Tanggapan Payung Teduh Soal Perubahan Musikalitas

Agustinus Shindu Alpito    •    20 Juli 2017 11:15 WIB
indonesia musik
Tanggapan Payung Teduh Soal Perubahan Musikalitas
Payung Teduh (Foto: MI/Rommy)

Metrotvnews.com, Jakarta: “Sampai pada ribut di Youtube, terus pada DM, ada yang bilang, ‘Mas lagu lo jelek banget, asli!’ Gue bilang saja, ‘Makasih, kalau mau dengar yang kemarin ya dengar yang kemarin saja.’ Gue sih mau move on,” kata Mohammad Istiqamah Djamad alias Is, vokalis Payung Teduh.

Pada 7 Juni 2017, Payung Teduh merilis materi baru berjudul Akad  dan mengunggah video lirik lagu itu ke YouTube. Akad  adalah singel pembuka dari album ketiga mereka yang akan dirilis pada tahun ini.  Tidak perlu waktu lama sejak perilisan, Akad  menuai reaksi kontradiktif di kalangan pendengar Payung Teduh, mereka yang bertentangan mengatakan bahwa Payung Teduh sudah berbeda dari segi musikalitas dan gaya lirik. Sedangkan mereka yang menikmati Akad  berpendapat bahwa Payung Teduh mengalami progres dalam berkarya.

Pada 18 Juli 2017, Metrotvnews.com  bertemu dengan Is di daerah Kemang, Jakarta Selatan. Dalam pertemuan singkat itu, Is menceritakan keadaan Payung Teduh saat ini, sekaligus merespons anggapan-anggapan pendengar yang minor.

“Buat saya main musik itu pengalaman dari sebuah perjalanan. Saat ini Payung Teduh sedang berjalan pada track-nya. Dulu saya main musik rock, tetapi bukan berarti Payung Teduh akan menjadi rock, ketika saya membuat lagu saya tidak pernah berniat lagu harus bagaimana, Yamaha juga memberikan saya alat-alat musik elektronik, ini seperti jodoh,” kata Is.

Is adalah penulis seluruh lagu-lagu Payung Teduh. Dia saat ini juga berstatus sebagai pengajar di sekolah musik Yamaha, sebuah brand yang dia sebut memberinya beragam peralatan musik berbasis elektronika. Is mengaku memanfaatkan instrumen-instrumen elektrik dalam eksplorasi musiknya saat ini, termasuk pada lagu Akad.

Album self-titled  (2010), dan Dunia Batas  (2012) seolah menahbiskan Payung Teduh sebagai grup akustik yang bersenjatakan lirik-lirik indah. Berbicara tentang cinta tanpa terdengar norak atau cheesy.

“Ketika orang bilang, ‘Mana nih petikan gitarnya? Kok sekarang beda banget!’ Ketika saya mengikuti pendengar, saya tidak akan menjadi pemusik sebenarnya. Bisa disebut sebagai pendewasaan,” jelas Is.

Is juga menegaskan bahwa dirinya tidak puitis-puitis amat dalam menulis lagu. Dia memberi contoh lirik-lirik yang ditulisnya cukup eksplisit.

“Dari album pertama dan kedua, sebutkan lirik puitis? Enggak ada! ‘Aku ingin berjalan bersamamu,’ (lirik lagu Resah) Apanya yang puitis? ‘DI penghujung malam, menuju pagi yang dingin,’ (lirik lagu Untuk Perempuan Yang Sedang Di Pelukan) Apa yang puitis? Saya menulis lagu itu setengah tiga pagi dan lihat anak istri saya tidur cantik banget, kemudian saya tulis, ‘Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya.’ Itu enggak puitis! Puitis itu soal rasa. Kalau kata Pak Sapardi (sastrawan Sapardi Djoko Damono) puisi bagus pada saat yang tepat.”

Is merasa apa yang dilakukannya dalam album ketiga Payung Teduh adalah sebuah gaya penulisan lirik yang lugas. Satu hal yang Is pegang di album ketiga, dia tetap mempertahankan identitas lirik bahasa Indonesia yang selama ini diusung Payung Teduh.

Soal kelugasan lirik dalam album ketiga Payung Teduh, kami belum dapat memberikan ulasan. Saat artikel ini ditulis, materi album ketiga yang mereka rilis baru Akad. Saat kami temui, Is mengatakan masih harus rekaman vokal untuk satu lagu lagi. Is juga mengisyaratkan dalam waktu dekat Payung Teduh akan merilis singel kedua dari album baru. Kemungkinan besar lagu yang akan mereka rilis setelah Akad  berjudul Di Atas Meja.

Pada semester pertama tahun ini, Payung Teduh merilis album Payung Teduh Live at Yamaha Live and Loud. Sebuah album yang direkam secara live lengkap dengan iringan orkestra yang terdengar megah. Materi album itu diambil dari album pertama dan kedua Payung Teduh.

Setelah terakhir kali merilis album pada 2012, album live itu seperti menjadi penawar rindu bagi penggemar Payung Teduh. Is menjelaskan bahwa gagasan album live bukan datang dari pihak Payung Teduh. Album itu terlahir secara “spontan” atas tawaran kerjasama dari pihak Yamaha.

“Itu bukan keputusan kami. Biasa, ngobrol sama Yamaha soal bisnis. Mereka menawarkan bikin video konser live bersama Yamaha. Terus gue tantang balik, kami ingin mini orkestra. Akhirnya terjadi hal itu. Itu mengalir, tidak ada di rencana kami awalnya. Terus kami tawarkan ke teman-teman bagaimana jika pre-order album orkestra itu ternyata minatnya tinggi. Order 1.000 habis, 2.000 habis.”

Dengan segala yang dialami Payung Teduh dalam rentang sekitar satu dekade ini, Is menyadari hal yang paling baik adalah perubahan.

“Kalau soal fase, saya pikir semua orang akan berada di sebuah fase dan akan menjelang fase yang berbeda terus. Orang bilang musik Payung Teduh berbeda, liriknya berubah. Hal paling bagus adalah perubahan. Mau itu disengaja atau tidak disengaja, itu menunjukkan kita dinamis.”

“Kalau dibilang waktu di Dunia Batas  terdengar ngalir banget, ini justru saya lebih ringkas lagi dalam menulis lagu. Semua lagu saya tulis dari handphone. Saya melihat orang di sosmed komentar ‘Kapan diajak nikah?’ Saya lihat orang se-desperate itu tentang pernikahan. Mengapa harus menunggu orang melamar. Lagu Akad itu saya bilang tamparan buat cewek, karena jahat kalau lo menunggu orang untuk melamar. Bilang saja, ‘Mas nikahin gue, kalau enggak kita udahan.’ Itu bukan ancaman tapi tantangan.”

Sebelum menutup wawancara, Is memberikan sebuah pernyataan menarik soal album baru mereka. Sebuah kalimat yang cukup gamblang menegaskan keadaan mereka pada saat ini.

"Biarkan kalian menikmati sensasinya. Payung Teduh tetap akan menjad Payung Teduh. Kalau musiknya jadi berisik, ya Payung Teduh (sedang) pengin berisik."




(DEV)