Bin Idris dan Musik yang Katarsis

Agustinus Shindu Alpito    •    02 Mei 2017 17:43 WIB
indonesia musik
Bin Idris dan Musik yang Katarsis
Bin Idris (Foto: dok. Robby Wahyudi Onggo)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pada akhir tahun 2016, nama Bin Idris perlahan muncul dalam sebaran nama-nama pemusik lokal yang kerap dianggap "independen." Lepas dari label itu, Bin Idris lebih dari sekedar mencuri perhatian. Dia mampu menarik pikiran pendengarnya pada pengalaman lirih yang belum pernah dirasakan. Di sisi lain, Bin Idris memiliki kapabilitas penulisan lirik yang mengagumkan.

Bin Idris adalah nama yang dipilih oleh Mohamad Haikal Azizi untuk menjalankan proyek solo, di samping statusnya sebagai vokalis grup rock Sigmun. Entah mengapa dan bagaimana, Haikal justru merangsek masuk ke sudut-sudut yang tidak terbayangkan sebelumnya. Sebelas track dalam album debut Bin Idris memiliki daya pikat masing-masing. Salah satu yang paling kuat adalah Jalan Bebas Hambatan. Sulit untuk menyangkal pesona lagu bergaya folk itu. Bin Idris mampu menceritakan peristiwa remeh sehari-hari dalam lirik yang jitu dan membalutnya dengan melodi yang janggal.

"Saya memang menikmati menulis dan bermain musik, proyek ini ya lahir dari dorongan itu. Mungkin kalau mau lebih spesifik, kenapa saya merasa perlu ada Bin Idris padahal sudah ada Sigmun itu karena memang tidak semua 'urge' dan kebutuhan musikal saya bisa dikeluarkan melalui Sigmun," kata Haikal.



Meski kerap diasosiasikan dengan musik folk, Haikal justru merasa musik yang diusung dalam jubah Bin Idris -setidaknya dalam album debut ini - adalah pop, "Saya justru tidak mau Bin Idris terlalu terjebak pada satu genre dan pilihan musik tertentu karena proyek ini bagi saya harus bisa mewadahi segala eksperimentasi saya."


Bin Idris (Foto: dok. Robby Wahyudi Onggo)

"Bin Idris di album kemarin pun menurut saya lebih pop ketimbang folk, intensi saya pun lebih banyak popnya misal di lagu seperti Temaram, Rebahan atau Di Atas Perahu, itu kan pop banget, lantas lagu seperti Tulang Dan Besi masuknya folk atau blues? Mungkin perlu dikaji ulang batasan dan poin apa saja yang menyebabkan musik jadi masuk kategori folk, ini tugas penulis dan jurnalis lah ya, ha-ha-ha. Kalau di Amerika atau Eropa musik folk kan justru masuknya musik tradisi, kalau di sini berarti seharusnya musik tradisional seperti keroncong atau gamelan dong yang masuk kategori folk."

Selain menjalani karier di dunia musik, Haikal juga seorang dosen seni rupa di Telkom University. Dia menyelesaikan studi pasca-sarjana dan memegang gelar Master dari jurusan Seni Rupa ITB.

Nama "Bin Idris" dipilih Haikal dari nama sang ayah.

"Pemilihan nama tersebut hanya disebabkan karena saya tidak mau menggunakan nama sendiri saja, Idris adalah nama ayah saya. Semacam tribute saja."

Tidak bisa dipungkiri menyimak album debut Bin Idris membuat kita masuk dalam suasana kelam yang asing. Entah formula apa yang digunakan oleh Bin Idris, yang jelas kegelapan yang dihadirkannya terasa nyata. Anda bisa menyimak baik-baik track Rebahan, Temaram, atau Dalam Wangi.

"Saya memang memiliki kecenderungan itu (membuat musik dengan nuansa gelap, kelam), malah kadang kurang mampu kalau harus membuat lagu yang gembira dan riang. Musik bagi saya memiliki fungsi katarsis, ada kebutuhan untuk melepaskan di sana. Nada-nada tersebut adalah upaya saya untuk melepaskan kekelaman tersebut, mudah-mudahan bukan justru menambah ya," kata Bin Idris.



Haikal tidak menyangkal bahwa musik yang dikemas dalam nama Bin Idris memang memiliki pusaran yang kuat, menarik pendengarnya untuk bercengkrama pada hal-hal asing dan kesedihan yang tak teruraikan.

"Ya, seperti yang sudah disebutkan di atas, karena musik saya memiliki fungsi katartik dan ekspresif akhirnya memang banyak mengambil dari persoalan dalam diri. "Pusaran" ini saya rasa ada pada kita semua, pusaran saya lebih mudah diserap orang karena saya memindahkannya ke dalam lagu."

Haikal mengaku bahwa dalam perpustakaan musiknya, dia akrab dengan karya-karya Bob Dylan, juga ranah delta blues, karya Robert Johnson, Son House, hingga Skip James. Namun untuk urusan proses kreatif dan genre, Haikal tidak memiliki pakem khusus.

"Saya rasa tidak ada yang spesial dari proses penulisan saya dibanding musisi lain. Tidak ada ritual atau waktu khusus. Saya selalu berusaha untuk menulis lagu sebanyak-banyaknya, Kapanpun, di mana pun. Baik atau jeleknya urusan nanti. Begitu juga dengan lirik dan kontennya, yang penting disimpan dulu supaya bisa ditinjau dan diolah lagi nantinya. Yang penting 'urge'-nya tersalurkan dulu."


Bin Idris (Foto: dok. Robby Wahyudi Onggo)

"Cara bekerja yang intuitif seperti ini yang paling nyaman bagi saya. Soal lirik, dalam lagu saya, lirik selalu hadir belakangan setelah musiknya selesai, Mungkin karena cara kerja yang intuitif tadi ya. Semua sketsa didengar ulang kemudian ditinjau, 'Kira-kira ini tentang apa ya,' sekalipun tema besarnya sudah hadir duluan tetapi lirik keseluruhannya selalu ditulis setelah musiknya selesai."

Menyelami karya-karya Bin Idris memang menyiratkan kesan spiritual yang mendalam. Musik yang disuguhkan jauh dari kesan remeh-temeh dan murahan, bahkan meski Bin Idris bereksperimen pada lirik bercerita tentang keseharian macam Jalan Bebas Hambatan. Kekuatan ini yang belakangan jarang kita dengar dari ranah pop, folk, di Indonesia.

"Semuanya terjadi tanpa direncanakan. Mungkin pengaruh latar belakang saya yang dibesarkan dalam keluarga muslim yang cukup taat sehingga spiritualitas tersebut sudah menjadi bagian dari saya dan kadang memang menyusup masuk (ke dalam lagu) tanpa diminta atau bisa juga karena publik sudah kadung melabeli saya sebagai orang yang seperti itu sehingga sudah ada ekspektasi, ha-ha-ha. Misalnya pada lagu dalam wangi, sama sekali saya tidak berupaya untuk menyematkan kesan spiritualitas tapi tanggapan publik tetap seperti itu," ungkap pria yang juga mengaggumi musikalitas Sore, Chrisye, dan Dewa 19 itu.

Membuat album musikal yang membawa pendengar menelusuri lorong-lorong imajinatif adalah sebuah kesuksesan tersendiri. Bagi Bin Idris, hal itu seharusnya menjadi identitas. Bin Idris mampu menghidupkan musik ke tingkat keluhuran tertentu, yang tidak bisa digapai semua musisi, terlebih dalam era teknologi yang membuat musik begitu mudah dibuat, dan orang begitu mudah mengklaim diri sebagai musisi. Dengan segala yang ada, tidak salah rasanya bila menuding Bin Idris berhasil membawa pendengarnya - juga dirinya sendiri - pada pengalaman katarsis.



 


(ELG)

Radhini, Awal Menuju Jalan Panjang

Radhini, Awal Menuju Jalan Panjang

20 hours Ago

Perempuan 29 tahun itu mengawali debut karier sebagai penyanyi solo melalui singel Cinta Terbes…

BERITA LAINNYA