Catatan dari Tokyo International Film Festival

   •    16 November 2016 12:01 WIB
festival film
Catatan dari Tokyo International Film Festival
Para Pemenang TIFF 2016 (Foto: antara)

Metrotvnews.com, Jakarta: Tokyo International Film Festival (TIFFJP) ke-29 baru saja selesai dihelat di Roppongi Hills, Tokyo, Jepang dari tanggal 25 Oktober hingga 3 November 2016.

TIFFJP termasuk salah satu festival film internasional terbesar dan bergengsi di kawasan Asia. Khusus pada penyelenggaraannya tahun ini, TIFFJP mempersembahkan sesuatu yang istimewa bagi perfilman Indonesia dan para pelakunya, yakni persembahan seksi khusus bernama "Crosscut Asia #3: Colorful Indonesia."

Program ini secara khusus memberikan fokus dan panggung tersendiri bagi Indonesia. Ada total 11 film Indonesia yang diputar baik untuk kalangan pers maupun penonton umum disertai sejumlah seminar, talkshow, dan sejumlah sesi tanya jawab.

Ke-11 film tersebut adalah Cado Cado: Doctor 101 (judul asli: Catatan Dodol Calon Dokter) karya Ifa Isfansyah, Emma (Mother) (judul asli: Athirah) karya Riri Riza, Three Sassy Sisters (judul asli: Ini Kisah Tiga Dara) karya Nia Dinata, Fiction (judul asli: Fiksi.) karya Mouly Surya, Filosofi Kopi karya Angga Dwimas Sasongko, Following Diana (judul asli: Sendiri Diana Sendiri) karya Kamila Andini.

Someone’s Wife in the Boat of Someone’s Husband karya Edwin, Lovely Man, Something in the Way, dan About a Woman karya Teddy Soeriaatmadja, dan satu film klasik legendaris dari Usmar Ismail, Lewat Djam Malam juga turut meramaikan program persembahan dari TIFFJP yang bekerjasama dengan Japan Foundation Asia Center ini.

Tak hanya itu, ada satu lagi film Indonesia yang bersinar di TIFFJP yakni Salawaku, film besutan sutradara pendatang baru Pritagita Arianegara yang baru saja memenangkan Film Panjang Terbaik Apresiasi Film Indonesia 2016 juga ikut berkompetisi pada seksi Asian Future, sebuah kompetisi khusus di TIFFJP bagi para sutradara debutan yang menjanjikan. Ini menjadi kali pertama Salawaku diputar bagi khalayak umum, di Indonesia sendiri film ini bahkan belum diputar di bioskop manapun.

Salawaku berkisah tentang seorang bocah berumur 10 tahun yang hidup di bagian paling timur Indonesia, sedang mencari kakaknya yang hilang. Sebuah pencarian yang membuatnya bertemu dengan seorang gadis dari Jakarta, dan seorang lelaki yang menjadi alasan akan kepergian kakaknya.

Film ini menyoroti isu tabu tentang hamil di luar nikah dan mengkritisi hal tersebut. Pada sebuah sesi tanya jawab selepas pemutaran film, ada jurnalis asing yang bertanya ihwal persoalan hami di luar nikah tersebut, "Bagaimana masyarakat Indonesia menyikapinya?" tanyanya kepada sutradara Pritagita yang hadir di hadapan penonton.

"Kehamilan di luar nikah masih sangat sensitif untuk dibicarakan, ada konsekuensi sosial yang harus ditanggung, namun bagi saya perempuan memiliki hak atas dirinya sendiri, hak atas tubuhnya sendiri," jawabnya dengan mantap dalam bahasa Indonesia untuk kemudian diterjemahkan oleh seorang penerjemah.

TIFFJP tahun ini jelas memberikan tempat tersendiri bagi perfilman Indonesia agar dikenal lebih luas lagi oleh masyarakat dunia, lewat film-film yang dibuat oleh generasi baru sineas Indonesia dalam membawa wacana keberagaman dan isu-isu kontemporer, tampaknya sudah tak ada lagi tembok pemisah antara film berbahasa asing dan penontonnya.

Salawaku terbukti mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari para penonton film berbahasa asing, dan pesan filmnya sendiri tersampaikan dengan baik. Kini, para sineas hanya perlu konsisten membuat film terbaik, dan penonton dari belahan dunia manapun telah siap untuk menikmatinya.

Festival film dan pasar film berskala internasional menjadi titik temu penting antar pembuat dan penikmat film. Era ini adalah saat yang tepat bagi para sineas untuk tak sekadar memikirkan pasar lokal, sebab film terbukti tak mengenal batasan teritori, batasan negara, bahkan batasan budaya dan bahasa sekalipun, sebab film adalah medium seni yang paling universal dan siapa pun di belahan dunia manapun merayakannya.

(Shandy Gasella)


(ELG)

Senandung Senja Yon Koeswoyo

Senandung Senja Yon Koeswoyo

1 month Ago

Tubuh pria tua itu hanya bersandar di sebuah sofa berwarna cokelat. Seorang kawan di dekatnya m…

BERITA LAINNYA