Mencecar Arian 13

Agustinus Shindu Alpito    •    15 April 2017 14:52 WIB
wawancara musik
Mencecar Arian 13
Arian (Foto: Dok. pribadi)

Metrotvnews.com, Jakarta: Tiap aksi panggung Seringai tak ubah ibadat para penyembah kebebasan, andai saja musik cadas punya hierarki kepemimpinan, rasanya Arian 13 - sang vokalis Seringai - cocok sebagai imam. Bukan karena dia paling suci atau khatam seluk-beluk musik rock, namun lebih kepada sosok Arian yang sudah menjadi ikon musik rock Indonesia.

Arian punya "CV" yang diimpikan mereka yang tengah merintis  jalan hidup dalam musik rock, pernah menjabat sebagai vokalis Puppen, diteruskan dengan posisi vital di tubuh Seringai, belum lagi pengalaman penting lain yang salah satunya tampil menjadi pembuka konser keluarga The Big Four, Metallica.

Pada Selasa siang di awal April 2017, saya memasang janji wawancara dengan Arian, di sebuah studio kreatif yang terletak kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Sang vokalis tengah sibuk membuat pin berukuran mini, yang bergambar beragam atribut musik, dari nama hingga logo band.

Arian dikenal mampu membuat lirik provokatif, dengan pemilihan diksi yang patut diapresiasi pula. Jagat rock Indonesia patut berterimakasih kepada Arian dan Seringai atas kelahiran lagu-lagu cadas dengan penulisan bahasa Indonesia yang baik tanpa menghilangkan esensi rock yang lekat dengan citra garang.

Di balik tato yang memenuhi tangan, juga kesan angker yang hadir lewat aksi panggungnya, Arian adalah sosok bersahabat, cair, juga humoris. Selama satu setengah jam kami berbincang beragam topik, mulai dari soal musik hingga politik.

Bagaimana awal mula seorang Arian memutuskan untuk hidup dari musik, mengingat Anda juga memiliki latar belakang pendidikan seni rupa?
Justru duluan jadi musisi kalau dibilang itu musisi, gue main band dari SMP, SMA, waktu itu dikenalin teman gue seorang gitaris namanya Robin. Terus dia telpon gue ngajak main band. Dulu masih cover lagu-lagu orang. Terus kami latihan satu jam - dua jam lancar, terus bikin lagu.

Gue dulu enggak bisa main gitar tapi sok-sokan main gitar, manggung pertama pun masih pakai gitar sampai akhirnya, 'Arian mending lo fokus nyanyi saja deh.' Mungkin maksudnya ya main gitar gue jelek. Hahaha

Apa lagu pertama yang dibuat?
Kalau lagu biasanya dibuat bersama-sama. Puppen, lagu pertamanya kalau enggak salah This is Not A Puppen Song. Gue kalau bikin lagu pas zaman Puppen, gue punya chord sederhana, atau ide drum yang seperti apa, terus Robin menerjemahkan komposisinya.

Kalau dari lirik macam-macam, sampai hari ini gue suka menulis coret-coretan dirangkum atau membuat satu tema, tetapi pernah juga dari rangkuman itu menjadi dua tema. Atau gue suka kata tertentu terus gue kembangkan, jadi dari kata jadi tema.

Lirik-lirik Seringai yang Anda tulis memiliki karakter dari pemilihan diksi yang menarik, tetap memiliki kesan "garang" meski dalam kata baku. Dengan perbendaharaan kata yang luas, apakah Arian 13 seorang penggemar sastra Indonesia?
Gue suka membaca tetapi waktunya sekarang kurang. Enggak selalu penggemar sastra, gue kalau baca justru buku-buku biografi. Gue suka baca kamus, kamus Indonesia - Inggris, Indonesia - Indonesia, Inggris - Indonesia, Inggris - Inggris, terus juga kamus kedokteran, dan kamus biologi.


sumber: seringaiofficial

Apakah Anda juga tipikal pembaca buku teori konspirasi?
Kalau (buku) teori konspirasi gue lumayan terobsesi dengan peristiwa 65'. Karena dulu gue merasa waktu SD di-brainwash, dan baru terbuka ketika masuk kuliah. Jadi buku-buku 65 gue banyak banget.

Anda lahir dari keluarga akademisi, apakah hal itu membuat seorang Arian mendapat tuntutan-tuntutan konservatif dari orangtua?
Bokap dosen fisika teknik ITB, terakhir jadi pembantu rektor 1. Kakek gue Soedjojono (Sindoesoedarsono Soedjojono, dijuluki sebagai Bapak Seni Rupa Modern Indonesia).

Dulu aturannya lo boleh ngapain saja tetapi sekolah selesai dulu, minimal SMA. Ketika gue lulus SMA, teman-teman gue daftar segala macam perguruan tinggi dan gue daftar SR (Seni Rupa) ITB. Pikiran gue kalau enggak diterima di SR ITB, ya gue main band saja. Se-sederhana itu. Waktu itu masih tinggal sama orangtua jadi enggak mikir harus cari makan bagaimana, enggak anak rantau juga.

Pernah mengajak orangtua menonton band Anda?
Orangtua gue pernah gue ajak, senang-senang saja mereka. Mungkin karena latar belakang nyokap seni rupa jadi sudah biasa dengan hal seperti itu. Bokap juga enggak masalah.

Waktu gue SMA, waktu Puppen baru terbentuk, bokap gue jatuh sakit, ada stroke di otak dan dia lumpuh selama 13 tahun. Jadi basically gue sejak SMA itu lebih (dekat) ke nyokap. Jadi enggak pernah ada bokap yang, "Wah kamu harus sekolah!"

Apa yang membuat Anda yakin untuk sepenuhnya berada di jalur rock?
Gue dulu enggak memikirkan yakin enggak yakin, gue dulu sangat haus soal rock, punk rock, kalau Om gue ke luar negeri gue titip kaset, ada 20 daftar band nanti misal yang dia dapatkan ada empat atau lima kaset.

Arian dengan lirik-lirik yang ditulisnya mengisyaratkan sebuah sikap pembangkangan, kritis, cerdas, juga sarat kebebasan. Seperti apakah sosok Arian kecil?
Gue termasuk nakal, tapi bukan kriminal. SMP gue itu sekolah swasta Katolik, SMP Aloysius (di Bandung), gue termasuk minoritas, gue merasa rasisme itu ada. Gue enggak mau menyebut gue pribumi atau non-pribumi karena gue enggak setuju dengan frasa itu. Cuma mayoritas anak-anak di situ bukan dengan latar belakang yang sama dengan gue. Tapi itu enggak membuat gue jadi rasis juga sih.


Arian (Foto: dok. pribadi)

Waktu gue SMA gue kena rasis juga, karena gue sekolah di tempat tertentu gue dianggap orang-orang di luar SMA gue adalah bagian dari etnis tertentu, jadi ya kena dipalak karena dianggap dari sekolah yang kaya, padahal tidak semua yang sekolah di tempat gue anak-anak orang kaya. Karena gue nakal, dulu gue enggak diterima di SMA yang sama dengan SMP gue. Gue pindah ke SMA swasta lain.

Waktu SMP gue pernah bikin 2 guru dikeluarkan. Pertama, dulu dihukum guru karena emang nakal enggak bikin PR, dihukum skot jump 200 kali. Pas berdiri kliyeng-kliyeng terus bokap ngamuk dan dilaporkan ke sekolah terus gurunya dikeluarkan. Terus yang kedua gurunya ngomong sesuatu yang rasial, terus kami (para murid, tentu termasuk Arian) ngumpul-ngumpul dan mengadukan itu guru sampai akhirnya dikeluarkan.
 
Nakal yang seperti apa?
Tipe anak yang duduk di belakang. Standar sih, gue enggak yang kena drugs atau mabuk-mabukan. Justru itu sesudah SMA. Kalau gue lebih kepada misal meledakkan toilet dengan petasan, terus isengin guru, gembok pintu toilet waktu guru di dalam toilet. Terus misal parkirin motor di lantai tiga.

Lantas bagaimana seorang Arian secara akademis?
Gue enggak naik kelas dua kali. Gue lupa, antara kelas 1 atau 2 SMP enggak naik, waktu kelas 2 SMA enggak naik. Tapi bokap yang enggak, 'Wah brengsek kamu enggak naik!' Bokap lebih seperti, 'Wah berarti ngulang lagi.' Tapi ya tetap saja gue takut, waktu pulang sekolah kayak, 'Anjir, enggak naik nih. pulang gimana nih."

Menurut gue dulu pelajaran di sekolah membosankan. Pelajaran yang gue suka sejarah, biologi. Gue sempat pengin jadi dokter karena gue suka biologi. Sejarah gue suka, cuma gurunya garing, itu faktor juga. Akhirnya gue suka sejarah dengan membaca buku sendiri.
 
Apakah Arian kecil sudah suka menggambar?
Dari kecil suka gambar memang, dari gambar di tembok sampai kertas. Dulu waktu kecil suka gambar Voltes V. Teman-teman gue suka minta gambarin Voltes V dan gue dibayar Rp100, dulu gue enggak dikasih uang jajan jadi dari situ gue dapat uang jajan. Pas gue gambar ketahuan terus orangtua gue dipanggil guru.

Apa cita-cita Anda ketika kecil dulu?
Nama Arian itu nama roket Prancis, adik gue namanya Titan itu seperti nama satelit Saturnus. Gue memiliki cita-cita umum anak zaman dulu yang pengin jadi astronaut.  Bokap punya banyak koleksi yang tentang itu, buku-buku bergambar pesawat, tank. Dulu di majalah Hai isinya juga artikel misal tentang misil Rusia, misil Amerika, kalau sekarang kan hai isinya cewek-cewek, bagaimana bergaya keren. Dulu gue dibeliin komik (terbitan) Indira, gue lumayan dibeliin kalau yang gitu-gitu daripada dibeliin mainan.

Lalu kapan mulai tertarik pada musik?
Dari SD. Di dekat rumah gue ada toko kaset, namanya Toko Tengah. Bokap gue kuliah di luar negeri, terus pas balik ke Indonesia punya turntable dan punya plat-plat, dia suka setel Beach Boys, terus yang evergreen-evergreen gitu. Lebih ke musik Amerika. Waktu gue ke toko kaset gue tanya, "Yang papa suka setel di rumah itu apa?" Terus dikasih tahu kalau itu Beach Boys. Terus gue dibeliin kaset The Very Best of Beach Boys. Itu kaset pertama gue. Mungkin saat itu kelas dua atau tiga SD.

Kapan Arian terkena paparan musik rock pertama kali?
Fasenya itu dari musik Disney, tapi lagu disney yang dulu, yang memang untuk anak kecil. Kalau Disney sekarang kan lagu disney lagu-lagu (materi) dewasa.  Dulu plat pertama gue juga Disney (album Disney’s Family Reunion), dapat dari keju Kraft waktu tinggal di Amerika. Waktu umur tiga sampai hampir tujuh, gue tinggal di Boston, bokap kuliah di MIT (Massachusetts Institute of Technology).

Waktu kelas 3, 4, 5 SD berkenalan dengan new wave. Mulai sentuhan rock pertama hard rock, dulu pas era hair bands, terus ke toko musik Aquarius di Bandung dan lokasi tempat kaset rock enggak jauh dari metal, terus gue, "Ini apa nih cover-covernya keren!" Umur segitu kan lagi senang gambar-gambar, covernya keren musiknya enak. Dulu trennya kaset bajakan jadi isinya "very best of," gue beli dari Bon Jovi naik ke Motley Crue, terus Iron Maiden, Judas Priest.

Apakah Arian juga mendengarkan musik pop?
Gue pada dasarnya mendengarkan semua musik, tetapi karena gue kolektor jadi gue lebih prefer (mengoleksi) punk rock dan metal. Kalau musik semua gue dengarkan, gue juga suka Lana Del Rey.

Mendengarkan boyband?
Enggak. Tetapi mau enggak mau tetap kedengeran karena dulu teman-teman gue yang cewek dengerin boyband. dari era New Kids On The Block, Take That, gue enggak sampai beli kasetnya.

Anda berkecimpung di dunia musik keras sejak era Orde Baru. Apa perbedaan tantangan sebagai musisi di era itu dan saat ini? Dalam hal menentukan sikap atau tuntutan terhadap penguasa yang biasa dituang para musisi rock/metal dalam lirik.

Dulu (era Orde Baru) gue enggak pengin melawan yang bagaimana-bagaimana, lebih kepada ingin seperti band metal (yang menjadi panutan). Misal dulu gue lihat Sepultura, gue merasa, "Wah ini band datang dari negara ketiga tapi bisa mendunia, terus jadi gue pengin kayak Sepultura.'

Waktu pertama mulai membuat lagu, tema masih copy-paste dari yang sudah ada, tema politik, sosial, di album kedua Puppen.

Apakah Anda sendiri melihat ada perubahan yang lebih baik dari pemerintah secara umum?
Masih sama. Lirik-lirik lagu zaman dulu sampai sekarang masih relevan, termasuk lagu-lagu awal Seringai seperti Puritan, Megadili Persepsi. Malah semakin relevan. dan mungkin sekarang kecenderungan apatis.
 

Arian 13 (Foto: dok. pribadi)

Apakah Arian 13 seorang apolitis?
Kalau apolitis hari gini agak susah, tetapi gue memahami mengapa orang apolitis. Gue lebih individual, gue jalan seperti ini kalau menginspirasi ya oke tetapi gue enggak akan "mengajari" ke orang harus bagaimana karena pasti ada pandangan yang berbeda.

Kapan terakhir seorang Arian mengikuti Pemilu?
Gue enggak pernah ikut Pemilu kecuali pemilihan presiden kemarin (2014).

Gue ikut pemilu karena waktu itu ada dua pilihan, yang satu terlihat lebih baik tetapi ya namanya politik, pick the best from the worst. Yang satu lagu, mengingat  zaman gue tahun 98, gue kayak, "Enak aja orang ini mau naik jadi presiden." Misal dua-duanya represif, gue lebih bisa menyuarakan hak gue di yang satu daripada yang satunya lagi.

Seperti apa pengalaman Arian dalam masa 1998?
Tahun 97-98 itu gue jadi Ketua Senat FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) ITB, gue terjerumus (mengikuti demonstrasi), padahal gue sudah siapkan program-program acara seni rupa. Kami dulu sempat konsolidasi dan mobilisasasi masa ke Jakarta. Gue ingat pertama kali "ngecek lapangan" ke Jakarta, gue sama Ucok "Homicide" dan pas sampai Jakarta langsung merasa, "Anjir war zone!" Sampai akhirnya Soeharto lengser, itu perasaan yang aneh karena kami ingin Soeharto diadili.

Di Twitter, Anda pernah menunjukkan sikap kecewa terhadap Pandji Pragiwaksono yang menjadi juru bicara Anies Baswedan (saat artikel ini diunggah, Anies menjadi Calon Gubernur DKI Jakarta) yang mana dalam safari politik bertemu dengan beberapa pihak yang Anda anggap "fasis." Apa alasan Anda menunjukkan sikap itu?
Gue kenal dia karena dia dulu junior gue di SR ITB, gue melihat sepak terjang dia di hip-hop dan stand up comedy. Gue melihat dia sebenarnya one of the good guys, tapi itu dulu. Sejak dia memutuskan jadi juru bicara Anies, gue berpikir dia akan masuk ke politik. Ketika Anies merapat ke tokoh-tokoh fasis, gue mempertanyakan.

Dia selalu menulis-menulis justifikasi. Gue berpikir, itu harga Pilkada mahal banget ya? Untuk (mempertaruhkan) segala yang sudah lu bangun selama ini. Gue yakin ini bukan hanya gue yang berpikiran seperti ini, di mata gue sudah rusak saja. Jejak digital juga ada.

Gue paling benci kalau isu politik pakai isu agama. Benar memang agama itu pegangan lu, tetapi kalau itu dipakai dalam politik untuk menjatuhkan lawan, itu enggak banget. Which is Anies melakukan itu, lu sudah lihat video Eep Saefulloh? Dia menjelaskan tim sukses dia (Anies-Sandi) memakai cara politisasi masjid seperti yang dilakukan partai FIS di Aljazair.



Anda membaca klarifikasi dan penjelasan-penjelasan Pandji di situs pribadinya?
Baca. Dia stand up comedian yang bagus bukan? Gue melihat (tulisan) itu sebagai komedi. Gue banyak diskusi dengan teman-teman, terus ada obrolan, "Ini good money ya?" terus temannya dia bilang, "Ini tanpa money kok." Nah itu berarti kan tambah bodoh. Lu menghancurkan reputasi dan kredibilitas sendiri saja berarti.

Kembali ke pertanyaan seputar musik. Apakah Anda termasuk orang yang percaya banyak lagu "bagus" yang lahir dari pengaruh substance atau asupan tertentu (termasuk alkohol dan narkoba)?
Percaya. Menurut gue ada beberapa substance yang membuka pikiran lo, ada bagian di otak ke switch dan lo bisa merasakan yang lain. Misal LSD, gue mengerti tema-tema atau seni rupa pada zaman itu bisa berwarna, liquify, karena dengan LSD visual lu seperti itu. Kalau di Seringai ada lagu Marijuanaut, itu ya lebih ke pengalaman gue saja.

Menjadi bintang rock adalah impian banyak orang. Tapi tentu setiap profesi memiliki dua sisi. Apa sisi enggak enak menjadi bintang rock?
Gue enggak pernah mengakui gue rockstar, karena definisi rockstar menurut gue kayak Motley Crue, cewek-cewek di backstage, kokain, sementara di sini yang paling rockstar mungkin malah Ariel "Noah" atau Pasha "Ungu". Rockstar di sini kan kere-kere. Rockstar di sini malah pop star.

Misal seringai main Jumat, Sabtu, Minggu, untuk mengakali penerbangan murah kami pilih terbang pertama yang mana itu jam 6-7 pagi. berarti kami harus standby jam 3 atau jam 2 (malam). Berarti kami enggak banyak tidur. datang ke hotel belum bisa check in terus mau soundcheck tetapi kadang panggungnya masih rata dengan tanah. Masih pada ngopi mas-masnya (yang membangun panggung), paling enggak nunggu dua jam dan yang pertama check sound pasti drum yang mana itu membosankan. Rata-rata Seringai ikut soundcheck langsung. Kalau band lain ada kru yang soundcheck duluan, tetapi kami lebih irit dan agar enggak over baggage.

Setelah soundcheck dan check in, jam 6 atau jam 7 (petang) mandi, kalau jadi headliner main jam sembilan. Itu juga kalau enggak ngaret. Kalau ngaret suka dipotong lagunya. Kami pernah main cuma tiga lagu, itu juga tadinya hanya diminta dua lagu. Itu enggak bagus untuk band, karena banyak penonton yang sudah datang dan menunggu. Habis kelar manggung, beres-beres dan kelar jam 1 atau jam 2 (malam) kemudian di hari yang sama harus first flight lagi, jadi tidurnya dikit.

Menurut Anda, apakah bisa mengandalkan hidup dari bermusik rock di Indonesia?
Enggak. Sekarang masih dikit pemainnya. Maksud gue yang sudah bisa jalan dari musik. Sekarang yang sudah bisa jalan (hidup dari musik) Seringai, Deadsquad, KPR (Kelompok Penerbang Roket),  Burgerkill, sisanya /rif, Gigi. Gigi pun tiap tahun ada album religi yang mana itu untuk menambah finansial.

Kalau di Seringai main musik itu jadi hobi tapi bisa juga prioritas, karena masing-masing personel punya pekerjaan lain, drummer Khemod punya PH (Production House), Ricky kerja di Rolling Stone, Sammy talent VO (Voice Over) dan dulu penyiar radio, rata-rata memilliki pekerjaan yang ada hubungannya dengan musik. Lo harus enggak hanya main band.
 

Arian 13 (Foto: dok. Rigel Haryanto)

Seringai adalah grup musik yang lahir ketika masing-masing personel sudah dewasa dan memiliki pengalaman di dunia musik bawah tanah sebelumnya. Ego yang dihadapi dalam grup seperti itu tentu berbeda dari grup yang lahir karena persahabatan masa muda. Bagaimana cara kalian menjaga keutuhan internal?
Kalau di Seringai selama itu fun ayo kita lakukan, misal ada tawaran menarik tapi ada satu orang enggak nyaman, ya kita enggak ambil. Bukan veto tetapi kalau enggak nyaman mending enggak. Itu yang cocok dengan Seringai, kalau untuk band lain mungkin cocoknya bisa macam-macam. Mungkin kalau Dewa 19 cocoknya kediktatoran, kalau di Seringai cocoknya kolektif itu.

Sebagai penutup, di luar itu semua apakah Arian 13 juga memiliki sisi sentimentil dan romantis?
Kalau itu lo harus tanya cewek gue atau mantan-mantan gue. Ha-ha-ha. Adalah, tapi rahasia.  Gue manusia biasa, gue bukan yang jaim juga.


 


(ELG)

Menjaga Nyawa Clubeighties

Menjaga Nyawa Clubeighties

6 days Ago

Menjaga nyawa grup musik selama sembilan belas tahun bukan perkara mudah. Terlebih, dengan diti…

BERITA LAINNYA