Danilla, Bayangan atas Sakratulmaut dan Merayakan Kegamangan Hidup

Agustinus Shindu Alpito    •    23 November 2017 16:13 WIB
indonesia musik
Danilla, Bayangan atas Sakratulmaut dan Merayakan Kegamangan Hidup
Danilla (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Jakarta: Pada 2014 lahir sebuah album berjudul Telisik. Pada waktu itu, publik belum banyak mengenal sosok yang melahirkan album itu, yaitu Danilla.

Kini, keadaan benar-benar berbeda. Dalam kurun tiga tahun, Danilla merengkuh segala yang bisa dilakukan oleh seorang penyanyi pendatang baru. Mulai dari meniti tangga karier hingga berada di ketinggian yang cukup untuk membuatnya menyandang status idola.

Transformasi Danilla bukan saja dari segi popularitas dan finansial, melainkan juga dari segi kematangannya sebagai seorang seniman. Hal itu tercermin dari album kedua berjudul Lintasan Waktu yang dirilis September lalu.

Jangan bayangkan bahwa album itu akan membawa telinga Anda mendengarkan senandung manis seperti Buaian atau Berdistraksi. Lewat Lintasan Waktu, Danilla menghadirkan eksplorasi yang jauh lebih liar. Uniknya, album ini seperti kotak berisi kepedihan dan kegamangan yang selalu menghantui Danilla, namun dikemas secara musikal.

Pada awal akhir Oktober 2017, saya menghampiri Danilla ke rumah kontrakan yang dia jadikan markas sekaligus kantor atas nama Ruang Waktu Music Lab. Rumah kontrakan di bilangan Haji Nawi, Jakarta Selatan, itu menyiratkan jalan cerah karier Danilla di dunia musik.

"Tahun 2015 gue kere banget, sampai numpang tidur di kantor teman, rekening gue nol rupiah," kisah Danilla menggambarkan bahwa apa yang dicapainya saat ini jauh berbeda dari apa yang dialaminya sekitar dua tahun lalu.

Saat saya bertandang, Danilla tengah sibuk mempersiapkan boxset album Lintasan Waktu yang dijual secara terbatas. "Danilla enggak mau dibantuin, dia yang mengecat langsung semuanya," kata gitaris Lafa Pratomo yang juga berada di sana.

Kisah tentang perjuangan hidup Danilla akan lebih sering terdengar seiring dia memperkenalkan materi-materi dari album Lintasan Waktu di atas panggung. Hal yang sama diutarakan Danilla dalam konser mini Simak Lintasan Waktu yang digelar di Shoemaker Studios, Cikini, Jakarta Pusat, pada Selasa (21/11/2017). Dalam konser itu Danilla menceritakan bagaimana dia bertahan hidup pada era-era 2014-2015 dengan terus mengonsumsi ayam goreng Sabana, demi menghemat uang.


Danilla dalam konser mini Simak Lintasan Waktu (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Danilla adalah bukti bahwa industri musik arus pinggir mulai menjanjikan dari segi finansial. Bahwa mimpi untuk bisa hidup dan berkarya tak selalu dijanjikan oleh label besar dan televisi. Berbekal kenekatan dan cinta atas nama musik, Danilla seperti membangun kisah "Cinderella-nya" sendiri.

Di samping mengemas kisah perjuangan dalam lagu yang terbungkus album Lintasan Waktu, Danilla juga berani untuk mengungkapkan sisi gelap dirinya pada album ini. Termasuk mengungkapkan bagaimana bayangan akan sakratulmaut kerap menghantuinya, juga pikiran untuk mengakhiri hidup yang kadang terbesit.

Jika boleh disederhanakan, Lintasan Waktu adalah kotak hitam dalam hidup Danilla yang coba dia tarik ke luar untuk diceritakan lewat musik. Ini merupakan titik penting bukan saja bagi karier musik Danilla, tetapi dalam hidupnya secara keseluruhan. Bahwa dia pada akhirnya mencoba untuk berdamai dengan teror-teror gelap dalam kepalanya dan mengajak kita untuk berkelana ke dalam alam pikirnya, melintasi waktu.

Terdapat dua lagu dengan label explicit dalam album Lintasan Waktu yaitu Laguland dan Dari Sebuah Mimpi Buruk. Apa alasannya?

Dari Sebuah Mimpi Buruk ada lirik “terkutuk.” Sebenarnya kata itu ada di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan itu biasa banget. Menghindari asumsi-asumsi. Supaya pendengarnya tidak literally mengutuk karena menurut gue itu frontal.

Kalau Laguland, itu satu-satunya lagu yang paling ria. Di  balik semua lagu kesedihan, Laguland itu seperti stress relieve gue. Banyak kata-kata enggak jelas, jadi gue taruh saja di explicit.

Mengapa meletakkan lagu riang sebagai track pembuka album?

Tadinya mau taruh di ending, ternyata setelah diurutkan lagi lebih cocok di depan. Mood aransemennya. Mengingat lagu Lintasan Waktu jadi yang terakhir, Laguland seperti gerbang menuju khayalan. Mengajak pendengar ke imajinasi.

Laguland merupakan kosa kata baru yang dibuat Danilla dalam album ini. Apa artinya? (Catatan: Setidaknya ada dua kosa kata asing dalam album Lintasan Waktu, yaitu Laguland dan Kalapuna. Kedua kata itu tidak ditemukan dalam KBBI)

Waktu gue mengerjakan Laguland, lagunya sudah jadi. Cuma drum belum terisi. Sudah jadi 50 persen lah.

Gue mimpi, ada orang bilang, “Lo ke Laguland deh!” terus gue bilang, “Laguland apaan?” teman gue di mimpi itu bilang “Lo search deh di google.” Pas gue search di google di mimpi gue, di Laguland itu pulau yang pecah banget. Ada pohon terbang, ada pulau-pulau kecil yang berterbangan. Moana versi gila lagi.

Terus gue tanya ke teman gue di mimpi, “Ini Laguland itu nyata?” Terus dia bilang, “Nyata kok, lo ke sana saja tiketnya murah.”

Terus gue kebangun dan bilang ke Lafa, “Saya tahu lagu ini mau saya kasih judul apa, Laguland!”

Lintasan Waktu membuat saya berasumsi bahwa Danilla sosok yang sering larut dalam khayalan dan mimpi. Apakah Danilla seorang yang demikian?

Gue secara sadar dan tidak sadar dihantui hal-hal negatif dan itu pasti kebawa mimpi dan seperti nyata karena gue mengiyakan.

Mimpi yang paling berkesan adalah mimpi yang paling bagus atau paling buruk. Kayak mimpi soal Laguland mungkin karena gue lagi happy banget. Gue ketakutan akan sesuatu terjadi dan itu sering terbawa mimpi.


Danilla (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Apa ketakutan terbesar dalam hidup Danilla?

Hal yang pasti gue takutkan, gue dibohongi. Terus hal yang tidak sesuai ekspektasi gue. Gue cepat banget stres. Ketakutan gue sama dengan orang pada umumnya, tetapi entah mengapa momen di album ini gue takut banget dibohongi karena itu yang bikin gue sakit hati. Lebih ke relationship, karena gue anaknya drama. Gue selalu punya masalah di relationship, karena gue enggak tahu harus bagaimana. Gue enggak pernah tahu bagaimana berkomitmen. Karena gue enggak tahu, jadi gue takut.

Lagu Lintasan Waktu dibuka dengan lirik, “Tiada lagi yang bisa, temani ragaku. Tiada lagi yang bisa bekali jiwaku. Meredup diam dan terpaku.” Lirik itu terdengar seperti kalimat yang keluar dari seorang depresi dan seperti ingin mengakhiri hidupnya. Apakah yang sebenarnya Danilla alami dan apakah Danilla pernah memiliki pikiran untuk bunuh diri?

Di lagu Meramu malah gue pengin bunuh diri. Lebih ke cerita gue BM (Banyak Mau), tetapi BM gue enggak ada habisnya. Setiap gue BM, orang banyak yang sedih. Waktu itu pernah pas gue ada janji sama anak (sebuah universitas swasta), tiba-tiba gue lagi enggak mau ketemu orang. Itu sama saja menyakiti perasaan mereka demi ego gue. Tapi kalau gue menuruti orang, misal gue tetap hadir, batin gue tersiksa banget. Daripada gue pusing dengan hal kayak gitu, gue berpikir untuk mati saja. Karena kalau gue pikir untuk orang-orang memenuhi pikiran gue, orang lain akan tersiksa.

Lantas, apakah pikiran itu pernah membuat Danilla nekat melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri?

Pernah. Dulu, waktu ada masalah keluarga gue pernah minum minyak wangi waktu SD. SMA juga pernah, tetapi gue lupa detailnya.

Semakin ke sini gue semakin liar di pikiran saja. Mungkin sekarang gue enggak akan melakukan hal itu.  Gue enggak takut mati, tetapi gue takut dying-nya (fase sakratulmaut). Karena gue enggak tahu apakah waktu dying itu rasanya sebentar atau justru terasa lama dan menyiksa meski hanya sepersekian detik.

Apakah ketakutan akan sakratulmaut itu juga dituangkan dalam karya musik?

Kalau gue takut kematian itu ada di lagu Usang. Membayangkan kalau sudah tua. Gue takut kalau ketika waktunya gue dying, apakah itu menyenangkan atau tidak. Itu gue ceritakan di lagu Usang. Apalagi orang yang sekarat dan sakit panjang sebelum mati. Gue jadi berpikir itu karena lifestyle gue juga begini.

Lagu Meramu menurut persepsi saya menggambarkan bagaimana kematian bisa jadi sebuah obsesi. Hal ini bukan tidak mungkin memberi persepsi yang sama pada pendengar dan bisa memicu mereka pada sebuah obsesi yang merugikan dan berbahaya. Apakah Danilla berpikir sejauh itu saat proses penulisan lagu ini?

Kalau ada yang seperti itu, mix feeling. Gue cuma mau berbagi, gue sama seperti kalian. Ada momen di mana ingin bunuh diri. Tetapi di sini seperti curhat. Gue percaya seharusnya pendengar mengerti.

Apa yang melatari Danilla begitu berani melakukan eksplorasi liar dari segi musikalitas dan konten pada album Lintasan Waktu dibanding album Telisik?

Dari dulu gue seperti ini. Memang di era Telisik itu, sebetulnya gue pengin bikin semua lagu kalau bisa Junko Furuta dan Bilur. Itu lagu yang gue senangi, menurut gue. Tetapi dulu ada intervensi dari eksekutif produser untuk enggak semua lagu gelap.

Gue memang orang yang sekejap bisa jadi menyenangkan. Album ini seperti menggambarkan fase kesedihan. Gue memang ada fase di mana semuanya down. Kere. Gue sama Lafa enggak ada rumah, numpang di kantor teman. Terus ada drama-drama memperjuangkan album Telisik. Rekening gue sempat nol rupiah. Setelah Telisik launching.

Itu dulu gue dipecat dari kantor, enggak tahu mau kerja apa. Sampai gue bilang ke Lafa, “Kayaknya gue enggak bisa bermusik lagi.” Terus kata Lafa, “Udah, Ci, sabar saja.”

Sampai akhirnya gue memutuskan gue telan bulat-bulat perjalanan di musik ini. Sampai akhirnya gue mulai menikmati hasilnya satu tahun terakhir.


Danilla (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Antara album Telisik dan Lintasan Waktu, Danilla menunjukkan dua arah musikalitas yang berbeda. Sebenarnya, ke mana arah musik Danilla?

Gue enggak tahu. Gue dulu pernah bikin lagu. Lagu pertama yang gue bikin itu dari main gitar waktu SD atau SMP kelas 1. Terus dari situ gue merasa enggak cocok bikin lagu. Masa produktif gue itu dari SD ke SMP dan kuliah. Tapi gue keep sendiri lagu-lagu ciptaan gue karena gue malu, takut enggak sesuai ekspektasi gue.

Pas gue bikin album Telisik, setiap gue ada tur radio gue selalu ngajak Lafa karena dia pencipta lagu. Tetapi dia kesal juga gue sebut-sebut namanya terus, kata Lafa, “Justru ketika kau sudah menjadi penyanyi, itu sudah menjadi lagu kau. Kau mewakili kita semua.” Akhirnya dia bilang album kedua porsinya 70:30 (catatan: pada album Telisik nyaris seluruh lagu ditulis oleh Lafa), tapi jadi keterusan gue sampai 80 persen. Terus gue baru tahu lagu gue bisa sangat gue nikmati. Lagu pertama kali dibuat album ini, Entah Ingin Ke Mana. Pas mabuk gue dengar dan nikmati, terus pas sober gue juga merasa lagu itu enak. Gue akhirnya sadar kalau lagu ciptaan gue sendiri bisa gue nikmati.

Lantas, bagaimana tanggapan keluarga dengan kondisi Danilla pada masa itu?

Gue sudah keluar dari rumah pada pertengahan 2012. Terus gue sok-sokan hidup sendiri, bekerja. Nyokap gue sempat enggak mau tahu soal panggung gue. Karena terakhir dia nonton gue pas gue bad mood. Dia kecewa lihat gue bad mood di panggung.

Album Lintasan Waktu bukan hanya sebagai ruang eksplorasi Danilla soal penulisan lirik. Danilla belakangan mulai sering tampil memainkan synthesizer dan gitar. Apa yang sebenarnya terjadi?

Gue tipe yang enggak pernah mempersiapkan apa-apa. Gue benar-benar learning di momen itu. Sebelumnya gue enggak tahu hal seperti enggak boleh bad mood di atas panggung, gue belajar langsung ketika gue melakukannya . Termasuk gue  belajar synthesizer. Selama ini alat yang gue mainkan cuma piano. Jadi pas banget mau manggung baru gue kulik gitar dan synthesizer. Biar gak odong-odong banget. Termasuk pas rekaman. Jadi memang pengalaman baru banget.

Entah mengapa gue lebih mendapat fun sewaktu main gitar elektrik ketimbang synthesizer. Karena tombolnya banyak banget. Kalau soal main gitar, gue enggak tahu kord sama sekali. Jadi gue mulai lancar main gitar waktu kuliah. Terus gue kayak pencet nada saja yang bunyinya sesuai yang gue inginkan di kepala gue. Gue enggak tahu itu kord apa, Makanya gue takut misal ada acara TV terus gue dipaksa jamming main gitar.

Dalam album Lintasan Waktu, lagu apa yang dalam proses kreatif penulisannya menggunakan gitar?

Hampir semua kecuali, AAA dan Lintasan Waktu. Kalau Lintasan Waktu karena itu lagunya Lafa.

Album ini terdengar ada elemen psychedelic. Apakah dalam proses pembuatan album dikerjakan dengan penuh kesadaran?

Sober semua. Gue kalau enggak sober, enggak kepikiran bikin lagu. Giliran gue sober lebih merasakan perasaan hati gue.

Melibatkan Viki “Kelompok Penerbang Roket” dalam proses kreatif?

Dia sempat bikin pola drum meramu dan tenyata beda gayanya. Bayangan gue enggak seperti itu, akhirnya diganti.

Dia cuma bilang, “Mau gue saranin kayak apa juga kalau Danilla enggak mau, enggak dia kerjain.”

Dari seluruh lagu dalam album Lintasan Waktu, lagu apa yang nilai romansanya paling kental?

Dari Sebuah Mimpi Buruk. Liriknya ada romance-nya.

(Dalam konser mini Simak Lintasan Waktu,  Danilla mengatakan bahwa Dari Sebuah Mimpi Buruk lahir dari kekhawatiran Danilla jika laki-laki yang dia cintai bersetubuh dengan perempuan yang paling dia benci. Maka dia memberikan kutukan dalam lagu itu jika laki-laki yang dimaksud melakukannya di belakang Danilla)

Apakah dari awal Danilla memang merancang nuansa album Lintasan Waktu akan terdengar “gelap” seperti ini?

Pas sudah jadi baru sadar ternyata warnanya begini, ungu, peach, gue enggak pernah nge-set.

Mengapa mengajak Sigit “Tigapagi” berkolaborasi?

Di lagu Entah Ingin Ke Mana, ada dua bagian berbeda. Gue bagian pertama terus gue sempat stuck arah lagunya.  Terus gue bikin ketukannya dibikin ganjil. Biar keren. Terus gue mikir lagu ini Danilla feat Lafa lagi, tetapi Lafa bilang jangan. Terus kepikiran Sigit dan dia minta lagunya. Dia dengar lagunya 2015 dan rekaman 2016.

Yang gue cari sosoknya, mood-nya. Dia kalau menyanyi seperti hampa. Jadi mencari mood dan sosok Sigit untuk lagu ini pas.

Apakah makna sebenarnya dari Lintasan Waktu dan dari mana nama itu muncul?

Gue merasa ini momen. Gue pengin mengajak orang-orang ke dunia gue yang dulu, saat turning point itu. Gue memikirkan soal reinkarnasi, gue memikirkan juga dunia paralel dan gue suka drama. Gue suka nostalgia, melintasi waktu masa lalu gue. Misal gue ke masa lalu, gue bisa merasakannya lagi. Perasaan pengang, rusuh. Lo tahu kan kalau lo menangis telinga lo sering pengang. Jadi, perasaan seperti itu.

Saat bernostalgia, momen apa yang paling sering Danilla ingat kembali?

Masa-masa sedih.

Seluruh lirik dalam album Lintasan Waktu berbahasa Indonesia. Apakah itu bagian dari pernyataan personal Danilla yang mengedepankan penulisan lagu berbahasa Indonesia ketimbang bahasa Inggris?

Iya memang gue pengin itu. Dulu gue merasa enggak bisa bikin lirik bahasa Indonesia. Menurut gue itu susah. gue bukan orang yang suka baca. Gue juga bukan orang yang suka observe. Tetapi tiap gue pengin gue total.

Awal-awal gue bikin Kalapuna. Lafa bilang bagus diksinya, terus gue teruskan. Gue orang Indonesia dan gue ingin membawakan lagu bahasa Indonesia dengan aransemen gaya gue sendiri.

Tetapi dulu gue pengin masuk sastra Inggris untuk kuliah karena menurut gue dulu bahasa Inggris gampang, tetapi enggak tahu mengapa makin ke sini bahasa Inggris gue makin bego. Tapi kalau lagi mabuk bahasa Inggris gue lancar, ha-ha-ha.


 


(ELG)