Yockie Suryoprayogo: Kita Mulai Krisis Norma

Agustinus Shindu Alpito    •    09 Desember 2016 17:04 WIB
musik indonesia
Yockie Suryoprayogo: Kita Mulai Krisis Norma
Yockie Suryoprayogo (Foto: Agustinus Shindu Alpito)

Metrotvnews.com, Jakarta: Nama Yockie Suryoprayogo tidak bisa dilepaskan begitu saja dari perkembangan musik populer dan rock di Indonesia. Selain tercatat menjadi bagian dari grup musik God Bless, Yockie juga pernah berada di balik lahirnya karya-karya besar, antara lain album Badai Pasti Berlalu, musik dari Chrisye, Berlian Hutauruk, hingga Fariz RM.

Lahir pada tahun 1954, Yockie telah melewati berbagai situasi sosial di Indonesia. Bahkan melewati masa Orde Lama, Orde Baru, dan era demokrasi sekaligus. Namun, ada hal yang menurut Yockie harus diperhatikan pada era saat ini, terutama dalam kehidupan sosial.

"Saat ini, norma telah terancam. Begitu norma terancam, kehidupan tata kelola bermasyarakat berubah semuanya. Itu bisa berakibat kita kehilangan panduan. Tata krama itu seperti apa. Ketika tata krama sudah tidak tahu lagi, kita pun jadi tidak tahu etika," kata Yockie saat ditemui Metrotvnews.com di Hard Rock Cafe, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

"Apa itu tata krama? Zaman dulu, era sebelum saya ada primordialisme, feodalisme, strata sosial masyarakat kita musuhi. Itu menjadi keliru, di balik norma lama, norma primordialisme dan feodalisme, ada sistem nilai yang menjadi pijakan untuk tata krama. Misal sebagai pegawai dalam menghadapi atasan, ada norma yang dijunjung, tetapi itu tidak termasuk feodalisme. Norma tidak bisa diterjemahkan secara tekstual," jelasnya.

Apa yang diutarakan Yockie tidak lepas dari situasi negara yang terus bergejolak, terutama soal gesekan antara golongan yang seolah menyangkal bahwa kita adalah negara yang lahir dari keberagaman.

Menurut Yockie, jika kita sudah tidak lagi mengedepankan persatuan, kita harus mempertanyakan kembali relevansi sikap kita dengan dasar negara, Pancasila.

"Sama ketika kita saat memahami pancasila, bhineka tunggal ika. tidak perlu mempertanyakan mengapa harus cinta pancasila? tanyakan pada diri sendiri kita bisa tidak patuh dan menyadari bahwa hidup membutuhkan orang lain.  Kalau patuh, dipatuhi, Tetapi kalau tidak butuh orang lain, tidak usah bikin negara. Saya sampai di titik (pemikiran) itu” terangnya.

Bergeser ke persoalan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta, pada tahun 2017, yang saat ini cukup panas dan kerap memicu polemik, Yockie merasa persoalan kita sesungguhnya adalah pernyataan sikap yang harus dibuktikan dengan komitmen nyata.

“Tiga calon (Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, dalam Pilkada 2017) itu hanya refleksi, poinnya hanya satu, ‘Lo (masyarakat) ingin bersatu tidak?’”

"Bhineka Tunggal Ika itu wacana, gagasan, ketika wacana itu dihadapkan pada realita hari ini, ternyata kita kelabakan. Seharusnya diputuskan saja, apakah kita benar-benar ingin bersatu atau tidak? Kalau kita saling membutuhkan, kita rumuskan mengapa kita saling membutuhkan.”

Sayangnya, situasi yang saat ini terjadi jauh dari nilai luhur yang pernah menjadi identitas Nusantara, yaitu toleransi dan keramahan. Media sosial menjadi lahan pertempuran yang menodai toleransi.

Hal itu menuntut kita untuk lebih menyadari apa yang sebenarnya menjadi tujuan kita. Sekaligus berupaya untuk mewujudkan secara nyata nilai-nilai norma yang berpangkal pada etika.

"Norma itu lahir dari kesadaran otak kanan, dimensi afektif, totalitas jiwa, rasa cinta kita. Yang terjadi hari ini, seolah demokrasi harus dibakukan, mempertanyakan mengapa harus menghormati orang lain, ada hal-hal yang tidak bisa dicari alasannya,” ungkap Yockie.

Ke depan, Yockie berharap ada kesadaran kolektif dari masyarakat Indonesia tentang apa yang menjadi nilai utama dan bersama-sama berkomitmen untuk mewujudkan nilai itu.

“Kesalahan kita, kita larut dalam globalisasi tetapi tidak siap menghadapi globalisasi. Kita ini produsen, masyarakat Nusantara itu kaum produsen, masyarakat yang produktif. Tetapi kita menafikan keberadaannya dan menjadi masyarakat konsumtif dan terkonversi menjadi pedagang karena kapitalisme.”


Yockie Suryo Prayogo (Foto: Antara/Anita Permata Dewi)

“Ketika Bhineka Tunggal Ika direvitalisasi, kita harus mempertanyakan keinginan kita. Kalau bersatu, kita jabarkan saja apa tantangannya. Bagaimana menghadapi global dengan nilai yang kita punya," tutup Yockie.

Saat ini, Yockie masih aktif bermusik. Pada tahun ini dia kembali terlibat dalam konser LCLR (Lomba Cipta Lagu Remaja) Prambors. LCLR sendiri populer di era 1970-an, lomba itu menghasilkan sejumlah lagu hit, di antaranya lagu Apatis, Kidung, dan Khayal.

Beberapa waktu lalu Yockie juga menggelar konser nostalgia bertajuk Badai Pasti Berlalu. Sesuai judulnya, konser itu mengangkat kembali lagu-lagu dari album legendaris Badai Pasti Berlalu yang digarap sejumlah musisi legendaris, antara lain Eros Djarot, Chrisye, dan Keenan Nasution.

 


(ELG)

Tashoora, Invasi Berbahaya Sekstet dari Yogyakarta

Tashoora, Invasi Berbahaya Sekstet dari Yogyakarta

5 days Ago

Dalam musik yang energik sekaligus kontemplatif yang diramu Tashoora, terlantun lirik-lirik pui…

BERITA LAINNYA