Berharap pada Museum Musik Indonesia

Agustinus Shindu Alpito    •    24 Maret 2017 14:58 WIB
indonesia musik
Berharap pada Museum Musik Indonesia
Museum Musik Indonesia (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Metrotvnews.com: Pada Jumat 17 Maret, saya bertandang ke Malang. Sebuah kota yang saya kenal memiliki pendukung sepakbola militan. Sejenak saya teringat bahwa kota itu sebuah museum yang bagi saya wajib hukumnya dikunjungi, yaitu Museum Musik Indonesia. Singkat cerita, saya memutuskan bahwa Museum Musik Indonesia adalah tempat yang wajib dikunjungi ketika berada di Kota Malang.

Jumat pagi menjelang siang, saya mengecek rute menuju Museum Musik Indonesia dengan Google Maps. Tidak terlalu jauh dari penginapan tempat saya tinggal, kira-kira 3 Km. Segera saya pesan GoJek. Tidak butuh waktu lama tiba ke alamat yang dituju. Kurang dari 10 menit saya tiba di Museum Musik Indonesia. Saya tiba sekitar pukul 12:00.

Saat tiba di sana, pintu gerbang tertutup rapat. Saya sempat bingung karena lokasi bertuliskan Gedung Kesenian Gajayana itu tidak seperti gedung museum. Tempat itu persis gedung bioskop tua yang pernah saya temui. Tidak ada “bau musik” sama sekali di sana, kecuali spanduk yang bertuliskan Museum Musik Indonesia.

Karena pintu masuk tertutup rapat, saya memutuskan untuk menunggu sebentar di warung makan yang terletak sekitar 50 meter dari gedung itu. “Mungkin museum itu buka selepas solat Jumat,” begitu pikir saya.

Benar juga tebakan saya. Pukul 13:00 saya kembali datang dan ternyata gerbang telah dibuka. Saya melangkah masuk ke teras gedung itu, namun tidak ada tanda-tanda "kehidupan."



Museum Musik Indonesia (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Suasana sepi, tidak ada orang. Lalu saya memberanikan diri masuk ke dalam, dan melihat deretan bangku tua yang usang. Suasana interior gedung itu tak nyaman sama sekali. Cat usang, berdebu, juga panggung sederhana, di pojok atas tembok panggung terdapat foto Presiden dan Wakil Presiden. Mengingatkan saya pada masa sekolah di mana setiap kelas pasti memiliki dua foto itu.

Sayup-sayup saya mendengar suara orang ngobrol. Saya menoleh ke atas, benar saja ada sebuah ruangan di tribun atas penonton. Saya naik tangga dan menghampiri ruangan itu. Ternyata di ruangan itulah letak Museum Musik Indonesia!

Gedung Kesenian Gajayana adalah rumah baru bagi Museum Musik Indonesia, setelah mereka menempati sebuah rumah di perumahan Griya Shanta di Kota Malang. Belum genap satu tahun Museum Musik Malang bermarkas di gedung tua itu.

Lemas rasanya, ekspektasi saya runtuh seketika. Di benak saya, Museum Musik Indonesia adalah tempat rujukan bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat soal musik Indonesia, soal seluk-beluk musik di negeri ini. Namun saya tidak mendapatkan apa yang saya bayangkan. Walau tetap ada informasi yang bisa kita dapatkan, namun rasanya Museum Musik Indonesia - dengan nama yang begitu indah - berhak mendapat tempat yang lebih layak, juga penataan dan koleksi yang lebih komplet.

Museum Musik Indonesia (Foto: Metrotvnews/Shindu)


Tribun atas penonton Gedung Kesenian Gajayana disulap jadi museum. Pengap, panas, sumpek, juga penataan ala kadarnya akan dirasakan para pengunjung.

Jangan berekspektasi Anda akan mendapat informasi misal soal gamelan, musik tradisional, bagaimana musik begitu dekat dengan masyarakat Nusantara, melihat instrumen musik tradisional, atau melihat memorabilia para musisi legendaris Indonesia.



Pengunjung disuguhi deretan album kaset yang disusun sesuai abjad dalam lemari kaca. Juga beberapa piringan hitam yang kurang ditata rapi. Saya juga melihat tumpukan buku-buku seputar musik, yang disusun secara vertikal.

Di ruangan lain terdapat kumpulan majalah musik dari masa ke masa. Ini menjadi tempat favorit saya, membaca berbagai ulasan musik Indonesia dari majalah Aktuil. Kumpulan majalah itu dipajang dengan ala kadarnya. Museum Musik Indonesia saat saya kunjungi lebih terkesan sebagai sebuah galeri koleksi pribadi.


Museum Musik Indonesia (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Pada dinding museum, terpajang berbagai poster dan foto para musisi Indonesia yang ditandatangani. Susunannya pun acak, tidak ada kolom penjelasan yang lengkap.

“Visi kami memelihara sejarah musik di Indonesia. Memelihara sejarah kami lakukan dengan menghimpun rekam jejak dan dokumen terkait musik di Indonesia. Ke depan, kami berharap jadi pusat dokumentasi musik di Indonesia. Nampaknya kami lemah soal dokumentasi di Indonesia. Kami perlu memelihara, menjaga, jangan sampai punah, jangan sampai dicuri bangsa lain,” kata Hengki Herwanto, salah satu inisiator Museum Musik Indonesia.

Hengki mengaku bahwa pihaknya belum aktif berburu koleksi rilisan musik. Saat ini aset Museum Musik Indonesia adalah 21 ribu barang yang terdiri dari piringan hitam, kaset, majalah, poster, dan instrumen musik. Sekitar 80 persen dari total koleksi adalah kaset dan piringan hitam. Hal ini menjadi tanda bahwa dengan mengusung nama “Museum Musik Indonesia” seharusnya koleksi mereka mampu lebih mencakup “dari Sabang sampai Merauke” baik soal sejarah dalam bentuk arsip literatur, instrumen, atau bahkan penjabaran-penjabaran singkat soal musik di masyarakat Indonesia sendiri.


Museum Musik Indonesia (Foto: Metrotvnews/Shindu)

“Sementara ini kami belum berburu, kami masih mengandalkan sumbangan dari masyarakat. Surprise kemarin, di Perpustakaan Nasional ada Anugerah Komponis Indonesia yang diberikan kepada Ismail Marzuki dan pemberian registrasi musik untuk Rinto Harahap, ISMN (International Standard Music Number). Di kesempatan itu keluarga Rinto dan Panbers menyumbangkan buku notasi dan CD untuk Museum Musik Indonesia,” jelas Hengki.

Pemerintah bukan hanya diam melihat para penyelamat musik Indonesia bergerak swadaya membentuk Museum Musik Indonesia. Lokasi Museum Musik Indonesia di Gedung Kesenian Gajayana adalah wujud perhatian pemerintah Kota Malang.

“Soal material, kami diberi pinjam gedung ini. Aset Kota Malang, ke depan kami berharap dibantu lebih banyak lagi untuk membuat pentas musik, musisi Kota Malang, kami ingin ada dukungan peralatan, sound system dan lighting, agar para musisi lokal di Malang bisa tampil secara rutin di tempat ini.”

“Bantuan yang sudah ada juga datang dari BEKraf (Badan Ekonomi Kreatif), bantuan materi berupa interior, sekat, karpet, lemari, dan juga digitalisasi. BEKraf membantu kami mengtransfer, sudah ada 14 ribu yang ditransfer ke digital. BEKraf menunjuk sebuah perusahaan untuk melakukan digitalisasi itu. Nanti bisa diakses di aplikasi MMI (Museum Musik Indonesia) Library, tapi hanya bisa diakses di area MMI, karena kami juga melindungi hak cipta,” ucap Hengki.


Museum Musik Indonesia (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Mengumpulkan materi untuk sebuah museum memang bukan pekerjaan mudah, untuk itu seharusnya butuh keterlibatan dari banyak pihak.

Rasanya tidak sulit membuat sebuah museum musik yang layak jika pemerintah pusat benar-benar menjadikan ini sebagai sebuah isu penting. Terlebih, Museum Musik Indonesia memang bertekad sebagai pusat dokumentasi musik, termasuk pengarsipan. Alangkah baiknya jika Museum Musik Indonesia menjadi pusat arsip musik Indonesia. Namun, jika mereka - para sukarelawan yang mengurus Museum Musik Indonesia - bergerak sendirian, butuh berapa lama untuk mencapai mimpi itu?

Bisa dibilang, urusan pengarsipan musik di Indonesia justru tumbuh dari kesadaran masyarakat. Tercatat beberapa pihak secara sukarela mengarsipkan musik Indonesia, di antaranya Irama Nusantara dan Arsip Jazz Indonesia.

Pemerintah baru “memperhatikan” masalah pengarsipan musik setidaknya satu tahun terakhir, ditandai dengan dukungan BEKraf pada Irama Nusantara, pada 2016.

Dua tahun lalu saya pernah mencoba menghubungi pihak Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), bertanya soal arsip musik yang mereka miliki. Namun, mereka mengatakan bahwa mengarsipkan musik bukan jadi tugas pokok ANRI. (Baca: Harapan Nihil kepada Pemerintah untuk Pengarsipan Musik)

Bapak Hengki benar, kita lemah soal dokumentasi. Namun kita akan semakin lemah jika mengurus persoalan penting itu sendirian. Butuh atensi besar mengurus dokumentasi musik Indonesia.

Saya memahami, ini adalah awal dari apa yang lebih besar lagi mendatang. Namun, saya juga khawatir bila museum yang dikelola swadaya dengan segala keterbatasannya ini jalan di tempat, padahal Museum Musik Indonesia adalah nama yang sangat tepat menjadi destinasi utama jika ingin mengenal musik di Indonesia lebih dekat.


Suasana Gedung Gajayana (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Setelah puas melihat-melihat koleksi Museum Musik Indonesia, dan terutama membaca koleksi majalah Aktuil keluaran 60-an dan 70-an, saya pamit.

Seorang penjaga sepuh museum itu sempat bercerita bahwa gedung itu pernah digunakan Dara Puspita untuk tampil.

“Dulu Dara Puspita main di bawah, saya ingat ada tentara mengeluarkan tembakan, acara itu dibubarkan karena dulu musik yang dianggap musik Barat tidak boleh oleh Soekarno,” kisah sang penjaga museum.

Saya bergegas pergi dengan harapan bahwa museum dengan nama yang indah itu benar-benar menjadi rumah bagi dokumentasi sejarah musik Indonesia, dan lebih layak lagi.

 


(ELG)

Renjana Base Jam Bernostalgia

Renjana Base Jam Bernostalgia

5 days Ago

"Sesuai lagu kita yaitu, Jatuh Cinta dan Rindu. Bagaimana mengenang awal orang 'jatuh …

BERITA LAINNYA