Momen Bersama Jeane Phialsa dan Mimpi Besarnya

Cecylia Rura    •    12 Maret 2018 09:00 WIB
indonesia musik
Momen Bersama Jeane Phialsa dan Mimpi Besarnya
Jeane Phialsa (Foto: instagram @jeanephialsa)

Jakarta: Usia Jeane Phialsa baru 24 tahun. Di usia semuda itu, drummer yang kerap disapa Alsa ini sudah mengiringi banyak musisi besar di Indonesia seperti Iwan Fals, Rossa, Krisdayanti, Afgan hingga Erwin Gutawa.

Nama Alsa mulai dikenal khalayak luas ketika bergabung dalam Setia band bersama Charly van Houten dan Pepeng pada 2012. Di usia yang masih belasan kala itu, apa yang diraih Alsa tentu sebuah capaian tersendiri. Apalagi, sebelum itu Alsa kerap tampil bersama Erwin Gutawa Orkestra.

Alsa mulai belajar drum sejak umur 8 tahun. Di usia sebelia itu, Alsa sudah memelajari drum band cadas seperti Dream Theatre dan Metallica. Melintasi banyak genre, pada jazz hati Alsa akhirnya terpaut.

Mengiringi musisi solo, tampil bersama orkestra dan mengisi kemudi drum sebuah band sudah dijalani Alsa. Seolah belum puas, Alsa menyempurnakan perjalanan musiknya dengan memiliki album solo berjudul The Moment with You yang dirilis pada 2015.  

Hingga kini, Alsa masih menjadi session player di sejumlah musisi dan band seperti Base Jam. Dia juga tergabung sebagai personel tetap grup musik Fussion Stuff.

Alsa pernah meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Drummer Wanita Profesional Termuda 2014 serta Pemain Drum Paling Ngetop SCTV Music Awards 2013. Tak salah jika Alsa menjadi idola baru di industri musik Indonesia.  

Merasa penasaran, saya membuat janji bertemu dengan wanita yang kini berstatus sebagai mahasiswi jurusan Hukum di Universitas Indonesia itu. Wawancara kami lakukan di kawasan Cikini. Alsa yang kini menjadi idola generasi millenial tampak seperti mahasiswi dan remaja lain: sederhana dan apa adanya. Dia juga ramah, seperti yang kerap tunjukkan dalam daily vlog di saluran Youtube-nya.  

Cecylia (C)
Jeane Phialsa (JP)

C: Bagaimana awal mula Jeane bisa menekuni alat musik drum?

JP: Awalnya waktu umur lima tahun. Ada sepupu yang memang pas di acara keluarga dia bawa drum. Terus entah kenapa tertarik banget karena melihat sepupu aku main drum, ekspresif. Secara alat juga, drum lebih enak, lebih menarik dilihat anak kecil kan. Waktu itu masih asal-asal mukul. Enggak tahu kenapa, wah ini kayaknya ingin banget (main). Cuma pas bilang sama orangtua enggak langsung diiyakan. Dipikir kan kalau anak kecil bakal berubah-ubah keinginannya. Sekarang mau jadi drummer, besok mau jadi dokter, lalu jadi arsitek.

Terus kata mama, mungkin kayaknya (aku) asal ngomong. Dia bilang katanya tunggu umur 8 tahun, deh. Soalnya kalau 5 tahun kekecilan, terus enggak ada guru yang mau, dibohongi gitu ceritanya. Dari situ ya sudah aku nunggu tuh, kira-kira 3 tahun. Pas kelas 3 SD pas banget kenaikan, langsung nagih sama mama waktu itu. "Ma, Adek (Alsa) sudah umur 8 tahun, nih. Kapan les drumnya?"

Mama kaget tuh, ternyata ini anak beneran ingin, kirain sudah lupa. Dari situ mama kayak, dia (Alsa) sudah nunggu lama akhirnya sama mama dimasukin kursus drum. Nah, di situ kayak coba drum. Terus aku sempat les bass, gitar klasik juga, sempet les piano, biola, pernah les nyanyi. Cuma entah kenapa kayak aku berhentinya di drum doang. Entah kenapa, yang sampai saat ini ditekuni drum doang.

C: Kenapa memilih drum?

JP: Jadi sebenarnya semua instrumen musik sudah dicoba, cuma kayak enggak tahu kenapa lebih tertarik drum. Mungkin itu kali ya lebih ekspresif, terus kayak jadi backbone-nya band, ya. Kalau misalnya drummer-nya kurang bagus kayaknya band-nya jadi kurang bagus. Nah sebaliknya, kalau misalkan band-nya enggak bagus-bagus amat tapi kalau drummer-nya bagus, kayaknya dapat gitu. Jadi, kayak walaupun posisinya di belakang, tapi sebenarnya pengaruh banget.

Tahun 2003 itu masih jarang banget, kan. Kalau sekarang kayak mungkin sudah banyak, tapi waktu 2003 itu yang saya tahu kayak Titi Rajo Bintang. Drummer cewek di Indonesia yang top dia doang. Makanya kayak wah, something new saja buat aku, kayak challenge tersendiri.

C: Apakah bisa dibilang Titi Rajo Bintang jadi inspirasi buat Alsa?

JP: Lumayan sih, pendorong juga. Maksudnya ketika aku kayak mikir perempuan bisa enggak ya (nge-drum)? Tapi kayaknya bisa, deh. Soalnya sudah ada yang muncul, gitu.


Jeane Phialsa berbincang dengan Medcom.id di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)


C: Alsa pernah minder enggak sih kalau dianggap pukulan drum-nya tidak sekuat cowok?

JP: Dulu sih pernah karena masih belajar, kan. Jadi kayaknya semakin kencang semakin oke gitu. Cuma ke sini-sini kayak sudah sering main di orkestra, sudah sering main sama senior-senior jadi belajar kalau musik itu enggak melulu harus kencang. Apalagi drum ya, drum kan alat musik akustik. Power tuh dikendalikan sama tangan sendiri. Kalau alat lain kan bisa volume-nya. Cuma lama-kelamaan jadi semakin belajar yang penting itu enak didengar, terus groove-nya berasa. Jadi kalau orang main kencang tapi tone-nya enggak enak kan percuma, jadi gombrang-gombreng gitu kan?

Sekarang prinsip aku main drum enak dulu deh di kuping. Power pun kayak menyesuaikan sama musiknya, sih. Enggak kayak misalnya musiknya pelan, enggak mungkin kita mainnya kencang juga.

C: Di YouTube Alsa sering memberikan pelajaan drum. Apa Alsa juga benar-benar mempelajari teknik bermain drum secara teori? Seberapa penting teori bagi Alsa?

JP: Karena aku berangkatnya dari kursus drum. Jadi, dari awal banget sudah belajar teori. Soalnya, penting sih sebenarnya. Walaupun otodidak tapi setidaknya otodidaknya harus banyak belajar dari buku. Karena itu penting banget buat kita kalau misalnya profesinya jadi musisi. Lebih efektif saja menjalani kerjaannya sebagai musisi.

Misalnya session player kayak aku kan main di banyak proyek, banyak music director, banyak orkestra. Dalam seminggu saja main lima kali, terus satu event itu misalnya 10 lagu, itu susah. Dalam seminggu harus mengingat 50 lagu enggak mungkin, kan? Makanya dari situ, musisi itu harus bisa baca partitur. Mengerti teori itu penting banget karena sebagi dasarnya. Kalau pondasinya enggak kuat tuh kayaknya agak ringkih untuk jadi musisi.

C: Dulu Alsa sempat kursus di mana?

JP: Pertama kali aku di Ritmik Musik punya Sandy Andarusman (Pas Band). Jadi di situ karena secara yang punya rocker ya, waktu aku umur 8 tahun belajarnya dari musik Dream Theatre, Metallica, Deep Purple. Kencang semua musiknya. Tapi setahun di sana aku kayak ingin maju, ingin belajar hal yang lain. Akhirnya aku masuk ke Farabi (Farabi Music School). Farabi itu lebih menekankan ke swing jazz. Jadi kan bertolak belakang nih. Aku sih bersyukurnya dapat dua hal itu karena jadi kayak balance, dalam arti kalau aku main jazz ayo, main rock ayo, main di tengah-tengah, pop juga ayo.

Awal-awal main drum power-nya harus kencang gitu. Guru aku juga rocker, namanya Mas Endro. Main drum harus kencang. Terus tiba-tiba aku ke Farabi sama beberapa musisi jazz yang katanya enggak boleh kencang karena kita harus saling mendengarkan satu sama lain. Enggak boleh main sendiri. Jadi, aku kayak punya power tapi aku bisa kendaliin.


C: Alsa sekarang tergabung dalam grup musik jazz Fusion Stuff dengan aliran musik fusion jazz. Untuk meramu musik jazz itu bagaimana? Karena musik-musik dalam album tersebut sepenuhnya mengandalkan instrumen musik tanpa vokal.

Sebenarnya untuk yang mendengarkan (awam) kayak susah, ya. Kayak agak lebih chord-nya banyak, harmonisasinya juga agak unik. Cuma di jazz itu kita bebas berekspresi. Ketika rock itu kayak yang penting power, pop itu lebih kayak diatur segala sesuatunya, kalau jazz itu lebih bebas. Jadi sebenarnya dengan aku main jazz bukan jadi tekanan buat aku sih karena kayaknya kalau orang dengar itu kan sulit sekali.

Justru aku di sana malah jadi lepas di situ karena jazz itu musik idealis, bukan musik buat bisa jualan. Kalau jazz banget itu kayak lebih ke idealis, yang ngerti itu hanya pendengar jazz. Jadi lebih ke eskpresi itu. Cuma memang tetap harus kembali lagi ke teori, harmonisasi dan segala macam. Jadi kayak aku merasa di jazz lebih lepas, sih.


Alsa bersama Fussion Stuff (Foto: medcom)

C: Kemarin sempat berkolaborasi dan main dalam grup Kahit(s)na. Bagaimana rasanya Alsa bermain di sana?

JP: Permainan pop, tapi kayak R&B juga. Soalnya kayak kemarin kiblatnya agak ke Bruno Mars, sih. Secara aransemen kan, kita mengubah aransemen Kahitna yang asli. Kita lebih kayak modern, lah. Ya, pop modern kali ya kalau bisa dibilang gitu.

C: Siapa drummer Indonesia yang paling menginspirasi Alsa?

JP: Karena aku senang banget sama drummer yang mainnya enak, aku senang Rayendra Sunito. Dia drummer-nya Glenn Fredly yang suka main sama Trio Lestari juga. Aku melihat Mas Rayen sangat skillful, tapi dia tahu penempatan yang tepat buat dia mengeluarkan skill. Sebagai pengiring yang enak tapi punya skill.

C: Pernah belajar langsung pada Mas Rayen?

JP: Pernah belajar sih sama dia waktu SMP, private gitu. Cuma 3 bulan. Sebenarnya pola belajarnya Mas Rayen itu kayak pola latihannya dan memang benar Mas Rayen enggak ngajarin main biar kelihatan jago, tapi gimana caranya kita main bisa serapih dan seenak mungkin. Kayak groove banget.

C: Kalau drummer internasional favorit?

JP: Steve Gadd, karena mainnya lagi-lagi enak banget, enak didengar, groove-nya enak banget. Karena beberapa drummer ada yang suka main ribet-ribet, cuma aku lebih suka dengan drummer yang mainnya enak. Aku lebih ke arah Steve Gadd, drummer-nya David Foster, JJ Robinson, drummer yang enak mainnya.


C: Bisa dibilang sekarang drummer perempuan semakin bermunculan. Kalau Alsa sendiri sekarang tujuan bermusiknya apa? Ingin tetap bersama atau tetap pada posisi session player?

JP: Sekarang malah kalau bisa dibilang aku sampai ke tahap musik itu kayak sudah jadi kesatuan sama aku. Aku mau menempatkan musik sebagai hobi aku. Enggak terlalu berobsesi untuk punya plan yang booming atau menjadi session player yang laku banget. Aku bermain kayak, ini loh aku. Mau menunjukkan aku kalau main musik bahagia. Aura bahagia aku bisa sampai penonton dan yang memang senang nonton aku.

Sekarang aku kuliah bukan di bidang musik. Jadi aku kayak punya dua sisi. Dari awal aku enggak mau kuliah musik juga, aku pikir di saat aku menjadikan (musik) sebagai mata pencaharian utama, di situ pasti ada tekanan untuk bisa menghasilkan lebih banyak uang di situ. Membuat aku jadi enggak idealis lagi sebagai musisi, enggak nyeni. Jadi kayak karyawan versi musik. Jadi kalau ditanya ke depannya mau gimana, aku kayak lebih apa yang mau aku pingin. Misalnya aku mau produksi album.

Aku sudah punya album pertama, mau produksi album kedua. Aku ingin jalani band industri ayo. Pokoknya jadi kayak musik itu memang sudah nempel saja di diri aku. Aku menjadikan musik kayak obat bahagia aku lah. Intinya sih jujur belum ada obsesi yang gimana banget. Cuma kalau ditanya mimpi aku di musik aku ingin jadi produser, karena aku senang banget sama musik yang benar-benar tertata rapi.



C: Berarti jika jadi produser ingin musiknya itu bebas tapi tertata rapi?

JP: Iya. Aku ingin suatu saat aku menjadi orang yang bisa memproduksi suatu lagu atau band grup musik benar-benar kualitas yang bagus banget. Di Indonesia musik semakin berkualitas lah. Dari sekarang aku masih belajar gimana caranya membuat musik yang berkualitas itu. Kayak kemarin di Kahit(s)na, aku sudah mulai belajar. Sebenarnya music director-nya Ava Victoria, yang main keyboard. Cuma sama Kak Ava dikasih kesempatan kayak aku megang dua lagu yang benar-benar aransemen aku dan aku bebas untuk atur orang-orang atau musisi-musisi di dalamnya.

C: Di lagu apa?

JP: Lagu Katakan Saja sama Soulmate. Wah, aku benar-benar senang banget karena pengalaman pertama aku yang benar-benar as a music director untuk dua lagu itu. Kayaknya aku bisa deh jadi produser. Kayaknya someday aku bisa nih, sekali jadi produser.

C: Bicara soal album solo pertama, The Moment With You. Apa yang ingin disampaikan lewat album tersebut?

JP: Sebenarnya kalau didengarkan secara keseluruhan satu album beda-beda mood sih. Ada yang ceria, ada yang agak gelap juga mood-nya. Aku punya lagu judulnya Jungle. Lebih ke perkusif lagunya. Benar-benar kita di hutan gitu. Lebih ke imajinasi aku dalam berekspresi. Jadi memvisualisasikan pikiran aku. Aku tumpahin sama nada-nada lewat harmonisasi sama rhythm. Jadi, aku ini orangnya suka berimajinasi.

Aku senangnya di musik itu apalagi instrumental ya. Jadi ini sebenarnya di lagu aku kayak semi scoring pikiran aku. Benar-benar itu ekspresi yang natural buat aku.

Ada satu lagu Coba Dengarkan, aku sisipkan satu vokal di situ karena aku ingin menunjukkan bedanya musik instrumental sama pakai lirik. Aku merasa ini kalau cuma notasi doang sebenarnya kita bisa menyampaikan juga apa maksud dari lagu sesuai judul. Musiknya begini, jadi mereka berkhayal sendiri. Tapi kalau ada liriknya enggak usah terlalu keras untuk berkhayal tapi usdah jelas di liriknya. Jadi buat perbandingan saja sih buat yang dengar, sebenarnya itu tujuannya. Tadinya malah pingin instrumental semua, cuma iseng kayak bonus track.

C: Untuk album ini Alsa ingin dibilang genrenya apa?

JP: Fussion, karena campur-campur. Bisa dibilang pop tapi chord-nya jazz. Bisa dibilang latin tapi ada campuran notasi pop-nya. Jadi benar-benar aku senang campur-campur. Kalau mainstream jazz aku kayak belum terlalu ke situ, yang benar-benar pure jazz.


Jeane Phialsa berbincang dengan Medcom.id di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)

C: Melihat banyak band-band indie mulai bermunculan, bagaimana menurut Alsa?

JP: Wah, bagus banget sih kayak aku menanti masa-masa ini. Aku pingin dari dulu sih cita-cita aku, kapan ya pendengar musik Indonesia bisa lebih lepas untuk menentukan apa yang dia inginkan. Apa aliran yang disuka. Karena selama ini kan di TV itu musik pop, pop lagi, kadang-kadang malah jadi biar laku jadi kacang. Jadi kayak bisa dibilang kurang greget dalam sisi musiknya.

Aku pernah tuh bantu salah satu artis indie label. Musiknya juga indie gitu dan satu event itu indie semua musiknya. Terus ada beberapa band, mereka punya massa banyak banget dan hapal semua lagunya.

Coba dulu apa sih, dari zaman Sheila on 7 musik pop. Terus sempat ada boyband dan girlband. Sempat ada melayu juga. Jadi semuanya ada masanya. Tapi kalau sekarang itu jadi lebih global.

C: Album keduanya (album solo) sudah ada rencana?

JP: Mungkin selesai tesis kali ya. Tahun depan. Doakan saja semoga aku S2 sudah jadi Master Hukum aku bisa meneruskan perjuangan aku kemarin di album pertama dan di album kedua bisa menyajikan musik yang beda lagi.

C: Terkait proyek album kedua akan menggandeng siapa?

JP: Belum kepikiran, masih, ya tahun depan tesis berarti dua tahun lagi.  Soalnya benar-benar sekarang saja musik aku lebih selektif lagi. Benar-benar kuliah S2 agak berat, apalagi di UI. Jadi masih fokus kuliah tapi masih main musik juga. Lebih kurangin (musik) dikit lah.

C: Bagaimana cara bagi waktunya?

JP: Kalau aku sih prioritas ya untuk saat ini karena kuliah itu enggak bisa nunggu. Kalau ditunda-tunda jadi malas. Mood-nya jadi beda. Harus benar-benar diselesaikan. Justru jadi motivasi aku untuk bisa cepat selesai. Begitu sudah selesai bebas mau ngapain.

C: Bisa dikatakan lingkup musik Alsa masih Fussion Stuff dan Kahit(s)na?

JP: Untuk proyek iya, tapi kalau kerjaan beberapa band dan artis. Kayak aku sering bantu Base Jam juga, beberapa kali main sama Danilla. Lagi bantuin Naura, anaknya Nola Be Three yang suka bikin konser anak-anak. Aku bantu orkestra di situ.


Jeane Phialsa (Foto: instagram @jeanephialsa)

C: Ke depan mau kolaborasi sama siapa?

JP: Kolaborasi musiknya, sebenarnya aku ingin banget dikasih kesempatan main sama David Foster karena aku merasa dia salah satu produser yang keren banget sih, banyak hitnya. Terus David Foster bisa melihat penyanyi ini cocoknya di mana dan musiknya menurut aku sangat rapi banget. Jadi kayak pingin coba as a drummer di grupnya dia itu kayak gimana.

C: Kalau sekarang lagi dengar musik apa? Lima rekomendasi lagu dari Alsa?

JP: Bruno Mars pokoknya yang album 24K. Kalau jazz senang dengar Yellow Jackets, semua albumnya. Ketiga, Pat Mettheny. Albumnya kalau jadul, Karimata, band-nya Om Erwin zaman baheula. Kayak fussion yang keren banget di zamannya. Gila ya, selera aku jadul banget. Ini deh lokal, aku senang banget dengar Kahitna karena everlasting yang benar-benar lagu yang dari zaman ke zaman masih didengar.

C: Alasannya?

JP: Karena secara notasi dan harmoni aku banget sih. Kayak aku merasakan itu kalau dengar musik mereka bisa membuat aku menjadi bahagia tersenyum sendiri. Aku suka notasi yang manis dan grup yang enak. Kahitna dan Karimata, semuanya mewakili apa yang aku senang sih. Jadi kalau misalnya orang pingin tahu, sebenarnya selera musik aku kayak gimana agak-agak mirip (Kahitna dan Karimata). Yang agak benar-benar beda itu Bruno Mars.

 


(ELG)

Tashoora, Invasi Berbahaya Sekstet dari Yogyakarta

Tashoora, Invasi Berbahaya Sekstet dari Yogyakarta

14 hours Ago

Dalam musik yang energik sekaligus kontemplatif yang diramu Tashoora, terlantun lirik-lirik pui…

BERITA LAINNYA