Tiga Hijaber Metal

Agustinus Shindu Alpito    •    07 Juni 2017 14:56 WIB
indonesia musik
Tiga Hijaber Metal
Voice of Baceprot (Foto: Facebook VoB)

Metrotvnews.com, Jakarta: Beberapa waktu lalu, warganet dihebohkan dengan video gitaris muda perempuan yang fasih memainkan musik metal. Perempuan bernama Meilani Siti Sumartini itu menjadi sorotan karena penampilannya yang mengenakan hijab. Bukan hal aneh, namun tetap saja menarik. Musik metal di Indonesia kerap diasosiasikan dengan hal-hal buruk, sikap liar, pembangkangan, kemarahan dan hal negatif lainnya. Sebaliknya perempuan berhijab sering dikorelasikan dengan sesuatu yang baik, santun, dan dekat dengan segala hal berbau agamis. Munculnya fenomena kaum hijaber memainkan musik metal menjadi paradoks yang menarik untuk ditelisik.

Meilani bukan satu-satunya hijaber yang menggeluti musik metal. Kini muncul Voice of Baceprot (VoB), grup metal yang beranggotakan tiga hijaber remaja. Kemunculan VoB berhasil mendobrak stereotipe yang ada soal hijaber dan musik metal.

VoB terdiri dari Fridda Kurnia (gitaris, vokalis), Widi Rahmawati (bassist), dan Euis Siti Aisyah (drummer). Semua personel VoB saat ini berusia 16 tahun, kecuali sang bassist yang masih berusia 15 tahun.

VoB lahir ketika mereka duduk di bangku kelas 2 MTS (setara SMP), di kawasan Garut, Jawa Barat. Semua bermula dari kehadiran Cep Ersa Ekasusila Satia alias Abah, seorang guru honorer yang menjadi konselor di sekolah mereka.

"Waktu itu, 2013-2014 saya jadi guru honor di sekolah mereka. Saya (mengampu) konseling, tetapi kelemahan saya tidak bisa menasehati orang. Salah satu cara saya memenangkan hati anak-anak dengan membuat ekstra kurikuler teater. Awalnya mereka nge-band ber-tujuh, tetapi banyak yang tidak diizinkan orangtuanya, sekarang sisa tiga orang," kisah Abah.

Hubungan VoB dan Abah berlanjut menjadi rekan diskusi dan berbagi referensi musik. Abah dalam kelanjutannya tidak hanya menjadi guru, tetapi juga manajer sekaligus mentor VoB. Personel VoB kala itu belum memiliki wawasan akan musik keras. Namun, mereka tertular karena Abah sering memutar lagu-lagu cadas.

"Mereka sering menulis, terus ketika mereka sedang manulis saya suka putar lagu-lagu Slipknot, RHCP (Red Hot Chili Peppers), RATM (Rage Against The Machine). Mungkin karena sering putar lagu itu, mereka jadi suka. Saya awalnya takut kalau mereka paham liriknya, mereka jadi rebel. Dan ternyata benar, mereka minta diskusi bedah lirik lagu-lagu metal, akhirnya jadi rutin kami bedah lirik."


Voice of Baceprot (Foto: Facebook VoB)

Abah menceritakan bahwa tiga personel VoB dikenal sebagai pribadi yang kritis. Mereka secara natural memang memiliki semangat untuk hidup bebas dan memperjuangkan keadilan di sekitarnya.

"Awalnya mereka enggak kenal musik. Awalnya mereka suka menulis di mading dan mereka dikenal rebel. Makanya saya namakan mereka VoB karena mereka sering mengkritik, mereka suka mengkritik sekolah lewat tulisan-tulisan."

"Mereka awalnya belum tahu musik, bahkan mereka tidak tahu gitar elektrik itu seperti apa. Lalu di sekolah ada gitar akustik, terus yang main drum belajar pakai alat-alat bekas marching band. Saya lebih menjadi provokator untuk mereka, saya percaya ketika orang terprovokasi secara psikis akan lebih meledak-ledak dalam berkarya."

Saat ini, para personel VoB duduk di kelas 1 SMK dengan bidang studi administrasi perkantoran. Di luar kehidupan panggung, para personel VoB menjalani kehidupan sehari-hari dengan sederhana. Bahkan mereka tidak gengsi untuk berjualan cilok demi menambah uang saku.

"Alhamdulillah mental mereka bukan mental pengemis, mereka enggak pernah mengeluh. Mereka anti mengeluh."



"Mereka membuktikan dapat berkarya meski penuh keterbatasan. Mereka tidak mengenyam sekolah musik, mereka tetap bisa menang ketika ikut kompetisi band. Mereka bukan dari keluarga mampu, harus sekolah jalan kaki cukup jauh, untuk uang jajan mereka pun usaha sendiri, jualan cilok," ujar Abah.


Penggemar dari Israel

Internet membawa VoB melangkah lebih jauh dari yang mereka bayangkan. Unggahan video penampilan mereka tersebar luas di media sosial. Beragam respon pun memenuhi kotak pesan media sosial mereka.

"Ada penggemar kami dari Malaysia, Filipina, dan paling bikin kaget ada yang dari Israel. Ada yang kirim pesan dari Israel, dia mengapresiasi kami, tetap bermusik tanpa melepas hijab, dia mendoakan kami, mendukung kami, dan juga bertanya kapan kami tampil di Israel," kata sang gitaris sekaligus vokalis, Fridda.

Di balik puja-puji yang ditujukkan kepada VoB, mereka juga mendapat beragam cercaan dan cibiran. Namun VoB percaya apa yang mereka lakukan adalah wujud dari ekspresi diri yang positif.

"Kalau saya baper (terbawa perasaan), pasti sakit hati. Cibiran orang pedas-pedas, saya ambil positifnya saja. Saya memiliki kemerdekaan untuk bermusik, mereka juga punya kemerdekaan berpendapat. Selama tidak ada yang mengganggu secara ekstrim. Awalnya juga orangtua menentang, tetapi setelah tahu kegiatan kami apa, mereka memberi support," lanjut Fridda.


Voice of Baceprot (Foto: Facebook VoB)

Saat ini, VoB memiliki empat lagu, yaitu School Revolution, Age Oriented, The Enemy of Earth is U, dan satu lagu "religi" berjudul Jalan Kebenaran. School Revolution menceritakan pandangan personel VoB tentang sekolah. Sedangkan Age Oriented lahir dari kekecewaan mereka terhadap batasan usia yang membuat mereka tidak bisa mengikuti kompetisi band (kompetisi band biasanya digelar oleh produsen rokok yang menetapkan aturan usia 18 tahun ke atas). Lagu The Enemy of Earth is U menceritakan tentang munafiknya manusia yang seolah-olah mencitrakan diri sebagai orang baik, pemimpin agama, atau pecinta alam, tetapi secara nyata justru menebar kebencian.



Untuk referensi musik, Fridda mengaku saat ini VoB banyak menyerap dari RATM. Abah sendiri menilai karakter musik VoB adalah hip-funk-metal. Meski terdengar asing, Abah tidak ambil pusing dengan penilaian orang lain soal genre.

"Genre mereka gabungan dari tiga warna berbeda, hip-hop, funk, dan metal. Ketika mereka aransemen satu lagu, mereka sudah memiliki karakter, hip-metal-funky, sering diketawain sama teman-teman musisi, karena katanya metal itu absolut, tetapi saya percaya musik itu merdeka," kata Abah.

Jalan VoB masih panjang. Bukan tidak mungkin mereka mencapai titik yang jauh lebih tinggi lagi, menjadi ikon metal perempuan dalam skala global. Perbincangan dengan VoB menguatkan bahwa apa yang menarik dari mereka bukan saja soal identitas muslimah yang terus dipegang, tetapi semangat mereka untuk bermusik lepas dari keterbatasan yang ada.

"Kalau kami lagi diskusi, bikin dream list. Salah satunya kami pengin bikin album dan dipublikasikan ke seluruh Indonesia dan dunia," ungkap Fridda mengakhiri perbincangan.


 


(ELG)

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

5 days Ago

Guruh juga mengingatkan jika generasi muda tidak lagi peduli akan bahasa Indonesia yang baik da…

BERITA LAINNYA