Iga Massardi, Menyulut Bara dalam Nama Suara

Agustinus Shindu Alpito    •    21 Juni 2016 22:21 WIB
barasuara band
Iga Massardi, Menyulut Bara dalam Nama Suara
Iga Massardi (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Metrotvnews.com, Jakarta: Nama Iga Massardi belakangan semakin melambung seiring grup musik bentukkannya, Barasuara, menjadi sorotan penggemar musik Indonesia. Bagi mereka yang sudah akrab menyimak pergerakan musik sidestream di Indonesia, tentu nama Iga bukan hal baru.

Iga sempat bergabung dalam grup musik Soulvibe, The Trees & The Wild, dan membantu mengisi posisi gitar dalam sejumlah proyek musik musisi lain. Bekal pengalaman itu seperti diaplikasikan Iga dengan baik di Barasuara. Hasilnya tidak perlu diragukan lagi, Barasuara menjadi grup rock paling diantisipasi saat ini. Bukan karena sosok personelnya yang mumpuni dan berkompetensi tinggi, tetapi lebih kepada karyanya yang memukau.

Iga dan Barasuara bukan saja sukses meramu musik, tetapi mampu menghadirkan lirik yang indah dan lugas. Terdengar manis tanpa memberi kesan berlebihan.

Metrotvnews.com mendapat kesempatan wawancara dengan Iga Massardi di tengah tur Barasuara pada Mei 2016 lalu. Tur perdana Barasuara ini adalah bukti bagaimana kerja keras Iga selama ini memberikan hasil yang luar biasa. Meski terbilang baru, Barasuara mampu mengumpulkan massa yang masif di tiap lokasi tur yang mereka singgahi.

Iga bercerita tentang banyak hal, seputar Barasuara dan perjalanan musiknya yang menginspirasi. Satu hal yang patut disadari, pencapaian Iga sebagai bintang rock yang tengah bersinar bukan dicapai dalam waktu sekejap. Namun, Iga adalah sosok yang terus menjaga nyala bara semangat dalam jalan yang dia pilih sebagai musisi. Setelah sekian lama, bara itu semakin besar dan menyala dengan padu suara dalam Barasuara.

Barasuara memiliki konsep unik dengan tiga vokalis dan dua gitar, apa yang melandasi Iga memutuskan membuat band dengan konsep musik yang "kaya"?
Pada dasarnya gue suka band yang ramai. Harmoninya banyak. Banyak yang bisa dieksplorasi dengan musik yang kaya. Secara personal gue suka big band, seperti bandnya Sting banyak pemain, terus juga bandnya James Brown. Meski banyak, instrumen tetap terdengar dengan baik. Gue punya ketertarikan mengaransemen musik yang kaya dan dikemas dengan apik.

Iga "menggembleng" Barasuara untuk terus berlatih selama sekitar tiga tahun, sebelum akhirnya berani tampil di panggung umum. Apa alasannya?
Karena gue pengin bentuk emosionalnya dulu. Kalau gue mau main di bulan ke-enam bisa saja, tetapi tentu energi dan emosionalnya beda. Band umur enam bulan sama tiga tahun pasti beda emosionalnya.


Iga Massardi (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Barasuara termasuk grup musik yang menghasilkan lirik bahasa Indonesia yang baik dengan pemilihan diksi yang menarik. Apakah Iga memiliki ketertarikan khusus terhadap linguistik?
Gue menggunakan bahasa sebagai perkakas menulis lirik. Gue mencari bahasa dan kosa kata yang gue butuhkan. Gue tidak membekali diri dengan ilmu linguistik untuk menulis lirik. Tidak ada alasan khusus mengapa gue tidak memelajari linguistik, tetapi sejauh ini gue nyaman seperti ini. Mungkin kalau nanti gue punya ketertarikan untuk belajar bahasa, itu akan jadi sesuatu yang bagus sekali. Tetapi sejauh ini enggak.

Barasuara memiliki dua lagu yang diberi judul sesuai nama tempat, yaitu Hagia dan Samara (lagu baru di luar album Taifun). Apa alasan memilih nama tempat sebagai judul?
Buat gue musik itu sinematik, kalau menulis lagu gue membayangkan suatu tempat. Dengan menyatut sebuah tempat yang memang ada. Terutama tempat itu memiliki landscape yang bagus, itu akan membantu gue dalam menulis. Misal Samara, itu tempat yang menurut gue maknanya melihat hidup lebih luas. Terus gue merasa tempat itu memiliki makna linguistik dan visual. Gue sulit menjelaskannya, tetapi gue merasa kalau melihat sebuah tempat itu ada bayangan tersendiri. Meski gue belum pernah ke tempat itu.

Bagaimana proses risetnya?
Gue pertama mencari makna dari kata tersebut, Contohnya Samara, itu artinya protected by God. Terus gue gali lagi, dari situ gue menemukan arti-arti yang menarik. Seperti saat gue menulis Hagia. Dari nama gue menemukan banyak makna.

Samara akan dimasukkan ke dalam album ke-dua?
Penginnya sih, kalau enggak ya jadi single. Kami juga pengen bikin vinyl.

Perjalanan musik Barasuara terbilang pesat. Tanpa butuh waktu lama kalian mendapat kesempatan tur yang belum tentu bisa dirasakan grup musik lain. Bagaimana Iga memaknai hal itu?
Kalau berkaca pada musisi Amerika dan Eropa, tur adalah keharusan. Band kecil atau besar di sana melakukan itu. Keuntungan mereka, mereka bisa melakukan tur dengan jalan darat yang lebih mudah dan murah. Sedangkan kita di negara kepulauan, susah bagi kita untuk menggelar tur seperti di Amerika dan Eropa.

Dalam film dokumenter Blur, No Distance Left To Run, kita bisa lihat tur jalan darat itu menyiksa banget, bisa membuat band bangkrut, pecah, atau bahkan bubar. Terlepas dari itu, kami melakukan tur karena kesempatannya ada, ada sponsor dan didukung label. Ini sangat kami syukuri. Kami sadar ini bukan hal yang bisa dinikmati semua band, ini rezeki Barasuara.


Barasuara (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Enggak perlu menunggu band besar atau punya beberapa album. Sesegera mungkin lo (band) merilis album, jika ada waktu dan finansial, buatlah tur. Memang bukan hal yang mudah, tetapi tur itu memperkuat kita sebagai band. Memperkuat atau menghancurkan. Seperti ujian, ini seperti crash test. Gue baru tur dua minggu, tetapi band lain seperti Padi, waktu itu Fadly (vokalis Padi) cerita, waktu usia mereka 24 tahun, mereka tur 160 kota dan enggak pulang hampir satu tahun. Itu gila banget. Tetapi menurut gue itu tes yang mantap banget. Tur itu melibatkan lebih dari sekadar musikalitas.

Iga pernah bergabung dengan beberapa band, apa yang membuat Barasuara terasa berbeda, terutama saat menjalani tur?
Setiap band punya kultur sendiri. Dulu gue sempat tur dengan The Trees & The Wild, bukan tur besar.  Kalau pressure pasti ada, dulu waktu gue masih umur 23 lebih santai, misal berantem ya berantem saja. Santai. Tetapi sekarang kita seperti sudah punya bekal masing-masing. Kalau sekarang, bagaimana enam kepala bertemu tetapi tetap dingin. Kami beruntung ada pemanasan juga manggung-manggung di luar kota.

Pressure tidak ada yang terlalu bagaimana, kalau capai bilang capai. Lebih dewasa juga menyikapinya. Kami juga berpikir ini bukan perkara enam orang saja, tetapi di belakang kami ada orang-orang yang terlibat dalam tim kita. Kalau kami fucked up sewaktu tur, itu bukan urusan kami (para personel Barasuara) saja tetapi akan berpengaruh ke orang-orang di belakang kami.

Ke depan, akan dibawa ke arah mana Barasuara?
Gue bukan guy with the plan. Gue hajar apa yang ada di depan gue. Gue punya visi, bahwa musik Barasuara alangkah indahnya kalau didengar lebih banyak orang. Gue bukan mau bilang misi gue mencerdaskan atau apalah itu, tetapi ingin lebih didengar. Ingin diapresiasi secara lebih lagi, urusan fame dan money itu bonus dari konsistensi. Sekarang gue ingin melebarkan sayap untuk terbang ke kota lain, ke negara lain. Hajar kesempatan yang ada dengan perhitungan yang matang, dan persiapan yang matang.

Barasuara ini bentuk pencarian yang paling proporsional dari masing-masing personel.  Gue pengin bisa masuk festival musik dunia, sekarang kesempatan-kesempatan itu terbuka, di Lollapalooza, Glastonbury pun sudah memberi kesempatan band-band dari berbagai negara. Mereka main dengan bahasanya masing-masing, gue rasa bahasa sudah bukan jadi persoalan. Setahu gue dari Eropa dan Amerika justru mencari band-band yang musiknya eksotis. Salah satunya terjadi pada band Senyawa yang main dalam festival  (Eaux Claires Music Festival) yang dikurasi  Justin Vernon dari Bon Iver. Seperti sekarang bagaimana lagu Korea dinyanyikan orang di Paris atau di negara lain.

Album Taifun memiliki aransemen kaya dengan detail yang baik. Seperti menyiratkan bahwa album ini dibuat oleh seorang yang perfeksionis. Apakah Iga tipikal musisi yang sangat memerhatikan detail?
Gue bukan orang yang detail dalam proses. Untungnya di Barasuara ada orang seperti Gerald dan TJ Kusuma yang punya kertertarikan terhadap hal-hal detail, misal dalam rekaman memikirkan sampai pitch-nya harus dinaikan atau seperti apa.

Gue kalau musik, melihatnya seperti sinematik gitu. Misal gue pengin gitarnya begini terus aransemen begini ada tambahan instrumen ini-itu.  Kalau hasilnya sudah sesuai dengan apa yang ada di kepala gue, "kamarnya" sudah pas, sudah cukup bagi gue. Untungnya, ada teman-teman di band yang memerhatikan hal detail. Gue bukan orang yang bisa fokus melakukan hal yang sama terus-menerus.

Menurut Iga, apakah pencitraan itu penting bagi sebuah band?
Branding itu penting, tetapi yang lebih penting itu musiknya. Menurut gue daya tarik Barasuara bukan soal visual, bukan gaya berpakaian para personel. Kalau kami mainnya jelek, orang akan berpikiran, 'Apaan sih ini, enggak jelas," Percuma branding-nya.

Gue sempat melihat interview Dave Grohl, gue ketawa karena gue merasa apa yang dia bilang sangat relate dengan apa yang gue rasakan. Karena dia bilang kalau lagi perform, harus main habis-habisan. Dengan cara seperti itu, orang akan nonton lo lagi. Itu benar banget.

Satu pengalaman gue yang ikut set up gue sebagai musisi. Tahun 2010 gue nonton band yang sama sekali gue enggak tahu. Waktu itu gue mau kerja jadi wartawan di majalah Provoke! lalu tugas gue adalah nulis konser band.  Itu pertama kali gue lihat band main dengan energi seperti monster. Gue enggak tahu lagunya tetapi gue merasakan energinya. Band itu adalah Navicula. Chaos yang ada dalam konser Navicula itu chaos penuh energi. Dari situ gue belajar banget, dan gue berpikir gue enggak bakal bisa bikin band rock keren sebelum Navicula bubar. Hahaha.

Dalam beberapa kesempatan Iga tampil bersama Navicula, bagaimana cerita di balik keterlibatan itu?
Akhirnya. Itu terjadi baru-baru ini. Akhirnya gue kenal mereka, waktu itu pas gue sama Barasuara lagi main di Bandung, ditelepon sama Robi, dia bilang, 'Halo Iga, ini gue Robi." Terus gue sempat bingung dan tanya, "Robi siapa ya?" dan dia bilang, "Robi Navicula, kamu tanggal segini kosong enggak, aku minta tolong kamu gantiin Dadang untuk main di Solo." Gue langsung bilang, "Kasih waktu setengah jam Rob, nanti telepon lagi, gue mau pelajari dulu lagu-lagunya." Terus gue coba dan bisa, Lalu pas Robi telepon lagi langsung gue iyakan.


Iga Massardi bersama Barasuara (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Apakah pendidikan musik formal penting menurut Iga?
Gue sempat membuat gerakan kelas gitar gratis dengan Adoy (bonita & the hus Band). Tiba-tiba booming di Twitter dan ramai banget. Singkatnya, kelas itu jadi banyak banget pengikutnya. Kembali lagi soal penting atau tidak, itu tergantung apa yang lo cari. Kalau di pendidikan formal, teknis akan dikedepankan. Membaca not balok, tangga nada, dan sistematika nada. Itu penting. Sangat penting. Kalau lo bisa membaca musik, itu bisa memudahkan lo memelajari lagu sampai 80 %.

Ada juga musisi yang mendepankan "rock & roll," misal gue menikmati Navicula, gue enggak akan tanya mereka bisa not balok atau tidak. Tetapi jika lo ingin seperti misal Steve Vai, pendidikan musik formal itu penting. Atau ketika lo ingin main klasik, ya itu penting. Tergantung lo ingin seperti apa, lo pilih metode yang mana. Pendidikan itu hanya perkakas, lo mau ke mana dan bikin apa. Gue enggak pernah mengatakan pendidikan musik itu tidak penting. Tetapi itu tergantung, kebutuhan.

Bagaimana dengan pengalaman Iga soal pendidikan musik?
Gue belajar musik secara otodidak, gue sempat belajar di Farabi, sempat les klasik, gue sempat les gitar satu tahun dengan Rama Satria. Itu bermanfaat, terutama untuk aransemen. Gue pada akhirnya suka menulis lagu dengan gaya gue sendiri setelah belajar dari orang lain.

Pernah mengalami fase diremehkan oleh lingkungan sekitar saat merintis karier sebagai musisi?
Sering banget. Untuk lo hidup sebagai seniman, di mana pun, seniman enggak bisa dianggap sebagai pekerjaan yang menghasilkan secara finansial. Seniman sering dianggap sebelah mata. Cuma di hari ini, orang yang meremehkan seniman itu menyedihkan. Sekarang, di era modern, seniman bisa punya uang lebih banyak dari pekerja kantoran. Kalau bicara nominal, misal seniman visual seperti Darbotz, itu bisa mencapai angka fantastis karyanya. Jadi menurut gue sekarang, seniman pada saat ini sudah menjadi pekerjaan yang menjanjikan. Desainer fesyen, atau musisi yang mengerjakan scoring, iklan, itu juga menghasilkan finansial yang baik. Yang menilai seniman tidak bisa hidup itu mungkin karena mereka hidup dengan wawasan yang tertutup, tetapi tidak bisa disalahkan juga. Harusnya diberi pengertian.




Apa saran dari Iga agar mereka yang masih bergelut memilih jalan hidup sebagai musisi bisa mewujudkan mimpinya?
Yang dibutuhkan adalah kedisiplinan dan daya tahan, juga konsistensi. Gue bermusik sejak tahun 2004. Gue sempat kerja kantoran di Guvera, sempat kerja sebagai penyiar. Pada akhirnya, yang dibutuhkan kedisiplinan, ketangguhan hati, dan keyakinan.

Gue sering ditanya sama anak-anak muda, "Lebih baik saya kuliah atau total di musik?" Gue jawab, "Kalau kuliah lo dibiayain orangtua, selesaikan dulu kuliah lo."

Gue di-drop out dari kampus gue, dan itu adalah momen di mana gue mengecewakan orangtua gue. Itu juga jadi motivasi gue harus bisa hidup dari musik, untuk mengembalikan kepercayaan orangtua gue.

Mentalitas itu bisa merubah mind-set, ketika lo di musik enggak menghasilkan sesuatu untuk lo, bukan musik yang salah. Ahmad Dhani hidup dari musik bisa, kalau dia bisa hidup dari musik kenapa gue enggak bisa? Banyak orang yang bilang jadi musisi di Indonesia tidak bisa hidup, lihat saja Pasha "Ungu," Anang Hermansyah, Andien, Ariel, Raisa, mereka hidup dari musik. Maksud gue, jangan menyalahkan keadaan.


Barasuara (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Siapa guru musik paling berkesan dalam perjalanan musik Iga?
Rama Satria

Pelajaran apa yang didapat dari Rama Satria?
Gue awalnya sama sekali enggak tahu blues dan gue dapat banyak hal dari dia.  Dia seperti blues priest. Gue respect dia as a player. Kalau lo mau tanya blues, Rama orang yang bisa jawab A sampai Z, Z sampai A.

Apakah menurut Iga, Rama Satria musisi blues terbaik di Indonesia?
Menurut gue dia gitaris blues nomor satu di Indonesia. Ini subyektif. Gue menikmati sekali dia bermain blues.

Siapa musisi Indonesia favorit Iga?
Widi Puradiredja (drummer Maliq & D'Essentials), karena dia musisi yang lengkap. Dia salah satu mentor gue dalam how to survive in music business.  Gue suka Bebi Romeo, lirik karya dia kayak benar-benar nestapa tragis gitu. Ariel "Noah" gue suka juga karena lirik-lirik dia bagus. Kalau gitaris, gue suka Dewa Budjana, terus Eross Candra. Musik karya Eross sangat mencitrakan dirinya yang sederhana. Ahmad Dhani gue suka, tetapi sampai di era Cintailah Cinta (album Dewa).

 


(ELG)

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

5 days Ago

Guruh juga mengingatkan jika generasi muda tidak lagi peduli akan bahasa Indonesia yang baik da…

BERITA LAINNYA