Fedi Nuril, Terjelak Musik Rock dan Pandangan Soal Poligami

Agustinus Shindu Alpito    •    25 November 2016 14:14 WIB
wawancara musik
Fedi Nuril, Terjelak Musik Rock dan Pandangan Soal Poligami
Fedi Nuril (Foto: Metrotvnews.com /Tantyo Satria Wibowo)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sosok protagonis Fedi Nuril menjelma karakter dilematis bernama Pras dalam film Surga yang Tak Dirindukan. Film drama yang mengangkat pelik kisah poligami yang dikemas lewat cerita kompleks.

Fedi, yang ikonik lewat peran-peran menyenangkan di Mengejar Matahari (2004) dan Garasi (2005) cukup membuat para ibu gusar lewat Pras. Bagaimana tidak, Pras yang telah memiliki sosok istri "idaman" bernama Arini (Laudya Cynthia Bella) tega menduakan hati dan mempersunting Mei Rose (Raline Shah).

Surga yang Tak Dirindukan memberi pengalaman tersendiri bagi Fedi dalam memandang pernikahan, perempuan, dan poligami.
 
Di samping problematika di dunia Surga Yang Tak Dirindukan, Fedi tetaplah Fedi. Seorang pria yang terobsesi menjadi musisi. Meski dunia akting bukan tujuannya sewaktu merangkai mimpi, toh ia menikmati dan memiliki integritas di situ.

Pertengahan November 2016, Fedi menyambangi kantor Metrotvnews.com. Obrolan santai di sela makan siang itu cukup menguak bahwa sang aktor adalah musisi sejati. Bukan hanya menyelami karakter demi karakter di berbagai film, tetapi juga menelusuri berbagai panggilan bermusiknya.


Anda seolah fasih membintangi film drama dengan konflik cinta dan bumbu religi. Terlibat dalam Ayat-ayat Cinta, Perempuan Berkalung Sorban, hingga yang terkini Surga yang Tak Dirindukan. Bagaimana Fedi menyikapi sepak terjang karier akting itu?
Di tiap film punya challenge sendiri-sendiri, meski genre drama tetapi konfliknya beda-beda. Apalagi ada detail-detail karakter, misal orang Sunda, atau Jawa. Jadi butuh memperhatikan aksen juga, atau juga detail dari latar belakang. Misal latar belakang tentara, atau pendaki gunung, atau poligami, gue belum pernah merasakan istri dua. Membayangkannya tidak gampang.


Lantas, bagaiamana riset Fedi dalam memerankan sosok pria berpoligami?
Agak susah karena yang poligami biasanya enggak mengaku (dengan apa yang sebenarnya dirasakan dan terjadi). Gue akhirnya mengulik dari literasi zaman sekarang sampai ke zaman dulu. Kemudian sharing ke Asma Nadia (penulis novel Surga yang Tak Dirindukan), karena dia banyak menampung curahan hati istri-istri yang dipoligami. Gue baca-baca curahan hati itu. Mereka rata-rata enggak ikhlas meski secara teori mereka tahu jika ikhlas (dalam perspektif Islam) jaminannya surga. Tetapi mereka enggak ikhlas dimadu. Kembali lagi namanya akting itu berandai-andai. Kita akting semaksimal mungkin agar meyakinkan penonton

 
Bagaimana pandangan Fedi Nuril terhadap poligami?
Gue enggak bisa bilang menolak atas nama perempuan yang tidak ikhlas. Di Islam diperbolehkan. tetapi dari cerita dan pengalaman yang gue baca, dari pengalaman syuting, itu bukan hal yang bisa dilakukan sembarangan. dari fisik dan mental harus prima, harus bisa adil.

Nah, adil itu yang ukurannya luas, bukan soal adil dari materi saja, tetapi adil dari hati. Kalau poligami itu dianggap ibadah, mungkin banyak ibadah lain yang harus diutamakan, misalnya bisa enggak tahajud setiap hari tanpa putus. Kalau gue pribadi enggak ada rencana melakukan itu, gue fokus pada istri yang sekarang, fokus membahagiakan istri.


Fedi Nuril dan pemeran Surga yang Tak Dirindukan (Foto: Antara/Teresia May)


Surga yang Tak Dirindukan disutradarai oleh Kuntz Agus, sedangkan pada sekuel kursi sutradara diambil alih oleh Hanung Bramantyo. Ada perbedaan akan hal itu dari sudut pandang pemeran?
Enggak beda jauh, Kuntz Agus dan Mas Hanung itu satu "rumpun." Mas Kuntz juga melihat Hanung sebagai guru. Mereka punya style yang sama,

Ini film pertama gue di luar negeri, sampai gue mikir mungkin rezeki gue syuting di Indonesia aja. Sayangnya pas sampai di Budapest dingin banget, kotanya sangat indah. Bangunannya indah, orang-orangnya ramah. Gue langsung mikir bagaimana orang tinggal di daerah winter harus bangun pagi dan berangkat kerja. Itu berat.

 
Apa kabar grup musik Anda, Garasi?
Kami saat ini masih vakum, tetapi kami masih terus membuat materi sampai akhirnya menurut kami waktunya pas untuk merilis materi, akan kami rilis. Masing-masing dari personel ada aktivitas baru, ada yang baru menikah, punya anak, ada yang kuliah lagi.

Ayu (vokalis) kuliah lagi, S1 lagi, beda jurusan dengan yang dulu. Dia beberapa tahun sempat di Jepang, karena Ayu juga (masih) kuliah, kita enggak maksimal kalau sekarang rekaman singel apa album.


Kembali ke masa awal lahirnya Garasi, apa konsep musik yang kalian usung?
Dulu kami banyak ambil dari Muse. Buat kami, musik Muse relevan dengan musik kami. Walaupun tiap personel punya favorit masing-masing, setelah kami gabungkan nuansa musik kami seperti Muse.

Awal mula terbentuknya Garasi ingin menunjukkan betapa mudahnya membuat musik dari komputer. semua suara bisa dihasilkan dari komputer, jadinya elektronik rock.

 
Lantas bagaimana sekarang perkembangan bermusik Fedi Nuril di tengah kesibukkan sebagai aktor?
Gue sekarang lagi bosan dengan rock, gue sekarang lagi belajar klasik karena (tertarik karakteristik) fingering style yang beda. Gue mulai dari nol banget, belajar pakai not balok juga.


Anda mengatakan bermain gitar klasik dengan not balok. Apakah Anda sempat mengenyam pendidikan musik?
Gue autodidak belajar not balok. Semakin analog semakin enak di kuping. Dan lantas berpikir, memang kenapa kalau gue bosan dengan distorsi? Gue lebih mengikuti feeling. Dulu kalau pas recording ada perdebatan karena gue merasa ada lagu yang enggak perlu pakai distorsi. Terus ada tanggapan, "Kita kan band rock, kok enggak pakai distorsi?" justru menurut gue rock enggak harus selalu pakai distorsi. Gue enggak ada masalah dipanggil band pop apa rock, yang penting gue main apa yang gue rasakan.

 
Masih punya waktu main musik secara rutin?
Masih, itu semacam hobi. Apalagi istri gue lagi hamil, katanya kalau hamil diperdengarkan musik klasik supaya anaknya pintar. Jadi, kalau dia lagi nonton TV gue main gitar (klasik). Itu semacam pengalihan dari ribetnya kerjaan.


Fedi Nuril (Foto: Metrotvnews)
 
Bagaimana kisah awal ketertarikan terhadap musik klasik?
Dulu waktu SMP, saat tertarik gitar, gue les dari dasar. Disuruhnya main gitar klasik, pakai gitar nylon. Tetapi gue maunya main gitar listrik. Colok ampli, gedein gain. Ala band punk, Sex Pistols. Tiba-tiba masuk 2010, gue merasa berisik dengar musik rock. Sampai di titik gue nonton Metallica di Jakarta, saat kru check sound, gue merasa itu berisik. Gue mikir, apa yang salah dengan gue.

Terus gue ingat waktu di Bandung, di daerah Setiabudi, di sebuah taman ada dua orang main gitar klasik kok terdengar enak banget. Dari situ gue mulai tertarik dan menemukan kesenangan yang baru.


Masih mendengarkan musik rock hingga saat ini?
Kalaupun gue dengerin rock, gue dengerin ballad rock. Dengerin era 1960-1970, mulai dari Bowie, Yes. Lebih ke rock yang enggak bising. Tetapi gue mendengarkan musik Dream Theater enggak terganggu. Karena meskipun kencang tetapi ada harmoni. Beda dari band metal lain yang menunjukkan kemarahan.


Siapa gitaris panutan Anda?
Dulu gue suka Keith Richards, Rolling Stones. Saat gue memperdalam gitar, gue rasa dia enggak jago-jago banget, mungkin adu skill dengan gue sekarang dia lewat. Tetapi dia ada aura tersendiri yang menarik perhatian. Dia menikmati permainan gitarnya, dan jadi magnet tersendiri. Sampai akhirnya gue suka Jimmy Page. Tetapi soal melodi dia enggak rapi. Kalau untuk lagu oke. Akhirnya gue menemukan sosok yang tepat di John Petrucci.

John Petrucci tahu kapan dia main pelan sampai dia gas pol. Kalau di Indonesia, Andra Ramadhan (gitaris Dewa, Andra and The Backbone). Dia jago banget dan sangat memikirkan (apa yang tepat untuk) lagu. Jadi mengalahkan ego untuk lagu. Jangan seperti Dave Mustaine.


Anda menggeluti musik dan film, mengapa tidak mencoba menggabungkan keduanya, lantas menjadi  penata musik film?
Sebenarnya cita-cita gue musisi. Aktor itu sebenarnya karena kesempatan datang, gue coba, dan ketagihan. Gue enggak bercita-cita jadi aktor. Cita-cita gue musisi. Karier gue di musik nantinya pun enggak sebatas band, bisa ke scoring atau mungkin conduct orchestra.

Gue lagi menimba ilmu. Gue enggak pure autodidak. Gue menganggap guru gue banyak. misal gue ketemu orang yang lebih muda, lulusan Berklee, gue akan belajar sama dia. Gue menunggu sampai waktunya tiba (untuk menjadi penata musik film, dll).



Fedi Nuril (Foto: Metrotvnews)

Apakah Anda masih merindukan film drama yang mengusung musik sebagai tema cerita, seperti yang Anda lakukan di film Garasi?
Sebenarnya gue pengin banget bikin film musik. Belum ada yang bikin biopik musik legenda musik kita. Yang ada sekarang kebanyakan biopik pahlawan nasional. Belum ada biopik musisi seperti Koes Plus, Benyamin. Kalau melihat biopik musisi luar negeri, biasanya titik terendah mereka saat terkena narkoba. Tetapi beda dengan di Indonesia, Koes Plus misal sempat dipenjara saat era Bung Karno. Lika likunya lebih menarik.
 

Lantas, apakah ada niat untuk memproduseri atau menyutradarai film bertema musik?
Enggak. Karena produce dan direct film itu ribet. Kalau aktor kelar syuting bisa liburan. Kalau produser selama filmnya masih ada di bioskop belum bisa tidur tenang, sedangkan sutradara sampai picture lock baru bisa liburan. Akting sendiri juga menuntut fokus yang besar. Gue enggak kebayang kalau seandainya produce apa direct.


Anda tumbuh dewasa di era 1990-an, di mana musik alternatif subur. Apakah Fedi Nuril muda juga seorang penikmat musik yang rajin menyambangi acara-acara musik?
Ada era gue sering nonton gigs. Ada era gue merana, ketika ada tren SKA di 90-an akhir. Itu masa yang suram buat gue. Disaat orang dengerin SKA, gue kembali mendengarkan katalog lagu lama. Begitu akhirnya muncul era garage rock seperti Jet, gue suka lagi. Gue suka sound-sound seperti itu. Terus mulai pop melayu muncul dan gue menderita lagi. Gue enggak suka. Tetapi anehnya saat era girl band dan boy band Korea gue enggak sebegitunya menolak. Karena gue melihat produksi mereka berkualitas. Secara vokal dan dance, mereka dilatih serius. Gue tidak suka, tetapi rasa respect gue terhadap mereka tinggi.


Apakah Anda mendengarkan perkembangan musik Indonesia saat ini? Termasuk mengikuti perkembangan band-band baru?
Ini lagi tahun keemasan DJ. Kalau musik luar gue update saja, tetapi enggak suka banget. Musik Indonesia sudah meningkat lagi. Musik dengan lirik dan komposisi berkualitas. Dari lagu-lagu Indonesia yang di radio pun sudah terlihat sudah bagus lagi musik Indonesia. Meski pop banget, tetapi kalau diperhatikan lagu-lagu pop sekarang pakai progresi jazz.


Ada rencana membuat proyek musik solo?
Ada. Cuma, gue harus lihat mana materi yang bukan buat Garasi. Karena begini, suara gue enggak kayak Tulus. Tetapi gue memilih musik yang gue banget. Kalau dilihat, Bob Dylan, dan Jimi Hendrix, enggak bisa nyanyi. Tetapi karena dia membawakan lagu-lagunya sendiri, dia tahu cara yang pas membawakannya dan enak didengar. Kalau gue akan bikin solo, gue akan bikin seperti itu.

 
Di Amerika Serikat, aktor Johnny Deep membuat supergrup bernama Hollywood Vampires bersama musisi-musisi top? Pernah terlintas rencana melakukan hal serupa?
Enggak. Anak gue juga mau lahir, enggak ada waktu untuk itu.


Coba Anda bayangkan, akan seperti apa seorang Fedi Nuril lima tahun mendatang?
Sudah kembali ke panggung musik, sudah scoring film. Gue suka Oasis, gue lebih suka Noel daripada Liam. Meski Noel sudah tidak se-rock dulu, gue suka dia membawa musiknya ke mana. Gue merasa dia enak banget sudah bisa membuat musik tanpa ribet, tanpa pusing dengan adiknya yang ribet. Kayak gue berpikir, gue enggak perlu ribet mikir gue nge-rock apa enggak.

 


(ELG)

Senandung Senja Yon Koeswoyo

Senandung Senja Yon Koeswoyo

1 month Ago

Tubuh pria tua itu hanya bersandar di sebuah sofa berwarna cokelat. Seorang kawan di dekatnya m…

BERITA LAINNYA