Fariz RM, Cerita soal Penjara dan Menjadi Relevan di Segala Zaman

Agustinus Shindu Alpito    •    07 November 2017 16:07 WIB
indonesia musikfariz rm
Fariz RM, Cerita soal Penjara dan Menjadi Relevan di Segala Zaman
Fariz saat tampil di Suara Disko pada Oktober 2017 (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Metrotvnews.com, Jakarta: Menjadi relevan di segala zaman bukan hal mudah bagi para seniman. Tidak ada formula khusus yang menjamin sebuah karya akan abadi. Fariz Rustam Munaf, musisi yang telah aktif di industri sejak akhir dekade 1970-an adalah satu dari sedikit seniman yang hingga detik ini karyanya masih relevan. Dia adalah pionir, mengemas pop dengan berbagai gaya musik tanpa mengurangi esensi ke-Indonesia-an.

Belakangan, lagu-lagu Fariz kerap diputar di lantai dansa. Mulai dari Sakura, Selangkah Ke Seberang, hingga Barcelona. Lagu-lagu itu dianggap masih relevan hingga saat ini, baik dari lirik dan aransemen. Dia membuka banyak ruang eksplorasi yang lantas menginspirasi generasi . Contohnya, sebelum reggae populer di Indonesia, Fariz lebih dulu merilis album Musik Rasta pada 1985.

Oktober lalu, saya berkesempatan bertemu dengan Fariz di The Pallas, Jakarta. Musisi 58 tahun itu tampak bugar. Dia sangat kasual, tidak ada kesan canggung dan kaku. Meladeni pertanyaan demi pertanyaan dengan jawaban yang blak-blakan.

“Kamu duduk sebelah sini saja (kanan Fariz), telinga saya satunya tidak seratus persen pendengarannya,” ujar Fariz sebelum mengawali sesi wawancara.

Awal perbincangan kami mengulas fenomena lagu Indonesia era 1970-an hingga 1980-an yang belakangan populer lagi. Mulai lagu-lagu karya Yockie Suryo Prayogo, Chrisye, karya musik Guru Soekarno Putra, Panbers, AKA, dan tentu saja Fariz.

“Sebenarnya musik Indonesia era itu kuat, sejalan dengan budaya dan attitude nasional. Karena lagu-lagu era itu banyak berbahasa Indonesia, lebih dekat dan dijangkau dengan hati. Lagu-lagu Indonesia tahun segitu, bobotnya enggak sederhana tetapi diungkapkan dengan berkelas. Bahkan zaman dulu sempat ada lirik lagu dengan bahasa Sansekerta. Semenjak berkelas itu, ditandai dengan Badai Pasti Berlalu, kemudian banyak pembaharuan.”

“Tahun 1980-an itu pilar musik Indonesia. Saya membawa musik pop era sebelumnya dengan pembaharuan. Saya sebagai salah satu pionirnya terus terang terpengaruh dengan Satuday Night Fever,” kata Fariz.


Dalam acara Suara Disko, Fariz berkolaborasi dengan penyanyi muda, tampak Kallula dan Monita di belakang Fariz (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Relevansi karya Fariz hingga saat ini membuatnya sibuk. Pada Oktober 2017, dalam rentang satu bulan dia mendapat jadwal delapan kali konser di berbagai tempat. Bahkan hingga ke Sulawesi. Belum lagi dirinya masih menggarap beberapa proyek musik, termasuk memproduseri beberapa band top dari generasi yang jauh di bawahnya.

Fariz - yang sempat menyebut dirinya Opa Serigala -seperti seseorang yang tidak bisa dimakan usia. Telinganya masih terbuka lebar terhadap referensi-referensi musik baru. Pergaulannya pun tidak seperti seorang pria 58 tahun. Fariz masih aktif di studio bersama para musisi muda, berkolaborasi dan meramu racikan suara-suara baru.

“Saya mendengar musik indie sekarang. Kalau saya bilang, dulu marketing bisa ditinjau dari keberhasilan penjualan. Kalau sekarang bukan dari jumlah penjualan, tetapi dari informasi orang yang tahu tentang karya lagu itu. Misal dapat diukur dari berapa banyak followers di media sosial,” ujar Fariz tenang.

Lantas, apakah ada perkembangan signifikan dari musik-musik masa kini yang Fariz dengarkan, dibanding dengan era keemasannya di dekade 1980-an?

“Kalau musikalitas ada yang berkembang ada yang tidak. Tetapi pernak perniknya berkembang, sound-sound berkembang.”

Fariz lantas menyebut beberapa nama yang sempat disimaknya.

“Aku dengar semua musik, Bonobo, Steve Wilson, banyak lainnya. Era Enigma saya juga suka. Aku dengar semua musik. Buat aku setiap musik ada menariknya. Sekarang ini zaman mirip seperti era blues dulu, lagu itu bentuk improvisasi. Kord-nya itu-itu saja tetapi dikembangkan,” kata Fariz.


Sumber: Youtube Inspirasi Musik

Dalam perbincangan santai itu, sesekali Fariz menceritakan nilai-nilai yang dipegangnya selama hidup. Nilai yang menjadi lampu baginya dalam menentukan langkah hidup, juga menuntunnya dalam setiap proses kreatif.

"Saya selalu memegang dua hal, pertama jangan pernah ambil hak orang lain. Kedua, jangan pernah bohong, termasuk dalam berkarya. Itu prinsip hidup saya secara keseluruhan," ujar Fariz penuh keyakinan.

Pelajaran dari Penjara

Pada 2015, Fariz sempat terganjar masalah narkoba. Dia ditangkap atas penyalahgunaan heroin, sabu dan ganja. Ini bukan kali pertama Fariz ditangkap dengan yang sama. Pada 2007, Fariz terjaring sebuah razia. Dia membawa 1,5 linting ganja yang disimpan di dalam bungkus rokok.

Penjara tidak lantas mematikan kreativitas Fariz. Sebaliknya, dia justru menemukan gagasan musik baru di dalam bui. Bahkan karya yang dibuat di penjara membawanya pada nominasi Guinness World Records untuk kategori karya musik (album) yang dari proses kreatif hingga rekaman dibuat di dalam penjara.

“Aku enggak pernah melihat (penjara) itu sebagai musibah, tetapi pengalaman yang menarik. Saya enggak menyangka bisa melihat itu, dunia yang lain dengan karakter yang berbeda banget.”


Fariz Rustam Munaf (Foto: Metrotvnews/Shindu)

“Penjara itu enggak menakutkan seperti yang dibilang orang. Aku sendiri berubah jadi lebih sabar, enggak gampang marah setelah dari penjara. Itu yang aku mau bilang sama orang-orang. Kita bisa menyikapi masalah dengan cara apa saja. Kalau kita menghadapi dengan lurus, penuh keyakinan, masalah akan cepat selesai.”

Saat ini, Fariz tengah mempersiapkan beberapa album. Termasuk merilis karya-karya lama dalam format piringan hitam juga album yang berisi materi-materi baru. Di samping itu, Fariz juga membocorkan kabar bahwa dirinya kini menjadi produser album baru grup rock The Brandals.

“Saya lagu garap materi The Brandals yang baru. Aku produce. Kemarin sempat produce Suburbia (dari) White Shoes & The Couples Company. Anak-anak kalau mau aneh-aneh datangnya ke saya,” ujar Fariz.

Sebelum menutup wawancara, saya melontarkan pertanyaan soal pandangan Fariz saat ini terhadap substansi terlarang.  Dia menjawab pertanyaan itu secara santai dengan sebuah perumpamaan.

“Kalau saya sih pesannya, jangan pernah berhenti meraih bintang, tetapi dengan kakimu yang tetap menginjak bumi,” tutup Fariz.



 


(ELG)

Cinta 99% Dea Dalila

Cinta 99% Dea Dalila

3 days Ago

Di momen yang tepat dan didukung tekad yang kuat, Dea memberanikan diri. Dia resmi memutuskan k…

BERITA LAINNYA