Ketika Tipe-X Dianggap Pengkhianat

Elang Riki Yanuar    •    11 Oktober 2017 14:24 WIB
indonesia musik
Ketika Tipe-X Dianggap Pengkhianat
Tipe-X (Foto: Instagram Tipe-X)

Metrotvnews.com, Jakarta: Tresno Riadi masih tak menyangka, band yang dulu dia dirikan sudah 22 tahun bertahan. Belum lama rasanya Tresno memulai perjalanan bersama rekannya di Tipe-X.

Seperti kisah grup band lain, Tipe-X membangun kariernya dari nol. Sempat ditolak banyak label hingga diminta mengubah musik mewarnai awal-awal perjalanan mereka. Langkah Tipe-X di industri musik yang sesungguhnya akhirnya dimulai ketika bergabung dalam anak perusahaan Aquarius Musikindo dan merilis album bertajuk Ska Phobia pada 1999.

Album Ska Phobia benar-benar mengubah hidup Tipe-X sebagai sebuah band. Ada pergolakan besar yang mereka alami setelah memutuskan pindah 'jalur.'

Sebelum muncul di televisi dan digaet label Aquarius Musikindo, Tipe-X adalah 'raja pensi' dan kerap tampil di acara-acara musik underground. Nama mereka mulai harum di kalangan komunitas bawah tanah, khususnya penggemar musik ska di Ibu Kota pada akhir 1990-an. Ketika memutuskan bergabung ke major label, tujuan bermusik Tipe-X dianggap tak 'murni' lagi.

Tak bisa dipungkiri, album Ska Phobia memang dirilis sewaktu dikotomi musisi major label dan indie begitu lebar. Ada gap yang begitu menganga antara musisi yang bernaung di major label dan musisi independen yang biasa tampil di acara komunitas bawah tanah kala itu.

Tresno masih ingat ketika Tipe-X mendapat banyak penolakan dari teman-teman mereka sendiri. Banyak cibiran dan asumsi negatif yang mereka terima. Pamflet acara yang menampilkan Tipe-X dirobek atau ditimpuki ketika mereka sedang tampil.

"Seperti ada anak yang dianggap mau keluar rumah terus keluarganya merasa kok tidak sama kita lagi. Dulu mungkin karena itu bentuk cinta dan rasa sayang mereka sama kami," kata Tresno saat berbincang dengan Metrotvnews.com.


Tipe-X sewaktu merintis karier (Foto: Instagram Tresno Tipe-X)

Personel Tipe-X sempat kaget mendapat perlakuan seperti itu. Tapi mereka punya pandangan lain dan sudah memilih sikap.

Tipe-X mengalami fase di mana sebuah grup indie yang kemudian direkrut label besar mendapat cap pengkhianat. Superman Is Dead (SID) mengalami anggapan serupa ketika bergabung dalam Sony Music Indonesia. Jerinx punya istilah khusus untuk orang yang menyematkan tuduhan itu kepada SID: 'Polisi Punk'.

Simak juga wawancara dengan JRX SID : Tidak Ada Titik Ironi

"Band ska belum banyak dikenal publik lalu akhirnya dikenal. Dulu mainnya di acara komunitas, sekarang lain. Kami kaget kok sampai segininya. Awalnya memang berat juga. Kami tidak pernah berpikir untuk mengkhianati mereka. Tapi itu risiko dari pilihan kami," katanya.

Tresno mengerti jika ada stereotip yang melekat pada musisi indie yang bergabung bersama major label kala itu. Mulai dianggap tidak punya posisi tawar, hanya menurut apa yang dihendaki label, mengubah musik demi memenuhi selera pasar hingga dianggap melacurkan idealisme. Namun, Tresno mengklaim hal itu tidak terjadi pada Tipe-X.

"Waktu itu orang berpikirnya ketika bergabung dengan major label sudah tidak idealis, ikut kapitalis segala macam. Ketakutan nanti berubah, diatur-atur sama label. Tapi tidak yang seperti kita bayangkan, atau orang-orang bilang nanti kami banyak diatur, diintervensi lagunya. Waktu pertama kali kami masuk, kami tidak seperti itu tuh," katanya.


Sumber: Youtube Aquarius Musikindo

Pergolakan itulah yang menjadi alasan Tipe-X memberi judul album keduanya dengan Mereka Tak Pernah Mengerti. Tipe-X hendak membuktikan bahwa ketakutan dan asumsi 'mereka' tidak sepenuhnya benar.

"Iya benar. Itulah kenapa judul album kedua kami Mereka Tak Pernah Mengerti. Menurut kami, jadi musisi itu harus pintar dan mereka harus punya prinsip. Orang merasa takut nanti lagunya diubah, nanti ada titipan lagu, kalau kita punya sikap ya bilang saja," ujar Tresno.


Album Mereka Tak Pernah Mengerti (Foto: via wikipedia)

"Kami ingin mereka tahu kalau kami tidak seperti yang mereka takutkan. Mau kami independen, atau di major label, kami masih bisa tetap idealis sama apa yang kami anggap benar dan kami jalani selama ini," imbuhnya.

Kemunculan Tipe-X kala itu memicu kehadiran band ska lain ke permukaan. Label-label besar lain merilis band ska yang kemudian sempat menjadi tren kala itu. Sebut saja Purpose Tiger Clan, Noin Bullet, atau Jun Fan Gung Foo. Ada yang bertahan, ada yang sudah karam.

Kini, dikotomi musisi major label dan independen dirasakan Tresno sudah tidak relevan lagi. Tipe-X pun sudah tidak lagi bergabung dengan Aquarius Musikindo. Mereka kini tergabung dalam label independen, Bahaya Record. Sejauh ini mereka sudah memiliki tujuh album dan sedang menyiapkan album kedelapan. Sebelum merilis album kedelapan, Tipe-X meluncurkan lagu Cerita Tahun Lalu.


Sumber: Youtube Bahaya Record

"Kami dari dulu awalnya semua DIY (Do It Yourself), semuanya serba sendiri, kita sudah punya rekaman, rencananya mau produksi sendiri. Terus kita iseng kirim ke label ternyata diterima. Padahal waktu itu kami nothing to lose karena sadar musik kami tidak mainstream waktu itu."

"Setelah tahu, bedanya major label dan indie label tipis ternyata. Bedanya mungkin hanya jalur distribusinya lebih luas dan promosinya lebih masif. Tapi di era digital sekarang semua bisa kita kerjakan sendiri," katanya.

Ingin Tua Bersama

Tresno tak menampik jika Tipe-X mungkin sudah melewati masa jaya mereka. Tugas mereka kini hanyalah bertahan selama mungkin sambil terus membuat karya. Banyak cara untuk mewujudkan itu.

"Sekarang bagaimana caranya kami punya lagu bagus dan yang bikin orang datang kalau kami konser. Kemarin kami baru merilis buku, biasanya aransemen lagu, bikin lagu, manggung. Kami buka-bukaan di buku. Cerita tentang susahnya berjuang. Cerita tentang proses menjalani perjalanan band ini," paparnya.

Bertahan lebih dari dua dekade dan terus menghasilkan karya bukan hal mudah. Tipe-X dituntut harus peka terhadap perkembangan. Mereka mencoba terus beradaptasi agar musik mereka tetap relevan dengan zaman.

"Kami harus mengubah sudut pandang, terutama ketika membuat lagu. Patah hati dari sudut pandang orang-orang seumuran kita pasti berbeda dengan anak-anak sekarang," kata Tresno.


Tipe-X (Foto: dok. Bahaya Record)

Strategi yang dilakukan Tipe-X cukup berhasil karena penggemar mereka kini beregenerasi. Penggemar mereka sekarang kebanyakan justru para remaja yang masih kecil atau bahkan belum lahir ketika Tipe-X sedang berada di puncak popularitas.

"Kita suka kaget juga melihat penggemarnya masih pada ABG. Kita pernah diundang pensi SMP, tapi mereka nyanyi. Kadang kita merasa aneh dan bingung juga. Mungkin ini anugerah. Artinya mereka mau mendengarkan band yang sudah bukan masa mereka. Berarti lagu kita masuk di usia mereka,"

"Di Facebook kami punya 2,3 juta pengikut dan mereka masih aktif komentar, masih senang datang ke acara-acara. Anak-anak muda memang lagi senang-senangnya bermain media sosial. Mereka yang bikin hidup," jelas Tresno.


Sumber: Youtube Aquarius Musikindo

Penggemar memang menjadi salah satu alasan Tipe-X untuk bertahan. Tak hanya itu, kecintaan terhadap band ini juga membuat semangat mereka terus menyala. Ada banyak contoh yang ingin mereka tiru. Lihatlah bagaimana band ska senior seperti Madness atau The Specials yang masih lihai berjingkrak-jingkrak di atas panggung.

"Anak-anak Tipe-X ini terlalu mencintai band ini. Kami selama 22 tahun baru sekali ganti personel di drum. Kami ingin banget tua bareng-bareng, kami masih semangat, masih kasih yang terbaik buat band ini. Madness dan The Specials sudah lama tapi penggemarnya masih fanatik. Voodoo Glow Skulls juga. Band-band luar itu panjang umur. Kalau di Indonesia ada Slank, albumnya banyak dan bertahan lama. Kami ingin seperti itu," tutupnya.


 


(ELG)

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

4 days Ago

Guruh juga mengingatkan jika generasi muda tidak lagi peduli akan bahasa Indonesia yang baik da…

BERITA LAINNYA