Indra Lesmana Menerjemahkan Erupsi dan Pesan Alien

Agustinus Shindu Alpito    •    05 Juli 2018 11:35 WIB
indonesia musik
Indra Lesmana Menerjemahkan Erupsi dan Pesan Alien
Indra Lesmana Project (Foto: Shindu Alpito)

Pada suatu pagi di bulan September 2017, Indra Lesmana yang kini menetap di Bali, menjalani rutinitas seperti biasa di studio musiknya. Namun, ada yang berbeda pada momen itu, gejolak erupsi Gunung Agung. 

"Saya masuk studio menyalakan keyboard tapi bunyinya noise terus," kata Indra beberapa waktu lalu.

Entah suara bising itu muncul dari perangkat musik atau dari dalam benak Indra, yang jelas dia tidak ingin melupakan peristiwa itu begitu saja. Indra lantas menerjemahkan bunyi bising momen erupsi Gunung Agung itu jadi sebuah proyek musik dahsyat, Indra Lesmana Project.

Indra Lesmana Project (ILP) terdengar seperti nama yang terlalu kalem untuk jenis musik yang diusung, progresif metal. 

Indra menggelar audisi besar-besaran untuk memilih personel ILP, terkecuali bassist. Indra memilih Shadu Rasidji tanpa proses audisi terbuka. Perjalanan mencari yang tepat untuk mengisi divisi drum, dua gitar dan vokalis tidak mudah.

"Ada 110 drummer, 150 gitaris dan lebih dari 200 vokalis ikut audisi via Instagram. Mereka main overdub (dengan materi yang diberikan Indra). Mereka tampil langsung di Instagram dengan tanda pagar #ilpmusic. Kemudian mereka email background musik mereka. Proses ini terjadi selama dua bulan. Kemudian kami langsung rekaman melalui digital di dunia maya," kisah Indra.

Dari hasil audisi, terpilih Togar (vokalis), Hata Arysatya (drummer), Karis (gitaris) dan Rayhan Syarif (gitaris).


(Togar, Foto: Shindu Alpito)

Metode rekaman yang dilakukan Indra cukup ekstrem bagi sebuah band baru, yaitu rekaman tanpa tatap muka dan hanya mengandalkan dunia maya. Beberapa personel pada saat rekaman bahkan belum pernah berkenalan secara langsung. Namun pada kenyataannya metode ini berjalan dengan baik. Sangat baik. Hasil rekaman maya ILP dapat didengar dalam album Ascension yang terdiri dari empat lagu.

"Bulan April 2018 kami selesai rekaman, kemudian kami audisi sound engineer. Kami ingin punya engineer yang tahu maunya kami."



(Rayhan Syarif, Foto: Shindu Alpito)

Indra lebih dulu dikenal sebagai musisi jazz. Sesuatu yang mengejutkan di usia 52 tahun, Indra justru menjajal hal baru melalui ILP. Tentu proyek ini butuh lebih dari sekedar mimpi. Dalam ILP, Indra bekerjasama dengan para musisi muda. Ray sang gitaris bahkan baru berusia 21 tahun. Kurang dari separuh usia Indra. Perbedaan latar belakang itu bukan halangan, toh mereka tetap padu untuk urusan musik.


(Hata, Foto: Shindu Alpito)

Bagi Indra, ILP sebenarnya bukan saja sebuah band. Tetapi jadi medium bagi Indra untuk berbagi pada generasi muda.

"Buat saya pribadi saya kangen ngeband, saya sudah melalui fase elektronik. ada satu hal yang menjadi sesuatu pengin main musik, yaitu main secara live. di Indonesia banyak banget musisi bagus mereka hanya main di kamar karena tidak punya output."

"ILP bukan hanya sebuah band, tapi sebuah gerakan. Mudah-mudahan lewat ILP ini akan bermunculan kembali musisi-musisi lain yang bagus-bagus."


(Shadu, Foto: Shindu Alpito)

Soal selera, Indra tidak menampil bahwa dirinya juga menikmati musik keras, terutama pada aliran djent.

"Saya bukan penggemar berat death metal, saya suka musik djent seperti Meshuggah atau Animals as Leaders atau technical metal."


(Karis, Foto: Shindu Alpito)

Menangkap Pesan Alien

Ascension merupakan album yang lahir dari gagasan Indra akan mahkluk luar angkasa yang datang ke Bumi. Kehadiran mereka dimaknai Indra akan membawa dua perubahan besar, satu menuju kehancuran dan satu menuju keselamatan. ILP membagi dramaturgi hubungan alien dan manusia itu dalam empat babak; AwakeningAcknowledgeAscension dan Acceptation.

"Album Ascension bercerita tentang kedatangan alien ke Bumi. Satu kasih virus jahat satu virus baik. Tujuan alien memusnahkan kehidupan manusia di Bumi dan  menguasai Bumi tujuannya. Kemudian ada alien baik kasih tahu awakening untuk melawan."

"Part kedua Acknowledge. Manusia dapat wisdom bagaimana caranya mengatasi hal negatif, tetapi manusia enggak mendengarkan. Kemudian bagian Ascension, manusia diajak ke planet lain dibawa pergi untuk dikasih wisdom. Terakhir, Acceptation atau penerimaan," jelas Indra.

Indra secara resmi memperkenalkan ILP ke publik pada 27 Juni 2018, lewat sebuah konser. Konser itu sekaligus aksi panggung pertama ILP setelah masa karantina. Layaknya sebuah gunung yang tengah erupsi, ILP mampu memuntahkan energi berlebih pada pendengarnya. Mereka bukan saja menghadirkan kecepatan, ketepatan dan racikan notasi yang rumit, tapi juga harmonisasi yang terukur.


(Konser perdana ILP, Foto: Shindu Alpito)



 


(ASA)