Adaptasi Novel Dilan, Sutradara dan Produser Ungkap Konflik Internal dengan Pidi Baiq

Purba Wirastama    •    17 Januari 2018 14:20 WIB
film dilan
Adaptasi Novel Dilan, Sutradara dan Produser Ungkap Konflik Internal dengan Pidi Baiq
Cuplikan trailer Dilan 1990 (Foto: max pictures)

Jakarta: Sutradara film adaptasi Dilan 1990 Fajar Bustomi mengakui ada konflik internal produksi antara timnya dengan Pidi Baiq, penulis novel aslinya. Namun setelah beragam kompromi dan filmnya jadi, Pidi disebut sangat senang dan puas.

"Saya pun, kalau jadi penulis novel, itu karya kita, 'anak' kita. Ketika 'anak' kita dipotong kakinya, tangannya, pastinya (tidak rela)," kata Fajar usai gala premier Dilan 1990 di Jakarta, Selasa 16 Januari 2018.

"Di situlah saya memeluk dia, saya bilang, ketika novel kamu sudah dibuat, dan siap ke film, kamu harus siap dengan media berbeda. Pembaca itu bebas berimajinasi, membayangkan Dilan seperti apa di novel. Saat novel harus dijadikan film, itu imajinasi pembuat film. Jadi harus ikhlas, enggak mungkin 345 (halaman novel) bagus semua (bisa dimasukkan)," tuturnya.

Menurut Fajar, Pidi akhirnya sepakat. Pidi terlibat sebagai sutradara kedua untuk ikut mengontrol aspek kreatif film. Fajar terutama menangani aspek teknis produksi dan adegan, sedangkan Pidi ikut menangani perwujudan konsep cerita Dilan ke medium film.

Fajar juga bercerita bahwa saat gambar dipotong-potong dalam pasca-produksi, masih ada konflik, yang dimaklumi Fajar sebagai rasa tidak tega.

"Ya pastilah saat 'anak' saya dipotong tangan kakinya, masuk ke dalam kotak, saya enggak akan tega," ucapnya.

Selain pemotongan cerita, konflik yang mereka hadapi adalah perbedaan persepsi soal bagaimana elemen visual dan artistik dimunculkan di film. Produser Ody Mulya Hidayat menyebut Pidi adalah seniman realis, tetapi mereka tetap harus mewujudkan gambar sesuai 'tuntutan penonton'.

"Sejak awal kami sepakat dengan Pidi Baiq, tiap adegan dia harus kawal. A-Z sudah setuju. Ketika kami bungkus naskah, kami jalan buat syuting, memang ada kendala soal aspek visual novel. Kami terangkan, visual akan seperti ini jadinya," tutur Ody.

"Kami maklum, Ayah (panggilan Pidi) belum tahu banget sinematografi, pengerjaan film. Saya jelaskan, ini harus bagaimana. Tadinya Ayah jujur, orang realis, warteg (warung makan khas Tegal) di sana begitu. Namun di sini, kami enggak bisa. Kalau di film, artistik dituntut harus bagus. Jadi akhirnya Ayah mikir: Ya ini tuntutan penonton, bukan saya lagi," lanjutnya.

Menurut Ody, mereka tidak bisa terlalu realis untuk film Dilan 1990. Saat akhirnya film jadi dalam durasi 120 menit, Ody menyebut Pidi sangat puas.

"Saat Pidi lihat, 'Cakep nih Pak Ody. Kapan yang kedua kita garap?' Rasa puasnya ditulis di Instagram, dia telepon (...). Dia happy banget, 'Ayo bikin yang kedua, ketiga'. Saya bilang: kita fokus dulu sampai ini kelar," ungkap Ody.

Lewat konflik tersebut, Ody menyebut kini mereka bisa lebih sepaham dan bekerja sama hingga sekarang. Mereka juga akan mengerjakan sekuelnya, Dilan 1991.

"Inilah proses kreatif, kadang kita bertengkar untuk membuat karya karena sama-sama ingin membuat yang bagus. Akhirnya bisa menyatu," tukas Ody.

Dilan 1990 adalah film adaptasi novel Dilan #1 karya Pidi Baiq. Produksi dilakukan di bawah atap Max Pictures. Tim dari Falcon Pictures membantu tahap promosi.

Dilan 1990 akan dirilis di bioskop pada Kamis 25 Januari 2018.




 


(ELG)

Tashoora, Invasi Berbahaya Sekstet dari Yogyakarta

Tashoora, Invasi Berbahaya Sekstet dari Yogyakarta

2 days Ago

Dalam musik yang energik sekaligus kontemplatif yang diramu Tashoora, terlantun lirik-lirik pui…

BERITA LAINNYA