Sheila On 7: Band Ini Pernah Mau Bubar!

Agustinus Shindu Alpito    •    31 Januari 2018 09:43 WIB
indonesia musikmusik indonesia
Sheila On 7: Band Ini Pernah Mau Bubar!
Sheila on 7 (Foto: Fanpage Facebook Sheila On 7)

Jakarta: 22 tahun bukan waktu yang singkat dalam menjaga eksistensi sebuah grup musik. Popularitas, perpecahan dan badai dalam industri telah dirasakan oleh mereka, Sheila On 7.

Awal 2018 menjadi catatan penting dalam sejarah grup asal Yogyakarta ini. Untuk pertama kalinya mereka merilis sebuah singel - Film Favorit - tanpa embel-embel label besar di belakang. Seperti kita ketahui bersama Sheila On 7 besar di bawah naungan label mayor, mulai dari album debut self-titled (1999) hingga album ke-8, Musim Yang Baik (2014). Praktis lebih dari separuh umur band ini mereka habiskan bersama Sony Music Entertainment Indonesia. Melalui label itu juga Sheila mendapat titel “Band Satu Juta Copy” yang menandakan kesuksesan mereka dalam menjual album.

Dengan segala yang telah mereka alami selama 22 tahun ini, Sheila On 7 telah memulai musim yang baik di awal 2018. Melalui 507 Records, label yang mereka dirikan, Sheila masih berlayar. Apa yang mereka alami selama bertahun-tahun dengan label besar menjadi bekal penting perjalanan.

Menariknya, Sheila On 7 menjadi satu dari sedikit grup yang berasal dari era akhir 1990-an yang mampu bertahan sekian lama, dengan frekuensi jadwal panggung yang terjaga dan konsistensi merilis materi-materi baru.  Itu semua tidak terjadi begitu saja tanpa menjaga bara renjana.

Dalam wawancara dengan Medcom.id, pada 29 Januari 2018, Duta Cs, sempat membeberkan perjalanan panjang mereka. Bahkan terang-terangan mengakui Sheila On 7 hampir bubar di tengah jalan akibat masalah internal. Beruntung, masalah itu tak membuat mereka berai. Dalam hal ini, mereka juga membuktikan bahwa Pejantan Tangguh bukan sekedar lagu, tapi bagian dari identitas Sheila On 7 itu sendiri.


Formasi awal Sheila On 7 (Foto: SheilaOn7.com)


Sheila On 7 merupakan salah satu band era akhir 1990-an yang masih eksis hingga saat ini, menurut kalian apa tantangan terbesar menjadi band pada masa sekarang?

Duta: Sheila On 7 mulai rekaman saat Eross berusia 19 tahun, saya 18 tahun. Saat album pertama Sheila (self-titled, 1999) keluar, Eross umur 20, saya umur 19. Jadi memang saat itu anak-anak di usia kami yang main rapi banyak. Kami pada waktu itu mungkin punya label sebagal band jutaan copy, tetapi permainan kami secara musikalitas belum matang sama sekali. Mungkin ekspektasi orang-orang terhadap kami tinggi. Tantangannya di situ. Sedangkan bagi band lain, mungkin tantangannya adalah mendapatkan kontrak dari label rekaman yang juga tidak gampang.

Kalau sekarang siapapun bisa menjual rekaman. Bahkan hasil rekaman di kamar. Saya tidak bisa bilang semua, tetapi sebagian masyarakat tidak peduli lagu yang mereka dengar direkam dengan pre-amp harganya puluhan juta, atau menggunakan mikrofon kelas A atau B. Jadi, sebenarnya itu tantangannya saat ini. Mengedukasi orang-orang itu. Mengedukasi kalau sang artis melakukan rekaman sampai seperti itu. Meski saat ini juga banyak seniman karbitan, bahasa Inggris-nya poser. Mereka bukan artis at all, mereka hanya ikut-ikutan. Jadi, itu yang membuat pekerjaan kami lebih berat dalam arti mengedukasi. Jika semua berada di halaman yang sama dengan kacamata musisinya, mungkin lebih mudah. Dengan pendengar yang beragam, tantangannya di situ. Juga tantangan menjaga eksistensi, 22 tahun bukan hal yang sebentar.

Apa hal esensial selama 22 tahun ini yang kalian pertahankan dan menjaga keutuhan Sheila On 7?

Duta: Passion-nya. Yang menyelamatkan Sheila On 7 dari kehancuran ya passion-nya. Bagaimana kami mengembalikan semangat dari awal bermusik.

Sepanjang saya ngobrol dengan mereka, dari obrolan bermutu dan tidak bermutu,  mereka enggak pernah mengatakan, “Bosen main band.” I guarantee you, guys, enggak pernah ada kalimat seperti itu keluar dari kami selama 22 tahun. Seburuk-buruknya keadaan. Tetapi, kami pernah capek dengan masalah. Band ini pernah mau bubar! Bukan karena capek main musik, karena masalah yang ada. Sempat ada momen merasa, “Gue enggak bisa selesaikan masalah ini.”

Sampai hari ini, passion kami masih sama. Deg-degan naik panggung masih ada. Sampai hari ini saya masih deg-degan naik panggung. Analoginya, untuk apa naik roller-coaster kalau sudah tahu rasanya dan enggak deg-degan? Untuk apa jadi performer kalau enggak bisa merasakan deg-degan? Karena hal itu menjaga konsentrasi saya, fokus saya. Saya malah takut kalau naik panggung biasa saja, berarti itu tidak lagi spesial lagi bagi saya. Kami selalu berupaya mengembalikan nilai-nilai yang kami perjuangkan sejak awal main musik bersama-sama.

(Masa-masa hampir bubar) itu terjadi pada 2006 sampai 2008. Itu fase-fase terberat kami.

Dalam menulis lagu saat ini, tentu keadaan kalian tak seperti ketika masih bujang yang bisa menangkap ide macam Pria Kesepian, Bapak-Bapak atau Bobrok. Apa yang membuat kalian tetap peka dalam proses kreatif penulisan lagu?

Eross:
Kalau secara kuantitas turun jauh, yang bisa kami lakukan pada hari ini adalah menjaga kualitasnya. Banyak tema-tema lagu yang belum pernah kami tulis. Sekarang masih benar-benar selektif dan enggak boleh maksa. Mungkin bisa mengejar kuantitas penulisan lagu seperti dulu, tetapi bisa enggak menjaga keunikan lagu? Jadi yang saya lakukan tidak boleh menutup diri dengan apapun.

Seperti saya (mendengarkan) Muse, dari situ saya tahu penempatan aperggio yang enak. Kemudian saya sederhanakan jadi intro Film Favorit. Dan Muse ada setelah Sheila On 7 established dengan gaya musik yang ada. Jadi seiring berjalan, saya tidak menutup telinga dengan apa yang ada.

Sheila On 7 saat ini benar-benar menentukan nasibnya sendiri. Apakah hal ini kalian manfaatkan untuk melakukan eksplorasi lebih jauh terhadap genre-genre musik lain yang belum kalian jamah sebelumnya?

Eross:
Kami sering omong masalah ini. DI Indonesia, ketika kamu enggak punya warna musik, selesai. Kebetulan Sheila On 7 dari awal karier, orang-orang tidak susah menemukan ciri Sheila On 7. Dan itu sampai hari ini kami jaga. Begitu juga music director yang kami pilih, dia juga menjaga bibit-bibit (ciri khas musik) Sheila, tetapi ditambah pupuk-pupuknya. Bukan suatu kebetulan meracik musik seperti ini. Ada yang bilang kalau sebuah lagu dimainkan orang lain biasa, tetapi ketika kami mainkan jadi spesial.

Lantas, apakah kalian akan mulai melibatkan produser dari berbagai latar musik dalam album mendatang?

Duta:
Kami menjajaki kemungkian itu, mungkin one day kami melakukan penjajakan dengan Marco Steffiano, Nikita Dompas atau Ifa Fachir. Banyak yang kami masukkan list. Tergantung kebutuhan lagu. Kami mau coba cara seperti itu.

Termasuk dengan kemungkinan melibatkan produser dari luar negri?

Duta:
Itu yang sama sekali tidak ada di obrolan kami. Belum sampai sejauh itu. One day ingin jika ada kesempatan dan mood-nya mau. Bekerjasama dengan produser kawakan yang mungkin tidak tahu Sheila On 7 tetapi kami ingin kerjasama.

Menurut kalian, masih relevan istilah indie dan mayor dalam dunia musik?

Duta:
Tergantung konteksnya. Kalau kami bicara label, mungkin di luar sana masih ada label yang belum melakukan apa yang seharusnya dilakukan,  tetapi kenyataannya banyak label yang melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan.

Dia (label) ranahnya berkembang ke arah lain yang arahnya ke komoditas, melakukan yang pada hakikatnya tidak perlu dilakukan. Tetapi apa yang menjadi hakikatnya justru tidak dilakukan, soal distribusi misal. Dengan adanya hal ini, Sheila tidak ingin mencari label lagi. Kami analogikan seperti orang sekolah, label seperti orangtua, setelah menaungi dari SD, SMP, SMA dan setelah berhasil mencapai S1, kami punya pilihan untuk mengaplikasikan ilmu kami atau melanjutkan S2.

Kami di sini belajar mengaplikasikan sistem yang baik untuk 507 Records, kalau kami sudah berjalan baik dengan baik, kami bisa hire orang lain yang menjalankan sistemnya. Bukan kami bekerjasama dengan orang yang membawa sistemnya sendiri.

Eross: Perkembangan teknologi per lima tahun akan berubah. Kesalahan major label, mereka mengontrak artis terlalu lama dengan mindset industri pada saat kontrak dibuat. Kami dikontrak pada 1998, pada tahun itu CD dan kaset menu utama. Tetapi dalam perjalanannya, ada blundernya. Karena kontrak yang ada tidak lagi relevan dengan zaman yang ada.

Duta Dulu kami berpikir dikontrak lama, nasib kami terjamin. Itu pembelajaran kami yang membawa kami di titik seperti sekarang ini. Semua musisi punya hak memilih.

Hal itu menuntut para musisi pada saat ini melek urusan legal terkait kontrak?

Duta: Itu harus, sekarang banyak teman-teman musisi yang kuliah hukum dan buka consulting soal hukum. Semoga band-band baru tidak perlu mengalami apa yann dirasakan band-band lama.


Sheila On 7 saat wawancara ekslusif dengan Medcom.id di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, pada 29 Januari 2018 (Foto: Shindu Alpito/Medcom.id)


Master album debut sampai album ke-delapan kalian tentu dipegang oleh label yang lama, apakah mungkin kalian merilis edisi re-issue album-album awal Sheila On 7, mengingat tahun depan (2019) album self-titled kalian berusia 20 tahun?

Duta:
Kemungkinan itu pasti ada, tetapi saya yakin label yang bersangkutan tidak akan mudah melepaskan.

Eross: Saya kemarin sempat dengar bahwa umur master itu 20 tahun. Tetapi sebusuk-busuknya album itu, yasudah biar seperti itu. Kami juga dengar label kami yang dulu stop produksi album Sheila On 7.

Duta: Ada persepsi dalam sebuah undang-undang seperti itu (soal umur master rekaman). Itu yang sedang kami gali. Paling mungkin kami merekam ulang lagu itu, secara live. Kami juga beberapa kali merekam live. Kami akan keluarkan jika kondisi memungkinkan, jika tidak ada pihak manapun yang merasa dirugikan.

Kami merasa di luar kekurangan yang kami dapatkan, kami lewati. Kami bersyukur masih diberikan kekuatan,passion yang tinggi, sehingga bisa membuat karya-karya baru.

Brian dan Eross merilis album solo pada dua tahun terakhir. Apakah Duta dan Adam juga punya rencana bersolo karier?

Duta:
Saya suka takut kalau ngomong. Belum pernah sih ada obrolan saya solo dengan anak-anak (personel Sheila On 7). Kalau bikin lagu, ada. Untuk tabungan lagu saya. Belum punya pikiran lagu-lagu itu harus saya keluarkan dalam format solo.

Adam: Enggak ada rencana itu.

Apa tema besar album Sheila On 7 mendatang?

Duta:
Kalau secara tema saya yakin tidak bisa lagi seperti lagu-lagu di era 1999, seperti album pertama album kedua. Tema itu bisa datang dari berbagai hal, dari cerita teman atau dari kehidupan sosial kami. Tetapi, bukan enggak mungkin lima tahun ke depan kami menulis lagu seperti tahun 1999. Karena anak saya yang paling besar, akhir Agustus tahun ini usia 14 tahun. Let’s say 3 tahun lagi anak saya 17 tahun dan saya jadi terinspirasi menulis lagu kehidupan anak seusia itu, karena pada 1996 saat awal Sheila On 7 usia saya juga 16 atau 17 tahun. Karena apa yang saya dengarkan saat ini, cerita anak-anak saya.

Belakangan, bergulir semangat kolektif untuk membawa musik Indonesia ke ranah yang lebih luas. Dari segi promosi kebudayaan dan identitas kolektif khususnya. Hal itu tidak lepas dari inisiasi para musisi dan pemerintah (BEKraf). Bagaimana pendapat kalian

Duta:
Butuh komitmen yang tinggi dan dunia musik terlalu majemuk. Seperti yang saya bilang, ada yang benar-benar musisi ada yang poser. Kita enggak bisa tahu komitmen orang-orang, parameternya terlalu banyak. Kita lihat ikhitar dari teman-teman seperti Mas Tompi, Glenn dalam Konferensi Musik Indonesia (yang rencananya akan digelar di Ambon, pada Maret 2018). Jika terbentur aturan atau sesuatu, apakah komitmen yang ada masih sama? Atau cari selamat sendiri-sendiri? Itu yang harus dilihat. Musik terlalu majemuk, motivasi orang bermusik terlalu macam-macam, motivasi berbeda-beda, effort-nya beda-beda. Selama ini yang dilakukan parsial. Sendiri-sendiri. Sheila enggak muluk-muluk, kami mengedukasi Sheila Gank lebih dulu. Mulai dari mengedukasi membeli barang original. Dari hal-hal kecil itu kami mengedukasi.

Kami ada pengalaman ada orang yang meminta tanda tangan di CD bajakan. Kami enggak bisa melarang, karena itu uang kalian. Tetapi jangan salahkan kami jika kalian mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Sheila On 7, karena apa yang kalian lakukan (dengan membeli produk bajakan Sheila On 7) itu menyakitkan kami.

Jika ada musisi yang ingin kalian ajak berkolaborasi, siapakah mereka?

Brian:
Yang kami pernah lakukan di panggung dan berkesan, Raisa.

Duta: Iwan Fals, Achmad Albar, kalau kolaborasi sama Slank dan Gigi sudah terwujud. Pas Ahmad Albar sudah sempat terwujud pas konser Supergroup (November 2017) tapi waktu itu nyanyi ramai-ramai, bukan yang duet berdua saja. Ari Lasso juga belum pernah. Yura Yunita juga oke.

Adam: Raisa, Gigi, Isyana belum pernah.

Eross: Saya suka Lana Del Rey. Unik, pengin tahu prosesnya (bermusik). Kalau yang lokal, Barasuara.





 




(ASA)

SMASH Menolak Bubar

SMASH Menolak Bubar

15 hours Ago

SMASH kembali bukan sebagai 'Seven Man As Seven Heroes'. Berenam; Bisma Kharisma, Rangg…

BERITA LAINNYA