Menerka Selera Musik Nicholas Saputra

Agustinus Shindu Alpito    •    03 Oktober 2018 07:00 WIB
indonesia musiknicholas saputra
Menerka Selera Musik Nicholas Saputra
Nicholas Saputra (Foto: Medcom.id/Shindu Alpito)

Bagi mereka yang mengikuti perkembangan film Indonesia, tidak mungkin jika tidak mengenal Nicholas Saputra. Aktor yang dikenal lewat film Ada Apa Dengan Cinta? itu punya tempat tersendiri di hati penggemar film lokal, lewat peran-peran ikoniknya.

Rasanya, sudah terlalu umum jika menggali referensi dan wawasan Nicholas seputar film. Untuk itu, dalam sebuah kesempatan kami mencoba mengulik lebih dalam selera musik aktor 34 tahun itu.

Jika kita pernah melihat film Ada Apa Dengan Cinta? (2002), tentu ingat adegan Cinta (Dian Sastrowardoyo) bersama teman-temannya menyaksikan konser Pas Band. Namun, tidak demikian dengan Rangga. Entah apa alasannya, Rangga (Nicholas Saputra) seperti tidak ingin larut dalam semarak senang-senang teman sebayanya dengan hadir di konser. Adegan itu semakin mengukuhkan persepsi penonton akan sosok Rangga yang introvert. Ternyata, Nicholas Saputra di kehidupan nyata punya kemiripan dengan Rangga untuk urusan menikmati musik.

"To be honest, gue kurang menikmati pertunjukan live (konser), gue suka musik tetapi gue enggak effort untuk datang dan menonton. Gue lebih mendengarkan musik secara intim, di mobil, di kamar, di hutan kalau lagi travelling," kata Nicholas Saputra dalam wawancara eksklusif dengan Medcom.id.

Soal pilihan jenis musik, Nicholas mengaku senang mendengarkan lagu-lagu Brasil. Bukan tanpa alasan, dia merasa punya kedekatan emosional dengan negara itu. 

"Gue sudah cukup lama terekspos musik Brasil, seperti Elis Regina, João Gilberto, waktu gue beberapa kali ke Brasil gue menemui banyak referensi baru."

Nicholas setidaknya sudah tiga kali berkunjung ke Brasil. Sebuah tempat yang dia sebut membuatnya nyaman.

"Di sana gue merasa mayoritas, gue mix-blood, di sana mayoritas mix blood dan mereka celebrate itu," kata Nicholas.

Melihat pilihan musik Nicholas, tersirat bahwa dirinya adalah pribadi yang sangat menyukai keindahan, harmonis dan tentu segala yang terasa berjiwa. Seperti apa yang kita dengar dari  musik-musik Brasil. Selain itu, Nicholas punya alasan tersendiri menggemari musik Brasil.

"Lebih ke ekspresinya, tidak ada musik yang seperti itu di dunia. Brazilian music itu mencapai titik yang modern dan otentik, tidak ada yang seperti itu di dunia."

Namun, musik Brasil bukan satu-satunya yang hadir di hidup Nicholas. Sebagai seorang yang tumbuh dewasa di era musik grunge dan rock alternatif, Nicholas mengaku sempat terpapar jenis musik itu.

Dia mengenang bagaimana pada masa itu referensi musiknya terbuka karena membaca majalah Hai. Majalah Hai saat Nicholas remaja dianggap sebagai manual wajib para remaja pria untuk bisa "eksis" dan mengetahui tren dunia. Musik tentu jadi salah satu suguhan utama majalah itu.

"Gue generasi Pure Saturday, waktu gue melek musik, tahun 1995-1996. Terus Dr.Pm dan gue nge-fan sama Koil, itu sekitar era 2003," kata Nicholas. 

Saat disinggung bagaimana transisi Nicholas dari seseorang yang mendengarkan musik alternatif atau musik-musik yang cukup bising menjadi pendengar musik Brasil yang kalem, pemeran Bono dalam film Aruna dan Lidahnya itu dengan enteng menjawab, "Kayaknya (karena) usia, ha-ha-ha."


Tidak Fanatik pada Artis Tertentu

Nicholas Saputra penikmat musik yang cukup unik. Dia lebih terpikat pada album, bukan sosok musisinya. Nicholas secara spesifik menyukai album atau lagu tertentu, bisa jadi dia tidak terikat untuk tertarik pada karya musisi yang sama pada album-album lain.

"Kalau band, gue lebih suka lagunya bukan bandnya. Kayak The Rapture, gue suka sama lagu atau album tertentu. Gue lebih sering suka sama albumnya, bukan yang mengikuti bandnya."

Kemudian Nicholas menyebut beberapa nama musisi dan band lain yang albumnya cukup memberi dia kesan. Dua di antaranya adalah Fiona Apple dan Audioslave.

"Gue big fan album Audioslave. Gue juga mengumpulkan best music dari beberapa era."

Koleksi musik yang dimaksud Nicholas beberapa di antaranya dalam format piringan hitam atau vinyl.

"Gue punya plat (vinyl) sedikit, kebanyakan album dari (Carl) Palmer, Chet Baker, tapi album yang sering gue putar (dalam format vinyl) jazz. Sebenarnya range jenis musik yang bisa gue nikmati itu luas banget."

Meski banyak terpapar musik luar negeri, bukan berarti Nicholas tidak mengetahui perkembangan musik lokal. Dia sempat menyebut nama Barasuara dan mengaku suka pada album pertama Nidji, Breakthru' (2005). Soal album Indonesia terbaik, Nicholas dengan pasti menjawab Guruh Gipsy (1977).


Peran sebagai Musisi

Sebagai aktor, Nicholas saputra tidak bisa mengesampingkan musik begitu saja. Musik jadi bagian penting dalam sinema. Saat memerankan tokoh Soe Hok Gie contohnya, Nicholas mendengarkan musik era 1950-an hingga 1960-an, untuk menghayati peran.

"Waktu memerankan Gie, gue terkespos sama Simon & Garfunkel, gue mencoba mencari tahu musik yang disukai Gie era itu, termasuk Joan Baez dan Bob Dylan."

Lantas, jika suatu saat mendapat kesempatan untuk berperan sebagai musisi dalam sebuah film, kira-kira peran apa yang Nicholas harapkan?

"Kalau ada tawaran di film jadi musisi, gue pengin jadi pemain trumpet. Mungkin karena gue suka Chet Baker dan Miles Davis," jawab Nicholas yakin.





(ASA)

Tashoora, Invasi Berbahaya Sekstet dari Yogyakarta

Tashoora, Invasi Berbahaya Sekstet dari Yogyakarta

5 days Ago

Dalam musik yang energik sekaligus kontemplatif yang diramu Tashoora, terlantun lirik-lirik pui…

BERITA LAINNYA