Ketika Slank Terjebak di Dimensi Lain

Agustinus Shindu Alpito    •    23 Januari 2017 12:04 WIB
indonesia musik
Ketika Slank Terjebak di Dimensi Lain
Slank (Foto: Antara)

Metrotvnews.com, Jakarta: Saat ini, Slank resmi berusia 33 tahun. Rasanya, masih relevan menyebut Slank sebagai satu dari sedikit grup musik berpengaruh di Indonesia. Mereka berhasil bertransformasi dari bebunyian (musik) ke tahap yang lebih mencengangkan, pergerakan sosial.

Dalam sebuah diskusi bertajuk Alam Pikir Slank yang digelar oleh portal media Beritagar.id, di markas Slank yang terletak di Jalan Potlot III, Jakarta Selatan, pada Kamis 19 Januari lalu, Slank berbagi kisah soal penulisan lagu-lagu mereka.

Bimo Setiawan Almachzumi alias Bimbim, pendiri sekaligus drummer Slank, adalah sosok yang paling banyak menulis lagu untuk Slank.

Dalam penelitian kuantitatif yang dilakukan Beritagar.id, Bimbim tercatat menulis 131 lagu untuk Slank atas nama individu, dan 123 lagu bersama personel lain.

Sedangkan Kaka, menulis tujuh lagu atas nama individu, dan 111 lagu bersama personel lain. Melihat data ini, bisa dibilang Slank adalah Bimbim.

“Sebenarnya banyak input (inspirasi menulis lagu). Banyak baca koran, dengar berita, bergaul, mendengarkan curhat (curahan hati) orang. Makin banyak input makin bikin kami gelisah. Yang kami jaga itu kegelisahan. Semakin gelisah semakin banyak (ide) yang keluar). Kalau duit itu bonus, nomor satu itu senang,” kata Bimbim.

Secara musikalitas, Slank saat ini tentu tidak bisa dibandingkan dengan Slank era 1990-an awal. Di mana mereka masih sangat dekat dengan narkoba, problematika cinta khas pria usia 20-an, dan persoalan lainnya yang dihadapi kala itu. Namun, tidak bisa dipungkiri juga bila Slank era 1990-an berhasil melahirkan lagu-lagu ikonik yang masih relevan untuk didengarkan hingga saat ini.

“Cinta, youth movement, lingkungan, itu (tema) yang enggak basi. Kami enjoy (menulis soal tema itu). Kita enggak mabok lagi hari ini, zaman memengaruhi lagu-lagu Slank,” kata Bimbim soal perkembangan Slank soal penulisan lagu.

Dalam diskusi itu, terkuak bahwa lagu-lagu cinta Slank biasanya lahir dari gagasan Kaka, kemudian dipoles oleh Bimbim. Sang drummer memberi istilah dirinya sebagai spesialis “finishing touch.”

“Lagu cinta itu paling susah dibikin ramai-ramai. Karena rada susah, butuh (waktu) sendiri. Banyak juga lagu cinta cerita dari Kaka, seperti Foto Dalam Dompetmu, Anyer 10 Maret. Lagu cinta lebih banyak datangnya dari cerita Kaka, aku hanya finishing touch,” kata Bimbim.

Sementara itu, Kaka juga mengaku inspirasi yang didapatnya tidak selalu datang dari pengalamannya sendiri.

“Pengalaman bisa datang dari siapa saja, penuangan, dan finishing touch berakhir di Bimbim,” ungkap Kaka.

Soal dua lagu ikonik Slank dari era 1990-an, Foto Dalam Dompetmu (dari album Lagi Sedih, 1997), dan Anyer 10 Maret (dari album Piss, 1993), Bimbim memberi pengakuan menarik seputar proses kreatif lagu itu.

“Anyer 10 Maret itu lagu broken heart. Ada dua orang yang sedang gue rindukan. Cewek gue dan ibu gue. Bagaimana caranya ide ini tambah tersayat-sayat? Lalu kami sengaja ke Anyer pas ulang tahun (Kaka berulang tahun pada 10 Maret),” jelas Kaka.





Soal lirik “tak hilang ditelan bergelas-gelas arak yang kutenggakkan,” Bimbim bercerita pemilihan kalimat itu untuk menggambarkan bahwa minuman beralkohol yang ditenggak dalam jumlah banyak pun tidak mempan untuk membuat lupa hati yang sedang dirundung rindu dan kecemasan.

Tiap lagu memiliki proses kreatif masing-masing. Lagu Terbunuh Sepi, dijelaskan Bimbim sebagai lagu yang lahir di masa-masa awal dirinya dan Kaka mengonsumsi narkoba.

Terbunuh Sepi itu sakau pertama kali. Kami gelisah, tetapi tiap minum obat flu hilang, lalu datang lagi (perasaan gelisah). Waktu itu kami lagi rekaman (di Puncak), yang tiga personel turun ke Jakarta, kami (Kaka dan Bimbim) ditinggal dengan materi musik doang,” kata Kaka.

Kemudian Bimbim menimpali bahwa mereka pada awalnya tidak mengerti dampak yang ditimbulkan dari narkoba yang mereka konsumsi.

“(Saat membuat lagu Terbunuh Sepi) itu awal-awal kami sakau. Perasaan gelisah, tetapi kami belum mengerti gelisah karena apa. Justru perasaan itu dituang ke lirik dan nada. Ternyata yang bikin kami merasa ketagihan (pada narkoba) itu pikiran kami. Seandainya kami enggak mengerti terus sakau itu karena narkoba, mungkin kami bisa membawa ‘sakau’ itu ke jalan yang beda (menjadi karya),” tukas Bimbim.





Meski mengakui pernah menulis karya besar saat dalam pengaruh obat-obatan, Bimbim menegaskan bahwa narkoba tidak bisa dijadikan alasan sebagai pemicu lahirnya karya. Bimbim mengatakan bahwa dirinya bersama Slank terus melahirkan karya, lepas dari kondisi yang mereka alami.

“Meski kami se-teler apapun, lagi high setinggi apapun, atau enggak punya duit, kami tetap berkarya. Waktu membuat album, kami serius. Narkoba tidak membuat orang jadi pintar dan kreatif.”

Slank meninggalkan banyak kenangan, juga karya dari "dimensi lain." Sebuah dimensi yang tercipta dari narkoba yang mereka konsumsi dulu. Meski dimensi itu pernah menjebaknya, tetapi toh pada akhirnya Slank kembali ke dunia nyata. Tantangan mereka bukan lagi menaklukkan kecanduan akan obat-obatan terlarang itu, tetapi menjaga Indonesia dari tirani kekuasaan yang membelenggu.

33 tahun Slank berdiri, mereka sadar bahwa perilaku mereka menjadi acuan bagi para Slankers yang jumlahnya jutaan, dari berbagai golongan kelas sosial dan usia. Hal itu pula yang membuat Slank lebih mengontrol sikap dan perilaku agar tidak membawa dampak buruk bagi Slankers.

“Kami semakin menyadari bahwa kami membawahi adik-adik yang energinya besar (Slankers). Makanya kami pengin arahin ke sesuatu yang positif. Itu membuat balance kami juga biar enggak punya evil mind. Punya rem,” kata Kaka.

Pada Februari 2017, Slank akan merilis album studio ke-22. Semangat mereka terus terjaga sejak berdiri di tahun 1983. Kini, Slank semakin matang dan tegap berdiri dengan sikap-sikap yang berani - termasuk sikap politik mereka. Bahwa mereka bukan saja bertanggungjawab terhadap para Slankers, tetapi juga Indonesia secara utuh.

Slank bukan lagi milik Slankers saja, tetapi milik kita semua.


(DEV)

Berharap pada Museum Musik Indonesia

Berharap pada Museum Musik Indonesia

3 days Ago

Gedung Kesenian Gajayana adalah rumah baru bagi Museum Musik Indonesia, setelah mereka menempat…

BERITA LAINNYA