Film Kartini, Menawar Ikatan Tradisi

Purba Wirastama    •    21 April 2017 11:32 WIB
review film
Film Kartini, Menawar Ikatan Tradisi
Adegan film Kartini (Foto: dok. LegacyPictures)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sejarah mencatat bahwa Kartini, yang menggugat poligami, akhirnya menikah dengan Bupati Rembang yang telah beristri pada tahun 1903. Kepada sejarah pula, sebagian orang menggugat keberadaan dan kelayakan Kartini sebagai pahlawan nasional untuk emansipasi perempuan dengan hari peringatan khusus.

Film Kartini arahan Hanung Bramantyo memilih fokusnya pada aspek personal Kartini. Apa saja perjuangan Kartini dikenalkan secara permukaan dengan beberapa momen kunci. Namun, secara keseluruhan, film ini bercerita bagaimana dia mendapatkan posisi tawarnya di dalam kekangan tradisi keluarga bangsawan Jawa akhir abad 19.

Film dibuka dengan dua adegan. Pertama adalah pertanyaan sang ayah Sosroningrat Bupati Jepara (Deddy Sutomo), apakah Kartini (Dian Sastrowardoyo) telah siap menjadi Raden Ayu. Artinya, dia menerima lamaran Joyoadiningrat Bupati Rembang (Dwi Sasono) untuk menjadi selir atau istri kesekian.

Lalu film mengantar penonton 18 tahun ke belakang ketika Kartini masih anak-anak. Adegan kedua ini secara cukup efektif memperkenalkan Kartini dan sembilan anggota keluarga lain beserta relasinya masing-masing, termasuk dengan Ngasirah ibu kandungnya (Christine Hakim).

Sebelum akhirnya Kartini menjawab, selama sekitar 90 menit penonton digiring untuk menyelami masa lalunya ketika dia remaja usia 18-24. Lapis demi lapis peristiwa diceritakan dan dirangkum. Hingga pada titik tertentu, Kartini menemukan kebebasan untuk bersuara, tetapi terganjal oleh situasi keluarganya sendiri.

Persoalan Keluarga

Rangkaian peristiwa tersebut berhasil memupuk empati kepada Kartini, dan sekaligus membangun emosi secara bertingkat. Ketika akhirnya Kartini menjawab pertanyaan sang ayah, kita lebih memahami dasar pertimbangannya. Kartini melepas kesempatan sekolah ke Belanda, menerima diperistri Bupati Rembang, dan mendirikan sekolah.


Adegan film Kartini (Foto: dok. LegacyPictures)

Pada titik ini pula, kita dapat turut memahami sikap ketiga orang tuanya. Misalnya Moeryam, ibu tiri (Djenar Maesa Ayu) yang kecewa dipaksa menikah dengan Sosroningrat, yang sebelumnya wedana distrik Mayong. Wedana adalah kepala distrik, setingkat di bawah kabupaten.

Kontradiksi antara kekangan fisik dan kebebasan pikiran Kartini digambarkan secara menarik dan mudah dipahami. Lewat buku-buku di kamar serta balasan surat dan kartu pos, kita tahu bahwa Kartini sedang membebaskan dirinya dari kurungan sangkar.

Lewat bentuk dialog itu pula, Kartini berupaya memperkuat posisi tawarnya di keluarga. Justru orang-orang Londo, atau kolonial Belanda, yang membantu Kartini untuk melepas kekangan tradisi, sampai-sampai kerabat menganggap Kartini perempuan liar.

Namun, budaya Jawa pula yang kemudian menarik kembali Kartini dari hasratnya untuk melambung lebih tinggi. Ada satu dialog dengan ibunya yang begitu melegakan. Dalam benak sang ibu, kebebasan tak berarti tanpa bakti.

Satu disayangkan, di balik pembangunan emosi cerita yang teratur dan bertingkat, musik latar terdengar terlalu bernafsu untuk menggiring emosi penonton. Pada bagian tertentu, ini sangat membantu, apalagi banyak peristiwa yang dipercepat. Namun, ada beberapa bagian ketika musik terburu-buru mengantar emosi dan justru membuatnya berlebihan. Seakan cerita dan dialog tak cukup kuat ke sana.


Adegan film Kartini (Foto: dok. LegacyPictures)

Barangkali, ini siasat untuk membuat penonton kebanyakan tak bosan. Dalam suatu wawancara, Hanung berkata bahwa rancangan musik semacam itu adalah upaya untuk bersahabat dengan penonton yang terbiasa disuguhi sinetron. Sinetron memang kerap dipenuhi musik latar ramai dan intens, adegan demi adegan.

Ada satu eleman cerita khas Hanung, tetapi hanya mendapat porsi sedikit. Dia menyelipkan satu pandangan mengenai bagaimana kehidupan beragama sebaiknya dijalankan. Terkendala membaca kitab suci berarti terkendala memahami ajaran baik di dalamnya.

Film Kartini layak ditonton sebagai satu referensi baru untuk memahami pergulatan personal Kartini antara kebebasan dan kekangan tradisi di keluarga bangsawan Jawa yang sangat patriarkis. Kegigihan Kartini mampu memberi perubahan, setidaknya pada keluarganya sendiri.

Produser: Robert Ronny
Sutradara: Hanung Bramantyo
Penulis: Hanung Bramantyo, Bagus Bramanti
Durasi: 122 menit

 
(ELG)

Giring

Giring "Nidji," Keputusan Vakum dan Visi Politik

6 hours Ago

Setelah lima belas tahun Bersama Nidji, Giring Ganesha mengambil keputusan besar untuk vakum.

BERITA LAINNYA