Samsons Mencoba Perkasa Lagi

Agustinus Shindu Alpito    •    20 Januari 2017 14:10 WIB
indonesia musik
Samsons Mencoba Perkasa Lagi
Samsons (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Metrotvnews.com, Jakarta: Berawal dari persahabatan, Samsons tumbuh tidak saja sebatas grup musik, tapi juga keluarga. Hal itu tercermin saat mereka bertandang ke kantor kami.

Irfan Aulia Irsal, Erik Partogi Siagian, Aldri Dataviadi, Chandra “Konde” Christianto, dan Ariadinata tampak melebur dengan candaan dan komunikasi yang cair.

Samsons sangat relevan bagi generasi muda yang tumbuh di era 2000-an awal. Pada 2006, mereka mencuri perhatian lewat singel Naluri Lelaki. Grup dengan nama macho melahirkan singel yang terdengar maskulin pula. Begitulah menggambarkan kehadiran Samsons lewat singel Naluri Lelaki kala itu.

Lain dulu, lain sekarang. Samsons sudah tidak lagi bersama Bams, sang vokalis karismatik. Tanpa Bams, bukan berarti Samsons tak gagah lagi. Aria yang didaulat sebagai vokalis mampu memegang kendali dengan karakter vokal yang tak kalah menarik.

"Waktu di album keempat (Perihal Besar, 2013), sewaktu Aria baru masuk, kami coba branding, kalau membuat musik itu rangkuman lima kepala (seluruh personel). Lima kepala yang dulu, itu yang dulu, yang sekarang seperti ini, kami harus bisa impresif satu sama lain. Dua album terakhir mengalir begitu saja," kata Irfan.

Beruntung, Aria tidak merasa terbebani dengan status pengganti Bams. Itu artinya, Samsons bisa lepas dari bayang masa lalu dan melaju dengan apa adanya.

"Kalau beban sudah tidak ada, gue sudah ngumpul sama mereka sejak 2012, jumlah tahun bersamanya sebenarnya sama seperti Bams (Terhitung dari rilisnya album debut, keberadaan Bams di Samsons selama 6 tahun). Sampai sekarang orang masih bilang gue vokalis baru, padahal sudah cukup lama. Wajar karena karakter Bams kuat," kata Aria.


Samsons (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Bukan Band Kemarin Sore

Menuju album kelima, Samsons merilis singel berjudul I Love You. Singel ini terbilang beda dibanding hit Samsons sebelumnya. I Love You menyiratkan energi positif, semangat, juga progresi kord yang optimis. Beda dibanding lagu patah hati Samsons macam Kenangan Terindah.

"Kami identik dengan ballad patah hati, di lagu ini kami membuat antitesa, lagunya justru positif, up-beat, dan stomping. Ada rasa bahagia, rasa senang. Waktu kami bikin lagu ini, kebetulan Konde baru menikah. Lagu ini cukup merepresentasikan dari 12 lagu yang ada di album baru mendatang," ungkap Irfan.

Album baru yang dimaksud Irfan rencananya rilis di kuartal kedua tahun ini. Melihat respons dari singel I Love You, bukan tidak mungkin Samsons kembali menunjukkan keperkasaannya menaklukkan industri musik, seperti yang pernah dilakukannya dulu.

"Responsnya (singel I Love You) di media sosial bagus. Di YouTube, Spotify bagus, di Spotify sudah 100 ribuan kali diputar, lumayan untuk band medioker yang umurnya sudah medioker," kata Irfan sembari tertawa.



Samsons bukan band kemarin sore. Mereka sudah kenyang pengalaman di industri musik. Meski iklim industri sangat berbeda, antara saat kehadiran awal dulu dan sekarang, mereka tak goyah. Mereka menceritakan bahwa sejak awal memutuskan terjun ke dunia musik, Samsons selalu mengambil langkah-langkah berani. Tapi, bukan berarti tanpa strategi dan rencana matang.

“Dulu Samsons pinjam uang Rp250 juta, pada 2005. Bunganya 15% pada zaman itu, uang itu untuk produksi album pertama. Dari awal kami independen, bikin video musik sama Khemod (drummer Seringai), kami bayar utang begitu royalti keluar," kenangnya.

Dengan semangat independen itu, Samsons mengaku tidak kagok dengan tren embel-embel independen yang belakangan memang semakin santer terdengar.

“Kalau ngulik soal Samsons, pasti tahu kalau kami independen dari awal. Kerjasama dengan label, kami ber-partner master license dengan Universal. Universal dikasih barang bagus, kami diberi link bagus.”

“Orang memahami independen lebih kepada tidak diatur, suka-suka sendiri, tetapi tidak ada yang full independen. Pemahaman independen terdistorsi, band-band yang mencoba independen pada akhirnya tetap bekerjasama dengan partner yang non-independen.”

“Kita fully independent dalam mengelola band dan musik kami, manajemen sendiri, publishing sendiri, label pakai partner, brand kami kelola sendiri,” jelas Irfan.

Dalam lawatannya ke Metrotvnews.com, Irfan memang tampak menguasai sekali pemahaman soal bisnis musik dari hulu ke hilir. Bahkan, Irfan sangat mafhum soal seluk-beluk aturan hak cipta. Selain bertindak sebagai gitaris Samsons, Irfan menjadi bagian dari WAMI (Wahana Musik Indonesia). Sebuah lembaga manajemen kolektif yang mengelola karya cipta musik untuk mendapat hak-hak sepatutnya.

Hidup dari Musik

Tantangan bagi para musisi adalah hidup dari musik. Tentu ini tidak lepas dari bagaimana mereka mampu memberdayakan karya cipta untuk menjadi penggerak kehidupan musisi secara utuh. Termasuk soal urusan dapur.

Samsons lahir di era transisi distribusi musik ke digital. Era di mana RBT (Ring Back Tone) memberi rupiah yang berkelimpahan di kantong mereka. Namun, itu dulu.

"Angka itu relatif, kami hanya menysukuri apa yang kami dapat dulu. Kenangan Terindah lagu (yang memberi masukkan RBT) terbesar, lebih (dari 2 miliar). Untuk menggambarkan, kami mendapat 55 Platinum. Record achievement," kata Irfan.


Samsons menjalani rekaman untuk album terbaru (Foto: dok. Samsons)

Samsons menyadari bahwa mereka harus ikut menyesuaikan perkembangan yang ada kini. Mereka mengamini bahwa pemasukkan terbesar musisi Indonesia saat ini dari penampilan langsung. Meski demikian, keran-keran lain harus digali potensinya. Di antaranya dengan menjaga royalti digital, monetisasi karya di internet, dan peduli soal hak cipta.

“Menurut gue, bagaimana musik dijual dalam habitatnya. Sekarang tidak ada habitatnya, Apple perusahaan IT, yang menjual CD rumah makan. Sekarang harus bisa combine, musisi harus adaptif. Band itu brand. Ketika bicara band sebagai brand, harus punya unsur lagu yang bagus, fashion statement, performance termasuk attitude, skill, dan luck. Lima elemen itu harus berfungsi baru bisa di-treat as a brand.

“Pendana utama live performance di dunia itu rokok, termasuk di Indonesia. Tapi di Indonesia pendanaan live performance musik dari rokok disetop. Sejak 2013 kucing-kucingan dengan pemerintah soal pendanaan dari rokok. Padahal itu pundi-pundi utama ketika record industry sedang berubah. Di Indonesia market tidak terdidik untuk membeli tiket. Lalu kami bagaimana caranya mengeruk pundi-pundi? Kami adaptasi terhadap market dan perkembangan dalam mencapai pendengar musik kita. Musisi ingin musiknya bermanfaat. Kita bersyukur perkembangan kita di medium itu (digital) bagus," tutup Irfan.




(ELG)

Sempat Terlilit Utang, Souljah Kini Menuju Dua Dasawarsa

Sempat Terlilit Utang, Souljah Kini Menuju Dua Dasawarsa

2 weeks Ago

Memulai langkah dengan 'nekat', Souljah kini menjadi salah satu band reggae cukup diseg…

BERITA LAINNYA