Kelompok Penerbang Roket, Mengorbitkan Satelit Rock Indonesia

Agustinus Shindu Alpito    •    26 September 2016 13:02 WIB
indonesia musik
Kelompok Penerbang Roket, Mengorbitkan Satelit Rock Indonesia
KPR saat wawancara dengan Metrotvnews.com. (Foto: MTVN/A. Shindu)

Metrotvnews.com: Trio bengal nan urakan bersatu atas nama rock & roll, mengusung nama Kelompok Penerbang Roket (KPR) dan menggebrak sirkuit musik Indonesia dengan raungan distorsi dan lirik nakal. Jika diibaratkan, KPR tengah menjelma sebagai mekanik pembuat roket 'mesin rock Indonesia.'

Setelah era band dengan citra flamboyan dan sangat memerhatikan citra diri, seolah penggemar rock rindu akan manifestasi rock sesungguhnya. Entah bagaimana, jawaban itu justru datang dari tiga anak muda yang sebelumnya tidak dikenal. Rey Marshall (gitaris), Viki Vikranta (drummer), dan John Paul Patton alias Coki (vokalis, bassist), datang dengan segala atribut rock & roll tanpa polesan. Baik dari penampilan, perilaku, dan yang terpenting musik yang diusung.

Tak butuh waktu lama bagi grup yang akrab disebut KPR itu untuk menjadi yang terbaik di kelasnya. Berbekal dua album, album debut Teriakan Bocah (2015), dan album aransemen ulang lagu Panbers, HAAI (2015), KPR tumbuh menjadi grup musik rock paling diperhitungkan saat ini.

Metrotvnews.com menyempatkan diri menyambangi sesi latihan KPR di sebuah studio di kawasan Jalan Haji Nawi, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Dalam perbincangan ringan dengan ragam topik yang dipenuhi kepulan asap rokok dan vapor, tiga personel KPR membagikan cetak biru misi mereka.

Kelompok Penerbang Roket merupakan grup yang dibentuk oleh Rizma Arizky (manajer KPR). Apa alasan kalian mau dipersatukan, padahal tidak saling mengenal pada awalnya?

Rey: Kalau gue karena enggak menemukan orang yang tepat saja kalau mencari sendiri. Susah mencari yang sama, dari selera musiknya. Pas dikenalkan dengan mereka, gue coba menjalani.

Dari awal sudah ada gagasan musik seperti apa, tetapi kami belum tahu akan seperti apa fix-nya. Setelah kami dipertemukan bertiga, baru kami coba. Dulu juga bahkan belum ada nama, bahkan saya juga tidak tahu wajah Coki dan Viki seperti apa.

Viki: Karakter gue bisa dibilang idealis banget, dulu sempat ada band dan itu gue yang dominan. Sampai pada akhirnya pada cabut, dan akhirnya gue pikir gue baru akan nge-band kalau bertemu orang yang tepat. Gue akhirnya kerja di studio musik dan jadi session player. Gue kenal Rizma itu bareng dengan kenal Coki, sekitar tahun 2008 atau 2009.

Coki: Dulu gue punya band, tetapi personelnya sibuk dan akhirnya bandnya bubar. Terus gue bikin proyek musik sendiri, gue yang rekam instrumen-instrumennya sendiri, salah satu hasilnya lagu Tanda Tanya. Tapi dulu aransemennya beda. Terus Rizma datang menawarkan mengerjakan proyek musik (cikal bakal KPR), dia menawarkan sampai tiga kali. Akhirnya gue bilang gue mau. Gue merasa harus mengeluarkan energi ini. Akhirnya gue bertemu dengan Rey dan Viki yang memang punya visi untuk menjadi musisi besar.

Bagaimana situasi waktu kalian bertemu dan menjajal nge-band pertama kali?

Rey: Waktu itu asal main instrumen saja. Itu yang akhirnya jadi lagu Cekipe.

Viki: Setahun lebih kami tidak ngapa-ngapain, kami dikarantina. Menyatukan energi kami. Lagu pertama instrumen karena kami tidak ada yang bisa menyanyi. Kami sempat mencari vokalis, tetapi pada akhirnya kami pikir itu akan ribet.

Coki: Gue sebelumnya enggak kepikiran gue nyanyi, gaya menyanyi gue pun lebih ke suka-suka gue. Bukan menyanyi yang mendayu-dayu gitu. Gue belajar menyanyi dari The Beatles, gue enggak butuh referensi banyak soal menyanyi. Cara gue menyanyi itu terinspirasi dari The Beatles, The Animals, The Who, sedikit Led Zeppelin. Gue belajar dari Paul McCartney yang menyanyi dengan suara perut. Lama-lama terasah.

Bagaimana cara kalian menyatukan kimia (chemistry)?

Viki: Waktu setahun karantina, kami setiap hari bertemu. Model karantinanya ya main band terus, nongkrong. Ada Rizma juga kami nongkrong berempat.

Coki: Kayak orang pacaran, kami bareng-bareng terus. Sampai akhirnya sampai tahu secara personal.

Rey: Personal banget, sampai kami saling mengerti. Misal gue mengerti si Coki masih pengin main bass solo, atau gue masih pengin isi  bagian solo gitar di atas panggung, mereka juga mengerti itu. Itu lebih penting daripada bikin lagu bagus terus main rapih. Kalau sekarang suka-suka kita masing-masing tapi saling mengerti, karena kami sudah kenal dekat secara personal jadinya untuk itu lebih gampang.

Bisa diceritakan bagaimana momen dan situasi saat penentuan nama "Kelompok Penerbang Roket?"

Rey: Situasinya lagi mabuk habis latihan. Musik sudah mulai kelihatan arahnya, step selanjutnya membuat nama. Itu sekitar tahun 2011 akhir.

Viki: Kami sudah bermain selama sebulanan waktu itu. Kejadiannya malam hari, waktu itu kami mabuk. Yang sadar biasanya si Coki, itu juga kadang-kadang. Dari konsep kita pengin nama yang Indonesia banget, menghilangkan nama 'group' dan 'band,' dan juga menghindari menggunakan kata 'The'. Terus kita pilih kata 'kelompok' karena itu Indonesia banget. Karena kami suka Duo Kribo, ada lagu mereka judulnya 'Mencarter Roket'. Akhirnya kami pakai kata Roket itu.

Coki: Proses pembuatan nama enggak lama, cuma setengah jam.



Visi saja kami rasa tidak cukup untuk menjadi besar, bagaimana kalian memupuk harapan pada awalnya dan berkeyakinan bahwa kalian mampu menjadi besar di kancah rock?
 
Rey:
Analoginya, barang bagus pasti dibeli. Sesimpel itu. Musik bagus juga pasti akan didengarkan.

Lantas, apa parameter kalian soal musik yang bagus?

Rey: Kami dapat masukan dari Rizma, dari teman-teman nongkrong. Yang pasti kami enggak bikin lagu untuk jualan.

Coki: Kenapa Led Zeppelin bisa besar, The Beatles besar, karena musik mereka simpel dan bisa dinikmati banyak orang. Dan musik yang menurut gue keren, ternyata juga dianggap keren oleh Rey dan Viki.

Lirik kalian menyuarakan bahasa akar rumput. Apakah dalam keseharian pergaulan kalian juga menyentuh akar rumput?

Rey: Iya, ya kami terbiasa nongkrong juga dengan siapa saja. Apa yang kami alami pas nongkrong, ada keluhan dari siapa, itu secara tidak langsung terekam di kepala. Sewaktu berkarya hal itu jadi keluar.

Intinya lagu-lagunya teriakan dari bocah. Kami ibarat bocah, bocah baru di industri musik. Namanya bocah teriak-teriak ya ingin menyampaikan apa keinginannya. Bukan teriak mewakili siapa atau apa.

Bagaimana proses kreatif penulisan lirik KPR?

Viki: Coki paling rajin bikin lirik dan riff.

Rey: Kadang Coki bawa lirik doang, lagunya nge-jam. Atau kadang ada lagunya, liriknya kami tulis sama-sama.

Coki: Enggak bohong soal lirik dari latar belakang juga, kami tinggal di Jakarta. Panas-panasan ke sana-sini cari uang. Ya, kehidupan di Jakarta. Karena pengalaman itu, tanpa gue sadari jadi banyak kata-kata yang terkait. Misal kata 'Anjing Jalanan,' itu yang gue temui sewaktu naik motor. Lirik dan lagu itu menurut gue jodoh. Gue bukan tipe yang harus mencari lirik dan asal dimasukkan ke lagu. Menurut gue itu kurang seni. Misal lagi nongkrong atau lagi minum, ada kalimat yang nyeleneh, dari situ gue tulis terus gue kembangkan. Mungkin itu gift, gue bersyukur atas itu. Menemukan lirik-lirik.


Coki dan Viki beraksi dalam acara We The Fest 2016. (Foto: MTVN/ A. Shindu)

Seluruh lagu di album debut kalian menggunakan Bahasa Indonesia. Ada sikap tertentu terkait penggunaan bahasa?

Viki: Dari awal kami bikin KPR, visinya kami ingin membangkitkan kembali musik rock Indonesia. Itu pernyataan kami. Itu identitas kami juga, menggunakan lirik Bahasa Indonesia.

Rey: Kami mencoba menggali karakter masing-masing. Enggak mau dianggap kami Led Zeppelin banget, Black Sabbath banget, atau Duo Kribo banget.

Coki: Intinya kami bertiga main musik, jadinya ya seperti ini. Kalau dianggap mirip, itu bukan keinginan kami. Kami tidak ada arah ke sana (untuk mirip band tertentu).

Apa alasan kalian menggandeng Didit Saad sebagai produser untuk album debut?

Viki: Itu ide dari Rizma, ketika kami sudah punya materi, kami butuh produser yang mengerti karakter musik kami seperti apa. Pada saat kami latihan, diajak Didit Saad. Dia masuk ke studio sebentar doang, terus keluar lagi. Wajahnya merengut, gue pikir apa dia enggak suka. Terus pas istirahat, dia bilang, "Gue suka musik kalian. Auranya berengsek! Sebenarnya sudah enggak perlu diapa-apakan lagi."

Usia muda dan idealisme tinggi, apakah sempat terpikirkan jika kalian gagal menjadi bintang rock, kalian akan menjalani profesi apa? Apakah mungkin mendaftar menjadi pegawai negeri?

Viki: Untungnya gue yakin kami bertiga enggak ada yang berpikir seperti itu. Dari kecil gue emang udah pengin jadi rockstar. Dari SMP, sejak kenal drum gue udah tahu kalau gue emang pengin jadi rockstar. Dulu gue tinggal di Denpasar, Bali. Terus gue kuliah musik di Australia dan pulang dari Australia gue merantau ke Jakarta.

Rey: Gue males banget kalau kerja kayak gitu, kerja kantoran. Pokoknya enggak ada yang boleh mengganggu gue nge-band.

Coki: Gue bakal tetap main musik. Ada yang menawarkan untuk main FTV, sinetron tapi gue tolak. Kalau gue nyemplung, gue telan ludah sendiri, stereotipe orang-orang blasteran pasti jadi artis (sinetron, film). Kalau iklan, ada tawaran besar gue ambil.  Setelah lulus SMA gue memang tahu kalau pengin jadi musisi. Gue ke studio terus, gue memutuskan untuk tidak kuliah. Gue mau main musik saja dengan janji pada diri sendiri setiap hari ada hal baru yang gue pelajari. Kalau mungkin gue banting stir, gue pengin jadi pengusaha. Yang penting gue nabung dulu sekarang.

Di album Teriakan Bocah, Viki menangani proses mixing dan mastering. Apa itu praktik dari apa yang dipelajari dari studi di Australia?

Viki: Gue banyak menyerap ilmu dari senior-senior, termasuk ketika kuliah di Australia. Gue ambil jurusan audio engineering di Australia Institute of Music di Sydney, di sana banyak belajar juga dari dosen gue. Kebetulan dosen gue soundman-nya AC/DC.

Coki sempat aktif di band lain, apakah ada kekhawatiran dari personel lain itu akan mengganggu aktivitas menerbangkan "roket" kalian?

Coki: Anak-anak sudah tahu gue penginnya seperti apa. Jujur gengsi gue gede, jadi gue pengin di band yang "band gue." Gue merasa konsep trio itu semua stand-out. Di trio itu tiga-tiganya frontman. Seperti kalau melihat Led Zeppelin, semua karakter kuat jadi semua bisa dibilang frontman.

Di Elephant Kind (band terdahulu Coki) ada alter ego gue sebenarnya. Ketika gue main lagu yang gue enggak suka, itu beban banget. Elephant Kind bisa jalan dan bertambah besar dengan Bam Mastro (penggagas Elephant Kind).


Rey cuek melepas kaus saat tampil di Soundrenaline 2016.(Foto: MTVN/A. Shindu)


Kalian dianggap sebagai sosok berandalan, ugal-ugalan, atau bahkan berengsek. Bagaimana kalian menyikapi tudingan citra itu?

Viki: Memang latar belakangnya berengsek semua anak-anak. Tapi in a good way.

Rey: Gue sih bodoh amat, sekarang band rock kebanyakan banci, makanya kami terlihat beda sendiri.

Kalian sering tampil dengan kesan dalam pengaruh alkohol yang kuat. Apakah orangtua kalian pernah melihat aksi panggung KPR? Bagaimana reaksi mereka?

Rey: Sering, pesannya jangan kebanyakan minum.

Viki: Kalau bonyok gue nonton, tapi mereka memang bawaannya cuek.

Coki: Gue pernah ajak bokap gue waktu kami main di Kemayoran, terus pernah ajak nyokap gue waktu gue main di Manado, gue ajak nyokap ke depan. Nyokap gue kasih pesan ke Rey untuk jangan banyak-banyak minum.

Apa ada peristiwa panggung yang tak terlupakan sejauh ini? Bagaimana kisahnya?

Rey: Waktu main di Pensi (pentas seni) SMA Tarakanita, kami cuma main tiga lagu karena kami teler. Sampai ada polisi naik ke panggung maksa gue untuk pakai baju, polisinya tanya, "Mau pakai baju atau berhenti main?" Terus gue jawab mending gue berhenti main.

Tapi sekarang kami lebih bijak, sekarang gue kalau mau ngomong yang aneh-aneh, pas di depan mikrofon langsung gue berhenti. Banyak yang pengin gue omongin di kepala, tapi gue bisa tahan sekarang.

Viki: Kami bikin masalah di Tarakanita karena ngomong kotor. Dari situ kami di blacklist main di pensi se-Jakarta. Sekitar satu tahun kami enggak main di pensi. Sekarang kami sudah menjaga sekali hal-hal seperti itu.

Coki: Waktu itu keadaannya sudah rusuh, waktu itu Rey lempar gitar, gue juga untuk pertama kalinya lempar bass. Mood gue berantakan, kepala gue terasa kusut. Di saat itu kami belum bijak. Itu jadi pembelajaran hingga sekarang. Waktu itu sudah kacau banget, Viki turun terus ngomong, "Makasih ya Tarki yang sudah ngasih sound kayak ******!"


KPR tampil di pesta musik akbar Soundrenaline 2016.(Foto:MTVN/A. Shindu)

Soal album HAAI, banyak yang kurang menyadari album itu dibuat tanpa keterlibatan Rey (Rey sempat ditahan dan menjalani rehabilitasi karena kasus narkotika). Lantas bagaimana kalian mengerjakan album tersebut?

Rey: Gue enggak terlibat sama sekali, mungkin hanya di bagian konsep awal.

Viki: Waktu awal kami bingung, akhirnya gue ajak om gue, namanya Om Gembul, gitaris band Si Boy. Dia mengikuti kami dari awal, dia tahu cara permainan Rey. Dia bunglon banget, bisa meniru permainan siapa saja. Dia banyak menolong di album HAAI.

Mengapa kalian tetap meneruskan pembuatan HAAI tanpa Rey?

Viki: Itu karena sudah terikat kontrak (sebagai pemenang Jack Daniel's On Stage Indie Band Competition), jadi harus dibikin.

Rey: Kalau (hadiah sebagai pemenang) bisa diuangkan, kami lebih pengin diuangkan. Kalau diuangkan mungkin kami bisa buat tiga album. 

Bagaimana pandangan kalian terhadap musik rock saat ini?

Coki: Menurut gue musik pop masih besar, tetapi musik rock enggak kalah besar dan penggemar rock itu loyal. Metallica bisa sebesar itu sampai sekarang. Festival musik rock di Indonesia sampai sekarang masih jalan dan tambah besar. Kalau bicara rock di lokal dan di internasional, rock itu bertahan, naik bukan turun. Rock itu esensi, bukan sekedar aliran. Di Jepang ada Fuji Rock, bukan Fuji Pop. Itu esensi. Orang-orang yang sampai sekarang bermain rock, adalah mereka yang punya keyakinan.

Apakah kalian bersedia jika kalian diundang tampil di acara musik TV pagi hari?

Rey: Gue mau banget, bakal gue berantakin. Selama ini belum ada tawaran, kalau ada pasti gue sikat. Panggung-panggung seperti itu yang akan membuat kami lebih kreatif.

Apa dampak popularitas sebagai bintang rock?

Rey: Sekarang gue enggak bisa mabuk sembarangan. Kalau dulu gue bisa keluyuran  di acara musik nenteng botol. Sekarang gue lebih jaim (jaga image) soal itu.

Coki: Ya seperti Metallica, vokalisnya enggak mungkin minum sebelum manggung sama penonton. Atas alasan showbiz dan profesional.

Gue akhirnya bikin Istagram, sebelumnya gue tertutup soal media sosial karena gue merasa belum perlu. Sekarang kalau gue ke mall ada yang minta foto. Itu yang membutikan bahwa KPR makin familiar.

Viki: Sekarang lebih menjaga citra, gue sama Rey berantakan. Dulu sebelum ada Abah Jaya (mantan personel Roxx yang kini bertindak sebagai teknisi suara KPR), gue masih sering ikut nyanyi. Setelah Abah tahu kejadian di Tarki, gue enggak boleh lagi pegang mikrofon.

Apa dampak dari popularitas terhadap relasi kalian dengan keluarga?

Rey: Sejak gue keluar rehabilitasi, gue dilarang main musik sama orangtua. Tetapi gue tetap bandel dan main musik terus diam-diam, sampai akhirnya gue membuktikan band gue ada kemajuannya, bukan sekedar mabuk-mabukan. Orangtua gue sih lihat gue masuk TV saja sudah senang.

Viki: Kalau orangtua gue lebih takut sekarang, karena dulu aja gue sudah bandel apalagi sekarang.


Layaknya band rock besar, apakah sudah memiliki groupies?

Rey: Kalau soal itu jangan dipublish, he-he-he.


Penggemar kalian semakin banyak, ada rencana memberi nama kelompok penggemar?

Viki: Tidak ada, biar mereka sendiri yang bikin. Natural saja. Seperti Slank ada Slankers, itu kan natural.

Rey: Kami tidak mau ada jarak. Di panggung kami KPR, kalau setelah dari panggung kami bisa nongkrong bareng.

Siapa sosok musisi di Indonesia yang kalian hormati?

Rey: Anak-anak Seringai. Gue melihat mereka sudah pada tua tetapi masih bocah kelakuannya. Mereka kompak dan anak-anaknya apa adanya. Rockstar itu born to be, tidak bisa dibuat-buat.

Coki: Gue lebih ke Ucok AKA dan Ahmad Albar. Gue respek musisi yang sampai sekarang pun tetap auranya musisi.

Viki: Gue respek Ahmad Albar. Kalau yang gue kagumi, almarhum Ucok.

Bagaimana pandangan kalian melihat sosok Ahmad Dhani?

Rey: Menurut gue dia jenius. Tetapi ada beberapa hal yang menurut gue tidak sesuai, terutama soal dia di politik. Tetapi gue tetap menghormati dia sebagai orang pintar.

Viki: Gue penggemar berat Dewa 19. Kalau dia seperti yang sekarang, gue enggak tahu apa yang ada di pikirannya. Mungkin karena dia jenius. Gue enggak bisa nge-judge, tetapi gue respek. 

Coki: Gue enggak bisa ngejudge. Dia eksentrik.


(FIT)