Napas Panjang Roxx

Agustinus Shindu Alpito    •    04 April 2017 13:25 WIB
indonesia musik
Napas Panjang Roxx
Roxx (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Metrotvnews, Jakarta: Pada sebuah Jumat malam, tepatnya 31 Maret 2017, Roxx merayakan pesta perilisan album Anthem. Sekaligus merayakan 30 tahun usia mereka.  Ini adalah sebuah kejutan, sebab kabar terakhir soal Roxx tidak enak didengar, mereka ditinggal oleh gitaris "Abah" Jaya, pada awal 2016. Di usia dewasa, Roxx justru mengalami perpecahan. Sangat disayangkan mengingat Jaya adalah personel yang ikut membidani lahirnya grup cadas ini.

Roxx adalah ikon musik keras Indonesia. Sesuai judul hit mereka, Rock Bergema, Roxx ikut menggemakan musik rock se-antero Indonesia.

Perayaan 30 tahun Roxx digelar dengan mini konser di Rolling Stone Cafe, Jakarta Selatan. Ratusan orang hadir, didominasi mereka yang menurut perkiraan saya tumbuh bersama musik Roxx.

Album Anthem menjadi titik penting dalam perjalanan Roxx. Album berisi sembilan lagu itu menjadi album pertama yang mereka buat tanpa keterlibatan Jaya. Sekaligus sebagai bukti bahwa Roxx tetap bergeliat dengan berbagai problema yang ada.

"Keterlibatan Abah sama sekali tidak ada, dia tidak ikut apa-apa. Kami mengambil Iwan lagi,  dia personel original Roxx, awal berdiri Roxx sudah ada Iwan. Jadi yang tersisa personel asli Roxx dari awal ada saya, Iwan, dan Toni. Sementara Raiden bergabung pada 2009, Dd Crow masuk 1999," kata Trison Manurung, vokalis Roxx.

Empat dari sembilan lagu dalam album Anthem merupakan lagu lama yang mereka aransemen dan rekam ulang. Empat lagu itu adalah Society Way, Ada Tiada, Rock Bergema, dan 5 Cm. Keputusan merekam lagu-lagu dari album debut itu disebut Trison sebagai bentuk nostalgia tiga dekade mereka berkiprah.


Roxx (Foto: Metrotvnews/Shindu)

"Karena kami ingin bernostalgia. Lagu baru itu kami persembahkan untuk pendengar Roxx yang baru. Kami juga ingin bernostalgia dengan penggemar Roxx yang setia selama 30 tahun."

Selain bermuatan nostalgia, terdapat pula lagu yang mengabadikan masa-masa getir Roxx. Adalah lagu berjudul Setengah Manusia. Lagu yang ditulis Dd Crow itu untuk mengenang perjuangan sekaligus momen luput dari maut bassist Toni Monot.

Pada 2012, Toni mengalami kecelakaan fatal ketika mengendarai mobil bersama dengan istrinya, Irma. Kecelakaan itu membuat Toni nyaris kehilangan nyawanya. Dia dirawat di rumah sakit selama dua bulan dan mengalami hilang ingatan. Lewat Setengah Manusia, peristiwa ajaib kembalinya Toni dikenang. Juga perjuangannya menelusuri ingatannya yang hilang.


Toni Monot (Foto: dok. pribadi)


Meraih Kembali Kejayaan Tanpa Jaya

Peran Jaya sebagai arsitek tata suara Roxx sekaligus gitaris sangat vital. Trison juga mengaku bahwa kontribusi gitaris berambut gondrong itu besar.

"Jaya banyak memberi kontribusi, seperti (salah satunya) kami selama ini latihan di tempat dia," kata Trison.

Dalam jumpa pers peluncuran album Anthem, Roxx mengaku lebih bebas dalam berekspresi pasca-hengkangnya Jaya. Raiden mengibaratkan Jaya sebagai "portal" yang harus dilalui para personel Roxx lain, ketika mereka membahas sesuatu.

"Abah dulu selaku produser dan sound engineer. Semua harus lewat (persetujuan) dia, dia sebagai portal. Tetapi sekarang portal itu enggak ada,” kata Raiden.

Raiden bergabung dengan Roxx pada 2009, satu dekade setelah Roxx kehilangan drummer Arry karena meninggal dunia. Dengan apa yang telah dilalui, bisa dibilang Roxx pernah mengalami segala problematika yang bisa menimpa sebuah band.

Namun, para personel Roxx saat ini berbeda dengan puluhan tahun lalu. Kondisi psikologis dan cara mereka menghadapi persoalan antara masa muda dulu dan saat ini berbeda. Sayangnya, hal itu justru menjadi kendala bagi mereka.

"Kalau perbedaan pendapat wajar. Akhir-akhir ini sudah mulai ada perbedaan visi-misi. Kebetulan visi-misi dia (Jaya) berlainan dengan yang empat. Sampai dia memutuskan mengundurkan diri dari Roxx dan kami menghargai keputusan itu. Setiap orang punya ide tetapi jika sampai berbenturan, ya jadinya seperti ini," beber Trison.

"Ketika anak-anak mulai jenuh dengan ide-ide dia, akhirnya anak-anak menentang dan akhirnya Jaya keluar."



"Pertentangan dari hal musik, image juga. Sama ide-ide dia yang tidak bisa kami terima dan kadang dipaksakan. Dulu kami iya-iya saja, tetapi sampai suatu saat kami merasa ide itu garing, kami enggak bisa memaksakan. Menurut saya nge-band harus enjoy. Kalau enggak enjoy pasti dijalankan enggak enak.”

Ini bukan kali pertama personel keluar juga keluar-masuk di tubuh Roxx. Nyaris seluruh personel Roxx pernah mengalaminya. Toni Monot, sempat meninggalkan Roxx untuk studi di Jerman, pada awal 1990-an. Sementara Iwan Achtandi keluar dari Roxx pada 1996 dan baru masuk kembali setelah Jaya hengkang pada 2016.

Begitu juga dengan Dd Crow yang sempat keluar pada tahun 2000 untuk bergabung dengan Powerslaves dan kembali lagi pada Roxx pada tahun 2004. Sedangkan Trison, sempat meninggalkan Roxx pada 1999 untuk bergabung dengan Edane, namun namanya kembali tercatat sebagai personel Roxx dalam album Bergema Lagi yang dirilis pada 2004.

Saat ditanya apakah Roxx akan mengupayakan kembali hadirnya Jaya, Trison mengeluarkan sinyal negatif.

"Karena kebetulan Iwan bisa eksis lagi, saya rasa enggak perlu. Sudah lengkap dengan adanya Iwan," tegasnya.



Iwan dan Jaya sejatinya pasangan yang meletakkan pondasi gitar pada Roxx. Namun rasanya nostalgia itu terlalu sentimentil bagi grup se-cadas mereka.

"Kalau gue rasa, kayaknya setelah Iwan tahu enggak ada Jaya dia malah semangat. Ini asumsi gue, karena gue belum menanyakan ke Iwan langsung. Soalnya sulit mengajak Iwan waktu ada Jaya," kata Trison.

Kehadiran Iwan memberi nuansa baru bagi Roxx, setidaknya itu yang dirasakan Iwan, “Hit-hit Roxx banyak saya ciptakan bersama Iwan justru, bukan dengan Jaya. Saya menyambut baik semua ini.”


Kembalinya Iwan dan Siap Bergema Lagi

“Sebelum kami mengajak Iwan, kami sudah mengajak beberapa gitaris tetapi belum ada yang cocok,” kata Trison.

20 Tahun meninggalkan Roxx, tidak membuat gitaris jangkung itu canggung saat kembali. Iwan bahkan menyumbang sebuah lagu berjudul Iklan Celana Dalam yang ditulisnya dalam album Anthem.

“Enggak canggung. Sound baru. Sekarang lebih tenang, tukar pikiran lebih enak. Tidak ada yang mendominasi, tradisi dulu yang memaksa sudah enggak ada,” kata Iwan.


Iwan (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Hadirnya Iwan bukan sekadar nostalgia semata. Sirkuit rock Indonesia kian ramai, Roxx tidak bisa terus mengandalkan kejayaan di masa lalu.

Zaman telah berubah, mau tidak mau Roxx harus mengikuti perkembangan yang ada. Di usia yang tidak lagi muda, tentu tantangan semakin besar. Roxx telah memiliki tempat tersendiri di kancah musik Indonesia, tetapi mereka tidak bisa seterusnya menempatkan diri di sana. Internet mengubah segalanya, grup cadas baru bermunculan, tantangan Roxx adalah mempertahankan gema yang mereka gaungkan sejak 1987.

“Yang penting stigma Roxx band legendaris itu dikesampingkan dulu, harapannya kami dapat merangkul generasi sekarang,” kata Raiden Soedjono, drummer Roxx.

Apa yang dikatakan Raiden menggambarkan bahwa Roxx ingin beranjak dari stigma yang terlanjur membuat mereka di atas angin. Label sebagai band legendaris bisa saja membuat mereka tak beranjak. Justru ini adalah tantangan bagi Roxx, bagaimana mereka tidak bercokol di label itu dan terus melahirkan sesuatu yang baru tanpa terbebani ragam sanjungan.


Album Anthem (Foto: Metrotvnews/Shindu)

“Kami harus berani bersaing dengan pendatang baru dengan cara membuat karya baru dan terbaik. Walau kami sudah tidak muda lagi tetapi harus tetap menampilkan semangat metal. Kami enggak boleh kalah dan minder. Kami hanya berusaha main se-keren mungkin, se-dahsyat mungkin,” kata Trison.

Anthem rasanya bukan saja sekadar judul album, tetapi sebuah pernyataan dari Roxx. Mereka yang mengawali langkah gemilang dengan anthem Rock Bergema, seperti ingin membuktikan bahwa hingga saat ini mereka masih mampu melahirkan “anthem-anthem” yang lain.




 


(ELG)