Pergulatan Noah Mencari Suara

Elang Riki Yanuar    •    16 September 2017 15:16 WIB
noahindonesia musik
Pergulatan Noah Mencari Suara
Noah (Foto: Metrotvnews/Elang)

Metrotvnews.com, Jakarta: Album baru kerap menjadi sebuah pertaruhan bagi seorang musisi. Ia bisa jadi penentu seorang musisi semakin dipuja atau segera dilupakan. Tak hanya itu, album baru juga bisa menjadi ukuran mutu seorang musisi. Ariel bersama rekan-rekannya di Noah menyadari itu.

Sebagai band yang memiliki basis penggemar sangat banyak, apa pun yang dirilis Noah sudah pasti memiliki tempatnya sendiri. Tapi, Ariel cs tak mau mencoba jalan semudah itu. Bagi Noah, urusan membuat album bukanlah urusan sembarangan.

Maka ketika tiba waktunya menyiapkan album baru, Ariel, Uki, Lukman dan David mulai bergegas. Intensitas pertemuan semakin bertambah. Tujuannya satu, menghasilkan karya baru yang akan bermuara pada sebuah album.

Jarak empat tahun setelah merilis album pertama (Seperti Seharusnya) dirasa tepat untuk memulai langkah baru. Di tengah perjalanan itu, Noah sempat merilis album Second Change yang berisi aransemen ulang lagu-lagu lama dan tiga lagu baru. Ada juga album Sings Legend yang berisi daur ulang lagu-lagu lawas di Indonesia. Namun, mereka menyebut album yang sedang disiapkan ini sebagai "yang kedua" karena rencananya berisikan lagu-lagu baru.

Ketika masih mengusung panji Peterpan, mereka sudah merilis empat album penuh dan satu album jalur suara (soundtrack) untuk film Alexandria. Dengan diskografi itu, tentu tak ada yang menyangkal jika Noah sudah memiliki karakter dan identitas musiknya sendiri. Namun, hal itu ternyata secara tidak langsung justru menyulitkan mereka.

"Yang susah sekarang di album ini proses pencarian sound sebetulnya," kata Ariel saat ditemui di Bandung.

"Proses mencari sound biar sesuai dengan zamannya dan tidak terdengar seperti band yang sudah lama. Itu yang agak makan waktu," lanjutnya.


Noah (Foto: Antara/Teresia May)

Mereka secara telaten mendengarkan kembali album-album terdahulu saat masih bersama Peterpan dan Noah. Proses itu memang memakan waktu panjang. Sebuah bukti betapa seriusnya Noah menggarap album ini.

"Kita sempat mendengar lagu semua album sebelumnya. Memang butuh waktu yang lebih lama untuk mencari sound yang segar ya. Kita enggak mau sama kayak sebelumnya. Saya juga mau suara gitar saya dan Lukman itu tidak seperti yang sebelumnya," kata Uki.

Menurut Ariel, mencari sound adalah hal vital untuk album keduanya. Di sinilah kemampuan bermusik Noah diuji. Bagaimana bisa menemukan suara baru tanpa kehilangan jauh karakter mereka.

"Pemilihan sound itu bagian dari skill dan identitas. Sound itu mengidentifikasi zaman. Jadi itu sangat sulit karena sangat vital. Kita sudah mencobanya sendiri di album Sings Legend. Di album itu lagunya tidak kami ubah, liriknya apalagi, kami tidak berani. Yang kita ubah cuma sound-nya. Setelah sound kita ubah bisa langsung terdengar perbedaan zamannya kan. Itu yang bikin lama, karena susah. Kami tidak mau sama dengan 2002, kami mau berevolusi, kami mau terus berinovasi," jelas Ariel.

Segala cara dikerahkan Noah untuk berhasil mencari suara yang mereka idam-idamkan di album barunya. Salah satunya menjalani karantina di atas kapal pinisi sembari mengarungi perairan Lombok. Tinggal di tengah laut yang sunyi membuat mereka fokus. Cara ini ternyata memang berdampak pada kuantitas dan kualitas lagu-lagu baru Noah. Sepulang dari laut, semangat mereka semakin menggebu-gebu.

Baca juga: Noah Karantina di Tengah Laut

"Kita tidak bermalas-malasan dalam mengerjakan album ini. Kami belajar terus, Uki juga terus belajar karena sekarang yang mixing Uki. Jadi kita tidak ke mana-mana lagi karena orang dalam sendiri yang mengerjakan, Additional player kita juga aktif sekali, masih muda dan dalam proses kreatif dia sangat membantu," terang Ariel.

Di karya-karya sebelumnya, Noah menggandeng Steve Lilywhite sebagai produser. Pengalaman Steve memproduseri band dunia seperti The Rolling Stone, U2 dan yang lainnya tentu meninggalkan pelajaran tersendiri bagi Noah. Mereka banyak menyerap ilmu dari Steve sehingga secara tidak langsung membantu Noah menemukan sound baru untuk album teranyar mereka.

Namun, Noah sepertinya tetap ingin menyempurnakan dirinya sendiri sebelum mendapat bantuan orang lain. Mereka tetap memperkaya diri dengan referensi-referensi musik, termasuk musik masa kini.  

"Kita banyak banget referensi. Memang berbeda dari awal kita pertama kali buat band. Dulu banyak band kuat (karakter) yang kita dengar. Ada Pearl Jam, U2, Red Hot Chili Peppers. Yang baru mungkin tidak sekuat itu. Tapi kita tetap mendengarkan mereka di industri musiknya, termasuk pembaruan sound mereka,"

"Kita ingin seperti mereka dan tidak diam. Banyak band yang mencoba beradaptasi sama musik modern. Tapi intinya influence kita banyak dan tidak di satu genre," kata Ariel.


Noah (Foto: metrotvnews/shindu)

Begitu juga soal referensi untuk mengisi departemen lirik. Ariel yang biasanya menulis lirik lagu-lagu Noah terus memperkuat diri dengan bacaan-bacaan sastra.

"Bagian lirik juga memang susah. Kalau saya lagi susah nulis lirik, susah mencari kata-katanya, saya coba baca buku lebih banyak, nonton film. Saya terus baca buku sastra, prosa yang bagus dan rangkaian bahasa yang puitis," tukas Ariel.

Makna Album Baru dan Sahabat

Noah belum mengungkapkan judul album terbaru mereka. Begitu juga terkait jadwal dirilisnya album. Namun, mereka akan merilis dua singel yang akan menjadi album baru mereka di aplikasi musik digital Joox pada Sabtu, 16 September 2017. Ini menjadi hari istimewa bagi Noah dan juga Ariel yang berulang tahun di hari sama. Salah satu hit yang sudah dibocorkan berjudul Wanitaku.

Bocoran Lagu di Album Terbaru Noah

Noah mengibaratkan album barunya ini sebagai perjalanan baru. Tak mudah bagi Noah untuk merasakan perjalanan seperti sekarang ini. Belum lekang dalam ingatan ketika band ini hampir saja karam akibat kasus pribadi yang menerpa Ariel. Masa-masa sulit berhasil mereka lalui. Ariel, Lukman, Uki dan David tetap solid meski sempat ditinggal Reza yang dulu mengisi posisi drum.

"Seru seperti kehidupan. Banyak yang sudah kami jalani. Dulu kita masih butuh dibimbing. Sekarang sudah pada titik di mana kita bisa memproduseri sendiri. Terkadang ada rasa bosan tapi mesti dipaksakan, akhirnya berhenti dulu," urai Ariel.

Kehadiran penggemar menjadi alasan utama Noah untuk terus berkarya hingga saat ini. Mereka kerap menjadi penyemangat kala grup ini sedang berada di posisi mana pun. Saat berjaya atau dulu saat terpuruk. Noah pun berusaha sedekat mungkin dengan para penggemarnya.

"Tanpa mereka semangat Noah berkurang. Kadang kita suka kasih tiket gratis supaya Sahabat Noah datang saat kita manggung. Pastinya sangat penting Sahabat Noah," kata Uki.

"Dulu pertama kami bermusik bukan buat mereka (penggemar) tapi buat kami sendiri, karena memang hobi. Setelah ada yang mendengar baru kami bermusik karena mereka (penggemar) juga salah satunya. Itu menjadi tolak ukur. Mereka menjadi alasan kita untuk terus eksis, bukan hanya karena kita senang main musik saja," tutup Ariel.

 


(ELG)

Cinta 99% Dea Dalila

Cinta 99% Dea Dalila

6 days Ago

Di momen yang tepat dan didukung tekad yang kuat, Dea memberanikan diri. Dia resmi memutuskan k…

BERITA LAINNYA