Giring "Nidji", Keputusan Vakum dan Visi Politik

Agustinus Shindu Alpito    •    23 Mei 2017 15:08 WIB
indonesia musik
Giring
Nidji (Foto: dokumentasi Hafiyyan Faza)

Metrotvnews.com, Jakarta: Setelah lima belas tahun Bersama Nidji, Giring Ganesha mengambil keputusan besar untuk vakum. Hal ini menimbulkan tanya di kalangan penggemar, mengingat kebersamaan Giring dengan para personel Nidji sudah terjalin sejak mereka duduk di Sekolah Menengah Atas. Terlalu banyak kenangan yang mereka lewati bersama, baik dalam suka dan duka. Tapi, Giring juga punya alasan kuat untuk rehat dan melihat sejauh mana dirinya sudah berjalan.

Giring seorang pribadi yang ramah, itulah yang saya rasakan meski baru bertemu kurang dari hitungan jari satu tangan. “Sure. My pleasure, bro,” kata Giring singkat ketika saya tanya apakah bersedia untuk melakukan wawancara eksklusif. Beberapa pekan kemudian sejak  pertemuan itu, saya menghubungi Giring lewat WhatsApp. Singkat cerita, kami membuat janji untuk bertemu.

Rabu, 17 Mei 2017, saya menuju kantor Kincir.com menggunakan jasa ojek daring. Vakum dari Nidji tidak membuat Giring benar-benar istirahat. Dia kini sibuk membangun sebuah portal informasi, Kincir.com. Belum ada setengah perjalanan menuju tempat yang dijanjikan, Giring menghubungi saya via telpon. “Bro, kita ganti tempat saja ya? Kayaknya lebih seru sambil ngopi," katanya. Dia lantas menyebut nama kafe di Pondok Indah Mal. Saya pun mengubah haluan.

Saya tiba di kafe yang dipilih Giring pukul 09:35, lebih cepat dari waktu yang kami tentukan, yaitu pukul 10:00. Giring datang tepat waktu. Mengenakan jaket sporty dengan ransel Herschel. “Terima kasih sudah tepat waktu,” katanya mengawali perbincangan.

"Kok sudah lama Mas enggak ke sini?" Tanya salah satu pelayan kafe itu. “Sering kok, cuma pas lo lagi enggak jaga aja kali,” jawab Giring.

Giring tidak terbebani nama besarnya. Dia bisa akrab dengan siapa saja. Sebelum mengawali wawancara, Giring memesan secangkir kopi dan sebotol air mineral. Saya mengaktifkan perekam suara, wawancara pun dimulai.

Apa yang melatari Giring akhirnya memilih jalan hidup sebagai musisi?
Saya rasa semua berangkat dari keluarga. Orangtua gue dua-duanya tipe orangtua yang bebas. Kami tidak berasal dari keluarga kaya. Background kami bukan dari keluarga yang mewah. Bokap gue jurnalis perang, nyokap gue kerja di bank. Background bokap yang menginspirasi anak-anaknya. Kami diberikan masukan tentang hidup, norma, agama, dari kecil kami diberi dasar soal Bhineka Tunggal Ika.

Semua anak-anak bokap diarahkan ke minatnya masing-masing. Kakak gue diarahkan ke dunia lukis, sekarang punya sekolah seni lukis sendiri. Gue dari kecil sudah diarahkan fotografi dan menyanyi. Bokap dulu pengin gue menyanyi seriosa, gue tadinya mau jadi penyanyi tenor. Tiba-tiba dikenalin kakak gue sama Blur dan Oasis, langsung jatuh cinta gue. Nyokap juga mengenalkan gue dengan The Beatles. Dari SMP kelas satu gue memutuskan, ya sudah gue pengin jadi musisi.
 
Kapan pertama kali membuat lagu?
SMP kelas 3 gue sudah membuat lagu sendiri pakai tape-deck dan kaset bokap. Bokap wartawan, jadi punya banyak kaset wawancara. Gue tulis lagu, gue nyanyi, gue rekam, terus gue kasih ke cewek gue. Temanya cinta. Dari situ mulai ngeband-ngeband. Dari memang sudah jadi vokalis.

Instrumen musik apa yang digunakan Giring dalam menulis lagu?
Basically menciptakan di piano dan gitar itu beda. Menciptakan lagu dengan gitar lebih loud, hasilnya lagu kayak Biarlah, Hapus Aku. Tetapi kalau mellow-mellow itu pakai piano, hasilnya kayak Manusia Sempurna, Jangan Lupakan, Child. Basically gue kenal klasik dulu daripada rock.


Giring (Foto: dokumentasi Hafiyyan Faza)

Selain musik, apa hobi Giring yang jarang diketahui penggemar?
Passion gue di luar musik main game. PC dan konsol. Gue beberapa bulan lalu main Overwatch, sekarang lagi main Zelda. Zelda is very good game, kalau lo gamer, lo harus main itu. Passion gue yang lain Startup, seperti yang gue lakukan di Kincir.com. Tadinya gue suka banget fotografi, tetapi mulai berhenti. Karena mahal banget, ada terus yang baru. Meski soal fotografi bukan soal kameranya saja, tetapi orang di balik kamera. Gue juga suka baca, buku biografi. Buku fiksi gue suka. Agatha Christie bagus, kalau yang basic banget gue suka Harry Potter.

Apakah lagu-lagu yang ditulis terpengaruh dari buku-buku yang Giring baca?
Pengaruh. Album pertama Nidji gue waktu itu pas baca Kahlil Gibran.

Bagaimana respons orangtua ketika lo mulai memutuskan fokus di dunia musik?
Bokap meninggal waktu gue 15 tahun, nyokap mati-matian membiayai anak-anaknya. Nyokap bilang kalau mau fokus di musik, fokus saja dulu dan kuliahnya diselesaikan pelan-pelan. Itu Karena nyokap melihat gue nge-band getol banget.

Dulu zaman awal-awal gue bikin demo sama Nidji gue menginap di rumah bassist gue, Andro, ngerjain lagu sampai pagi dengan Ariel. Nyokap awalnya, “Ngapain sih kamu.” Tetapi gue bisa menunjukkan hasilnya. Gue perlihatkan demo gue. Setelah itu kami berbulan-bulan latihan. Nidji pernah satu tahun latihan doang tanpa manggung. Sampai nyokap bilang, “Mas Giring latihan mulu kapan manggungnya?” Sampai akhirnya kami awal-awal main di Ex (dulu terletak di Jalan M.H. Thamrin). Semua orangtua personel Nijdi ikut menonton dan datang terus. Kami saling support satu sama lain. Nyokap akhirnya tahu bahwa memang bakat gue di situ.
 

Giring dan ibunda (Foto: dokumentasi Hafiyyan Faza)

Secara pribadi, Giring orang yang seperti apa?
Gue sangat introvert. Gue lebih suka di rumah daripada nongkrong. Gue nyaman dengan orang-orang yang membuat gue nyaman. Di situ-situ saja. Itu kenapa gue 15 tahun di Nidji, karena gue nyaman di sana meskipun kami semua melewati saat-saat berbeda pendapat, berseteru. Kalau gue enggak nyaman di Nidji, bisa saja gue terima tawaran nge-band dari orang lain. Tapi itu kan enggak, gue tetap di situ.
 
Sempat berpikir membuat proyek musik solo?
Sempat. Tapi gue mendengarkan opini orang. Waktu itu Ibu Acin (Indrawati Widjaja, petinggi Musica Studio’s, label tempat Nidji bernaung) bilang, “Jangan, nanti kalau kamu sendiri band-nya kenapa-kenapa.” Akhirnya gue pikir itu benar juga. Ibu Acin bilang juga, “Kalau mau kamu cari (aktivitas) lain.” Akhirnya gue coba main film, terus di Kincir.com. Kalau boleh jujur kepikiran, tetapi gue juga mendengarkan pendapat orang lain.

Apakah ada rencana dari Nidji untuk sepenuhnya menjalankan bisnis musik sendiri, artinya lepas dari label besar dan menjadi apa yang orang-orang sebut sebagai “indie”?
Gue pengin sih Nidji menjadi company. Tetapi kalau dari segi industri, gue sudah nyaman banget dengan Musica. Musica itu luar biasa, sudah seperti keluarga.  Mereka sudah percaya dengan kami dari nol. Tetapi gue juga pengin kalau Nidji besar menjadi korporat. Kalau seandainya dulu Nidji sudah menjadi company, pasti akan lebih santai jalannya. Tetapi enggak ada yang telat.

Mengapa Nidji menjadikan Marco Steffiano (produser Raisa, drummer Barasuara) sebagai produser?
Marco itu idenya Rama, karena Rama fan berat Barasuara. Idenya muncul ketika Marco menang banyak di AMI tahun lalu. Dan itu terbukti. Dia sakit sih, keren banget. Setiap materi kita kirim ke dia, dan dia utak-atik, terus dia kirim ke kita lagi dan kita dengerin bareng-bareng, terus kita kayak, “What the f*ck, keren banget.” Very adult, colorfull, deep, advance. Album ini lebih “canggih” dari sebelumnya.


Nidji (Foto: dokumentasi Hafiyyan Faza)

Giring  memutuskan vakum di tengah fase baru Nidji. Fase di mana Nidji menjelajahi kemungkinan-kemungkinan baru, termasuk bekerjasama dengan produser muda, Marco Steffiano. Namun justru ketika Nidji mencapai titik baru itu, Giring memutuskan mundur. Ada apa sebenarnya?
You’ve to do what you’ve to do. Gue selalu bertanya dengan diri sendiri. Selama 15 tahun gue sudah melakukan yang terbaik untuk Nidji, sekarang sudah saatnya gue menentukan visi gue. Ada panggilan lain. Berat, tetapi ini untuk diri gue juga.

Apa reaksi para personel Nidji soal keputusan lo? Apa mereka sempat memohon agar Giring mengurungkan keinginan vakum?
Enggak begging, tetapi diemin gue pernah. Gue terima. It’s natural process. Sekali gue bilang. Gue enggak meninggalkan band. Gue cuma butuh space. Lo bayangin selama 15 tahun lo berada di jalan tol, dan akhirnya lo sadar, ini ibaratnya baru satu lap. Lo mau lanjut ke lap kedua apa ke pit stop dulu? Gue memilih ke pit stop. Gue juga dapat kesempatan, karena Kincir.com pertumbuhannya cepat, terus gue belajar politik lagi.

Lalu bagaimana Giring menyikapi personel Nidji lain yang masih meneruskan karier bermusik?
Gue akan support mereka apapun yang dilakukan.

Tidak takut larut dan nyaman dengan aktivitas di luar musik, yang akhirnya membuat keterusan vakum?
Enggak lah, musik sudah jadi hidup gue. Kemarin gue malah ngobrol sama Rama, kepikiran bikin British Night, bawain lagu-lagu Blur, Coldplay. Mungkin lagi bosan. Yang sebelah sana mau bikin “Nidji Plus,” ada yang mau produserin, justru semakin banyak gagasannya di tengah (wacana) vakum ini.

Kebersamaan Giring dan Nidji tentu mendalam dan penuh kenangan. Bagaimana Giring melihat kebersamaan itu? Apakah ketenaran selama lebih dari satu dekade ini membawa perubahan besar pada pribadi kalian?
Kami sempat melalui era sex, drugs, and rock & roll. Itu terjadi. Semua band in that point akan mengalami itu, tetapi pertanyaannya bisa enggak melewati titik itu? Kami pernah di titik itu. Bangun-bangun enggak ada yang sadar, ke airport enggak ada yang sadar, ke airport harus ditarik. Ke airport ditarik, tetapi ada cewek yang narik enggak bolehin pulang. Kami merasakan itu semua. Dan kami waktu itu berubah. Kami tidak berkomunikasi satu sama lain, kami membenci satu sama lain, dulu waktu zaman sombong-sombongnya. Itu kira-kira di album kedua Nidji. Tetapi akhirnya satu per satu sadar. Satu per satu enggak pakai lagi, dan pada akhirnya kami semua kembali ke studio lagi dan bikin lagu lagi. Ternyata yang membuat persahabatan di Nidji luar biasa itu musiknya. Bukan soal lifestyle.  Kalau lo tanya apakah ada yang berubah dari kami, kalau gue merasa enggak ada yang berubah. Tetapi akan lebih baik tanya ke orang-orang sekitar kami apakah kami berubah atau tidak.

Giring mengatakan sempat melewati masa-masa sex, drugs, and rock & roll. Apakah itu juga berarti Giring percaya narkoba menjadi stimulan dalam menghasilkan karya?
Gue enggak percaya substance dapat membuat gue lebih kreatif. I never. Dulu zaman-zamannya gue sebelum di Nidji, pernah manggung on something. Dan gue nyesel. You can’t grab the moment, you waste it. And you can’t control the crowd. Lo jadi (paranoid) takut jatuh, atau takut mempermalukan diri sendiri. Akhirnya malah enggak lepas. Gue sampai detik ini kalau manggung selalu sadar. Karena gue mau mengingat setiap momen. Kalau lo manggung lagi high, lo enggak tahu penonton lo happy apa enggak. Being a good performer, lo harus presence.


Giring Nidji (Foto: dokumentasi Hafiyyan Faza)

Kembali ke soal keputusan vakum Mengapa Giring memutuskan mulai merambah dunia politik?
Nilai-nilai yang gue pegang sejak kecil, yang diajarkan orangtua gue, soal Bhineka Tunggal Ika, sedang digonjang-ganjing. Gue merasa perlu untuk stand for what I believe.

Berarti, ada rencana untuk terjun ke politik praktis?
Kalau gue mau terjun, gue ingin terjun ke tempat yang tepat. Gue ingin belajar dari nol, kalau praktiknya ya tentu bergabung dengan partai. Tetapi di saat bersamaan, gue tetap memegang apa yang gue percaya, anti korupsi, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika. Terus memperjuangkan kesejahteraan sosial, memperjuangkan hak manusia. Gue menulis satu lagu judulnya Terlahir Beda. Lagu itu bercerita tentang bahwa memang kita terlahir beda, tetapi kita semua sama di hadapan Tuhan. Tetapi yang ada sekarang semua orang inginnya sama. Kenapa kita harus sama? Toh kita terlahir saja sudah berbeda. Perbedaan bukan untuk dihindari.

Apakah kasus yang kemarin menimpa Giring - soal tuduhan politik uang dalam upaya pemenangan pasangan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Djarot Saiful Hidayat di Pilkada DKI Jakarta 2017 – tetap membuat Giring yakin terjun ke politik meski memiliki risiko yang besar? (Baca: Giring Dilaporkan Terkait Dugaan Politik Uang)
Gue bilang ke bini gue, kalau gue akan berjuang untuk apa yang gue percaya. Jika suatu saat gue harus dipenjara karena apa yang gue percaya, istri gue harus kuat. Yang penting gue bukan dipenjara karena korupsi. Terus istri gue nangis. Gue yakin banget Bung Karno merumuskan Pancasila tidak asal-asalan. Semua sudah diatur oleh yang di Atas. Banyak budayawan yang sudah tinggi ilmunya justru santai-santai saja, mereka justru terbuka dengan semua orang tanpa melihat latar belakang.
 
Dengan apa yang terjadi sekarang, terutama kasus intoleransi yang merebak, apa yang menurut Giring salah dan harus dibenahi?
Pendidikan. Lee Kuan Yew di Singapura 50 tahun lalu, punya gagasan soal pendidikan. Dulu di Singapura punya persoalan yang sama seperti yang ada di Indonesia pada saat ini. Sampai akhirnya buku pelajaran di Singapura disusupi ajaran tentang keberagaman, di dalam buku pelajaran sekolahan di Singapura selalu ada karakter Ali si anak Melayu muslim, ada Ling Ling yang chinnese, ada orang India dan orang Inggris. Mereka sekolah bersama-sama dan belajar bersama. Kita lihat Singapura sekarang toleransinya sangat baik.

Apakah ketertarikan Giring pada dunia politik akan berujung pada rencana menjadi kepala daerah atau pencalonan diri sebagai wakil rakyat?
Nanti dulu. Mungkin suatu saat nanti. Gue sekarang masih menikmati proses belajarnya


Nidji (Foto: dokumentasi Hafiyyan Faza?)

Pada masa Pilkada DKI Jakarta 2017, Giring cukup vokal menyuarakan dukungan kepada Ahok. Bagaimana sosok Ahok di mata Giring?
Gue kenal Ahok sebelum kasus ini. Dia menurut gue bukan politisi, karena kalau politisi kan lincah. Dia seorang birokrat yang pekerja. Fokus dia memperjuangkan keadilan sosial dan melayani. Dia orang yang lucu, ngelawak melulu. Kalau lo melihat dia galak, itu karena dia sedang mengerjakan tugasnya. Tetapi kalau lo duduk bareng dia, lo akan tertawa terus karena dia lucu. Dan dia orang yang sangat mencintai negeri ini.  Itu yang banyak orang tidak tahu. Apapun yang dia lakukan sewaktu dia jadi gubernur, itu wujud rasa cinta dia sama negeri ini. Meski dia mengalami rasisme, dia tidak peduli dan tetap melakukan yang terbaik. Etos kerja dia tinggi, pintar, kreatif. Yang selalu gue salut, pola pikir dia yang mementingkan rakyat. Dia selalu mengeluarkan kebijakan yang mementingkan rakyat banyak. Makanya pasti ada korbannya, dan yang jadi korban itu yang ngawur.

Gue sekarang kasih congratulation ke Anies, cuma kita lihat saja bagaimana kerja dia nanti. Caranya kemarin saja yang bikin gue kecewa. Kalau lo pakai isu SARA, lukanya lama. Semoga ke depan tidak ada lagi.

Lantas, Giring membagikan pengalamannya berdebat dengan salah satu musisi senior ternama yang sebelumnya dikenal publik sebagai seorang yang liberal, namun kemudian menjadikan isu SARA sebagai bagian dari kampanye politik dan politisi yang didukungnya.

Kemarin gue ngobrol dengan (seorang musisi senior) lewat WhatsApp, dia bilang, “Gue enggak anti-Cina tetapi anti-Ahok. Tetapi enggak lama dia rasis bilang orang Cina enggak nasionalis. Terus gue bingung dulu dia sangat Pancasila, nasionalis, tetapi sekarang jadi begini, masak hanya karena politik jadi seperti ini? Mengubah apa yang selama ini lo percaya.

Gue bilang ke dia gue manusia, orang Cina juga manusia, gue pro-kemanusiaan. Bagi gue semua orang sama di mata Allah. Gue melihat orang tanpa peduli latar belakangnya, tanpa melihat agama dan ras-nya. Terus gue tanya ke dia, “Kan lo dukung HT (Hary Tanoe), bagaimana kalau isu Prabowo akan berpasangan dengan Hary Tanoe dalam Pilpres 2019 itu benar?” (Hary Tanoe juga memiliki latar belakang ras dan agama yang sama dengan Ahok). Terus dia jawab, “Kalau HT mau jadi Wapres dia harus jadi Muslim.” Wah parah (jawaban sang musisi senior itu).  


Giring (Foto: dokumentasi Hafiyyan Faza)

Mendengar kisah Giring, obrolan kami bergeser ke arah industri musik secara keseluruhan. Intinya, apakah mengandalkan hidup sebagai musisi profesional cukup memberikan jaminan hidup (setidaknya secara finansial)? Terlebih dengan idealisme yang tinggi, apakah idealisme itu mampu terus hidup, tumbuh, dan berbuah, meski harus berhadapan dengan industri? Bukan tidak mungkin “menggadaikan” apa yang kita yakini dialami oleh mereka-mereka yang “berubah 180 derajat.” Dari apa yang mereka perjuangkan dan percaya dahulu, menjadi apa yang mereka dukung saat ini meski itu bertolak belakang dengan apa yang mereka perjuangkan dahulu.

To be honest, untuk hidup di industri musik harus lebih kreatif, lebih pintar dan lebih kerja keras dan tidak terkekang waktu. Usia 50-an ke atas kalau jadi musisi tetap harus kerja keras. Gue kasih contoh, Iwan Fals, dia termasuk yang bisa memberi inspirasi, berkreasi, dan menjaga finansialnya tetap baik. Juga Slank yang bisa tetap mapan dan tetap hidup sederhana. Ada juga yang musisi terjebak dengan lifestyle. Semua tergantung musisinya, ada yang ketika jaya menghamburkan uang, dan kemudian hidupnya sulit.

Untuk anak-anak muda, ya bisa saja untuk hidup dari musik atau kaya dari musik. Harus pandai-pandai menggunakan uang dan manage karier.


 


(ELG)

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

4 days Ago

Guruh juga mengingatkan jika generasi muda tidak lagi peduli akan bahasa Indonesia yang baik da…

BERITA LAINNYA