Is dan Pusakata

Cecylia Rura    •    25 Februari 2018 09:00 WIB
indonesia musikpusakata
Is dan Pusakata
Is "Pusakata" (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)

Jakarta: Bermusik, berkarya dan berkesenian menjadi pengisi waktu Mohammad Istiqamah Djamad setelah lepas dari band Payung Teduh. Kesibukan saat ini menjadi indentitas baru seorang Is berkarya sebagai seniman seutuhnya lewat Pusakata.

Nama Pusakata bukan nama yang rumit untuk diingat oleh banyak orang. Pusakata lebih lekat dengan aksara dan sarat makna. Is memilih nama Pusakata karena tak jauh-jauh dari lingkar kehidupannya.

Pusakata adalah nama yang diberikan anak pertama Is, Jingga kepada adik lelakinya. Pusakata yang berarti adalah sebuah kehidupan.

"Waktu lepas dari Payung Teduh, bersama manajer dan teman-teman yang terlibat di dunia yang sekarang, ngapain jauh-jauh mikirin nama yang keren?! (Pusakata) Sebuah nama yang diberikan oleh anak saya yang berumur sembilan tahun untuk adiknya yang waktu itu belum lahir," kata pria kelahiran Makassar itu di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat.

"Mama, it's a boy. It's a baby brother. His name is Pusakata. Oke, saya cari Pusakata, (artinya) orang yang menjaga perkataannya baik-baik," cerita Is menirukan Jingga saat menyambut kelahiran Pusakata.

Rasa penasaran Is tak berhenti di situ. Tentang Pusakata yang ditelusuri dalam bahasa daerah Bugis-Makassar, bermakna sebuah kepemilikan pusaka atau harta. "Ta" dengan apostrophe (Ta') dalam selingan bahasa Makassar adalah milik Anda.

Definisi Pusaka dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah harta benda atau warisan yang diturunkan dari nenek moyang.

"Tanya orangtua saya, ternyata dalam bahasa Bugis-Makassar dengan apostrophe (pusaka ta') itu artinya harta karun milik Anda. Itu buat saya menjadi doa yang sangat kuat."

"Makanya dari nama Instagram enggak diubah, Pusakata, karena saya yakin banyak kalimat-kalimat yang akan saya ceritakan pada kata-kata yang muncul dari pusakata," lanjut Is.


Is Pusakata (Foto: medcom/shindu)

Pusakata bukan sebuah grup musik. Pusakata adalah gagasan Is yang berkolaborasi dengan beberapa pelaku seni menghidupkan sumbu jiwa-jiwa seni untuk tetap menyalurkan ide-ide kreatif. Suara Is yang khas tak menjadikannya sebagai musisi di Pusakata, tapi membuatnya merambah dunia seni yang lain.

Lewat identitas baru, Pusakata akan menjajaki dunia seni yang luas. Dunia seni yang tak hanya sekadar musik, tetapi juga dunia seni peran, lukis, dan elemen dari ilmu berkesenian.

"Enggak sekadar bikin album, bikin film, ada buku juga. Mimpinya seperti itu. Lagi ditata pelan-pelan, ya. Karena baru lepas," kata Is.

Sempat mencicipi peran sebagai pengarah peran di sebuah teater, pria yang juga pernah berperan sebagai pemusik di Teater Pagupon Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia ini mengaku belum ada pengalaman untuk membuat sebuah film. Namun, hal itu pelan-pelan dilakoninya dengan menggali pengalaman dalam membuat proyek film.

Soal bermusik, Is tak ingin ditarget dan diburu batas waktu. Layaknya seniman dengan segala ide-idenya, Is ingin menelurkan singel secara bertahap dan dengan harapan kumpulan singel itu dapat dikemas dalam sebuah album di akhir tahun.

Lagu pertama yang akan meluncur dan menjadi identitas pertama Pusakata adalah Kehabisan Kata. Lagu ini akan dilepas pada minggu kedua bulan Maret.

"Enggak muluk-muluk, saya mulai singel-singel-singel. Singel pertama nanti (Maret)."

Kehabisan Kata bercerita tentang Is yang tak ingin kehabisan kata-kata ketika bersama dengan orang-orang yang disayang, atau, lebih tepatnya tak ingin kehabisan waktu yang terus berjalan untuk hal yang sia-sia.

"Menghabiskan waktu, ditemani teh dan kopi di teras bertemu dan berbicara dengan orang yang kita sayang. Di Makassar, pisang goreng mentah dicocol dengan sambal. Dan saya enggak mau kehabisan kata ketika bersama dengan orang lain."

Is yang sukses mengglorifikasi nuansa musik Payung Teduh lewat suara yang khas tak serta-merta bisa dilepas oleh para pendengar musik Payung Teduh. Hal ini juga tak bisa ditampik oleh Is, lantaran musik-musik folk Payung Teduh telah mengakar sejak awal pertama kali terbentuk pada 2007 lalu. Namun, Is merasa enggan jika dirinya terus dilekatkan dengan justifikasi, Is adalah Payung Teduh dan Payung Teduh adalah Is. Sang vokalis kini telah memiliki kemasan baru untuk eksistensinya di industri seni.

"Toh kalau itu melekat sebagai personal, apa boleh buat itu hal yang enggak bisa dihindari. Itu hal natural yang merupakan berkat besar dari Allah buat saya dan teman-teman. Saya bangga sekali bermusik dengan Payung Teduh, dengan pengalaman pahit-manis. Itu akan sangat berarti dalam hidup saya dan akan saya kenang."

"Dan saya enggak mau seperti itu, saya enggak mau diidentifikasikan kalau Payung Teduh (itu) Is, Is (itu) Payung Teduh, meski itu hak orang. Cuma, saya akan sangat senang sekali ketika Pusakata bisa maju sendiri. Payung Teduh bisa lebih maju lagi tanpa saya. Itu tahap kerennya di situ. Semua move on."


Is Pusakata (Foto: medcom/cecylia)

Dalam proses pembuatan lirik lagu, Is selalu melibatkan hasil pandangan mata dan kepekaan indra lain. "Buka mata, buka telinga," kata Is.

"Lebih jujur, memang apa yang saya rasakan, apa yang saya lihat, apa yang saya rekam setiap hari."

Baginya, sebuah puisi bisa menjadi inspirasi lirik lagu untuk dibuatkan musik. Bukan puisi yang diiringi musik. "Seperti lagu Hujan Bulan Juni."

Dalam bermusik, Is tetap melibatkan perempuan sebagai sumber inspirasi. Ia ingin lagu-lagunya membawa kebahagiaan dan buah dari apa yang terjadi di sekelilingnya.

"Kebahagiaan itu untuk perempuan, senang banget. (Inspirasinya) banyak dari perempuan. Ibu, anak, tante, teman."

"Let's say, Pusakata berkarya dan membuat apapun seni. Saya enggak mau ada identifikasi ini-ini, enggak. Saya enggak mau diidentikkan dengan satu hal saja. Seni itu luas dan segala hal yang luas itu butuh kekuatan dan perhatian besar dari banyak orang. Jadi, mati-matian untuk tetap berkarya intinya."

Lewat Pusakata, Is yang kini tinggal dan banyak menghabiskan waktu di kampung halamannya, Makassar, dapat membagi porsi waktu untuk keluarga, sahabat, pekerjaan dan juga berbagi ilmu.





 


(ELG)

Tashoora, Invasi Berbahaya Sekstet dari Yogyakarta

Tashoora, Invasi Berbahaya Sekstet dari Yogyakarta

14 hours Ago

Dalam musik yang energik sekaligus kontemplatif yang diramu Tashoora, terlantun lirik-lirik pui…

BERITA LAINNYA