Ruth Sahanaya (Foto: Metrotvnews/Shindu)

“Kita menjual whole package, tidak hanya suara tetapi orang ingin melihat kita yang baik. Juga update mengikuti musik dari zaman ke zaman, setidaknya kita mengerti dan tahu musik zaman sekarang. Paling tidak ada sentuhan kekinian tanpa menghilangkan karakter,” jawab istri dari aktor Jeffrey Waworuntu itu.

Apa yang disebut Uthe memang berdasarkan pengalaman tiga dekade lebih di industri. Bahkan stereotipe seperti itu pun masih bertahan hingga saat ini. Hal itu pernah diungkapkan Yura Yunita dalam wawancara dengan media Tribunews, pada Agustus 2017.

Dalam wawancara itu, Yura mengaku mengalami kesulitan menembus industri musik karena fisiknya dianggap tidak merepresentasikan karakter penyanyi perempuan yang diinginkan pasar. Sampai di satu titik, Yura bernyanyi di belakang panggung sedangkan ada seorang perempuan yang dianggap lebih mewakili secara fisik melakukan lipsync di atas panggung.

Namun pada akhirnya Yura membuktikan bahwa dia bisa meraih mimpi dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Bahkan Yura berhasil mencuri perhatian penyanyi sekelas Ruth Sahanaya yang menyebutnya sebagai salah satu penyanyi muda yang berkualitas.

Setelah selesai urusan teknik vokal dan penampilan, perjuangan untuk bisa hidup di atas panggung belum usai. Penyanyi harus bisa konsistensi berkarya dan menjaga eksistensinya di tengah regenerasi yang terjadi.

Mereka yang berhasil mempertahankan karier setidaknya selama dua dekade di ranah penyanyi solo perempuan pun tidak banyak. Beberapa di antaranya dari generasi 1980-an dan 1990-an adalah Krisdayanti, Titi DJ, Rossa dan Vina Panduwinata. Lagi-lagi Uthe menekankan bahwa kunci dari eksistensi itu tidak lepas dari mampunya beradaptasi dengan tren dan zaman yang ada tanpa menghilangkan karakter diri.



“Eksistensi saya jaga dengan cara selalu update dengan musik yang ada (pada) tiap zaman dan menjaga kualitas vokal. Itu yang saya rasakan. Saya bersyukur 33 tahun bisa di industri, masih eksis. Usia saya juga sudah setengah abad lebih. Seperti yang saya katakan di Indonesia masih melihat fisik, penampilan. Menjaga penampilan, menjaga bentuk tubuh, penonton sudah membayar mahal untuk tiket, kita harus berusaha tampil maksimal tanpa harus berlebihan.”

“Intinya bagaimana mereka mempertahankan itu. Karena mempertahankan itu jauh lebih sulit,” tutup Uthe.





 


(ELG)