Langkah Baru Giant Step

Elang Riki Yanuar    •    17 Juni 2017 08:00 WIB
indonesia musik
Langkah Baru Giant Step
Benny Soebardja, pendiri Giant Step (Foto: Metrotvnews/Elang)

Metrotvnews.com, Jakarta: Menyandang status 'legenda' tak membuat Benny Soebardja benar-benar puas. Benny merasa masih bisa berbuat banyak selagi masih bernapas.

Benny Soebardja bersama grup yang didirikannya, Giant Step punya tempat terhormat di kalangan pecinta musik rock. Di era 1970 dan 1980-an, band ini pernah dihuni sejumlah musisi yang tak kalah legendaris di Indonesia. Sebut saja di antaranya, Albert Warnerin, Deddy Dores, Triawan Munaf, Jelly Tobing, Erwin Badudu dan yang lain.

Giant Step terakhir kali merilis album berjudul Geregetan pada 1985 di bawah naungan JK Record. Setelah itu, mereka tak lagi membuat karya bersama. Banyak yang kadung menganggap Giant Step sudah 'habis.' Sayangnya, anggapan itu salah karena Benny Soebardja masih punya energi tambahan.

Benny tak memungkiri banyak nada sumbang ketika dirinya hendak membangun kembali Giant Step. Penyebabnya tentu usia Benny yang kini menuju kepala tujuh.

"Mereka pikir saya sudah tua. Tapi itu semakin memotivasi saya. Saya mau buktikan saya masih mampu," kata Benny Soebardja kepada Metrotvnews.com.

Benny tak mau main-main. Dia enggan muncul sebentar lalu hilang lagi. Album berjudul Life's Not the Same menjadi garansi keseriusan Benny. Album ini dirilis di Singapura pada Maret 2017.


Giant Step (Foto: Metrotvnews/Elang)


"Kita memutuskan jalan lagi dengan kita sudah punya album baru. Itu saja sudah membuktikan kalau kita serius untuk jalan lagi, eksis lagi. Kita tidak main-main untuk memulai kembali. Kita masih punya simpanan lirik bisa untuk dua album lagi," ungkapnya.

Benny mengerti, di usianya yang sekarang, tujuan bermusik sudah bukan lagi semata ingin menjadi terkenal, manggung di banyak tempat atau meraih jutaan penonton di Youtube. Namun, bukan berarti Giant Step dan Benny tidak memiliki ambisi dan target.

"Saya kena serangan jantung pada 2012. Dokter meminta saya berhenti dari dunia bisnis. Malah disuruh main musik saja. Kalau begitu ya sudah, saya main musik lagi. Karena memang musik dianggap terapinya buat saya. Memang sudah panggilan jiwa."


Giant Step (Foto: Metrotvnews/Elang)

"Jadi ambisi saya sekarang adalah ingin supaya lagu-lagu kita didengar anak muda. Seperti kemarin di Singapura, kebanyakan yang datang anak-anak muda. Itu yang membuat saya bangga. Saya bahagia banget." ujarnya.

Produser album baru Giant Step berasal dari Seattle. Maka tak heran, album ini menggema hingga ke luar negeri. Yang membuat Benny semakin bergairah, pendengarnya kebanyakan generasi muda.

"Kemarin lagu-lagu kita diputar di radio di Seattle, WIDR, sekarang di band camp juga dapat rating kita yang album baru ini. Sebenarnya kita dapat tawaran konser di Jepang, di Amerika. Album kita di Jepang ratusan sudah terjual habis. Di Singapura juga minta. Tapi waktunya susah. Saya mau fokus di Indonesia dulu habis lebaran," lanjutnya.

Berubah Pikiran

Dalam perbincangan dengan Metrotvnews sebelumnya, Benny mengungkapkan rencana reuni Giant Step. Keinginan itu tertunda karena Deddy Dores meninggal dunia  tahun lalu. Kini, Benny berubah sikap. Dia dengan tegas menolak ide reuni Giant Step.

"Prinsip saya berubah. Reuni tidak perlu. Kalau mau bangkit, ya bangkit benar. Tidak usah reuni. Reuni itu sifatnya hanya mengenang saja. Saya maunya maju lagi. Inilah saya," ujar Benny.


Album Geregetan milik Giant Step (Foto: Metrotvnews/Elang)


Benny bukan lupa dengan para rekan-rekannya terdahulu. Hanya saja, mereka belum berjodoh dengan waktu. Karena itu, Benny mengambil tindakan cepat.

"Sudah pernah coba menghubungi (personel Giant Step lain). Tapi Triawan (Munaf) sekarang sudah jadi pejabat (Ketua BEKRAF). Susah waktunya. Jelly (Tobing) juga punya band sendiri sama anaknya. Makanya keputusannya, saya bikin sama yang lain," ucapnya.

"Sekarang saya tidak banyak beban. Saya tidak punya banyak tuntutan lagi. Kita mengalir saja. Kita hanya ingin dikenal generasi sekarang. Supaya benang merahnya tidak putus. Bahwa kita pernah berbuat ini dulu," imbuhnya.

Meski berubah pikiran, Benny tidak menutup pintu bagi kawan-kawan lamanya. Dia bahkan dengan terbuka menyambut rencana Erwin Badudu mengisi posisi kibord seperti dulu.

"Kemarin Erwin bilang mau gabung lagi, saya bilang ya sudah kalau benar kita nanti bikin double keyboard saja. Sama seperti dulu ketika Triawan Munaf dan Erwin (di kibord)," ucapnya.

Sumber Energi Benny Soebardja

Malam memang semakin larut, tetapi Benny justru baru saja selesai manggung dan masih mau menerima ajakan berbincang. Tak tampak lelah meski keringat mengucuri wajah dan tubuhnya.

Wajah Benny Soebardja tampak semringah menyapa teman-temannya yang datang dalam konser perilisan album baru Giant Step di Jakarta, belum lama ini. Rona mukanya semakin berseri-seri kala anak-anak muda menghampirinya untuk sekadar meminta tanda tangan atau berfoto bersama. Mereka menatap Benny dengan penuh takzim. Merekalah menjadi sumber energi bagi Benny Soebardja.

"Sekarang susah kalau angkatan saya. Kebanyakan sudah pada pensiun. Jam 10 sudah musti tidur. Jadi saya ajak anak-anak muda saja. Makanya saya senang banget melihat anak muda bisa apresiasi karya kita," ujar Benny.

Benny menandatangani piringan hitam album Ghede Chokra's dari bandnya yang lain, Shark Move (Foto: Metrotvnews/Elang)

Di formasi Giant Step yang sekarang, Benny memang mengajak musisi-musisi yang usianya jauh lebih muda. Formasi Giant Step saat ini diisi Benny Soebardja (vokalis/gitaris), Debby Nasution (keyboardis), Johannes Jordan (gitaris/flute), Audi Adhikara (bassis), dan Rhama Nalendra (drummer). Nama terakhir adalah anak Benny sendiri dan menarik ialah dia yang banyak menciptakan lagu-lagu baru untuk Giant Step.

Meski personel paling tua, Benny bersikap terbuka pada para junior-juniornya di band. Giant Step bukan hanya Benny Soebardja sehingga siapa pun yang berada di dalamnya punya hak bersuara.

"Mereka menyukai lagu 70-an, itu yang terpenting. Makanya bisa mudah beradaptasi," ucapnya.


Aksi Benny Soebardja (Foto: Metrotvnews/Elang)

Usia sepertinya tak lebih dari sebuah angka bagi Benny Soebardja. Semangatnya masih membara ketika membicarakan musik. Jiwa pemberontak Benny juga belum luntur. Itu tercermin dari ucapannya ketika dimintai nasihat untuk musisi-musisi muda saat ini.

"Kalau mereka (band sekarang) punya konsep sendiri, jangan tergantung sama label. Keluarkan saja. Harus mulai independen. Sekarang zamannya sudah indie. Bikin sendiri, jual sendiri. Dari Shark Move (band Benny sebelum Giant Step) saya sudah indie dan semangat itu harus ditiru sama anak muda. Kita harus beri inspirasi kebebasan dan independen dalam berkarya," katanya.

"Saya sudah berumur dan saya mau membuat sesuatu yang bikin orang bahagia. Makanya fokus saya ke anak muda. Mereka masih energik. Mereka masih perlu inspirasi, terutama band-band yang indie. Kritik saya kalau ada yang kurang dari saya," tutup Benny.

 


(ELG)