Cerita Riri Riza Mudahnya AADC 2 Jadi Korban Pembajakan

Elang Riki Yanuar    •    12 Oktober 2016 13:10 WIB
pembajakanaadc 2
Cerita Riri Riza Mudahnya AADC 2 Jadi Korban Pembajakan
Riri Riza (Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pembajakan masih menjadi masalah klasik dalam industri kreatif seperti musik dan film. Masalah itu masih dirasakan betul oleh produser dan sutradara, Riri Riza.

Seiring perkembangan teknologi pergeseran arus distribusi berkembang dari produk rilisan fisik ke media digital. Riri Riza mencontohkan bagaimana ketika film Ada Apa dengan Cinta 2 bisa ditonton jaringan televisi satelit asal Malaysia, tapi hanya dalam hitungan hari sudah beredar secara ilegal di Facebook.

"Sekarang orang sudah sangat terbiasa menonton film dengan layar laptop atau ponsel pintar dan sangat mudah bagi film populer seperti AADC 2 yang sejak bisa ditonton secara online pada saat itulah film itu bisa menjadi korban pembajakan," kata Riri Riza seperti dikutip dari Antara.

Menurut Riri, pembajakan akan memutus ekosistem distribusi dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap alur distribusi yang legal. Riri pun menegaskan pentingnya edukasi kepada masyarakat agar menghargai karya intektual.

"Kemudian orang akan berpikir, buat apa nonton di bioskop kalau tidak lama setelahnya bisa menonton (film) secara online. Saya kira itu masalah yang lebih penting. Produser harus paham bagaimana agar distribusi karyanya tidak 'ringkih'. Misalnya lewat kerja sama dengan distributor resmi dan punya reputasi baik untuk daring maupun DVD, sehingga tanggung jawab pencegahan pembajakan bisa dibagi," paparnya.

Saat ini pemerintah sudah membentuk Satgas Penanganan Pengaduan Pembajakan Produk Ekonomi Kreatif. Bagi Riri, satgas yang beranggotakan para profesional dari 15 asosiasi pekerja kreatif itu dapat menjadi saluran yang memudahkan para pelaku industri kreatif mendapatkan haknya secara lebih tertata.  

"Saya rasa satgas ini adalah inisiatif yang secara kuat untuk menunjukkan kehadiran negara terutama lembaga seperti Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif)," katanya.

Satgas Antipembajakan yang dibentuk pada 2015 dan semula hanya berfokus pada sektor musik dan film, kini diperluas cakupan tugasnya ke sektor-sektor lain seperti penerbitan, fotografi, dan desain.



 


(ELG)