Anak Artis, Meniti Karier di Bawah Nama Besar Orangtua

Cecylia Rura    •    24 Oktober 2018 14:45 WIB
indonesia musik
Anak Artis, Meniti Karier di Bawah Nama Besar Orangtua
Dul Jaelani (Foto: MI/Permana)

Banyak yang beranggapan para anak artis punya kesempatan lebih dalam menapaki karier di industri hiburan. Memang pendapat itu tak salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Pada kenyataannya, anak artis mengalami tantangan tersendiri untuk membuktikan diri bahwa mereka bukan semata bergantung pada nama besar orangtua. Sekaligus menunjukan pada publik karya mereka patut diperhitungkan.

Pada tahun ini, ada gelombang baru anak artis yang masuk ke industri hiburan. Dua di antaranya adalah Arsy Widianto dan Aya Anjani. Keduanya mengikuti jejak sang ayah di bidang musik.

Medcom.id mencoba menelusuri kiprah anak artis yang memiliki karier cukup menjanjikan ke depan. Berikut ulasannya:


Arsy Widianto


Arsy dan Yovie Widianto (Foto: Antara/Aprillio Akbar)

Putra sulung komposer musik Yovie Widianto ini perlahan merangkak ke panggung hiburan Indonesia mengikuti jejak sang ayah. Secara resmi pada 25 Januari 2018, Arsy merilis satu singel berjudul Nembak #MenyatakanCinta melalui platform YouTube. Lima bulan berselang, penyanyi kelahiran 26 November 1999 itu memperkenalkan singel duet Dengan Caraku bersama Bianca Jodie.

Alunan musik Arsy dapat dikatakan sejalan dengan musik-musik bertema cinta dari Yovie Widianto. Arsy dan Yovie kerap dikatakan mirip dan sama-sama mengusung lagu pop melankolis. Namun, Arsy menepis jika dia benar-benar mengikuti jejak sang ayah.

"Karena kalau bermain piano agaknya susah mengejar papa. Jadi, mungkin lebih ke nyanyi aja biar ada perbedaan. Karena kayaknya papa agak kurang bisa menyanyi," kata Arsy dalam wawancaranya di program Idenesia Metro TV belum lama ini.

Yovie bergerak sebagai komposer dan pencipta ide lagu untuk proyek musik Kahitna dan Yovie N Nuno serta mencipta lagu untuk beberapa musisi. Namun, dia sendiri tampak jarang melakukan olah vokal atau berperan sebagai vokalis. Hal ini kemudian ini ditembus oleh putra pasangan Yovie Widianto dan Dewayani itu.

Meski nama Widianto menempel di belakang Arsy, dia tidak keberatan dan tetap berkarya dengan caranya sendiri. "Enggak apa-apa. Bersyukur aja bisa punya ayah kayak papa. Aku tetap belajar terus, belajar lagi dan tetap harus rendah hati," kata musisi berusia 18 tahun itu.

Aya Anjani


Aya Anjani (Foto: Dok. Aya Anjani)

Lain halnya dengan Arsy, Aya Anjani adalah putri dari komposer musik legendaris Yockie Suryoprayogo yang kini bermusik dengan caranya sendiri. Penyanyi bernama lengkap Sarah Anjani Prabanda itu bermusik di jalur pop mengusung era 80-an.

Ditanya soal dompleng nama besar ayah, Aya Anjani tidak terlalu memusingkan hal itu. Dia menjadi dirinya sendiri dengan bermusik bersama rekan bermusik di zona nyamannya.

"Aku sebetulnya, di luar aku seniman atau bukan, papaku tetap papaku. Kalau ada yang ngomong gitu (dompleng nama), ya sebenarnya kalau mungkin juga dengar karya aku beda sama papa meski pasti ada influence-nya. Aku ada karakter sendiri sih. Aku enggak cuma numpang. Papaku musisi, aku juga mau terkenal, enggak gitu," kata Aya.

Belum lama ini, Aya Anjani merilis dua singel terbaru yakni Kucingku dan Roman Romansa.

Keputusan Aya Anjani menekuni dunia musik tidak lepas dari motivasi sang ayah. Besar di bawah didikan seorang musisi legendaris dan idealisme terhadap musik, Aya sempat memiliki pengalaman menarik. Beberapa fakta dan hal menarik sempat diungkapkan Aya Anjani ketika Medcom.id mencoba menghubungi via pesan surel kepada Aya Anjani.

Aya yang kini tampak serius menekuni dunia musik mengaku terinspirasi dari sosok sang ayah, meski jenis musik yang diusungnya berbeda.

"Termotivasi itu pastinya ada karena memang sedari kecil saya sudah suka musik dan sering ikut-ikutan waktu papa latihan atau konser, tapi motivasinya lebih ke secara konteks bagaimana berkarya sih bukan sebagai ingin menjadi 'musisi legendaris' atau sejenisnya. Bukannya saya enggak mau juga, tapi menurut saya ketenaran atau dilabelkan sebagai musisi legendaris itu adalah bonus atau nomor kesekian, yang paling saya inginkan ya bagaimana sejujur-jujurnya saya ingin berkarya dengan warna sendiri, dapat menyampaikan apa yang saya ingin sampaikan lewat lagu-lagu saya dan dapat diapresiasi terutama oleh masyarakat Indonesia," kata Aya.

Menjadi putri dari sosok musisi legendaris, Aya memiliki pengalaman menarik ketika masih berada di bangku sekolah. "Rasanya... gimana ya, waktu kecil itu saya di sekolah termasuk anak yang pemalu, enggak suka jadi pusat perhatian,. Jadi kalau papa saya datang ke sekolah (entah bagaimana ceritanya pada tahu kalau papa saya itu musisi yang mana orang-orang senangnya nyebutnya 'artis') saya pasti kabur, karena pasti teman-teman atau guru-guru langsung kayak heboh, 'Eh personel God Bless bla bla. Pokoknya saya pasti mendadak ngilang. Tapi kalo pas udah gede sih ya biasa aja seperti anak dan orangtua normalnya."

"Kalau pengalaman lucu apa ya, ini diceritain teman sih. Jadi waktu itu karena ada suatu kerjaan saya kenalan sama cowok pemain band gitu dan ternyata cowok itu katanya tertarik sama saya dan memang sempat deketin. Begitu tahu saya anak Yockie dia langsung mundur, ha-ha," paparnya.

Ilmu musik juga sempat diterima Aya dari Yockie. "Papa memang sangat amat mencintai musik. Dari kecil kalau saya lagi dengerin musik terus papa tiba-tiba mengutarakan pendapatnya terus jadi ngasih pelajaran-pelajaran tentang musik tapi yang lebih apa ya, bukan soal teknis, lebih ke musik sebagai 'musik seutuhnya'. Bagaimana musik harus punya 'roh' dan lain lain. Di luar itu juga, karena saya selalu ikut papa ke mana-mana," ungkapnya.

"Dari kecil saya jadi sering 'menguping' pembicaraan-pembicaraan papa tentang musik dan kehidupan dengan Alm. WS Rendra, Setiawan Djody dan teman-teman seniman hebat papa lainnya. Saya yang masih kecil menganggap pembicaraan mereka seperti pelajaran hebat dari guru yang tidak terkesan menggurui. Menurut saya itu sebuah privilege yang sangat amat besar yang saya punya sebagai anak dari seorang seniman atau musisi karena hal-hal semacam itu mungkin enggak bisa saya dapatkan sedari kecil kalau papa saya bukan seorang seniman," cerita Aya.

Kendati Yockie dikenal sebagai musisi yang idealis terhadap karya musiknya, rupanya Aya menilai ayahnya tersebut sebagai sosok yang suka bercanda. "Papa sebagai orangtua yang tegas dan kadang jahil, yang selalu ingin hidup dengan cara yang diinginkannya. Mengedepankan hati nurani dan jiwanya yang besar. Dan pastinya sebagai guru bagi kami sekeluarga."

Meski dia menyandang status putri mendiang Yockie Suryoprayogo, Aya Anjani tetap bermusik dengan gayanya sendiri. Beberapa karyanya mengusung pop Jepang yang lekat dengan gaya bermusik di era 80-an.

"Besar dengan referensi kultur pop Jepang mungkin secara tidak sadar banyak memengaruhi saya dalam berkarya. Namun, dalam lagu Roman Romansa yang saya rilis Agustus lalu saya secara sengaja mengambil banyak referensi dari genre city-pop (aliran musik yang khas di Jepang era 80-an). Menurut saya genre Citypop pada masanya tidak jauh berbeda dengan musik pop Indonesia di era 80-an. Iini menjadi hal yang menarik buat saya karena belum banyak musisi yang mengulik hal tersebut."

"Namun alasan terbesar saya menyukai musik-musik dari Jepang adalah kuatnya karakter mereka secara menyeluruh. Itu pula yang mendorong saya untuk merilis lagu Kucingku bersamaan dengan Roman Romansa walau genrenya berbeda kontras. Saya ingin mengembangkan karakter karya saya tanpa dibatasi genre musik," papar Aya.

Dul Jaelani


Dul Jaelani (Foto: MI/Permana)

Akar bermusik telah ditanamkan oleh Ahmad Dhani dan Maia Estianty kepada tiga putranya Al Ghazali, El Rumi dan Dul Jaelani. Ketiga memulai debut sebagai musisi di usia dini saat bergabung dalam bentukan grup The Lucky Laki.

Sebagai anak musisi, Al Ghazali sempat menekuni dunia musik EDM dan berprofesi sebagai DJ. Namun belakangan, putra sulung Ahmad Dhani dan Maia Estianty ini lebih disibukkan dengan proyek film. Sementara El Rumi, putra kedua kini tengah menjalani studi di Inggris.

Dul Jaelani sebagai putra bungsu kini tampak mulai menunjukkan eksistensinya bermusik tanpa campur tangan orangtua. Pada Akhir Agustus lalu, Dul merilis sebuah lagu Taklukkam Dunia di bawah naungan label 401. Saat itu, Dul mengambil keputusan merilis karya di luar naungan ayah dan ibunya sebagai bukti kemandirian dan lepas dari baying-bayang kedua orangtua.

“Kalau soal musik tentang karya. Saya percaya mau Anda anak presiden atau orang kaya, itu enggak pengaruh di musik. Faktor utamanya adalah karya, bukan uang dan lain-lain,” kata Dul usai perilisan singel di kawasan Thamrin.

Di usianya yang kini masih 18 tahun, Dul ingin mengalahkan capaian Ahmad Dhani yang pada sat berusia 20 tahun telah merilis album.

“Karena ayah saya punya album di usia sekitar 19-20 tahun. Jadi, target saya mempunyai album di usia 18. Saya ingin menyaingi Dewa 19, ingin membuat Dul 18,” katanya.

Meski kini Dul bermusik dengan cara mandiri, dia tetap bersyukur lahir dari pasangan musisi berbakat Indonesia. Dul tidak ingin karakter bermusiknya dikatikan lebih dominan pada musik Ahmad Dhani maupun Maia Estianty.

“Saya beruntung karena bisa dibilang musik saya bukan ke Ahmad Dhani-an juga tidak bisa dibilang ke Maia Estianty-an. Namun saya beruntung menjadi anak yang terlahir dari perpaduan antara Ahmad Dhani dan Maia Estianty.”

“Selera musik saya juga tidak 100 persen kayak ayah saya atau kaya ibu saya. Namun perpaduan dari keduanya, dan saya merasa beruntung di sisi itu. Namun juga ada resah juga diomongin banyak orang, cuma itu dulu sekarang Alhamdulillah sudah cuek dan terbiasa,” kata Dul dalam bincang-bincangnya di program Idenesia Metro TV.

Sebelumnya, Dul sempat bermain di jenis musik grunge. Namun, proyek itu tampaknya tidak berjalan konstan. Dul yang mengaku tidak tertarik dengan musik EDM justru tertantang menggeluti jenis musik elektronik yang kini banyak didengarkan oleh anak-anak muda.

“Dulu aku enggak suak sama EDM. Saya memegang paham sinisme terhadap EDM. Cuma berjalan waktu saya tertantang juga. Saya enggak suka EDM bukan berarti enggak bisa bikin lagu EDM. Habis itu merasa tertantang. Saya pingin banget bikin lagu eletroknik zaman now,” kata Dul.

Pencapaian Ahmad Dhani dan Maia Estianty menjadi acuan Dul untuk berkarya dan menelurkan musik-musik berkualitas.

“Setiap kali membuat lagu selalu ada dorogngan lagu saya harus lebih bagus dari lagu-lagu ayah karena saya tegaskan bukan rahasia jika saya ingin menggantikan Ahmad Dhani dalam hal musik. Bunda juga menjadi inspirasi buat saya untu kterus maju,” kata Dul.

Gita Gutawa


Gita Gutawa (Foto: MI/Sumaryanto)

Gita Gutawa memulai debut karier sebagai penyanyi lewat singel Yang Terbaik Bagimu. Lagu ini memuat lirik-lirik ungkapan kasih terhadap sang ayah. Singel ini dinyanyikan Gita Gutawa bersama Ada Band. Hingga saat ini, lagu Yang Terbaik Bagimu pun masih kerap diperdengarkan.

Erwin Gutawa sudah memperkenalkan Gita Gutawa dengan dunia musik sejak usia dini. Pengalaman ini dibagikan Gita Gutawa daam program Idenesia.

“Buat aku dulu ingat banget dari sejak SD kalau misalnya diajak papa latihan konser Om Chrisye atau Tante Krisdayanti waktu pada zaman-zaman itu rasanya senang banget. Jadi, memang interest-nya juga ada di situ. Bukan jadinya diracunin atau terpaksa. Memang akhirnya terbiasa dan mencintai musik juga,” cerita Gita.

Sejak debutnya pada 2004 dalam singel Yang Terbaik Bagimu, pemilik suara sopran ini baru merilis album penuh self-titled pada 2007. Karya album kedua Harmoni Cinta dirilis pada 2009, lalu Balada Shalawat pada 2010 dan yang terakhir The Next Chapter pada 2014.

Belum lama ini Gita Gutawa juga merilis piringan hitam Gita Puja Indonesia. Karya itu berisikan tebang nasional berupa hymne. Untuk karya ini Gita Gutawa dibantu oleh sang ayah Erwin Gutawa.

Selain keempat nama di atas, beberapa nama musisi muda yang kini meneruskan jejak karier bermusik orangtua di antaranya Eva Celia (putri dari pasangan Indra Lesmana dan Sophia Latjuba), Kevin Aprilio dan Tristan (anak-anak dari pasangan Addie MS dan Memes) Sherina (putri pasangan Triawan Munaf dan Luki Ariani), serta Adera (putra dari musisi legendaris Ebiet G Ade dan Yayuk Sugianto), Ridho Rhoma (putra Raja Dangdut Rhoma Irama dan Marwah Ali) serta Ello (putra dari pasangan musisi Diana Nasution dan Minggoes Tahitoe).





(ASA)