Empat Dekade Swara Maharddhika

Agustinus Shindu Alpito    •    25 Oktober 2017 16:56 WIB
indonesia musik
Empat Dekade Swara Maharddhika
Swara Maharddhika Menari diiringi lagu Juwita dalam acara Suara Disko: Langgam Kahyangan di The Pallas, SCBD, Jakarta, pada Jumat (20/10/2017) (Foto: Metrotvnews/A. Shindu Alpito)

Metrotvnews.com, Jakarta: Siang itu, 20 Oktober 2017, sekelompok ibu-ibu sibuk berlatih tari di sebuah lorong tempat bernama The Pallas, yang terletak di SCBD, Jakarta. Mereka tampak lebih muda dari usianya. Sesekali seseorang dari mereka melontarkan ide koreografi yang dirasa lebih sesuai dan menarik. Suasana sangat cair, namun juga terasa serius.

Sekelompok ibu itu merupakan anggota Swara Maharddhika, paguyuban seni prestise yang dibentuk oleh Guruh Soekarno Putra. Putra bungsu Bung Karno dengan Ibu Fatmawati.

Siang itu, para anggota Swara Maharddhika yang sudah tidak lagi muda itu sedang latihan untuk tampil pada malam hari yang sama, di acara Suara Disko: Langgam Kahyangan, di The Pallas. Acara itu juga menghadirkan Fariz RM, Kallula, Monita Tahalea, Danilla, Charita Utami dan Vira Talisa. Menurut jadwal, Swara Maharddhika akan tampil pukul 12 malam tepat.

Di sela-sela mereka berlatih, saya mencoba berbincang dengan Ibu Santy Sandra Primanty, anggota Swara Maharddhika angkatan 4 yang bergabung tahun 1978.

Dalam perbincangan singkat itu, Ibu Santy membeberkan bagaimana para anggota Swara Maharddhika bersatu dalam kecintaannya akan kesenian, juga terus bertahan di tengah arus zaman.

“Kalau anggota Swara Maharddhika, kami enggak pernah ganti-ganti. Mulai dari angkatan 1 sampai angkatan 12 jumlahnya melebihi 300 orang,” ujar Ibu Santy.

Belakangan, Swara Maharddhika kembali aktif. Mereka sebelumnya tampil di acara Swara Gembira yang digelar pada Agustus lalu. Acara itu digelar untuk menghormati Guruh Soekarno Putra sebagai tokoh budaya Indonesia. Para musisi muda, mulai dari Glenn Fredly, Rekti Yoewono (vokalis The SIGIT), Kunto Aji dan Vira Talisa tampil menyanyikan lagu-lagu karya Guruh.


Ibu Santy Sandra Primanty, anggota Swara Maharddhika angkatan empat (Foto: Metrotvnews/A. Shindu Alpito)

Namun, pada acara Suara Disko, penampilan Swara Maharddhika spesial. Pada kesempatan ini untuk pertama kali sejak mereka aktif kembali, mereka menari dengan iringan lagu bukan dari karya Guruh.

“Malam ini, kami memberanikan diri untuk tampil di luar lagunya Mas Guruh. Kebetulan kami sudah mengenal agak banyak tentang Suara Disko dan sudah mengerti crowd-nya. Jadi, waktu kami pertama berdiskusi dengan teman-teman dari Suara Disko tentang apa yang mau ditampilkan, lalu terbesit kenapa tidak jika kami tampil saat lagu hit diputar jam 12 malam, lagu Juwita,” jelas Ibu Santy.

Swara Maharddhika sangat berjaya di era 1980-an. Tidak semua penari bisa masuk skuat ini. Menurut Ibu Santy, dari 200 yang mendaftar pada tiap angkatan, biasanya hanya terpilih 50 orang. Itupun pada akhirnya terjadi seleksi alam dan sekitar 20 orang saja yang dapat aktif melanjutkan kiprahnya di Swara Maharddhika. Rekrutmen terakhir terjadi pada angkatan 12, di era 1980-an.

Pada eranya, Swara Maharddhika bukan saja dituntut piawai dalam gerak tari. Mereka diwajibkan bisa menyanyi. Ini yang membuat mereka spesial. Di tengah koreografi yang ekspresif, mereka juga sembari menyanyi.

“Sebagai seorang yang sangat brilian dalam bidang kesenian, Mas Guruh mendidik kami untuk jadi penari, tetapi juga penyanyi. Dulu kami menari dan bernyanyi secara live. Menari dan menyanyi jadi satu. Itu enggak gampang. Orang zaman sekarang menari dan nyanyi suaranya dibagi jadi suara 1 sampai suara 3 bingung kali ya? Tapi begitulah kami dulu,” kenang perempuan kelahiran 11 September 1962 itu.


Usia Bukan Halangan

Berhubung Swara Maharddhika belum melakukan regenerasi, mereka yang tampil didominasi oleh penari-penari senior. Ini salah satu hal yang mengaggumkan, bagaimana mereka yang berasal dari generasi 1970-an dan 1980-an tetap memiiki semangat, menunjukkan cara mereka berkesenian di hadapan ribuan generasi milenial.  

“Untuk malam ini, yang paling muda ada Mbak Tuti, umur 43 tahun. Paling tua ada usia 60 tahun, ada yang usia 57 juga. Kalau yang usia 60 tahun dari angkatan kedua Swara Maharddhika,” jelas Ibu Santy.


Penampilan Swara Maharddhika dalam acara Suara Disko: Langgam Kahyangan  di The Pallas, SCBD, Jakarta, pada Jumat (20/10/2017) (Foto: Metrotvnews/A. Shindu Alpito)

Selepas era kejayaan Swara Maharddhika, para anggotanya menjalani kehidupan masing-masing. Ada yang bekerja kantoran, ada yang terus berkesenian. Ibu Santy salah satu anggota Swara Maharddhika yang memutuskan untuk bekerja di kantor. Namun pada saat ini, banyak dari anggota Swara Maharddhika yang sudah pensiun dari pekerjaan mereka. Kembali berkumpul atas nama berkesenian pun dijadikan jalan untuk melepas penat sekaligus mengisi waktu luang.

“Kami rata-rata sudah usia 55 tahun ke atas, jadi yang tampil harus dipilih yang memiliki waktu luang, yang masih bisa menari atau masih diberi izin keluarganya untuk menari.”

“Di antara kami sudah banyak yang menjadi Oma. Sudah banyak yang punya cucu. Tetapi itulah bedanya kami, kami selalu bersemangat untuk berkesenian. Mungkin karena kami dulu ditempa cukup lama untuk menjadi penari. Alhamdullilah stamina kami juga masih terjaga dengan baik. Hal yang paling saya kagumi adalah semangat dan kekompakan dari teman-teman Swara Maharddhika. Kami sudah 40 tahun bergaul seperti ini Alhamdullilah yang sudah bercucu masih bisa menari,” ujar Ibu Santy.

Larut dalam percakapan, Ibu Santy lantas menceritakan salah satu momen paling membanggakan dalam hidupnya, ketika dia masuk dalam tim Pagelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra di akhir era 1970-an. Dia teringat bagaimana Swara Maharddhika berhasil menggelar pertunjukkan tari sekaligus menyanyi selama seminggu berturut-turut di Balai Sidang Senayan. Swara Maharddhika tampil dua kali dalam satu hari, selama seminggu penuh. Seluruh tiket pentas mereka habis terjual.

“Mungkin itu rekor satu-satunya yang belum terulang lagi sampai sekarang, oleh kelompok seni lainnya,” ucap perempuan yang pernah menjabat sebagai direktur perusahaan asing itu.

Soal regenerasi, Ibu Santy membeberkan sedikit rencana yang akan dilakukan para anggota Swara Maharddhika.

“Kami sedang memikirkan regenerasi dengan melibatkan anak-anak kami. Mereka mau dilatih seperti kami, karena rata-rata kami punya anak gadis. Mereka (anak-anak anggota Swara Maharddhika) juga tertarik dengan ide itu.”


Penampilan Swara Maharddhika dalam acara Suara Disko: Langgam Kahyangan  di The Pallas, SCBD, Jakarta, pada Jumat (20/10/2017) (Foto: Metrotvnews/A. Shindu Alpito)

Sayangnya, perbincangan kami harus segera disudahi. Ibu Santy masih harus bergabung dengan rekan-rekannya untuk memantapkan koreografi mereka. Sebelum benar-benar mengakhiri sesi wawancara, Ibu Santy menitipkan pesan untuk para generasi muda yang berkecimpung di dunia kesenian, seperti dirinya dahulu.

“Buat rekan-rekan milenial, saya cuma mau kasih tahu untuk menjalankan suatu kesenian harus ada disiplin. Kalau melihat tarian kami, mungkin anak muda sudah malas duluan, karena anak muda cenderung suka yang cepat. Butuh waktu untuk bisa membuat tarian yang kalian lihat seperti ribet, rumit, tetapi itulah yang abadi.”

Waktu berlalu, siang berganti malam. Sekitar pukul 21:00, The Pallas ramai diserbu generasi muda yang ingin menyaksikan acara malam itu. Pesta dibuka dengan penampilan Diskoria yang memutar seleksi lagu Indonesia pilihan dari era 1970-an hingga 1990-an. Tidak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Lagu Juwita karya Junaedi Salat yang dinyanyikan Chrisye mengalun dari pengeras suara, sejurus kemudian serombongan penari naik ke panggung. Mereka adalah Swara Maharddhika. Di antara gemerlap lampu pesta, warni-warni kostum, terlihat bagaimana Ibu Santy memperlihatkan gerak tari yang disebutnya abadi.

 


(ELG)

Cinta 99% Dea Dalila

Cinta 99% Dea Dalila

3 days Ago

Di momen yang tepat dan didukung tekad yang kuat, Dea memberanikan diri. Dia resmi memutuskan k…

BERITA LAINNYA