Seringai Belum Selesai

Agustinus Shindu Alpito    •    13 Juli 2018 08:00 WIB
indonesia musikSeringai
Seringai Belum Selesai
SERINGAI (Foto: Rendha Rais)

Jakarta: Seringai sudah mengumpulkan lebih dari cukup apa yang dicita-citakan band bawah tanah. Mereka sukses mengangkat musik cadas yang satu atau dua dekade lalu termarjinalkan ke arena lebih terhormat.

Di samping itu, lagu-lagu Seringai sukses menjadi anthem para pejuang akal sehat yang tak henti-henti dikangkangi kebodohan atas nama kepentingan golongan. Musikalitas mereka pun rasanya sudah cukup terbukti jika melihat apa yang dihasilkan dalam album Taring (2012). Lantas, apalagi yang Seringai cari?

Satu tahun terakhir, Seringai terlihat seperti menambah kecepatan laju di jalan bebas hambatan. Serba cepat, tapi bukan karena terburu-buru. Mereka merekrut jurnalis yang punya rekam jejak baik menangani band, Wendi Putranto untuk menjadi manajer. Tidak lama berselang, tersiar kabar mereka masuk studio rekaman.

Dari penuturan para personel Seringai, rekaman kali ini berbeda. Sangat efektif dan efisien. Mereka melakukan workshop yang intens sebelum rekaman. Hasilnya, mereka menghemat banyak biaya karena tidak membuang sia-sia shift sewa studio. Singkatnya, lebih profesional.

Aksi pacu gas bukan saja terdengar soal rekaman semata. Seringai merilis singel berikut video musik Selamanya sebagai appetizer menuju album baru, yang baru diumumkan pekan pertama Juli 2018 berjudul Seperti Api. Judul diambil dari penggalan lirik track ketiga, Adrenalin Merusuh. Seringai memaknai api sebagai renjana yang berkobar dalam diri.



Apa yang dilakukan Seringai saat ini memunculkan tanya, ke mana saja mereka selama ini? Seringai cukup besar untuk tidak menyia-nyiakan album Taring terlewat begitu saja tanpa satupun video musik. Mereka juga cukup besar untuk lebih peduli pada manajemen musik mereka sendiri. Bertahun-tahun dianggap sebagai ikon band cadas negara ini dilewatkan begitu saja tanpa secuil pun album tersedia di platform streaming digital. Sebuah sikap yang mengecewakan tentu bagi Serigala Militia. Baru pada 2018 Seringai merilis katalog lagu mereka ke penyedia layanan streaming musik. Terlambat. Itulah kata yang yang tepat menggambarkan apa yang terjadi pada Seringai saat ini. Tapi, terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali.

Rasanya, jawaban dari itu semua adalah Seringai sibuk bersenang-senang hingga baru sekarang tancap gas membenahi apa yang seharusnya mereka lakukan sepuluh tahun terakhir.

Seperti Api adalah pesta senang-senang Seringai yang lain, setelah pesta-pesta terdahulu yang entah mengapa selalu sukses.

Berisi 12 track, termasuk satu intro, Seringai seperti berpesta dengan penuh tanggung jawab. Mereka sadar bahwa cara mereka bersenang-senang dijadikan acuan para generasi muda yang cukup kritis untuk menyandang status pembangkang. Mereka sadar bahwa lirik demi lirik lagu mereka jadi api tersendiri di kehidupan Serigala Militia.


(Sampul album Seperti Api yang digambar langsung oleh Arian 13)


Wujud tanggungjawab itu tercermin dalam lagu Selamanya, Seteru Membinasa, Disinformasi dan 65. Medcom.id berkesempatan medengarkan album Seperti Api sebelum dirilis secara resmi.

Dari sesi dengar terbatas album Seperti Api, sangat terasa bahwa Seringai bertransformasi dari tukang pesta yang rusuh menjadi tukang pesta yang peduli untuk tetap sadar sembari duduk di sofa pojok ruangan mengawasi lantai dansa.. Lagu 65' misalnya, pada akhirnya Seringai berani untuk mengabadikan angka sial bangsa ini dengan cara elegan. Drummer Edy Khemod mengatakan bahwa lagu 65' jadi cara Seringai mengedukasi generasi baru dan memantik ruang diskusi atau menjadi jalan pembuka bagi mereka untuk mengetahui lebih dalam apa yang pernah kita alami.

"Gue pengin semua orang tahu (seluk-beluk peristiwa 1965). Tahun 65' identik dengan situasi politik tahun itu. Gue terobsesi dengan event itu. Gue dulu kena dogma soal komunis, (termasuk) melalui film G 30 S PKI. Dalam tataran film, itu bagus (karena berhasil membuat) traumatis. Setelah lulus SMA gue banyak dapat pencerahan soal hal itu (propaganda 1965). Kesalahan angkatan 98' adalah tidak bisa mengadili Soeharto," kata Arian 13, vokalis Seringai, dalam sesi dengar terbatas yang digelar di kantor majalah Provoke!, pada Rabu, 11 Juli 2018.

Bagi Arian 13, masalah 65' sangat personal. Kakek Arian, perupa legendaris Sudjojono pernah tergabung dengan Lekra yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia.


Seringai (Foto: Antara/Fikri Yusuf)

Sebenarnya, menyorot isu sosial-politik-budaya bukan hal baru bagi Seringai. Alasan mereka begitu dicintai salah satunya juga karena menyuarakan persoalan itu. Namun dalam album Seperti Api, Seringai terdengar lebih dewasa dalam kemarahannya.

"Kami sampai kapanpun masih marah (akan hal-hal yang menciderai kemanusiaan). Tetapi, (kini) kami menyikapinya lebih bijak," lanjut Arian.

Pada track lain, yang berjudul A.I., Seringai membahas kecerdasan buatan. Isu itu penting, namun kerap luput oleh masyarakat kita yang masih sibuk dengan masalah sektoral yang klise. Seringai menyadarkan kita bahwa peradaban kita dihadapkan pada tantangan yang lebih nyata, yaitu kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan sangat mungkin menghancurkan peradaban, di saat bersamaan memberi kita kesempatan menuju peradaban baru yang lebih canggih dan menguntungkan. Isu ini jauh lebih penting dibanding ribut-ribut urusan SARA.

Seperti Api ditutup dengan track singkat berjudul Omong Kosong. Setelah kita diajak berkeliling "wahana pesta Seringai" dengan suguhan lagu bertema sejarah kelam Indonesia, isu sains-teknologi, hoaks, lagu pengingat diri untuk tetap berjalan sesuai renjana dan juga lagu Ishtarkult yang begitu melenakan lewat vokal Danilla, Omong Kosong adalah dessert yang pas. Bahkan lagu itu lebih terdengar sebagai anekdot atau humor satire. Seringai mengingatkan kembali bahwa sejatinya di tengah hal-hal serius yang mereka ungkapkan, pada saat bersamaan mereka juga sedang bersenang-senang.



 


(ELG)