Suara Disko, Semarak Lokalitas di Lantai Dansa

Agustinus Shindu Alpito    •    24 Oktober 2017 14:25 WIB
indonesia musik
Suara Disko, Semarak Lokalitas di Lantai Dansa
Suasana Suara Disko Edisi Ke-12 Langgam Kahyangan (Foto: dok. Felix Daritan)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sekitar dua tahun terakhir, dunia hiburan malam di Jakarta semakin semarak. Tidak lain karena kian beragamnya pesta yang digelar. Para selecta dan DJ mulai berani membawakan konten lokal. Di sisi lain musik elektronik "bawah tanah" mulai mendapat perhatian lebih dan menjadi patron melawan hegemoni menjemukan EDM!

Salah satu yang menyemarakkan kancah pesta itu adalah Suara Disko. Program disko reguler yang mengedepankan konten lokal sebagai suguhan utama.

Jumat (20/10/2017), bertempat di The Pallas, SCBD, Jakarta, Suara Disko digelar untuk ke-12 kalinya sejak 2015. Mengusung tema Langgam Kahyangan, pentas kali ini menyilangkan legenda hidup Fariz RM dengan lima penyanyi perempuan generasi muda, yaitu Kallula, Monita Tahalea, Charita Utami, Danilla dan Vira Talisa. Semarak edisi ke-12 ditambah dengan penampilan paguyuban tari legendaris Swara Maharddhika plus penampilan duo DJ penghuni tetap Suara Disko, Diskoria, yang terdiri dari Aat dan Merdi.

“Kami berangkat dari mengoleksi piringan hitam, entah piringan hitam Barat dan ada Indonesia juga. Memang ada sebenarnya niatan kami dulu sebelum diajak oleh kolektif Suara Disko itu, memang ada niatan kami untuk full set gitu di club, mainin lagu Indonesia semuanya. Tapi ya gayungnya bersambut. Pas banget ada yang ngajakin dari Suara Disko. Kami main deh,” ujar Aat saat ditemui sebelum pesta Langgam Kahyangan berlangsung.


Fariz RM tampil sebagai bintang spesial Suara Disko (Foto: dok. Arief Wahyudi)

Bisa dibilang Suara Disko adalah jawaban dari kegelisahan Aat dan Merdi. Sebagai penikmat musik sekaligus “kapten” di lantai dansa, mereka merasa risi dengan aturan di klub malam yang melarang para DJ memutar lagu Indonesia.

“Kami dulu pas masih koleksi piringan hitam itu, kita dulu nge-DJ di klub masing-masing. Waktu itu belum bareng. Kita lihat tahun 2008 di salah satu klub di Jakarta Selatan tuh ditulis, ada stiker (peringatan) di DJ booth-nya, dilarang mainin lagu Indonesia. Waktu itu kami belum mainin lagu Indonesia, terus pernyataan itu tuh kaya keinget terus. Pada akhirnya pas kita sama-sama ngumpulin piringan hitam, secara natural saja kami ngumpulin piringan hitam Indonesia. Kami melihat banyak banget lagu Indonesia yang bisa kami bawakan ke level klub. Pada saat kami wacana (membawakan lagu-lagu Indonesia di klub), kemudian datanglah Suara Disko yang bilang mereka mau bikin party (disko dengan musik Indonesia), di situ akhirnya kita decide pakai nama Diskoria,” jelas Merdi.

Langkah Suara Disko dan Diskoria tepat. Mereka justru membawa dampak baru pada dunia pesta di Indonesia yang sebelumnya dikuasai oleh lagu dan musik Barat. Kenyataannya, unsur lokalitas yang dihadirkan ke lantai dansa mampu membawa keseruan tersendiri bagi penggila pesta. Bisa dibilang beberapa edisi terakhir Suara Disko sukses besar. Pada edisi Langgam Kahyangan contohnya, arena lantai dansa penuh sesak meski penyelenggara memberlakukan sistem tiket seharga Rp160 ribu. Mereka yang hadir pun tak henti-henti bernyanyi di sepanjang pesta.


Lima penyanyi muda membawakan lagu Fariz RM (Foto: dok. Felix Daritan)

Secara garis besar, Diskoria menghadirkan musik era 1970-an hingga 1990-an. Mulai dari irama disko dari era Chrisye, Yockie Suryoprayogo dan Guruh Soekarnoputra yang terdengar dalam lagu-lagu macam Marlina, Juwita, Anak Sekolah, kemudian era Fariz RM lewat lagu Barcelona dan tentu Sakura, juga era milenium yang diwakili lagu-lagu dari The Groove dan Shanty.

“Yang penting lagunya bisa kami bawakan untuk joget. Jadi variatif banget,” kata Aat.

Buruknya pengarsipan musik Indonesia membuat Diskoria menghadapi beberapa tantangan, yaitu kualitas suara lagu era lama yang buruk. Teknologi rekaman di Indonesia era itu juga belum begitu baik.

“Kalau lagu disko luar kami bisa mix dengan baik, kalau lagu Indonesia era lama beat-nya suka lompat-lompat jauh. Kualitas sound-nya juga enggak bagus,” imbuh Aat.


Merdi (kiri) dan Aat (kanan) (Foto: dok. Felix Daritan)

Pada edisi perdana dan kedua Suara Disko, Diskoria masih menggunakan piringan hitam sebagai sumber utama suara di lantai dansa. Namun dalam perjalanannya Diskoria menemui hambatan memutar musik dengan turntable di klub malam.

“Kalau pakai vinyl (piringan hitam) meja harus steady, enggak boleh goyang. Sedangkan ketika kami bawa turntable ke venue yang lantainya kayu, kalau orang pada bergoyang meja kami ikut bergoyang dan bisa mengganggu jarum piringan hitam. Akhirnya kami digitalkan,” kata Merdi.


Mengapa Disko Indonesia jadi Tren?

Keberadaan irama disko dalam sejarah musik pop di Indonesia cukup panjang. Fenomena yang ada pada saat ini adalah musik irama disko Indonesia dari era 1970-an dan 1980-an kembali muncul ke permukaan. Diskoria bukan satu-satunya yang memainkan musik disko Indonesia. Fenomena ini menurut Merdi terjadi karena selama ini apa yang dihadirkan oleh DJ di lantai dansa dirasakan monoton oleh penggemar pesta.

“Gue memang kerja bikin event, gue harus memerhatikan tren perkembangan musik di klub atau di scene. Itu memang sudah terlalu monoton, bukannya sok tahu, tetapi gue memang melihat itu, lagu-lagu yang diputar di klub sama dengan genre yang itu-itu saja. Bisa dilihat fenomena ini akhirnya bergerak. Bisa dilihat ada Monday Mayhem kemudian ada Diskopantera. Akhirnya mulai berani DJ memutarkan lagu-lagu sing-along atau lagu-lagu karaoke di klub. Jadi memang sekarang ada skena itu. Bukan kami yang bikin, kami cuma mau mengangkat skena ini saja,” ujar Merdi.


(Dari kiri ke kanan) Charita Utami, Kalulla, Fariz RM, Monita Tahalea, Danilla dan Vira Talisa (Foto: dok. Arief Wahyudi)


Semoga saja semarak musik Indonesia di lantai dansa bukan tren sesaat. Untuk menjaga keberlangsungan tren ini tentu butuh kesinambungan berbagai pihak, termasuk penyelenggara acara, pengelola tempat, para selecta, DJ dan tentu penggemar pesta itu sendiri.

“Kalau dari materi musik Indonesia yang bisa dibawakan enggak pernah habis. Tetapi itu tugas kami juga untuk memperkenalkan lagu dari selain yang sering dimainkan sekarang,” kata Aat.

“PR (Pekerjaan Rumah) kami bagaimana membuat gerakan ini terus ada. Salah satunya kami memperkenalkan hit-hit baru lagi. Makanya kami setiap nge-DJ enggak mau membawakan yang itu-itu lagi. Harus ada lagu baru lagi, karena banyak pilihannya kok, benar kata Aat. Kami sampai sekarang masih bingung, seorang Nia Daniaty tiba-tiba dari 4 LP ada 8 sampai 10 lagu yang bisa dibawa untuk joget. Bagus-bagus. Tetapi lo enggak akan pernah sadar kalau seorang Nia Daniaty produce lagu seperti itu. Hal seperti itu yang mau kami angkat pelan-pelan. Kalau memang nanti trennya turun, itu memang PR kami untuk membuat hype lagi. Mungkin dengan kerjasama kolektif lain. Tetapi misi kita itu (membawa musik Indonesia di lantai dansa),” timpal Merdi.


Swara Maharddhika menari saat lagu Juwita diputar (Foto: dok. Arief Wahyudi)

Semarak musik Indonesia di dunia hiburan malam tidak hanya terjadi di Jakarta. Diskoria sesekali tampil di kota-kota lain di Pulau Jawa dan kemungkinan besar di pulau lain. Selain Fariz RM, beberapa edisi Suara Disko sebelumnya pernah menghadirkan The Groove dan Agrikulture.



 


(ELG)

Cinta 99% Dea Dalila

Cinta 99% Dea Dalila

3 days Ago

Di momen yang tepat dan didukung tekad yang kuat, Dea memberanikan diri. Dia resmi memutuskan k…

BERITA LAINNYA