Band Melayu Menolak Layu

Elang Riki Yanuar    •    28 Januari 2017 06:02 WIB
indonesia musik
Band Melayu Menolak Layu
ST12 formasi baru (Foto: Metrotvnews/Elang)

Metrotvnews.com, Jakarta: Air mata Pepeng, Pepep dan Charly van Houten tak terbendung ketika kembali satu panggung di penghujung tahun 2016. Mereka menangis kala mengenang Iman Rush, rekan mereka semasa di band ST12. Itulah kali pertama Charly, Pepeng dan Pepep tampil bersama setelah ST12 pecah kongsi.

ST12 dengan formasi Charly (vokal), Pepeng (gitar), dan Pepep (drum) terakhir kali tampil bersama ketika malam pergantian tahun 2012. Dua bulan sebelum itu atau tepatnya Oktober 2011, Charly dan Pepeng memutuskan keluar dari ST12. Keputusan Charly dan Pepeng terbilang mengejutkan karena ST12 sedang di puncak popularitas.

"Dari dulu, tidak ada yang bisa menyatukan ST12 formasi lama. Mungkin ini momennya. Karena ST12 sudah sehat, Setia band juga sudah sehat dalam artian kita sudah tidak dalam posisi mencari-cari lagi. Sudah sama-sama stabil," kata Pepep saat berbincang dengan Metrotvnews.com.

Kini, baik Pepep dan Charly beserta Pepeng memang sudah menempuh jalur hidup masing-masing. Pepep masih mengusung panji ST12, sedangkan Charly dan Pepeng mendirikan Setia Band. Namun, musik yang mereka bawa tetap sama, pop melayu.


ST12 Formasi awal (Foto: Dok. MI)

Musik pop melayu pernah merajai industri musik Indonesia. Jenis musik ini dianggap mudah didengar dan diterima musik Indonesia. Musiknya kadang mendayu-dayu, tetapi bisa juga begitu riang. Band pop melayu Indonesia bahkan begitu terkenal hingga ke negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei.

Metrotvnews.com coba mengulas sejarah kegemilangan band pop melayu dan tekad mereka yang menolak layu.

Celah Notasi Minor

Lahir di keluarga Minang membuat Pepep akrab dengan musik melayu tradisional. Muncul ide, bagaimana musik melayu yang dianggap tradisional dikemas dengan format band. Pasar Indonesia sudah teruji ketika gelombang band melayu Malaysia seperti Search, Exist, datang di tahun 1990-an. Tapi, Pepep menganggap musik melayu Malaysia dan Indonesia tetap punya perbedaan.

"Saya orang Padang yang dekat dengan musik Minang dan Melayu Deli. Cara menyanyi Amy Search dengan Iyeth Bustami berbeda. Waktu itu, Charly saya jejali hampir empat kaset lagu-lagu Melayu seperti Zalmon (penyanyi Minang legendaris). Padahal Charly itu orang Cirebon, tetapi cengkok-cengkok Melayu itu yang dia pelajari," kata Pepep.

Sebelum istilah 'band Melayu' muncul, banyak orang bingung menyematkan genre musik yang dibawakan band asal Bandung itu. Padahal, diakui Pepep, konsep musik yang diusung ST12 tidak sepenuhnya baru di Indonesia.

"Kalau dibilang pop, tapi nyanyinya ada cengkok-cengkoknya seperti dangdut. Dibilang dangdut juga bukan. Sebenarnya notasi minor ini sudah banyak dilakukan orang. Musik melayu sendiri memang tidak jauh dari notasi minor," ujarnya.


Charly dan Pepeng (Foto: Dok. MI)

Notasi minor memang lazim dipakai untuk membuat lagu-lagu sedih, mendayu-dayu, murung dan gelisah. Celah inilah yang dimanfaatkan ST12 kala itu. Ditambah lagi dengan lirik-lirik yang dekat dengan keseharian masyarakat.

"Melayu itu didasari notasi minor yang dominan. Termasuk salah satunya dangdut. Artinya notasi minor ini punya segmentasi yang luas karena mudah didengarkan dan mudah dicerna. Jadi dari awal kita memang mengusung musik pop melayu," imbuhnya.

Berawal dari Bajakan

Andika masih di dalam bui ketika petinggi label besar Indonesia menawarkan Kangen band proyek rekaman di Jakarta. Sebelum tawaran itu datang, Kangen Band cukup terkenal di kota asalnya, Lampung.

"Produser dari Jakarta, Pak Yongki datang ke Bandar Lampung menawarkan kita rekaman di Jakarta. Tapi waktu itu saya masih di kursi pesakitan (penjara) akibat kasus narkoba. Setelah itu baru saya pindah ke Jakarta, memulai dari nol sama Kangen band," ujar Andika, vokalis Kangen band.

ST12 dan Kangen band memiliki kesamaan. Mereka sama-sama besar karena pembajakan. Lagu mereka menjalar secara ilegal tanpa mereka sendiri bisa bendung. Dari situlah, musik mereka mengakar di kalangan menengah ke bawah ketika banyak diputar di angkutan-angkutan umum.

"ST12 memang berangkat dari bajakan. Bajakannya sangat tinggi sehingga kita pertama kali konser di Samarinda, kita turun di pesawat atau di belakang panggung, orang tidak ada yang kenal kita. Saat itu cuma tahu lagunya saja. Kita memang belum main di tv waktu itu," kata Pepep.


Kangen Band (Foto: via tvguide)

"Setelah jadi, CD rekaman kami taruh di radio-radio lokal. Kita juga bingung lagunya sudah ada di angkot-angkot. Orang tidak tahu siapa yang menyanyikan. Orang suka ngaku-ngaku itu lagu mereka. Waktu itu lagu Tentang, Aku dan Dia. Ternyata dari radio mereka (supir angkot) ambil lagu itu karena ada yang minta lagunya," lanjut Andika.

Andika tak memungkiri, tujuan mereka bermusik saat itu untuk mengubah kehidupan secara ekonomi. Secara sadar mereka mengubah jenis musik yang lebih komersil dan mudah dicerna orang, khususnya lapisan masyarakat menengah ke bawah.

"Dulu kita musiknya rock. Ternyata musik rock tidak menghasilkan uang buat kita. Musik yang cuma buat gaya-gayaan tapi tidak menghasilkan duit untuk apa? Pada dasarnya kami memang mau cari duit. Ekonomi kita lagi susah. Setelah kita buat lagu cengeng malah banyak duit. Banyak manggung di mana-mana, akhirnya kita teruskan lagu jenis musik itu. Jadi, kita tidak dengan sengaja memainkan musik melayu ini," ujar Andika tertawa.

Album pertama Kangen yang berjudul Tentang Aku Kau dan Dia dirilis pada 2007. Lagu-lagu Tentang Bintang dan Selingkuh yang ada di album pertama Kangen band begitu populer. Namun, kemunculan Kangen band juga tidak lepas dari kontroversi. Banyak orang mencibir dan meragukan kemampuan bermusik mereka, tetapi lagu mereka justru dinikmati masyarakat menengah ke bawah.


Sumber: Youtube Warner Music Indonesia

"Harus diakui, ketika pertama kali muncul kita memang sedang dalam tahap belajar main musik. Belum mengerti juga alur industri musik seperti apa. Album pertama hanya mengalir saja, seadanya. Kita tidak tahu tiba-tiba jadi ramai dibajak. Tapi kita tidak peduli. Mungkin sudah rezekinya kali ya," kata Izy, keyboardis Kangen Band saat berbincang dengan Metrotvnews.com.

Di sinilah perbedaan besar antara ST12 dan Kangen band. Jika Kangen band secara tak sengaja mengusung musik pop melayu, ST12 tidak demikian. Pepep dan almarhum Iman Rush sudah mengkonsepkan musik pop melayu yang mereka usung sebelum rekaman.

"Saya konsepkan musik pop melayu ini sangat lama. Memang ada band yang karena kemampuannya segitu, jadi buat musiknya ya gampang dan ringan. Tapi ada yang kemampuan tinggi dan mengkonsepkan musik yang ringan, pakai otak untuk menembus industri. Kangen Band, Wali menurut saya punya kualitas yang baik. Balik lagi, itu soal selera. Orang suka musik yang ringan dan sederhana. Musik itu kan soal rasa. Orang suka tempe tidak berarti saya harus suka tempe. Kalau saya suka tahu boleh dong," kata Pepep.

Album perdana ST12 yang berjudul Jalan Terbaik dirilis pada 2005. Album ini berisikan lagu-lagu hit seperti Aku Tak Sanggup Lagi, Rasa Yang Tertinggal dan Aku Masih Sayang. Tak lama album dirilis, Iman meninggal dunia.

Penolakan dan Masa Keemasan

Popularitas yang diraih ST12 dan Kangen band tidak datang dalam semalam. Kesuksesan itu diraih dengan peluh darah dan air mata. Personel Kangen band harus banting tulang ketika pertama kali hendak rekaman.

"Dulu kita mau rekaman tidak punya uang buat bikin demo. Kita harus mengumpulkan uang Rp450 ribu. Akhirnya kami dagang, saya jualan cendol, Dodhy kerja bangunan, Tama kerja di bengkel, jualan nasi uduk. Saya ingat, kita butuh uang untuk rekaman Rp400 ribu, Rp50 ribu buat mixing," kenang Andika.

Ketika pertama kali menapaki kaki di industri musik, mereka mendapat banyak penolakan. Banyak radio yang enggan musik ST12 atau Kangen band. Musik pop melayu yang mereka bawakan pada awalnya dianggap tidak berkualitas.

"Ketika 2005 awal membuat ST12 memang dipandang sebelah mata. Hampir semua radio tidak mau memutar lagu kita dengan banyak faktor dan alasan. Musik ini dianggap musik tanggung," kata Pepep.

Penolakan serupa juga dialami oleh band Wali yang merilis album perdana berjudul Orang Bilang pada 2008. Album tersebut membuat Wali menjadi band pop melayu yang berhasil merangsek di antara ST12 dan Kangen band kala itu.


Wali (Foto: Antara/Fikri Yusuf)

"Saya punya radio Nagaswara FM. Saya buat radio itu karena tidak bisa memutar lagu-lagu Wali. Dulu band melayu sangat didiskriminasi. Banyak radio yang jijik banget sama musik pop melayu ini. Dianggap musik sampah segala macam," kata Rahayu Kertawiguna, bos tempat label Wali bernaung, Nagaswara.

Mendapat banyak penolakan tak membuat ST12, Kangen Band atau Wali goyah. Mereka terus menelurkan sejumlah lagu hit. Perlahan tapi pasti, musik pop melayu yang mereka usung banyak digemari. Lagu mereka terus diputar, wajah mereka hampir setiap hari muncul di televisi, permintaan manggung membeludak hingga jenis musik mereka menjadi 'raja baru' di industri musik Indonesia.

Era Ring Back Tone (RBT) semakin menyempurnakan hasil manis yang diraih band-band pop melayu seperti Kangen Band, ST12 atau Wali. Popularitas mereka berbanding lurus dengan penghasilan yang diraih. Wali disebut Rahayu sudah meraih 80 juta unduh RBT.

"Dulu setiap manggung Rp95 juta. Kalau tahun baru bisa Rp450 juta sekali manggung. Kita satu hari pernah main di empat acara dalam kota yang berbeda. Makanya waktu itu Charly sering banget masuk rumah sakit. Kita cuma bisa tidur di mobil atau pesawat. Trinity (label ST12 kala itu) sampai menghadirkan psikiater, tujuannya bagaimana agar kita bisa tidur dengan kualitas baik di waktu yang sedikit. Diterapi waktu itu. Bahaya juga kalau suntik vitamin terus," kata Pepep.

"Kita pernah dapat Rp18 miliar, itu di luar manggung. Paling banyak memang dari RBT dan penjualan fisik yang masih lumayan waktu itu," ucap Andika.

Band Melayu Belum Mati

Kesuksesan ST12, Kangen Band dan Wali membuat banyak orang tergiur sehingga sejumlah band bergenre pop melayu mulai muncul. Tapi, menjamurnya band pop melayu membuat orang mulai bosan. Seperti roda yang terus berputar, band pop melayu tidak selalu berada di atas. Popularitas genre ini mulai tergerus.

"Banyak band melayu baru kita senang karena ST12 jadi trendsetter. Tapi itu juga membuat kita mati karena akan menjadi terlalu banyak. Jadi seperti bubble. Orang akan jadi bosan. Orang bermusik itu harus punya kualitas yang baik dan punya konsep yang jelas. Kalau cuma mengekor akan kehilangan arah. Yang namanya mengekor itu ya tidak mengusung hal baru," kata Pepep.

Ada yang tersungkur karena konflik internal, ada yang tak lagi mampu berkarya sehingga seleksi alam menghantam. Band yang jauh dari konflik dan masalah pribadi personelnya mungkin adalah Wali.Jika kualitas ukurannya mampu bertahan lama, ST12, Kangen Band, Wali memenuhi kriteria itu.

Kangen Band hampir saja karam jika mereka tidak bergegas berbenah diri. Andika dan Izy pernah ditangkap karena kasus narkoba dan penganiayaan. Masalah-masalah pribadi itu akhirnya berdampak pada eksistensi Kangen Band. Andika dan Dodhy kemudian memutuskan keluar dari band. Mereka menunjuk vokalis baru bernama Reyhan.

Sayang, tanpa ada Andika di ujung mik, Kangen Band seperti kehilangan taji. Pertengahan 2016, Andika kembali bersama Kangen Band. Namun, Dodhy yang banyak menciptakan hit untuk Kangen Band menolak kembali.

Di tempat lain, Pepep berhasil membawa ST12 keluar dari masa-masa sulit. Diwarnai bongkar pasang personel, ST12 kini beranggotakan Pepep, Indra dan Zai. Nama terakhir merupakan vokalis baru atau vokalis keempat sepanjang karier ST12.

"ST12 tidak sempat turun. Kalau saja dulu kita tidak bubar, ST12 masih di atas. Kalau band lain mungkin turun, tapi ST12 tidak. Hengkangnya Charlie dan Pepeng yang membuat kita turun. Tapi itu sudah urusan lain," jelas Pepep.


ST12 formasi baru (Foto: Metrotvnews/Elang)

Selepas Charly dan Pepeng pergi, ST12 coba keluar dari bayang-bayang sang pendiri. Lagu Putih-Putih Melati yang ada di album Lentera Hati mendapat penghargaan 16 Platinum. Bagi Pepep, kunci bertahan di industri musik adalah inovasi dan kreativitas. Pepep banyak memasukkan unsur musik genre lain yand dipadukan dengan musik melayu. Mereka sudah pernah menggabungkan rap di album-album sebelumnya. Di album terbaru berjudul Hijrah yang dirilis tahun ini, ST12 terus mencoba hal baru.

"Saya ingin memberikan pengetahuan kepada penikmat musik Indonesia. Musik itu tidak ada yang kuno, tergantung bagaimana kita mengemasnya saja. Saya mempelajari budaya band di negara luar, tapi tanpa meninggalkan benang merah melayu juga. Kita ingin tunjukkan kalau band melayu tidak begitu saja. Kita pernah masukkan musik rap, bahkan masukin ke ska nanti di album baru. Dengan konsep yang berbeda, dengan vokalis baru. Dasarnya tetap melayu, tetapi lebih progres," terangnya.


Sumber: Youtube ST12Vevo

"Industri musik itu sudah bukan lagi enak atau tidak. Tapi ada sesuatu yang berbeda atau tidak. Band-band metal seperti Lamb of God atau sejenisnya toh bisa rekaman. Itu karena mereka mainin musik yang unik dan berbeda. Contoh lainnya juga Jamrud, mereka itu cerdas makanya bisa bertahan sampai sekarang. Musik itu sudah ada segmentasi sendiri. Kuncinya tetap di inovasi," lanjutnya.

Sementara itu, kembalinya Andika ke Kangen Band rupanya mendapat respons positif. Kangen Band baru saja merilis singel Kembalilah Padaku. Jadwal manggung mereka padat hingga akhir tahun hingga waktu penggarapan album baru sedikit terganggu.

"Alhamdulillah sudah siap tur ke beberapa kota sampai Juni 2017. Habis itu baru selesaikan album baru. Kita dari dulu tidak pernah ambil pusing kalau dianggap tidak berkualitas. Kita tunjukan dengan karya saja. Biar waktu yang menjawab. Kita yakin musik melayu tidak akan mati, baik band maupun pendengarnya," kata Izy.
 


(ELG)

Menantang Gitar Kelas Dunia

Menantang Gitar Kelas Dunia

16 hours Ago

Tiba-tiba Buddy Blaze kunjungi Sidoarjo, Jawa Timur. Bukan ingin melihat 'lumpur lapindo…

BERITA LAINNYA