Tabuh Zig-zag Agung Yudha

Elang Riki Yanuar    •    14 Maret 2017 07:00 WIB
indonesia musik
Tabuh Zig-zag Agung Yudha
Agung Yudha Asmara (Foto: dok. pribadi

Metrotvnews.com, Jakarta: Dipilih mengisi kemudi drum di band sebesar Dewa 19 tentu menjadi bukti kualitas Agung Yudha Asmara atau yang akrab disapa Agung Gimbal. Namun, belum banyak yang tahu perjalanan musik Agung. 

Menyimak perjalanan musik Agung seperti menyaksikan kisah hidup seseorang yang bergelimang keberuntungan. Namun tentu saja, tanpa didukung kemampuan bermain musik yang baik, Agung tidak akan menemui jalan mudah. 

Selain bersama Dewa 19, wajah Agung memang kerap kita lihat bersama musisi lain. Entah di video klip atau sedang manggung bersama musisi lain. Agung sejak dulu memang memilih jalan menjadi session player atau musisi yang kerap dikontrak untuk bermain dalam sebuah proyek musik. Namun, saat ini dia hanya tercatat sebagai personel tetap di dua band yaitu, Dewa 19 dan Powerslaves. 

"Album pertama Andra and the Backbone itu kebanyakan Yoyok sama Tyo yang isi drum-nya. Saya baru di album kedua dan ketiga. Tapi di video klip muka saya yang nongol. Makanya orang sering bilang juga saya drummer-nya Andra. Padahal itu dulu," kata Agung tertawa saat berbincang dengan Metrotvnews di Jakarta. 


Agung Yudha Asmara (Foto: dok. pribadi)

Agung mengaku banyak terpengaruh dengan permainan drum Alex "Van Halen" dan Dave Weckl, drummer yang biasa bermain bersama musisi jazz legendaris Chick Corea. 

Menjadi session player membuat tabuh drum Agung melintasi banyak genre musik. Mulai dari musik jazz, rock, pop, hingga reggae pernah dimainkannya hingga kini. Bermain musik bersama musisi lintas genre itu pula yang membuat kemampuan drum Agung terus terasah.

"Saya merasakan keuntungan dari zig-zag-nya drum saya. Saya menjadi kaya warna dan bisa mengira apa yang dimau Music Director (MD). Saya jadi cepat beradaptasi dan terus terasah jika ketemu MD baru yang punya isi kepala berbeda. Akhirnya terus mendapat masukan baru," ucapnya. 


Agung Yudha Asmara (Foto: dok. @yunski)

"Lalu ilmu yang saya dapat juga adalah setiap musisi hebat itu mengedepankan harmonisasi daripada hanya untuk sekadar show off (pamer). Lagunya tidak ada yang ribet, tapi ada nilai yang mahal seperti kord atau notasinya," lanjutnya. 

Dari Rastafara hingga Agnes Monica

Agung mengawali karier musiknya secara profesional ketika menjadi anggota band Kamadhatu. Band jazz ini cukup populer di kota asalnya di Semarang. Pada tahun 1996, Kamadhatu bahkan pernah tampil Jak Jazz dua tahun berturut-turut. 

"Dari situlah kenal banyak musisi di Jakarta. Tapi saya juga punya band rock waktu itu namanya Wisnu Bharata. Tahun 1997 rilis album kompilasi di Musica. Terus kita kontrak dengan Sony untuk album kompilasi juga," katanya. 

Singkat cerita, Agung kemudian dikenalkan oleh Tony Q yang merupakan sesepuh musik reggae di Indonesia. Pergaulan di komunitas reggae inilah yang membuat Agung mengubah gaya rambutnya menjadi gimbal hingga sekarang. Agung bergabung bersama Rastafara sejak akhir 1999 hingga 2004 sebelum akhirnya ditawari menjadi personel Powerslaves. 


Agung bersama Tony Q Rastafara (Sumber: Youtube Agung Asmara)

"Waktu itu saya pikir (Powerslaves) lebih menjanjikan. Tapi begitu saya masuk, Heydi, Andry, Edot malah cabut. Jadi tinggal saya berdua sama mas Anwar waktu itu," ujar Agung tertawa. 

Di tengah posisi Powerslaves yang sedang limbung, Agung mencoba peruntungannya menjalani audisi di Erwin Gutawa Orchestra untuk mengiringi konser Krisdayanti. Saat itu, Agung mengaku hanya hendak mengukur sejauh mana kemampuannya bermain drum. Untuk urusan membaca notasi dan partitur, Agung setidaknya punya modal pernah kursus musik sewaktu masih di Semarang. 

"Saat audisi itu Mas Erwin Gutawa tidak ada. Jadi saya hanya main session seperti biasa terus pulang. Tak lama adiknya Erwin Gutawa telepon minta saya jangan ambil kerjaan lain karena katanya Erwin suka dengan permainan saya," kenang Agung. 

Beruntung, Anwar sebagai satu-satunya personel Powerslaves yang tersisa berbesar hati melepas Agung. Namun, belakangan Agung kembali tampil bersama Powerslaves sampai sekarang. 


Agung bersama Powerslaves (Sumber: Youtube Agung Asmara)

Sejak itulah Agung kemudian banyak mendapat tawaran untuk mengisi drum saat rekaman atau mereka sedang manggung. Nama-nama besar seperti Iwan Fals atau Agnes Monica pernah memakai jasa Agung. 

"Saya dulu banyak menjadi session player. Artinya artis A mau rekaman saya disuruh isi. Iwan Fals, Agnes Monica, Titi DJ, Krisdayanti pernah saya ikut isi," ungkapnya.

'Orang Penting' di Dewa 19

Agung resmi bergabung ke Dewa 19 pada 2007 menggantikan Tyo Nugros yang saat itu sedang mengalami cedera. Namun, jauh sebelum itu, Agung sebenarnya sudah lama 'dibidik.'

Adalah Ari Lasso yang merekomendasikan Agung kepada Ahmad Dhani. Lasso tahu bagaimana permainan Agung ketika menjadi penyanyi tamu Erwin Gutawa Orchestra. 

"Suatu ketika Erwin Gutawa konser dengan Siti Nurhaliza di Surabaya. Siti ingin ada Dewa 19 di konser dia karena dia menggemari. Dari situ pertama bertemu Dewa 19 tahun 2005. Tidak lama dari situ manajemen Dewa melalui Krusso (manajer Andra and the Backbone saat ini) telepon minta bantu. Tapi setahun tidak ada kabar. Saya baru tahu kemarin, rupanya Ari Lasso yang merekomendasikan saya ke Ahmad Dhani. Karena di suatu konser Erwin Gutawa, Ari Lasso menyanyi di situ." 


Agung pertama kali tampil bersama Dewa di video klip Dewi (Sumber: Youtube GP Record)

"Dewa 19 saat itu sedang melanjutkan kontraknya yang tertunda karena Tyo sedang cedera. Akhirnya saya ikut. Tidak lama kemudian kita tur ke lima kota di Malaysia. Sebelum berangkat ke Kuala Lumpur itu, Ahmad Dhani secara resmi menawarkan mau tidak jadi personel tetap. Saya tanya Tyo gimana, Dhani bilang Tyo sudah keluar. Saya bilang, kalau Tyo sudah keluar ya sudah," kenang Agung. 

Meski personel paling baru di Dewa 19, pria 41 tahun ini memiliki peranan cukup penting di Dewa 19. Bahkan, dia bisa membuat Dewa 19 batal manggung karena harus bermain bersama band-nya yang lain. 

"Prinsipnya siapa duluan (meminta) saja. Kayak kemarin Andra minta tapi bentrok jadwalnya. Pernah juga saya sudah kontrak main sama The Brave bersama Piyu, Makki Ungu, DJ Devina dan Virzha. Itu sudah kontrak 11 titik. Di waktu bersamaan Dewa 19 mau manggung di Surabaya, tetapi saya tidak bisa. Ya akhirnya (Dewa 19) yang di Surabaya batal. Saya jadi 'orang penting' di Dewa 19 karena tidak ada yang menggantikan sekarang," katanya tertawa. 

Dewa 19 tidak memiliki pemain drum cadangan atau pengganti sehingga mau tidak mau bergantung pada Agung. Pentingnya posisi Agung juga tak lepas dari kebiasaan Dewa 19 yang jarang latihan, termasuk saat hendak manggung atau bahkan saat rekaman. 

"Kalau di Dewa 19 tidak ada yang menggantikan, sedangkan di Powerslaves itu ada. Kalau pun ada yang gantikan, mereka (Powerslaves) harus latihan dulu. Tapi kalau di Dewa 19 kan tidak pernah latihan. Dewa 19 itu band paling aneh. Mau manggung, konser tidak pernah latihan. Dhani pasti sudah hapal, Andra juga hapal lagu-lagunya. Nah, kalau saya kan tidak semuanya hapal," ungkapnya.  


Agung Yudha (Foto: Metrotvnews/Elang)

"Ahmad Dhani itu kalau rekaman saya tidak tahu lagunya. Saya datang ke studio terus cuma dikasih kord, bagian lagu, reff, dan interlud. Jadi merekamnya sepotong-potong. Ahmad Dhani datang cuma sebentar terus bilang, 'Ya sudah selebihnya terserah lu aja.' Nanti dia yang 'jahit.' Dan itu sudah biasa begitu. Beda dengan Powerslaves atau band lain," imbuhnya. 

Tantangan Bagi Session Player

Pilihan Agung kursus musik ketika muda terbilang tepat. Kemampuan Agung membaca notasi memudahkannya untuk beradaptasi dengan musisi lintas genre atau rekan yang baru dikenalnya. Sebagai session player profesional, Agung memang diwajibkan bisa membaca notasi musik. 

"Sekolah musik itu penting untuk menghadapi situasi yang tidak kita duga. Misal kita harus mengisi lagu yang bahkan mendengar saja tidak pernah, apalagi hapal. Jadi kita baca notasi saja sudah bisa jalan. Tapi kalau saya, berusaha untuk hapal juga dan bisa baca juga. Jadi baca notasi itu hanya rambu-rambu saja," kata Agung. 


Agung Yudha Asmara (Foto: dok. pribadi)

Sebagai session player yang sudah punya nama, Agung merasa profesi yang dijalaninya cukup menjanjikan secara materi. Namun, semakin berkembangnya teknologi, musisi yang biasa mengisi rekaman sejumlah artis mulai terancam.  

"Sekarang sudah banyak software yang canggih. Drummer, keyboardist, bassist menjadi terancam. Yang belum bisa ditiru persis sama komputer itu gitar. Makanya gitaris masih banyak yang diminta mengisi," ucapnya.

Menurut Agung, penggunaan teknologi banyak dipilih demi alasan menekan biaya produksi. Musisi tidak perlu lagi membayar orang untuk mengisi musik karena perannya sudah bisa digantikan perangkat lunak. Bukannya membela diri, Agung merasa musik yang dihasilkan manusia lebih baik ketimbang komputer. 

"Saat ini orang lebih memilih pakai komputer kalau untuk rekaman. Di rumah kita punya peralatan digital sendiri di komputer. Padahal hasilnya lebih puas analog.  Tapi dari sisi produksi lebih tinggi karena kita bayar orang, sedangkan satu komputer bisa memainkan beberapa alat musik. Hanya beberapa artis yang suka pakai drum akustik. Otomatis (session player) banyak yang hanya mengandalkan manggung saja," tutupnya.

 
Agung mengiringi Ari Lasso (Foto: Youtube Agung Asmara)



(ELG)

Sempat Terlilit Utang, Souljah Kini Menuju Dua Dasawarsa

Sempat Terlilit Utang, Souljah Kini Menuju Dua Dasawarsa

2 weeks Ago

Memulai langkah dengan 'nekat', Souljah kini menjadi salah satu band reggae cukup diseg…

BERITA LAINNYA