Agnez Mo dan Jalan Menuju Grammy

Agustinus Shindu Alpito    •    19 Mei 2017 13:45 WIB
indonesia musik
Agnez Mo dan Jalan Menuju Grammy
Agnez Mo (Foto: Antara/Teresia May)

Metrotvnews.com, Jakarta: Jika industri musik dunia adalah muara dari perjalanan karier musisi, maka trofi Grammy Awards adalah pengakuan sah atas kedigdayaan menaklukan industri serta embel-embel "sertifikasi" kualitas. Namun, tidak semua penyanyi beruntung mendapatkan Grammy. Nama besar dan karya yang populer tidak bisa jadi jaminan memboyong piala berbentuk gramofon mini itu.

Katy Perry - setidaknya hingga artikel ini ditulis - dan grup musik Queen adalah contoh  mereka yang kurang beruntung di ajang Grammy. Meski kita sama-sama tahu bagaimana pengaruh besar Queen dalam sejarah rock, juga musikalitasnya yang begitu memukau.

Impian meraih Grammy merasuk ke nadi musisi dari seluruh dunia, tidak terkecuali Agnez Mo. Bintang pop Indonesia itu tergolong visioner dalam menapaki kariernya.

Agnez adalah satu dari sedikit penyanyi Indonesia yang berani menapakkan kaki ke dunia yang lebih luas. Atau bahkan bisa disebut, bertarung di "kancah utama" musik dunia.

April 2014, Agnez mengejutkan publik Indonesia lewat singel bercitarasa internasional, Coke Bottle. Hingga artikel ini ditulis, video musik Coke Bottle ditonton lebih dari 12 juta kali.


Agnez Mo (Foto: Antara/Teresia May)

Tidak tanggung-tanggung, lagu itu diproduksi Agnez dengan melibatkan Timbaland dan T.I. Nama besar Timbaland tentu bukan jaminan kesuksesan seorang artis yang ditanganinya, tetapi nama itu cukup untuk validasi karier internasional seorang penyanyi.

Timbaland punya pengaruh dalam ranah musik pop berbalut hip-hop dan R&B. Dia memiliki rekam jejak yang baik, pernah bekerjasama dengan Jay Z, Rihanna, Justin Timberlake, Missy Elliot, dan banyak lagi. Rekam jejak itu menjadi bekal yang lebih dari cukup bagi Agnez untuk menapaki karier secara global.

Tiga tahun sejak dirilisnya Coke Bottle, Agnez belum juga menunjukkan materi atau bahkan album "internasional" lain. Hal ini justru menimbulkan tanya, sejauh mana Agnez mempersiapkan materi-materi baru itu?

"Tim kami cukup perfeksionis, dari dulu saya enggak pernah merilis album satu tahun sekali. Bahkan ada yang satu album dalam empat tahun. Alasannya bukan karena kami enggak bisa produksi. It's so easy going to studio to produce. Kami mau setiap produk yang kami launch ada meaning-nya. Ada sesuatu yang berbeda," tegas Agnez saat ditemui Metrotvnews.com, Kamis (18/5/2017), di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Dalam kesempatan itu Agnez mengatakan akan segera kembali ke Amerika Serikat untuk produksi musik. "Saya tanggal 20 (Mei 2017) akan balik ke sana," kata Agnez.


Agnez Mo (Foto: Antara)

Melihat kerja keras Agnez, juga sosok-sosok di belakangnya, rasanya Agnez menargetkan sesuatu yang besar. Sebuah harapan akan pencapaian tertinggi dalam industri musik dunia. Saat ditanya apakah Agnez mengincar trofi Grammy Awards, dengan optimis dia menjawab, "Harus dong. Semua goal-nya harus tinggi. Harus fokus dengan how to make the product better."

Keyakinan Agnez bisa saja terwujud. Perlahan namun pasti, Agnez mendapat pengakuan level global. Pada 2011 Agnez berhasil masuk dalam nominasi MTV Europe Music Awards kategori Best World Wide Act (Asia and Pacific).

Keputusan Agnez untuk menjalin kerjasama dengan produser top dunia adalah langkah berani. Agnez mengakui nyaman bekerjasama dengan tim di Amerika Serikat, yang dia sebut sudah seperti sahabat-sahabatnya.

"(Saya bekerja dengan ) one of the top (produser). Kami partner dengan manajemen yang kuat di sana. Manajer Justin Timberlake, Akon, orang-orang yang (bekerjasama dengan saya) adalah orang-orang yang dulunya bekerja sebagai tim produksi Justin Timberlake. Kebetulan saya dengan Timbaland dekat, (tim yang sama dengan) yang dipakai oleh Justin Timberlake. Pada akhirnya secara natural sudah berjalan begitu saja," kata Agnez.

Perempuan 30 tahun itu juga membeberkan alasan bekerjasama dengan tim-tim terbaik asal Amerika Serikat.

"Mengapa saya memilih untuk di sana? To be the best, you've to learn with the best! Kebetulan di genre yang saya suka, yang pop-rythmic, hip-hop, urban, itu para produser (yang terbaik ada) di sana. Kebetulan mereka punya pengalaman yang lebih dari kita, tentang bagaimana membuat hit. Kebetulan mereka sendiri sudah seperti teman, jadi ya why not," seloroh perempuan yang sudah mengawali karier di dunia musik sejak usia 6 tahun itu.

Dengan pengalaman-pengalaman itu, Agnez tidak gelap mata tertutup embel-embel "tim produksi internasional." Baginya, apa yang dia lakukan bukan soal bekerja dengan tim asal Amerika atau Indonesia, tetapi dengan sosok-sosok yang memiliki kualitas dan kapabilitas yang dia butuhkan.

"Soal etos kerjanya tergantung. Di sana juga ada yang etos kerjanya biasa saja, ada yang jelek, atau yang bagus itu bagus banget. Sama seperti di sini, di Indonesia juga begitu. Itu semua tergantung dengan siapa kita bekerja."



Perjalanan Agnez ke titik sekarang cukup panjang. 12 tahun lalu, ketika Agnez belum genap dua puluh tahun, dia sudah bekerjasama dengan Keith Martin. Kemudian pada 2010, Agnez mendapat pengalaman berharga menjadi salah satu pemandu acara karpet merah dalam ajang American Music Awards, di Los Angeles. Belum lagi pengalaman akting Agnez di sejumlah sinetron dalam negeri, dan serial drama Taiwan (The Hospital, dan Romance In the White House). Secara mental, tentu kita tidak perlu meragukan Agnez. Dan apa yang dia capai sekarang, bukanlah hasil yang dibangun dalam sekejap.


(ELG)

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

4 days Ago

Guruh juga mengingatkan jika generasi muda tidak lagi peduli akan bahasa Indonesia yang baik da…

BERITA LAINNYA