Celoteh Pidi Baiq tentang Jane, Kopral Jono dan Pengadilan Musik

Elang Riki Yanuar    •    13 Mei 2017 19:24 WIB
indonesia musik
Celoteh Pidi Baiq tentang Jane, Kopral Jono dan Pengadilan Musik
Pidi Baiq (Foto: metrotvnews/elang)

Metrotvnews.com, Jakarta: Premier film-apalagi yang pertama- bisa menjadi hal istimewa bagi seorang sutradara. Namun, hal itu tidak tampak terlihat dalam diri seorang Pidi Baiq yang baru menyutradarai film pertamanya, Baracas.

Memakai kaos hijau sambil menenteng jaket, pria bertubuh kecil itu justru menghindari sorotan kamera pewarta. Dia 'bersembunyi' di toilet bioskop di salah satu bioskop di Bandung yang menjadi tempat acara berlangsung.

Ketika orang mulai banyak datang menghampiri, dia keluar dari 'tempat persembunyiannya.' Bersama seorang teman, dia ambil jurus seribu langkah ketika saya mulai mendekat. Dia pergi menuju ruangan yang tertutup rapat. Tak mau kehilangan 'buruan', saya mengejar pria bertubuh mungil itu. Syukurlah, dia mau menepi sejenak. Mendengar kata "TV" rupanya membuat Pidi sedikit risi.

"Ini bukan buat di tv kan ya?" tanya Pidi.

"Bukan Ayah," jawab saya.

"Bukannya saya sombong. Saya malu (muncul di televisi)," kata Pidi.

Pidi jelas bukan benar-benar seorang pemalu. Dia hanya sedang meneguhkan pendiriannya dengan sebisa mungkin tidak banyak terlihat di televisi.

Di Bandung, Pidi adalah seniman yang dihormati dengan segala keunikannya. Namanya semakin mencuat ketika novel Dilan menjadi salah satu buku terlaris. Dia juga pernah merilis buku sukses lain seperti Seri Drunken yang terdiri dari Drunken Monster, Drunken Mama, Drunken Molen, dan Drunken Marmut.

Pidi memang melakoni menjalani banyak aktivitas di dunia seni. Mulai dari ilustrator, komikus, penulis hingga penyanyi. Aktivitas yang terakhir disebut, dia dikenal sebagai pentolan band The Panas Dalam. Pria yang kerap disapa Surayah atau biasa disingkat Ayah ini menyandang status sebagai vokalis sekaligus 'Imam Besar' The Panas Dalam.

Lagu-lagu The Panas Dalam banyak berseliweran di sejumlah situs berbagi video dan musik. Namun, The Panas Dalam sejauh ini sudah merilis album secara independen yang diberi judul Only Ninja can Stop Me Now dan Only Almarhum Ninja Can Stop My Tambourine.

Tercermin dari karya-karyanya, pria yang akrab disapa Ayah ini adalah orang yang jenaka. Sama seperti buku-bukunya, lagu-lagu yang ditulis Pidi juga terbilang begitu. Dia tahu kapan harus melucu, tahu kapan harus bersikap kontemplatif. Namun, orang tetap akan tertawa mendengar lagu-lagunya, meski Pidi sedang serius sekalipun.

"Saya selalu menciptakan karya dari kisah nyata," kata Pidi.

Sejak beberapa tahun belakangan, Pidi lebih banyak memberikan kendali mikrofon The Panas Dalam kepada Erwin. Tapi, sebagai 'Imam Besar', Pidi tentu tetap berhak menyandang nama The Panas Dalam di belakang namanya.

The Panas Dalam sebenarnya pernah tampil di televisi ketika salah satu lagu mereka, Rintihan Kuntilanak menjadi salah satu soundtrack sebuah film horor. Namun, hal itu rupanya menimbulkan pertentangan di internal mereka.

"Perselisihan yang hampir menyebabkan adu jotos itu akhirnya berakhir dengan munculnya 'Kesepakatan Ciliwung (karena dibahas di daerah Jalan Ciliwung Bandung), bahwa: The Panasdalam harus kembali ke tujuan semula, untuk tidak masuk televisi, tetapi lebih memilih masuk surga," tulis Pidi dalam blog pribadinya.

Berikut perbincangan Metrotvnews dengan Pidi Baiq, Imam Besar The Panas Dalam:

Apa alasan Ayah tidak mau tampil di depan kamera?
Saya merasa tidak pantas saja ada di situ (televisi). Sedari awal The Panas Dalam juga tidak mau masuk (televisi). Tapi bukan tidak mau masuk televisi sebenarnya. Saya hanya tidak suka publisitas saja.

Bukankah publikasi bagian dari konsekuensi Ayah berkarya baik lewat musik, buku atau film?
Ya selama tidak berlebihan tidak masalah. Kalau sesekali diwawancara seperti ini ya mau. Kalau terlalu sering dipublikasi saya tidak suka. Saya menghindari itu.

Kata orang kok si Ayah begitu sih? Ya saya bilang, kok kamu juga begitu? Saya berpikir simpel saja, yang penting karyanya. Bukannya saya sombong. Saya malu.

Begini, kalau saya sudah menolong orang ya selesai. Saya tidak perlu merasa tampil di podium.
Ah si Ayah mah orangnya idealis. Ya kamu juga orangnya pasaran. Kenapa dia boleh begitu, tapi saya tidak boleh begitu.

Memang sering dibilang sombong karena menolak tampil di televisi?
Kita tidak pernah target bikin ini itu biar masuk televisi. Kita menghindari publisitas. Kita hanya memang main-main.

Banyak orang yang bilang, terutama ditujukan ke saya kalau saya itu sombong. Padahal tidak. Lautan itu luas, indah, ikannya warna-warni. Tapi kami tahu diri. Kami ini ikan air tawar. Jika kami ke sana kami mati. Jadi lebih baik kami seperti ini, di empang. Di sini kami nyaman. Jangan pernah salahkan kami karena kami tidak pernah menyalahkan ikan paus di lautan. Biarkan binatang di tempatnya, sesuai keadaannya sendiri.

Tapi sebelumnya pernah masuk televisi?
Pernah saya masuk televisi tapi saya kecewa dengan mereka mengatur-atur saya. Tidak boleh ngomong begini, ngomong begitu, ya sudah kamu saja. Makanya saya bikin acara sendiri saja. Saya beberapa kali juga disuruh tampil jadi Stand Up Comedy, tetapi malu karena takut ditertawakan.

Saya hanya tidak suka diatur-atur. Saya tidak menyalahkan televisinya. Televisi memang harus begitu. Mereka punya aturan. Susah dijelaskan karena ini masalah kenyamanan. Pernah saya menghindari wawancara karena tidak sesuai yang ditafsirkan.



Bagaimana awal mula band The Panas Dalam?
Dulu memang ini sebuah negara. Kita memisahkan diri dari Indonesia tahun 1995. Saat itu banyak kawan yang diskorsing oleh kampus akibat mengkritik Soeharto.

Apa yang ditentang dari Soeharto waktu itu?
Apa ya, tidak ada yang ditolak atau ditentang. Saya merasa bersolidaritas, banyak kawan yang diskorsing, di DO. Saya merasa kasihan saja sama mereka (hahaha).

Apakah dulu ikut terjun langsung bersama gerakan mahasiswa mendemo Soeharto?
Oh tidak, saya tidak mah tidak ikut-ikut. Memang banyak juga gerakan mahasiswa, ada juga partai yang menentang Soeharto. Tapi saya mah tanggung bikin partai, jadi bikin negara saja. Tapi saya hanya buat foto-foto saja kalau ada yang demo lah.

Setelah kami lulus, negaranya bubar lalu bergabung lagi dengan Indonesia. Itu hasil muktamar dulu di Dago.
Sering berpergian luar Indonesia, saya kembali baru akhirnya dijadikan band.

Jadi awalnya memang bukan band.  Kata orang ngapain bikin band, cari uangnya susah. Lalu saya pikir, supaya tidak ada pertanyaan itu saya ubah jadi The Panas Dalam Bank. Jadi kita cari uang di bank.

Band jenis macam apa The Panas Dalam ini?
Kami tidak mikirin aliran kami apa. Jadi memang hanya main band saja.

Bagaimana proses kreatif seorang Pidi Baiq bersama The Panas Dalam?
Saya spontan saja. Ada ide, direkam habis itu baru diedit. Jadi buat lirik dulu main gitar terus diedit lagi liriknya. Setelah itu dibuat lagi.

Apa cerita di balik lagu Cita-citaku, Jane dan Kopral Jono?
Lagu Cita-citaku itu tentang waria. Saya memang punya banyak kawan waria. Dia curhat kalau dia ingin jadi laki-laki.

Kalau lagu Jane itu, jadi anak SMA yang curhat ke saya. Ayah, waktu SMP aku sering dipanggil Jajang, dipanggil bebek. Setelah anak itu pergi, saya terinspirasi. Kebetulan anak itu namanya Jane.



Begitu juga Kopral Jono. Jadi masa itu banyak orang yang plin-plan, berubah kepribadian. Orangnya memang nyata. Dia berubah-ubah. Hari ini jadi polisi, tiga bulan lagi jadi waria. Tergantung pengaruh luar.

Lagu The Panas Dalam banyak mengambil cerita tentang waria. Bagaimana pandangan Anda terhadap LGBT?
Saya sih terserah mereka saja. Tidak perlu saya ceramahi. Jadi biarkan saja. Itu hak mereka mau begitu. Setiap orang punya hak memilih mau ke mana hidupnya.

Jika memilih di antara bermusik, menulis dan menggambar?
Justru itu juga yang pertanyaan saya. Saya ini sebenarnya apa. Tujuan saya ke bumi hanya untuk Jumatan. Senin sampai Kamis persiapan, Sabtu Minggunya untuk evaluasi. Kadang saya mikir, jangan-jangan saya menulis karena saya tidak tahu apa yang musti saya kerjakan.

Dari mana biasanya inspirasi menulis lagu?
Saya selalu menciptakan karya dari kisah nyata. Banyak pengalaman saya, tapi juga dari sekitar saya. Kadang seolah-olah itu saya, padahal itu orang lain.

Apakah selalu bersandar pada tren setiap membuat karya?
Oh tidak. Siapa yang menyangka kalau novel Dilan itu dibuat oleh saya. Maksudnya itu kan novel remaja tapi ditulis (seusia) saya. Saya juga pernah bilang ke Pak Ody (produser film), karya-karya saya juga tidak melulu mengikuti tren pasar tapi toh laku.

Ayah pernah menulis lagu Dan Abu Bakar pun Menangis. Apa makna lagu ini?
Itu aku bikin ingin kasih tahu kalau Nabi Muhammad saja terhadap orang Yahudi bersikap baik. Kita juga harus begitu (berbuat baik tanpa membeda-bedakan suku, ras atau agama).

Banyak yang menyebut itu lagu religi dan Anda menjadi lebih religius?
Aku tidak pernah peduli orang mau ngomong apa. Kalau ada hater, jangankan ke aku, Nabi Muhammad saja ada. Apalagi saya yang hanya orang biasa.

Album baru The Panas Dalamnya kapan?
Besok juga bisa. Kalau tidak bisa ya lusa. Kalau tidak bisa begitu saja terus. Sebenarnya bukan tuntutan itu. Kita tidak harus ada. Orang kadang tidak percaya. Album barunya namanya Modol. Tapi tidak jadi kayaknya namanya itu.



Anda terlihat begitu interaktif dengan penggemar di media sosial?
Biar tidak percuma saling follow saja. Biar tidak percuma punya Twitter saja.

Saya tidak pernah di Facebook lalu memamerkan foto anakku. (Media sosial) itu kecenderungannya tentang diriku. Kalau orang lain harus izin dulu. Itu membuat saya geli. Orang lain ada yang seperti itu, tapi aku tidak mau seperti itu.

Bagaimana Pidi Baiq melihat penggemarnya?
Saya tidak punya fans. Tahun 2011 The Panas Dalam Fans Club saya bubarkan. Karena saya tidak mau menyikapi mereka sebagai konsumen produk-produk yang saya buat.

Itu pula yang membuat Ayah membuat acara sendiri seperti Pengadilan Musik?
Motifnya itu kami iri. Jadi kami adili mereka. Si Fadly (Padi dan Musikimia), Ipang sampai gemetar. Risa Sarasvati juga pernah kita undang. Di pengadilan musik itu, beberapa grup band kami undang untuk kami adili. Musikimia, Cokelat, Ipang, Deadsquad, dan lainnya kita adili layaknya grup band.

Apa konsep Pengadilan Musik?
Jadi saya berdua sama Budi Dalton. Lalu hakimnya Man 'Jasad'. Nanti bisa jadi pengadilan buku, atau pengadilan profesi. Bisa saja saya undang wartawan kita undang untuk kita adili.

Nanti mereka akan curhat. Pertanyaan di pengadilan itu kan cuma stimulus orang untuk curhat. Jadi mereka cerita tentang suka dukanya aktivitas mereka. Itu berhasil dan mereka banyak yang berterima kasih. Rosemary banyak yang penggemarnya malah senang.


Pidi Baiq dan Melody JKT 48 (Foto: dok. pribadi)

Apakah selalu mengikuti dunia politik?
Pusing baca Pilkada Jakarta. Aku hanya ingin yang senang saja. Banyak orang bilang malas baca tentang Pilkada Jakarta, jadi saya tidak mau baca.

Sebagai teman, bagaimana melihat rencana Ridwan Kamil hendak maju menjadi Gubernur Jawa Barat?
Saya tidak pernah ada obrolan-obrolan dengan Kang Emil di luar karya saya. Maksudnya saya hanya ngobrol seputar karya saya saja. Obrolannya tentang Bandung juga. Tapi kalau saya pribadi mah, kalau bisa dilanjutkan saja di Bandungnya (menjadi Wali Kota).

Anda juga sering menjadi dosen tamu filsafat bahkan hingga ke luar negeri?
Iya, kemarin baru dari (negara) mana gitu. Tapi tidak usah dibahas lah yang soal begitu. Nanti jadi ria (pamer). Malu (hahaha).

Dengan latar belakang akademis, Ayah sebenarnya bisa saja buat karya-karya atau buku yang 'berat-berat'?
Iya bisa. Tapi buat apaan juga.

Selain band, The Panas Dalam bergerak di bidang apa lagi?
Kita juga buat publishing, sudah menerbitkan bukunya Prilly Latuconsina. Dan itu bukunya jadi best seller. The Panas Dalam Publishing jadi banyak uangnya.


 


(ELG)

Renjana Base Jam Bernostalgia

Renjana Base Jam Bernostalgia

5 days Ago

"Sesuai lagu kita yaitu, Jatuh Cinta dan Rindu. Bagaimana mengenang awal orang 'jatuh …

BERITA LAINNYA