Perjalanan Natural D'Masiv

Elang Riki Yanuar    •    13 November 2018 08:00 WIB
indonesia musik
Perjalanan Natural D'Masiv
D'Masiv (Foto: dok. Medcom.id)

Jakarta: Semasa remaja, Rian Ekky Pradipta tak lebih dari pemuda spesialis patah hati. Itu karena cintanya pada wanita tak pernah terbalas. Namun, dari tangan Rian yang hatinya remuk redam itulah lahir lagu Cinta Ini Membunuhku. Lagu ini kelak yang mengantar Rian dan grup musiknya, D'Masiv ke jalur popularitas.
 
Lebih dari satu dekade berlalu, Rian tak lagi sama. D'Masiv sekarang menjelma menjadi salah satu band pop terkenal di Indonesia. Sementara, Rian kini sudah berkeluarga dan menjadi seorang ayah dari dua orang anak. Tak bisa dipungkiri, perspektif Rian memandang kehidupan sedikit banyak mengalami perubahan. Maka tidak mengherankan, jika dari tangan Rian yang sekarang lahir lagu berjudul Ingin Lekas Memelukmu Lagi.

Lagu ini merupakan wujud kerinduan Rian terhadap sang anak yang sering dia tinggal karena aktivitasnya. Sebagai musisi yang punya jadwal manggung seabrek, Rian dan D'Masiv memang semakin sulit menghabiskan waktu bersama berkeluarga. Lagu ini adalah cerminan sosok Rian yang sekarang sudah menjadi 'bapak-bapak'. Begitulah perjalanan natural seorang Rian dan D'Masiv.

"Mas Is bilang (lirik lagu) ini 'gue banget'. Menurut dia, lagu ini mirip dengan kehidupan dia. Dia kan juga bapak-bapak yang jarang pulang karena tur terus sehingga mewakili perasaan dia juga," kata Rian saat berbincang dengan Medcom.id

Is yang maksud Rian adalah Mohammad Istiqamah Djamad, mantan personel Payung Teduh yang sekarang menggunakan moniker Pusakata. D'Masiv menggandeng Is untuk berkolaborasi mengisi bagian lagu Ingin Lekas Memelukmu Lagi.  

Ingin Lekas Memelukmu Lagi adalah lagu yang akan menjadi bagian dari album keenam D'Masiv. Lagu ini dirilis bersamaan dengan lagu daur ulang yang dulu dibawakan Chrisye berjudul Selamat Jalan Kekasih. Di lagu ini, D'Masiv juga berkolaborasi dengan penyanyi Maizura. Mereka juga menyematkan vokal Chrisye pada lagu ini.



Tahun ini, tepat satu dasawarsa D'Masiv berkiprah di industri musik Indonesia. Lima album sudah mereka hasilkan. Diawali dengan Perubahan (2008) yang berlanjut pada album Perjalanan (2010), dan Persiapan (2012). Langkah mereka selanjutnya terus berjalan lewat album Hidup Lebih Indah (2014) dan d'Masiv (2016).

Menilik pencapaian itu, langkah Rian, Ray, Rama, Kiki, dan Why sebagai sebuah band terbilang mulus. Mereka masih secara periodik merilis album. Mereka belum diganggu masalah-masalah yang kerap melanda band seusia mereka seperti bongkar pasang personel atau ditinggal salah satu anggotanya ke dunia politik.

"Perjalanan kami masih panjang. Umur juga masih 30-an. Kami pernah ketemu Om Yon Koeswoyo dari Koes Plus. Terus tanya, '(Koes Plus) sudah berapa album Om?'. Kata dia, 'Wah Koes Plus mah sudah 100 kaset'. Kami saja baru punya lima. Ada 95 berarti yang harus kami buat," kata Rian.

Saat ini, D'Masiv sedang bersiap merilis album keenam mereka. Beda dari album sebelumnya, D'Masiv turut campur menjadi produser di album terbaru mereka. Pengalaman baru mereka dapat. Membuat mereka tahu betul, betapa tidak murahnya ongkos sebuah lagu sebelum sampai ke telinga pendengarnya.

Berikut perbincangan Medcom.id dengan D'Masiv seputar album terbaru mereka:

Bisa cerita tentang singel terbaru kalian?
Rian:
Tahun ini kami sudah merilis tiga singel. Pertama kolaborasi dengan David Noah dan Rossa, judulnya Pernah Memiliki. Kemarin kami merilis dua singel sekaligus. Ini di luar dari kebiasaan kami juga. Biasanya kalau album itu keluarinnya singel per singel. Tapi kali ini langsung mengeluarkan dua lagu karena kami ingin mencari sesuatu yang beda juga.

Masing-masing lagunya punya cerita. Banyak yang menganggap, enggak sayang, nanti promonya enggak fokus dan sebagainya. Tapi kami bilang, kita mau rilis ya rilis saja. Nanti orang mau pilih yang mana kami bebaskan saja.

Di lagu Ingin Lekas Memelukmu lagi kami berkolaborasi dengan Is Pusakata. Ini bisa dibilang di luar kebiasaan kami berkolaborasi dengan musisi di scene yang bukan mainstream. Di lagu kedua, Selamat Jalan Kekasih lagunya Chrisye. Bisa dibilang ini sejarah. Selama ini kami hanya bisa mengagumi saja karya beliau. Sebelumnya kami sudah membawakan lagu Pergilah Kasih dan itu berhasil.

Seberapa sulit mendapatkan izin lagu Selamat Jalan Kekasih?
Rian:
Kesempatan ini tidak mudah didapatnya. Approach-nya ke banyak pihak. Yang bikin lagunya Yockie Suryoprayogo dan Eros Djarot. Untuk mendapat izin dua orang ini tidak gampang.

Kalau kata Bu Acin (bos Musica Studios), tiga orang ini, Om Chrisye, Yockie dan Eros ini unik-unik. Punya karakter berbeda dengan orang kebanyakan. Waktu itu Bu Acin turun langsung untuk meminta izin ke Om Eros dan Yockie.

Kenapa kerap memilih mendaur ulang lagu penyanyi lawas?
Rian:
Banyak musisi dahulu harusnya mendapatkan lagi royalti dari lagu-lagu yang kita bawakan lagi. Musisi-musisi baru yang membawakan lagu lama kan menambah penghasilan buat musisi-musisi senior dan menjaga ekosistem musik di Indonesia.

Ini juga cara kami memperkenalkan musisi-musisi seperti Chrisye, Eros Djarot dan Yockie ke generasi muda. Jangan sampai mata rantai itu terputus. Karena banyak juga yang tidak tahu bagaimana peran Om Eros atau Om Yockie di balik Chrisye dulu.

Di lagu ini kami tidak hanya membawakan, tapi juga berduet dengan Om Chrisye meski hanya lewat suara tanpa ketemu langsung. Karena ketika kami masuk Musica, Om Chrisye sudah terlebih dulu meninggal dunia. Ini juga jadi penyesalan juga. Dulu kami pernah bawakan lagu Rinto Harahap. Dulu kami sempat minta pendapat Om Rinto sebelum beliau meninggal.

Yockie Suryoprayogo sempat mendengarkan langsung hasil daur ulang milik kalian?
Rian:
Ketika kami mau buat lagu ini Om Yockie sedang koma. Tapi saat itu sudah ngomong ke istrinya. Saat kami ngomong itu, Om Yockie mendengarkan. Tapi dia tidak sempat mendengarkan. (Yockie meninggal pada 5 Februari 2018)

Ray:
Kami sempat sowan ke tiga tempat ke rumah Om Yockie, terus ke rumah Om Eros Djarot lalu habis itu ziarah ke makam Om Chrisye ditemani sama istrinya. Sekaligus kasih tahu sama mohon doa restu sama orang-orang yang terlibat di lagu ini.

Bagaimana tanggapan Eros Djarot soal lagu hasil daur ulang D'Masiv?
Rian:
Kalau Om Eros mungkin lebih rock n roll dia. Komentarnya suka-suka dia. Lebih cerita sosok Chrisye itu seperti apa. Seru-seru sih orang-orangnya.

Buat kami, lagu ini laku atau enggak kami pasrahkan saja. Yang penting kami bisa berduet dengan Om Chrisye. Band lain belum tentu mendapatkan kesempatan ini. Lagu itukan kaya mencari jodoh. Kadang kami menganggap musik itu penuh misteri, gaib dan sakral. Karena prosesnya itu sangat luar biasa ketika proses rekaman kami harus merasakan take string, harus menggabung vokal Om Chrisye dengan aransemen sekarang, itu merinding karena menggunakan rasa banget. Apalagi di sini kami menjadi produser juga. Jadi lebih dalam lagi. Jadi lebih tahu prosesnya. Bajet-nya berapa. Lebih mengikuti prosesnya.


(Foto: Dok. musicastudios)

Kenapa memilih Selamat Jalan Kekasih untuk didaur ulang? Apakah sempat ada pilihan lagu lain?
Rian:
Tahun 2015 pernah ikut konser LCLR ke beberapa kota. Terus sempat melihat langsung betapa kuatnya lagu ini. Merinding waktu itu. D'Masiv ingin melanjutkan perjuangan lagu ini.

Jadi memang tidak ada pilihan lain. Kebetulan saya juga koleksi pelat-pelat album Chrisye sampai album solonya dia. Memang dalam banget lagu ini. Jadi seperti jodoh saja dengan lagu ini.

Menurut D'Masiv, apa peninggalan terbesar seorang Chrisye dan Yockie bagi musik Indonesia?
Rian:
Kalau kita melihat sejarah musik pop dimulai dari era mereka pada 1970. Mereka mengubah musik pop eranya Koes Plus menjadi lebih 'naik kelas'. Musik mereka progresi kord-nya tidak gampang. Cara menyanyinya juga. Kalau kata Om Eros Djarot, suara Chrisye itu anugerah Tuhan. Penyanyi yang membuat semua lagu menjadi lagunya Chrisye. Mau lagunya Pongky, Ahmad Dhani, Peterpan. Bahkan ketika membawakan lagu A. Rafiq yang Pandangan Pertama jadi enak. Kalau mau dinilai dia salah satu pahlawan musik Indonesia karena ikut mengubah industri musik Indonesia saat itu,

Peran Om Yockie juga tidak kalah besar. Lagu Selamat Jalan Kekasih ini dinyanyikan dulu sama Om Yockie. Dia punya album solo judulnya Selamat Jalan Kekasih. Versinya beda banget. Kalau versinya Om Yockie lebih enggak mainstream. Suasana progresif rock-nya lebih terasa. Sedangkan versi Chrisye lebih pop. Dua-duanya punya kesakralan masing-masing. Kami sih susah memilih yang mana karena kedua versinya sama-sama kuat.

Om Yockie sangat kuat di aransemen. Dia orang yang main rock jago, main pop jago.

Bagaimana awal kolaborasi kalian dengan Is Pusakata?
Rian:
Sebenarnya berawal dari keisengan. Pada tahun 2017 ketemu di pesawat. Pas pulangnya ketemu lagi. Akhirnya ngobrol-ngobrol. Terus kami foto lalu bertanya ke netizen kalau kami kolaborasi setuju enggak. Jawabannya banyak yang setuju. Kemudian ketika kami sedang mengumpulkan materi untuk album keenam, muncul ide kalau ajak Mas Is bagaimana ya? Lagu yang cocok yang mana?

Terus kirim whatsapp ke dia. Dia tidak langsung setuju atau tidak. Dia tanya dulu lagunya tentang apa. Jadi ini lagu dibuat ketika saya tur tidak pulang-pulang, lalu video call sama anak yang bertanya kapan pulang. Di situlah saya ambil gitar lalu jadilah lagu Ingin Lekas Memelukmu Lagi.

Pas dikasih tahu alasan itu, Mas Is bilang (lirik lagu) ini 'gw banget'. Menurut dia, lagu ini mirip dengan kehidupan dia. Dia kan juga bapak-bapak yang jarang pulang karena tur terus. Sehingga mewakili perasaan dia juga. Ya sudah dia mau. Akhirnya cari waktu. Tadinya cuma mau workshop, tapi hari itu juga rekaman. Prosesnya spontan saja. Mengalir banget.

Di album keenam nanti, kenapa D'Masiv banyak berkolaborasi dengan musisi lain?
Rian:
Kami sudah punya lima album. Ketika berkolaborasi dengan orang lain kami seperti merasa punya energi lain. Kami tidak bisa memakai cara kami yang dulu. Ada satu hal yang bisa kami pelajari dari orang yang kami ajak kerjasama. Begitu juga sebaliknya. Jadi saling memberikan energi. Kami butuh itu. Kebetulan kami juga menjadi produser di album baru nanti. Jadi akan ada warna-warna lain juga.

Ada yang bilang kami jadi ke-indie-indie-an. Padahal menurut kami, indie itu semangat. Kami memang mencoba hal yang band lain pernah lakukan. Salah satu hal berani yang pernah kami lakukan adalah merilis dalam piringan hitam. Pada 2013 kami ikut festival di sini, 10 kota. Hadiahnya ke Irlandia. Kami yang menang. Terus kami pernah main jazz di Java Jazz. Itu cara kami untuk apa... melakukan hal yang menantang. Kami senang dengan tantangan.



Di album keenam kalian menjadi produser sendiri. Bagaimana serunya pengalaman menjadi produser?
Why:
Dari segi tantangan sudah pasti. Kepuasannya juga berbeda, tanggung jawabnya juga berbeda. Bukan seperti dilepas ya. Tapi sekarang lebih keluar lagi D'Masiv-nya. Jadi lebih tahu harga-harga.

Rian:
Kami ikut turun deal harga. Jadi lebih menghargai lagi sebuah karya. Ternyata untuk satu lagu itu besar banget biayanya. Makanya kalau ketika kami tahu ada mendengarkan lewat situs ilegal, kami sedih. Begitu juga sebaliknya, kalau ada orang yang dengar di situs resmi dan legal rasanya senang banget. Merasa diapresiasi.

Di Musica Studios, biasanya Noey dan Capung "Java Jive" yang menjadi produser. Ilmu apa yang diambil dari produser-produser yang sebelumnya bekerjasama dengan kalian?
Rama:
Yang utama itu mungkin pemilihan lagu. Karena pemilihan lagu itu tidak bisa sembarangan. Kita harus memilih lagu yang sesuai sama jenis musiknya yang sudah ada benang merahnya. Jadi ada hal baru, tapi juga ada benang merah khas D'masiv.

Banyak juga teknis-teknis rekaman yang kami terapkan. Misalnya bagaimana cara mendapatkan sound-sound yang lebar atau yang nge-beat. Pernah di album keempat diproduser Denny Chasmala. Sama dia juga beda lagi. Kami belajar soal aransemen lagu dari Mas Denny.

Rian:
Pernah juga kami kerjasama Steve Lilywhite. Waktu itu juga sangat memberi kami ilmu.

Rama:
Dari Steve kami belajar untuk menjadi band yang tidak terlalu nge-band. Maksudnya tidak usah terlalu banyak mikir dalam proses rekaman. Dan menurut kami itu penting banget. Ketika sebuah band memikirkan yang harus sempurna banget, ya jatuhnya bukan nge-band namanya.

Ketulusan bermusik itu ternyata penting buat sebuah band. Seperti tiga lagu yang sudah kami buat terakhir ini prosesnya ajaib-ajaib banget. Satu hari selesai karena kami mengerjakannya dengan senang. Jadi sekarang yang penting senang dulu, nanti hasilnya mengikuti.

Rian:
Ketika album pertama, kami sama sekali enggak mikirin gitarnya harus apa. Semuanya sesuai yang kami rasakan saja.


D'Masiv (Foto: MI/Sumaryanto)

Saat perjalanan awal D'Masiv dulu, motivasi bermusik kalian mungkin masih ingin terkenal dan mendapat materi. Ketika kalian sudah meraih itu, apa yang menjadi motivasi bermusik D'Masiv sekarang?
Why:
Kalau sekarang lebih ke terus berkarya saja.

Rama:
Lebih ingin jujur saja. Sekarang bermusik itu jujur. Dari kaminya harus happy. Musik itu tidak harus ada tekanan dari mana-mana. Kami juga ingin orang ikut happy ketika mendengar karya kami. Seperti Rian buat lagu Ingin Lekas Memelukmu lagi kan, dari sesuatu yang natural.

Sejauh mana perkembangan album baru D'Masiv?
Rian:
Sudah kepilih semua lagunya. Tapi kalau di label itukan masih ada yang.. mengantrelah. Jadi siapa yang harus rilis duluan... seperti itulah. Tapi kalau dari kami selalu siap mau dirilis kapan saja. Secara materi sudah siap.

Apakah Musica Studios ikut terlibat memilihkan lagu?
Rian:
Ikut. Lagu-lagunya memang pilihan Ibu Acin, Tapi sebelum masuk ke Bu Acin, kami sudah yakin dulu dengan lagu-lagu yang kami kirim itu. Jadi lagu mana saja yang dipilih Bu Acin, kami sudah plong. Ternyata apa yang kami pikir bagus, Bu Acin juga suka. Mulai nge-blend sama Bu Acin. Tujuannya bisa disukai sama banyak orang. Yang penting kan kami senang dulu dengan karya kami. Kalau kami sendiri tidak senang, itu bahaya. Malah sekarang gue itu masih suka norak. Ketika lagu D'Masiv diputar di radio, suaranya gue kencengin tuh. Jadi gue masih punya rasa-rasa itu.

Kalian sudah lebih dari 10 tahun berkarya, apa hal yang masih ingin dicapai D'Masiv?
Rian:
Perjalanan kami masih panjang. Umur juga masih 30-an. Kami pernah ketemu Om Yon Koeswoyo dari Koes Plus. Terus tanya, '(Koes Plus) sudah berapa album Om?'. Kata dia, 'Wah Koes Plus mah sudah 100 kaset'. Kami saja baru punya lima. Ada 95 berarti yang harus kami buat.

Rama:
Pernah ketemu Om Yon di bandara. Dia bilang, 'Di Indonesia itu tidak ada band seperti Koes Plus'. Bukannya dia sombong, tapi dia memang benar. (hahaha)

Rian:
Dulu kami pernah sowan ke Om Yon, dia bilang, 'Kamu itu ada (mirip) akunya lho. Cara bikin lagunya'. Merinding juga dibilang seperti itu. Seorang legenda yang bilang. Ketemu para legenda itu kami dapat energi juga. Itu makanya gue rajin minta tanda tangan album buat pendokumentasian. Kaya terakhir kemarin ada beberapa legenda lagi ngumpul seperti Grace Simon dan lain-lain, gue list terus minta tanda tangan di plat mereka.

Rian sekarang sudah berkeluarga. Apakah proses kreatif membuat lagunya berubah saat sebelum dan sesudah berkeluarga?
Rian:
Dulu kalau bikin lagu mungkin itu tidak ada tanggungan, hahaha. Tapi sekarang jadi lebih terarah ya. Dari dulu sampai sekarang gue tetap harus punya satu waktu seperti me time. Jadi harus menyendiri dulu. Ada momen beberapa hari gue ke mana dulu. Sekarang juga kan lebih banyak waktu di luar ketimbang sama keluarga. Tapi buat lagunya bisa di kamar hotel.

Dan Alhamdulillah, Tuhan kasih kemampuan ke gue buat cepat kalau buat lagu. Seperti lagu yang untuk Asian Games kemarin yang Menaklukan Dunia terbilang kilat juga buatnya. Terus pernah diminta buat lirik lagu buat Noah, akhirnya jadi Hidup Untukmu, Mati Tanpamu, itu cepat juga.

Untuk bisa mengasah kemampuan seperti itu (cepat membuat lagu) juga harus sering-sering nonton konser, beli-beli piringan hitam. Dan untungnya gue masih punya kesempatan itu meski sudah menikah sekarang. Yang penting keluarga aman dulu, baru hobi. Alhamdulillah produktifitas gue tidak terganggu. Gue masih tetap melakukan cara berkesenian gue. Gue masih sering nonton konser atau beli piringan hitam. Tidak ada yang berkurang.


D'Masiv saat tampil di kantor Medcom.id (Foto: Dok. Medcom.id)

Apakah kalian juga ikut mendengarkan band-band indie?
Rian:
Kalau mendengarkan sih, mendengarkan. Tapi bukan yang ingin jadi seperti mereka. Intinya kami tetap mendengarkan apa yang lagi in sekarang.

Musisi indie pun pasti ingin lagunya didengar banyak orang ya. Yang paling nyata itukan Tulus. Dia independen tapi musiknya disukai banyak orang. Mungkin saja suatu saat kami bikin lagu yang ruwet. Kami tidak mau mengkotak-kotakkan musik karena kami D'masiv, bukan Kotak. hahaha.

Tapi kami pernah kolaborasi sama Sore, Konspirasi, Pure Saturday, Efek Rumah Kaca. Jadi musik itu tidak ada batasan. Kalau suka sama ini dengarkan, beli albumnya. Kalau tidak suka ya tidak usah beli.

Musik itu tidak ada yang jelek, tapi suka atau tidak suka. Misalnya seperti Kangen band. Menurut kami musiknya tidak ada yang jelek. Tinggal kita suka atau tidak. Ternyata mereka fenomenal. Seperti dulu gue pas SMP sering dengar Pantera, Megadeth dan yang metal-metal. Tapi sekarang rada sudah rada berat mendengarkan yang metal-metal, (hahaha).

D'masiv bisa dibilang sebagai band generasi terakhir dari major label. Sementara band yang satu generasi sudah banyak berganti formasi. Bagaimana cara kalian menjaga kebersamaan. Dan bagaimana menyikapi sebutan wakil terakhir dari band major label?
Rian:
Bisa jadi seperti itu ya. Karena tidak ada lagi band yang besar banget dari major label.

Kalau untuk kebersamaan, kami mencintai apa yang kami kerjakan. Dari awal nge-band tujuannya senang bersama-sama. Kalau boleh jujur, musik itu terapi kami mengatasi kejenuhan. Bahkan ketika sudah punya anak, mereka dikenalin nonton konser, cari vinyl. Dan kebetulan dapat pasangan yang juga suka musik.

Kami berlima masih suka membahas musik. Ada beberapa band yang sudah punya tiga album, makan sudah sendiri-sendiri, di backstage sudah tidak ngobrol. Banyak kejadian seperti itu. Kami banyak ngobrol, saling memberi referensi. Hal itu yang tetap kami jaga. Kami masih sering melakukan hal yang dulu sering kami lakukan dulu seperti makan di warteg, masih nongkrong. Hal itu sederhana, tapi justru sangat menambah kedekatan kami.

Hal itu yang membuat kami tetap punya energi bermusik. Kadang ketika kita sudah punya kenyamanan, biasanya sudah lupa tuh, latihannya sudah jarang. Kalau kami tidak seperti itu. Rama misalnya lanjut les musik lagi. Kiki mulai belajar mixing. Terus kaya gue, misalnya orang bilang gue sudah punya lima album dan sudah dikenal tapi masih suka ngejar-ngejar tanda tangan (musisi lain). Itu juga tuh... mengapresiasi musisi lain juga memanjangkan umur juga.

Sekarang banyak musisi yang merasa sudah besar, jadi congkak. Sempat ketemu musisi yang viral. Dia latihan di studio gue, tapi dia menegur saja enggak. Kalau musisi zaman dulu itu, pertemanannya gila (luas dan erat). Kalau kami, misalnya ketemu Sheila on 7, Padi, kami lebih dulu yang nyamperin. Zaman sekarang followers itu jadi 'Tuhan'. Kalau kami, ketemu band-band indie juga masih saling tegur.
 

D'Masiv (Foto: Dok. Musica's Studio)


 


(ELG)

Akhir Perjalanan Raja Festival Rock Log Zhelebour

Akhir Perjalanan Raja Festival Rock Log Zhelebour

1 week Ago

Log memastikan bahwa dalam waktu dekat, dia akan pensiun total dari bisnis pagelaran musik, ter…

BERITA LAINNYA